Category: Opini

  • Surat Tilang Bagi Siswa di Lingkungan Sekolah

    Surat Tilang Bagi Siswa Perlu diketahui


    Surat Tilang Bagi Siswa Perlu diketahui – Sejenak penulis teringat dengan cerita-cerita orang tua penulis maupun guru-guru ketika bersekolah dahulu. Mereka sering menceritakan bahwa pada zaman mereka bersekolah guru begitu dihormati karena begitu sangat menakutkan bahkan terkenal keras kalau menghajar. Sehingga membuat mereka nurut pada guru-gurunya. Dari situ terbentuk sopan santun maupun tata krama murid pada gurunya. Lebih parah lagi saat mereka berurusan dengan guru-guru lalu pulang ke rumah malah tambah masalah karena orang tua murid justru akan menambah hukuman jika murid bermasalah di sekolah.
    Penulis teringat pesan seorang ayah bahwa menurut ayah penulis, guru itu di gugu dan ditiru jadi tidak mungkin guru mengajarkan keburukan pada muridnya. Maka dari itu seorang murid harus selalu patuh pada nasehat dan perintah guru meskipun terkadang kita sebagai murid merasa diperlakukan tidak adil. Tapi apapun itu tidak ada alasan bagi kita semua untuk tidak menghormati guru. Kita wajib menghormati guru-guru kita karena begitu banyak jasa-jasa yang diberikan guru pada kita semua. Wajar jikalau mereka dianggap sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
    Seiring berkembangnya zaman metode pembelajaran mengalami perubahan. Aturan demi aturan dibuat sedemikian rupa agar tercipta lingkungan pendidikan yang kondusif dan mampu menciptakan generasi-generasi penerus bangsa yang cerdas dan berbudi pekerti luhur. Misalnya saja Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.
    Yang menjadi sorotan saat ini yaitu kasus anak SMP di Gresik telah memukul dan menodai dunia pendidikan di Indonesia. Dimana dalam kasus tersebut siswa berani melawan terhadap gurunya. Ini adalah salah satu contoh dari beberapa kasus siswa melawan terhadap guru di Indonesia.

    Lantas bagaimana solusinya dan siapa yang harus bertanggungjawab…?

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya oleh penulis bahwa dalam sistem pendidikan nasional orang tua, tenaga pendidik dan pemerintah daerah setempat sampai dengan pemerintah pusat bertanggungjawab atas semua hal tersebut. Para pihak yang bertanggungjawab harus bersinergi dengan baik untuk mewujudkan hal tersebut. Yang paling sederhana yaitu sinergi antara orang tua dan tenaga pendidik atau biasa disebut guru.
    Dari situ penulis memiliki sedikit gagasan untuk menangkal kasus-kasus tersebut. Seperti pada judul diatas yaitu Surat Tilang Untuk Siswa, iya memang terdengar sedikit aneh karena biasa kita dengar untuk kasus para pengendara motor yang melanggar lalu lintas. Padahal kalau kita artikan bahwa tilang itu singkatan dari bukti pelanggaran.
    Adapun programnya yaitu wali kelas bersama dengan guru BK bekerja sama untuk mendata dan memperhatikan setiap siswa-siswanya. Dimana bila ada suatu pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa siswa maka perlu dicatat. Setelah dicatat lalu dibuat laporan bulanan.
    Kemudian laporan tersebut akan diberikan kepada orang tua setiap satu bulan sekali. Hal ini agar orang tua tahu bahwa anaknya telah melakukan pelanggaran. Dari situ guru dan orang tua atau wali murid bisa mengevaluasi anak didik tersebut supaya menjadi lebih baik.
    Adapun tujuan diadakan surat tilang tersebut yaitu agar adanya hubungan yang harmonis antara guru dan orangtua atau wali murid. Sehingga mereka bertemu tidak hanya saat penerimaan raport saja. Selain itu agar mencegah terjadinya saling menyalahkan yang berujung adanya orang tua yang melaporkan gurunya ke polisi gara-gara suatu masalah. Maka dari itu akan lebih baik jika guru dan orang tua bersinergi dan saling mengetahui aktifitas anak didiknya di sekolah.

    Gagasan tersebut dapat kita lihat dalam gambar di bawah ini :

    Memang sedikit menjadi pekerjaan tambahan lagi khususnya untuk guru namun demi kepentingan siswa sudah seharusnya harus dilakukan apalagi ini menyangkut adab maupun perilaku siswa. Adab harus di dahulukan dari ilmu seperti yang ditulis sebelumnya oleh penulis. Hal ini agar terciptanya generasi masa depan yang memiliki budi pekerti luhur yang dibarengi dengan kualitas SDM yang baik.
    Tujuan utama dari gagasan surat tilang untuk siswa yaitu mewujudkan sinergi antara guru dan orangtua atau wali murid dalam menyongsong kegiatan belajar siswa. Hal ini untuk mencegah terjadinya kasus-kasus seperti yang telah disebutkan diatas tadi. Penulis berharap dunia pendidikan di Indonesia selalu berjalan dengan kondusif dan selalu menghasilkan lulusan-lulusan terbaik dan mampu bersaing di kancah internasional.
  • Balada UAS-nya Anak Kuliah Jaman Now

    Balada UAS-nya Anak Kuliah Jaman Now

    Balada UAS-nya Anak Kuliah Jaman Now – Halo sobat Shalaazz, UAS yup Ujian Akhir Semester atau kini katanya sih mau diganti nama jadi PAS alias Penilaian Akhir Semester ya beda-beda tipis lah ya, intinya sama-sama datang duduk dan mengerjakan soal sambil di pelototin pengawas yang bolak-balik kaya Setrikaan. Ya aku mau bahas tentang perasaan seorang mahasiswa yang mau menghadapi UAS, apa aja sih yang membuat kita gundah gulana resah tiada tara bagai piring pecah yang terbuang haduh jadi ngelantur. Ok Cekidot !!

    Bingung cari uang buat melunasi sisa pembayaran

    Ini sering dirasakan oleh mahasiswa yang kampusnya memperbolehkan mencicil uang kuliahnya, nah kadang orang tua sudah kasih uang kuliah full di awal semester tapi suka ada yang nakal nih. Buat makan-makan lah, buat belanja kebutuhan pribadi lah, buat mempercantik diri lah, ada aja yang dibuat-buat. Akhirnya uang kuliah kepake di awal dan pada saat jatuh tempo pembayaran harus lunas sebelum UAS, panik sana sini cari duit buat nutup kekuranganya.

    Aduh cukup deh yang kaya gini, yang dipotong bukan uang kuliahnya tapi nafsunya ya. Kalau kalian pernah melakukan berarti kita sama, dan aku sudah kapok sekarang hihi.

    Berharap dapat kursi paling jauh dari pengawas

    Habis bayaran biasanya kita nunggu giliran ambil Kartu Ujian, duh dag dig dug hati ku berdegup nih dapat ruang mana dapat kursi nomor berapa? Yang tadinya jarang berdoa jadi rajin dzikir biar dapat ruangan yang enak dan kursi paling jauh kalau perlu berdoa bisa tidak terlihat dari mata elang pengawas UAS. Udah lihat nomor kusi sendiri pasti juga lihat kanan kiri, bisa diajak kerja rodi eh kerja sama apa tidak nih sebelah aku?? Ya kan?? Bener kan?Alhamdulillah kalau salah.

    Baca juga: Kuliah D1, D2, D3, S1, S2, S3 Ada Berapa Semester?

    Bingung mau belajar dari mana

    Balada paling terasa mahasiswa nih ini, mau yang pinter sampe yang malas pasti pernah merasakan. Apalagi kalau ketemu dosen yang suka main petak umpet materi jika ditanya kisi-kisi beliau menjawab “Pelajari saja semua materi yang pernah saya sampaikan ya.”, dum berasa ada bom Molotov meledak di dalam dada. Kalau sudah gini hanya satu caranya, mendekati mahasiswa rajin yang catatannya rapih dan padat bagai buku kamus. Tapi jangan sampai selesai UAS kalian lupakan jasanya ya, itu Namanya kalian JAHAT memanfaatkan orang sesaat. Sekali lagi jangan pernah kalian lakukan, karena aku sendiri pernah merasakannya.

    Malas menghafal materi

    Wah ini biasanya terjadi di mahasiswa yang menginjak semester tua 5,6,7,8 dan seterusnya, otak sudah penuh dengan yang lain-lain jadi malas menghafal. Jika UAS melambai pasti mereka langsung menjadi seorang penulis yang mampu menulis sekecil-kecilnya dan mampu menulis dimana saja. Menulis apa? SONTEKAN ya kan?

    Mulai dari kertas, kursi meja, tempat pensil, kalkulator, sampe di balik kuku pun mereka ukir dengan kata-kata Mutiara yang seharusnya dihafal di dalam kepala. Apa yang terjadi? Kembali lagi ke balada nomor 2, hal ini bisa berjalan mulus jika anda BERUNTUNG mendapat kursi yang tak kasat mata oleh pengawas. Tapi jika ternyata kalian sedang TIDAK BERUNTUNG sudah dapat ruangan yang mudah terdeteksi, kursinya persis terletak dan terpaku di depan wajah pengawas. Sudah cara ini akan nihil hasilnya, trus aku harus bagaimana kah?? Ya MENGHAFAL lah, Tuhan memberikan anugrah berupa penyimpanan dalam kepala itu ya dipakai dan dimaksimalkan ok??

    Baca juga: Mahasiswa Kubis atau Kupat? Ayo Kamu yang Mana

    Alat tulis tak lengkap, pinjam teman solusinya

    Mungkin terlalu kelewat miskin kali ya sampai bolpoint aja ga punya, tip-x apa lagi. Tas isinya cukup hp, lipstick, bedak, make-up lah ya, sisir, parfum lah kok ga ada alat tulisnya?? Jangan-jangan kalkulator pinjem juga?? Haduh waduh aduh dimana akhlak mu?? Mahasiswa macam apa anda ini?? Dikira teman kalian itu took buku berjalan? “Bro pinjem bolpen donk, nanti gua balikin.” HELLOW emang anda pinjam bolpoint tidak dengan tintanya?? Lain kali kata-kata ijinnya diganti ya jadi “Bro pinjem bolpen donk, nanti gua balikin bodynya sama sisa isinya ya.”

    Nah gitu jadi antara ucapan dan perilaku sama eh apaan sih gitu lah pokoknya jangan pinjem-pinjem deh. Sebisa mungkin lengkapi lah alat tulismu karena itu modal anda, logikanya dengan anda pinjem dengan banyak teman anda sama saja anda menanam budi dimana-mana. Semakin banyak budi itu kapan anda membalasnya? Ok? Paham? Semoga paham lah ya..

    Ok kali ini cukup segitu dulu ya 5 Balada menuju UAS yang sering dirasakan mahasiswa versi pengamatan aku, gimana menurut kamu??

  • Mengenal Si Kecil “Buku Saku” yang Terlupakan

    Mengenal Si Kecil “Buku Saku” yang Terlupakan

    Si Kecil “Buku Saku” yang Terlupakan – Halo sobat Shalaazz, perubahan zaman dari generasi ke generasi mengantarkan manusia sekarang ke berbagai elemen baru yang memberikan dampak bak pisau bermata dua. Di satu sisi ia akan memberikan solving problem atau memberikan hasil yang positif dan bermanfaat bagi pengguna cerdasnya, tetapi di sisi lain ia dapat berdampak negatif ketika salah dalam pemanfaatannya.

    Era Millenials ini telah menyeret berbagai lini kehidupan untuk bergerak memaksimalkan pemanfaatan teknologi digital termasuk dan terutama dunia pendidikan.

    Indonesia sendiri telah mengatur tentang pendidikan dalam pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003, bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa…” Fungsi pendidikan nasional tersebut akan tercapai jika pendidikan telah dijadikan sebagai pondasi peradaban bangsa yang terus berkembang mengikuti masanya masing – masing, tidak boleh tertinggal sedikitpun.

    Oleh sebab itu pembaharuan demi pembaharuan pada bidang pendidikan sangat penting untuk dilaksanakan demi tercapainya pendidikan yang diharapkan.

    Baca juga: Minat membaca Siswa Rendah? Inilah 5 Hal yang harus dilakukan guru.

    Berbagai strategi digulirkan untuk memenuhi kebutuhan yang dapat menunjang tercapainya perkembangan kemampuan generasi millenials, terutama dalam proses kegiatan belajar mengajar.

    Metode pembelajaran yang sifatnya konvensional seperti buku paket pelajaran yang berat, tebal, dianggap sulit, membosankan, tidak efektif dan tidak menarik. Semakin hari tentu semakin diabaikan oleh generasi yang semakin akrab dengan dunia digital.

    Selain itu diera ini pengguna teknologi digital diperlakukan manja oleh kehadiran Google, Microsoft, Youtube, Yahoo, dan berbagai aplikasi lain dari perusahaan bidang teknologi informasi.

    Jika hal ini terjadi pada anak – anak yang masih menempuh pendidikan tentu akan berdampak buruk, terutama dalam manajemen waktu belajarnya. Mereka akan jauh lebih tertarik dengan layar ponsel dari pada buku – buku cetak untuk dipelajari, lebih menyukai hal – hal instan untuk menemukan berbagai solusi tanpa mau berproses karena cukup satu kali klik sudah dapat menemukan jawaban yang diinginkan tanpa perlu membaca banyak hal.

    Baca juga: Tips Keluar Zona Nyaman Secara Cepat

    Padahal Kate Garland, dosen psikologi di University of Leicester di Inggris dalam Time Healthland, 2012 pernah menyatakan bahwa orang-orang yang membaca dari kertas lebih cepat merasa tahu atas informasi yang dibaca dan mengingatnya dalam jangka panjang daripada orang – orang yang membaca melaui layar monitor sehinggga membutuhkan membaca berulang – ulang untuk dapat memahami isi bacaan tersebut.

    Adanya kelebihan dan kekurangan dari kehadiran teknologi digital ini serta menjemukannya metode konvensional jika terus diterapkan tentu tidak akan efektif. Maka perlu kiranya memadu-padankan kedua komponen metode pembelajaran, salah satunya melalui pemanfaatan kembali buku saku yang kian hari kian terlupakan.

    Buku saku merupakan buku yang berukuran kecil yang dapat disimpan dalam saku dan mudah dibawa kemana – mana (KBBI). Buku saku ini memang tidak secanggih e-book yang bisa disimpan dalam smartphone, tapi dalam penggunaannya ia tentu memiliki keunggulan tersendiri.

    Ukurannya yang kecil menjadikannya tak kalah mudah untuk disembunyikan dalam saku, sehingga tak perlu repot membawa tas khusus. Komponen dalam buku saku cenderung berisi inti dari pembahasan dan hanya garis besar. Hal ini akan menuntut penggunanya untuk mampu memahami secara mengakar terhadap komponen dalam buku saku tersebut, sehingga tidak sekadar hapal materi saja.

    Pengguna yang tidak biasa dengan buku saku biasanya akan kesulitan, sebab buku saku tidak menguraikan informasi secara detail. Sebenarnya pemanfaatan buku saku lebih cocok untuk mereka yang telah menguasai materi tetapi perlu pegangan saat berada di tempat – tempat tertentu atau sebagai pengingat saja.

    Hal ini menunjukkan bahwa bagaimanapun strategi yang digunakan, yang menjadi hal penting adalah proses dari seni membaca dan menguasai ilmu itu sendiri, baik melalui media cetak maupun digital. Bagi siswa dan mahasiswa yang sedang melaksanakan tugas lapangan, buku saku ini biasanya menjadi keharusan untuk berada di dalam saku, karena sewaktu – waktu perlu referensi yang cepat dan tepat.

    Seiring perkembangan teknologi, buku saku juga terus dikembangkan dalam media digital yang bisa diakses langsung melalui smartphone. Jadi tinggal pilih buku yang model bagaimana yang anda sukai, tentunya untuk dibaca dan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Bagaimanapun membaca merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat untuk kehidupan.

    Dengan membacalah seseorang akan dapat mengetahui berbagai informasi yang dibutuhkan. Metode yang instan memang bikin nyaman tapi sayangnya juga cepat hilang.

  • Peran serta manfaat  Komputer Bagi Pendidikan Anak  Lengkap

    Peran serta manfaat Komputer Bagi Pendidikan Anak Lengkap

    Peran Komputer Bagi Pendidikan Anak – Halo sobat Shalaazz, ada awalnya komputer dititikberatkan pada proses pengolahan data, tetapi karena teknologi yang sangat pesat, saat ini teknologi komputer sudah menjadi sarana informasi dan pendidikan khususnya teknologi internet.  

    Dalam dunia pendidikan, komputer digunakan sebagai meda dalam proses belajar mengajar. Baik itu untuk guru maupun siswa. Digunakan sebagai alat bantu dalam proses belajar. Setiap alat pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan. Termasuk alat bantu dalam belajar. Selain itu komputer mempunyai kenggulan dalam hal ineraksi.

    Menumbuhkan minat belajar mandiri serta dapat disesauikan dengan kebutuhan mengajar kepada anak. Berinteraksi antara manusia dengan komputer belum dapat tergantikan. Selain itu masih lemahnya kemauan belajar.  

    Komputer berfungsi untuk alat uji yang mempunyai  keunggulan dalam keobyektifan, ketepatan dan kecepatan dalam penghitungan tetapi masih belum dapat menilai soal-soal essai, pendapat dan hal yang terkait dengan moral dan etika.  

    Yang terakhir, sebagai media alat peraga, komputer mempunyai kelebihan dapat memperagakan percobaan tanpa adanya resiko, tetapi membutuhkan waktu dalam pengembangannya.Dalam pmemperkenalkan komputer ke anak, cobalah orang tua atau guru dapat memahami perkembangan Kemudian usia 2-7 tahun anak mulai belajar menggunakan Bahasa, angka dan simbolsimbol tertentu.

    Baca juga: Apa sih Pengertian Pendidikan Anak Usia dini (PAUD)?

    Pada usia 7-12 tahun anak mulai dapat berpikir logis, terutama yang berhubungan dengan obyek yang tampak langsung olehnya. Hingga saat ini, diperlukan perhatikan yang lebih dari ornag tua maupun guru.

    Bagaimana cara memperkenalkan komputer kepada anak-anak .  Software “Edutainment” mempunyai kemampuan  dalam menumbuhkan serta mengembnagkan kreativitas pad anak-anak, juga melatih saraf pada anak. Salah satu contohnya ialah permainan kombinasi  yang bisa menyusun benda-benda ataupun gambar yang di dukung perangkat alat bantu lainnya.  

    Selain program aplikasi (software), dunia web semakin berarti bagi anak-anak. Internet memungkinkan anak mengambil dan mengolah ilmu pengetahuan ataupun informasi Iranian language situs-situs principle dikunjunginya tanpa adanya batasan jarak dan waktu.

    Di samping itu masih ADA manfaat lain principle didapat Iranian language web, misalnya surat menyurat (E-mail), berbincang (chatting), mengambil dan menyimpan informasi (download).  

    Untuk perkembangan pendidikan selanjutnya teknologi “Teleconference” (Konferensi interaktif secara on line dari jarak jauh) dirasakan sudah pantas di coba dan dikembangkan, karena dapat menghemat waktu, tenaga pengajar, kapasitas ruang belajar serta tidak mengenal letak geografis.  

  • Mungkinkah E-Sport Masuk Kurikulum Pendidikan?

    Mungkinkah E-Sport Masuk Kurikulum Pendidikan?



    Mungkinkah E-Sport Masuk Kurikulum Pendidikan? – Pendidikan merupakan hak-hak dasar yang harus diberikan Negara kepada segenap warganya, terkhususnya pendidikan diberikan kepada generasi muda sebagai generasi penentu nasib bangsa dimasa yang akan datang.
    Secara garis besar konsep pendidikan  yang ada di Negara ini terbuat dan tersusun  kedalam Kurikulum,  tercatat bahwa kurikulum pendidikan yang ada di Indonesia telah mengalami pergantian dari tahun ke tahun, di tahun 90-an konsep pendidikan di tanah air pernah menganut sistem pendididikan  Cara Belajar Siwa Aktif  (CBSA), kemudian ditahun 2006 sempat memakai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2006) terus kemudian berubah  menjadi Kurikulum  Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2013) yang pada saat itu dicabut oleh Menteri Pendidikan Anies Baswedan.
    Silih bergantinya konsep kurikulum  dunia pendidikan yang  telah dianut  sedikit banyak telah merubah wajah pendidikan di Negara ini, berdasarkan data dari World Economy Forum di tahun 2017 peringkat kuliatas pendidikan Indonesia berada di urutan 65 dari 130 negara.
    Saat ini perkembangan dunia game  telah berkembang dengan pesatnya, yang dahulunya game hanya permainan yang dimainkan untuk mengisi waktu kini telah bertarnsformasi menjadi permainan yang diperlombahkan hingga ke tingkat dunia dengan mayoritas pemain atau penikmatnya (player) adalah pemuda yang berasal dari kalangan pelajar yang masih menempu proses pendidikan.
    Suatu hal yang menarik sebagaimana penulis  kutip dari portal berita Online yang menyatakan bahwa Kementrian Pemuda Dan Olahraga (Kemenpora)  mendukung ketika  eSport masuk kedalam kurikulum pendidikan bahkan Kemenpora  bersedia  mengangarkan dana sebesar 50 Miliyar untuk hal tersebut.
    Di berbagai  Negara lembaga pendidikan sudah memberikan tempat tersendiri bagi masuknya eSport kedalam ranah pendidikannya mislanya Universitas Robert Marris yang menawarkan beasiswa kepada para atlit eSport berprestasi bahkan Universitas California (UC) salah satu Universitas bergensi di Amerika Serikat sampai-sampai  memiliki arena eSport diarea kampusnya.
    Bahkan di Negara kita sendiri terdapat beberapa sekolah yang memiliki ekskul yang berfokus pada dunia game.
    Lantas yang menjadi pertanyaan terbesar ialah Mungkinkah Esport Akan  Masuk Kedalam Kurikulum Pendidikan Ditanah Air? Sebelum  menjawab pertanyaan tersebut patut pula diingat bahwa kurikulum pendididikan merupakan konsep pendidikan yang akan berlaku secara umum dan bukan hanya berlaku untuk satu atau beberapa lembaga pendidikan saja.
    Bisa dibayangkan lembaga pendidikan yang ada di Indonesia mulai dari Sabang sampai  Merauke  terdiri dari beragam sekolah dengan tingkat kemampuan dan ketrampilan muridnya yang berbeda (Heterogen), takutnya ketika eSport tersebut dimasukan maka akan ada sekolah yang tidak mampu untuk mejalangkannya
    Selanjutnya ketika eSport masuk kedalam kurikulum pendidikan maka mau tidak mau setiap sekolah harus memiliki tenaga pendidik yang mampu memahami betul seluk beluk eSport,  dan ketika eSport sudah menjadi kurikulum maka dibutuhkan anggaran yang lebih besar pula dalam dunia pendidikan.
    Belum lagi dalam dunia eSport sendiri tidak memiliki game yang pasti dan akan tetap dipertandingkan hingga ke tingkat Internasional, selama ini pergelaran tournament eSport  mengikuti game yang saat ini peminatnya banyak itu berarti game yang ada di dunia eSport akan berubah ubah tiap saat  sesuai dengan banyak sedikit peminatnya. Dan menjadi pertanyaan pula bagaimana nantinya konsep kurikulum pendidikan dengan eSport mampu mengatasi dinamisasi seperti ini.?
    Harus diakui dunia eSport Indonesia telah menjadi industry yang banyak mendudkung perekonomian Negara ini, hal tersebut dibenarakan oleh Badan ekonomi kreatif yang menyatakan bahwa industry eSport Indonesia menempati  peringkat ke 16 didunia pada 2017 silam .
    Bagi pandangan penulis  tersendiri ketika saat ini  eSport masuk kedalam kurikulum pendidikan masih kurang tepat dikarenakan sejauh ini dunia pendidikan negeri ini sangat kekurangan Sumber daya manusia ( Human Resource Defisit) belum lagi ditambah dengan sarana dan prasarana yang kurang memadai apalagi kertika eSport  nantinya akan masuk kedalam kurikulum.
    Namun on the otherside ketika permalasahan kekurangan Sumber daya manusia ( Human Resource Defisit)  dan pemasalahan anggrang bisa diatasi pemerintah dengan bqaik  silahkan pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kementrian Pemuda dan Olahraga untuk  merangcang konsep eSport yang nantinya akan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan.
  • Pendidikan Wanita, Masihkah Ada Diskriminasi?

    Pendidikan Wanita, Masihkah Ada Diskriminasi?

    Pendidikan Wanita, Masihkah Ada Diskriminasi? – Halo sobat Shalaazz, Seiring perkembangan zaman, pendidikan tetap menjadi tolok ukur masyarakat terhadap sikap dan moral. Dalam hal ini banyak sering terdengar titah masyarakat awam yang mengatakan “apa sih gunanya pendidikan untuk wanita?”

    “Buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi tapi pada akhirnya menjadi sarjana dapur?” Kita (terutama perempuan) pasti pernah dengar ocehan panas yang mungkin keluar dari mulut tetangga, mulut saudara bahkan mulut keluarga yang mungkin masih kurang paham terhadap pentingnya dunia pendidikan bagi perempuan.  

    Oke. sekarang di sini saya akan memaparkan sedikit ilmu yang telah saya baca di beberapa media tentang pendidikan wanita. Sobat shalaazz tentu tahu kan tentang pahlawan wanita di Indonesia yang sangat berperan dalam dunia pendidikan khususnya perempuan.  That’s right kalau kalian tahu. Berarti kalian nggak buta sejarah.

    Nah buat yang lupa saya ingatkan ya. Ini pahlawan wanita yang menjadi pelopor tentang pendidikan wanita yaitu Raden Adjeng Kartini,Raden Dewi Sartika,Martha Christina Tiahahu, Hj. Fatmawati Soekarno dan masih ada beberapa tokoh wanita lainnya.   Pernah nggak kita mikir ngapain coba perempuan itu dibela-belain sampai ke pendidikannya.

    Baca Juga: Siapakah Pahlawan Pendidikan Wanita Sebelum Kartini?

    Tentu sebagian kalian pernah nyadarkan. It’s oke. Untuk yang belum sadar sini saya sadarkan (mbaah)   Nah jadi pendidikan itu nggak berlaku hanya untuk satu gender aja. Pendidikan itu bebas dan setiap orang baik laki-laki, perempuan maupun setengahnya dari itu, berhak kok menempuh pendidikan nggak ada larangan.

    Sebab undang-undang pemerintahan dan agama menyetujui itu. termasuk perihal pendidikan wanita yang mungkin masih jadi tranding topik dikalangan masyarakat awam. Perlu kita tau bahwa wanita dengan pendidikan tinggi itu agar bisa mampu disejajarkan. 

    Maksudnya pengetahuannya mampu disejajarkan dengan golongan adam. Jadi wanita juga butuh pengetahuan untuk bisa bergerak bebas mengutarakan ide dan pendapatnya diluar. Jadi nggak didapur terus. Kalau dilihat dari segi sosial , ada beberapa kasus yang saya lihat, bahwa wanita yang berpendidikan rendah cenderung mendapatkan perlakuan yang kurang wajar.   

    Seperti penipuan, penindasan, kekerasan dalam rumah tangga, dan masih banyak lagi. Dalam hal ini wanita merasa terintimidasi. Setelah dilihat dari segi pendidikan ternyata sebagian wanita yang mendapat perlakuan yang semena-mena, rata-rata memiliki pendidikan rendah bahkan ada yang nggak sekolah. Itu tentu sangat berpengaruh terhadap dunia pendidikan khusunya bagi perempuan. Secara tidak langsung, ternyata masih ada diskriminasi bagi perempuan.  

    Nah jadi nggak salah kan wanita punya pendidikan tinggi supaya bisa lebih terbuka tentang kawasan dunia luar dan nggak gitu-gitu aja. Kalau kita lihat perjuangan pahlawan yang mempelopori wanita untuk berpendidikan kita bisa berkaca dari ibunya wanita indonesia (Raden Ajeng Kartini) yang bersih keras untuk mempelopori emansipasi wanita.   

    Beliau merupakan salah satu idola yang sangat dikagumi bangsa indonesia maupun negara tetangga karena kegigihannya dalam membela wanita. Lewat surat-surat yang beliau buat yang isinya tentang kesejajaran wanita dan pria dalam hal pendidikan. karena banyak dari masyarakat kita terutama yang awam terhadap pendidikan selalu menyudutkan wanita.   

    Dimana ada yang mengatakan bahwa pria harus lebih tinggi pendidikannya dibandingkan wanita. Sehingga pada zaman dulu wanita dilarang untuk sekolah bahkan sekalipun membaca buku. Nah dari sini lah Ibu R.A kartini mulai memperjuangkan wanita untuk bisa tetap sama-sama menempuh ilmu pendidikan.  

    Namun hingga masa ini pun masih ada masyarakat yang sangat kekeh untuk tidak memberikan pendidikan tinggi kepada anak perempuannya. Entah karena masa kendala biaya atau seperti apa, itu tergantung dari masing-masing pribadi orang tua. Kalau karena masalah biaya tentu pemerintah sudah menyediakan fasilitas yang cukup untuk menempuh pendidikan.  

    Kalau menurut saya untuk menghilangkan rasa-rasa yang mungkin masih tersisa pada zaman dahulu, kita yang mungkin merasa paham tentang pentingnya pendidikan wanita bisa melakukan hal-hal untuk menggalakkan kembali surat-surat kartini yang kini mulai sunyi untuk di perbincangkan dimasyarakat umum. Atau dengan sosialisasi mungkin, baik itu dengan lisan maupun tulisan.  

    Kita perlu meyakini kepada mereka bahwa wanita punya hak untuk menempuh pendidikan. Jangan biarkan mereka terkekang dan menyesal diakhir kemudian. Karena kita perlu melahirkan kartini-kartini baru untuk memperjuangkan emansipasi wanita yang kini masih tertindas dalam pendidikan.

    Dan seharusnya pria perlu membuka lebar pintu kedatangan mereka, dengan begitu pemikiran dunia jauh lebih luas karena di ikutsertakan dengan pendapat-pendapat wanita. Mungkin sekian artikel dari saya semoga memberi manfaat dan jangan lupa komentarnya yah.  Jangan lupa juga ajak temen-temen kalian, kerabat kalian, saudara/dingsanak kalian untuk baca artikel tentang pendidikan, supaya pemikiran kita bisa sama-sama lebih luas dan terbuka serta banyak menambah perbendaharaan pengetahuan untuk tau lebih banyak lagi tentang dunia pendidikan.

    Oh iya. baca artikel pendidikan itu bisa di shalaazz.com (Blognya Pendidikan). Blog yang disajikan Khusus tentang dunia pendidikan.   Oke sekian dari saya, sampai jumpa diartikel selanjutnya yah.

  • Daruratnya Pendidikan di Indonesia

    Daruratnya Pendidikan di Indonesia

    Daruratnya Pendidikan di Indonesia – Halo sobat Shalaazz, seperti yang kita lihat pendidikan di Indonesia semakin hari semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas tenaga pengajar, sarana dan prasarana serta murid-muridnya.   

    Sebagian guru ada yang tidak kompeten dalam menjalankan tugasnya, banyak orang yang menjadi guru bukan dari keinginannya melainkan tidak diterima di jurusan lain, kekurangan dana, ataupun sebagai pilihan akhir.   Kecuali guru yang memang menjadikan dirinya sebagai abdi negara yang berpengalaman dalam memberikan pelajaran.

    Selain itu juga, sarana dan prasarana di Indonesia juga semakin memburuk, terutama di daerah terbelakang.    Terbatasnya sarana dan prasarana serta sulitnya akses ke daerah tersebut, semakin membuat mereka tidak dapat menikmati pendidikan secara maksimal.   Berikut beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia yaitu:    

    1) Kualitas sarana yang rendah

     Untuk sarana fisik, sering kita jumpai disekolah ataupun perguruan tinggi yang gedungnya rusak, laboratorium tidak standar, penggunaan media belajar yang rendah, buku-buku di perpustakaan yang kurang lengkap, teknologi informasi yang kurang memadai, dan sebagainya.   Bahkan ada juga sebagian sekolah yang tidak memiliki bangunan sendiri, ruang laboratorium, dan perpustakaan.

    2) Kuliatas guru yang rendah

      Kualitas guru di Indonesia juga semakin memprihatinkan. Banyak guru di Indonesia yang belum profesional dalam menjalankan tugasnya.   Tak bisa dipungkiri, banyak di antara mereka memilih profesi sebagai guru hanya karena pilihan akhir, kekurangan dana ataupun tidak diterima di jurusan lain.

    Baca juga: Tujuan Berjuang Mencari Pendidikan Hakiki | Motivation Learning

    3) Prestasi siswa yang rendah

      Dengan sarana dan prasarana serta kualitas guru yang rendah, akan memberi dampak pada pencapaian prestasi para siswa.   Dalam skala Internasional menurut laporan Bank Dunia (Greaney, 1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation Achievement) di Asia Timur menunjukkan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah yaitu pada skor tes 51,7%.   Anak di Indonesia sudah terbiasa dengan menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda sehingga sulit untuk mengerjakan soal uraian yang memerlukan penalaran.  

    4) Biaya Pendidikan yang mahal

      Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi, terkadang menjadi pertimbangan ekonomi, terutama pada masyarakat yang tinggal di daerah terbelakang ataupun masyarakat kurang mampu, sehingga tak jarang pula, banyak orang tua yang mengeluh bahkan tidak menyekolahkan anaknya.  

    Mahalnya biaya pendidikan tidak terlepas dari kebijakan pemerintah, seperti munculnya BHMN (Badan Hukum Milik Negara), MBS (Manajemen Berbasis Sekolah).   Yang berakibat pada pemerataan pendidikan di Indonesia sehingga akan menghambat pengembangan Sumber Daya Masyarakat (SDM) secara keseluruhan.  

    5) Rendahnya Relevasi Pendidikan dengan kebutuhan

    Rendahnya relevansi ini dapat dilihat dari banyaknya angka pengangguran di Indonesia.   Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh BAPPENAS (1996), sejak tahun 1998 menunjukkan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU (25,47%), Diploma/SO (27,5%), Perguruan Tinggi (36,6%), sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan.  

    Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya, ada 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan.   Selain itu, masalah ketenagakerjaan juga dapat disebabkan oleh ketidakselarasan antara kurikulum yang kurang fungsional terhadap keterampilan di dunia kerja.    

    Solusi masalah Pendidikan di Indonesia

    Untuk mengatasi  masalah yang ada dalam dunia pendidikan ada beberapa solusi yang perlu kita tahu yaitu:  

    Pemerintah melakukan peninjauan kembali mengenai Kurikulum 2013.Selain hanya untuk kepentingan sesaat, pemerintah juga harus memerhatikan kepentingan orang banyak terutama guru, siswa, dan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.  

    Menambah mata pelajaran keagamaan dan pendidikan moral, agar siswa maupun mahasiswa dapat membentengi diri dari akhlak yang tercela, perilaku yang buruk, dan perbuatan yang melanggar norma dan hukum.   Selain itu juga, mata pelajaran TIK sebaiknya tidak dihapuskan, karena itu dapat menyebabkan negara kita ketinggalan informasi dan teknologi dengan negara lain.  

    Pemerintah harus sering mengadakan pelatihan pada seluruh guru di masing-masing bidang, agar pengetahuan  pengetahuan mereka semakin bertambah.   Terutama diisi dengan materi yang menarik, seperti cara mengajar agar siswa tidak mudah bosan dalam belajar.  

    Peran serta dalam pendidikan sangat penting dalam lingkungan keluarga. Oleh karena itu, waktu bersama keluarga sangat diperlukan. Tapi sekarang ini banyak sekolah yang menerapkan Full Day School, sehingga dapat mengurangi waktu yang penting bersama keluarga.  

    Pemerintah harus mengkaji ulang mata pelajaran yang diajarkan disekolah. Seharusnya pelajaran yang diajarkan lebih mengacu pada masa depan dan kebutuhan lapangan pekerjaan.

    Jangan sampai mata pelajaran yang menumpuk membuat pelajar merasa tertekan karena mereka dituntut untuk mampu menguasai seluruh mata pelajaran.   Padahal masing-masing pelajar mempunyai kelebihan dan keterampilan dalam pelajaran tertentu.   Demikianlah beberapa pemaparan yang dapat saya sampaikan dalam artikel ini tentang “Daruratnya Pendidikan di Indonesia” semoga dapat bermanfaat.  

    Mungkin dalam artikel ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu dimohonkan kepada para pembaca untuk memberikan saran atau kritik serta tambahan pada kolom komentar. Terima kasih.          

    Penulis: Erisya Rahma Dina

  • Etika dan Ilmu…. Bagaimana Hubungannya?

    Etika dan Ilmu.... Bagaimana Hubungannya?
    Sejenak kita telaah dengan adanya istilah “adab dulu sebelum ilmu” bahkan ada sebagian tokoh-tokoh besar yang bilang “lebih baik memiliki adab ataupun beretika daripada memiliki ilmu yang banyak tapi tak beradab atau tak beretika”. Memang sedikit kontroversi, namun itu menjadi pertanyaan bagi kita semua, Bagaimana hubungan antara etika dan ilmu?
    Etika dalam konteks ilmu adalah nilai (value). Dalam perkembangannya, ilmu sering menggunakan metode-metode trial and error, dan dari sinilah sering timbul permasalahan eksistensi ilmu ketika eksperimentasi ternyata sering menimbulkan fatal error sehingga tuntutan etika sangat dibutuhkan sebagai acuan moral bagi pengembangan ilmu.
    Akan berbahaya jika hal tersebut dilakukan secara terus menerus, maka akan banyak korban jiwa. Misalnya saja dalam percobaan membuat senjata pemusnah masal atau nuklir atau sejenisnya.  
    Disini etika sebagai penekan agar tidak terjadi upaya serampangan atau tindakan semaunya saja dalam melakukan eksperimentasi untuk mengembangkan dunia ilmu pengetahuan.
    Seperti yang telah dijelaskan diatas, ada empat klaster domain etika yang sangat dibutuhkan dalam eksperimen dan pengembangan ilmu, yaitu :
    1.      Temuan basic research
    2.      Temuan rekayasa teknologi
    3.      Dampak sosial pengembangan teknologi
    4.      Rekayasa sosial
    Dalam konteks ini, eksistensi etika diwujudkan dalam visi, misi, keputusan, pedoman, perilaku, dan kebijakan moral.
    Keempat klaster tersebut berikut contoh yang dikemukakan menunjukan bahwa etika dalam pendekatan filsafat ilmu belum muncul kalau hanya pada wilayah epistimologik, tetapi ketika membicarakan aksiologik keilmuan, mau tidak mau etika harus terlibat.
    Etika membawa pada perkembangan ilmu untuk menciptakan suatu peradaban yang baik, bukan menciptakan malapetaka dan kehancuran. Bacon mengatakan bahwa knowledge is power atau pengetahuan sebagai kekuatan, siapa yang ingin menguasai alam semesta maka harus menguasai ilmu. 

    Namun demikian, jika kita menguasai alam semesta dengan kemampuan ilmu yang kita miliki tanpa memperhitungkan norma-norma, baik hubungan dengan alam maupun sosial. Maka bukannya kemajuan yang akan kita dapatkan justru kehancuranlah yang akan kita dapatkan. Banyak sekali kerusakan lingkungan hidup yang akan mengancam kelangsungan hidup manusia.
    Beruntung kita sebagai warga negara republik Indonesia yang sudah memiliki etika dan nilai budaya yang sangat luhur sejak dahulu, sehingga membuat Indonesia dikenal masyarakat dunia sebagai masyarakat yang ramah. Seperti contoh dalam budaya Jawa mengenai unggah-unggah dan budaya Sunda mengenal undak usuk basa. Hal ini menunjukan betapa hebatnya nenek moyang kita memiliki budaya yang tak ternilai harganya. Hal ini jika disatupadukan dengan perkembangan ilmu, maka akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling maju di dunia dengan perkembangan ilmu serta peradaban manusianya.

    Terimakasih…


    Sumber :
    Noeng, Mohadjir. 1998. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Rake Sarasin.
    Nuh, Muhammad. 2011. Etika Profesi Hukum. Bandung: CV. Pustaka Setia.
  • Menyulut Sikap Percaya Diri Pada Remaja Serta Kepribadian Dasarnya

    Menyulut Sikap Percayat Diri Pada Remaja  Serta Kepribadian Dasarnya



    Menyulut Sikap Percaya Diri Pada Remaja Serta Kepribadian Dasarnya – Remaja pada umumnya didefinisikan sebagai orang-orang yang mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Menurut WHO (World Health Organization), remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-19 tahun. Fase masa remaja merupakan fase yang amat berpengaruh terhadap perkembangan sikap dan sifat seseorang. Perilaku dan potensi diri mulai nampak ditunjukkan pada fase remaja ini. Begitupun perubahan secara fisik akan sangat terlihat selama fase remaja ini.
    Perubahan sifat dan sikap yang dialami selama masa remaja ini akan sangat mempengaruhi aktifitas kesehariannya.  Menyesuaikan antara melepas dan melupakan kebiasaannya selama berada di masa kanak-kanak dan mengadaptasikan diri dengan kebiasaan barunya sebagai seorang remaja memang tidaklah muda. Butuh penyesuaian perilaku untuk bisa melakukaannya.
    Salah satu masalah sikap dalam masa remaja ini adalah perihal kepercayaan diri.  Menurut  Thantaway dalam Kamus istilah Bimbingan dan Konseling, percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, karena itu sering menutup diri.
    Betapa banyak kita temui seseorang dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi semasa kanak-kanak  berbading terbalik ketika memasuk masa Remaja. jika ditinjau lebih dalam masalah ini, kita akan menemukan kenyataan bahwa memang manusia adalah makhluk yang unik. Sifat dan sikap yang dimilikinya tidak selamanya bisa membersamainya. Sebagai makhluk  yang unik , sikap manusia ternyata tergantung pada kepribadian dasar dan lingkungannya (teori Gordon Allport).
    Kepercayaan diri merupakan hal yang harus selalu ada dalam diri manusia. Usia remaja merupakan usia terberat untuk mengatualisasikan sikap percaya diri dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan remaja sadar akan kelebihan-kelebihan yang mereka miliki namun tidak memiliki keberanian  untuk mengembangkannya. Begitupun sebaliknya, mereka juga sadar akan kekurangan yang mereka miliki namun tidak memiliki kepercayaan diri untuk menerimnya.
    Banyak cara yang ditawarkan untuk mengembangkan sikap percaya diri pada mulai dari menyadari kelebihan yang dimiliki, memperbanyak pergaulan,  mencoba hal-hal baru hingga melatih public speaking. Kesemua cara tersebut memang sangat patut dicoba untuk melatih kepercayaan diri, namun ada satu hal yang sering diabaikan yakni sisi kepribadian yang dimiliki oleh sang remaja tersebut.
    Pada dasarnya sisi kepribadian dalam diri manusia mudah berubah menyesuaikan situasi dan lingkungannya (inkonsistensi kepribadian). Pada masa remaja inkonsistensi kepribadian inilah sangat terasa sehingga berpengaruh pada sikap kepercyaan diri sang remaja. 
    Inkonsistensi kepribadian ini karena terlalu melakukan banyak hal-hal baru yang sama sekali tidak memiliki tujuan. Malakukan hal-hal baru yang sekiranya memberikan manfaat akan mampu  memicu sikap percaya diri. Pemahaman akan kepribadian dasar alias kepribadian bawaan sangat diperlukan untuk menyulut sikap percaya diri pada remaja.
  • Rangking Bukan Penentu Kemampuan Anak

    Rangking Bukan Penentu Kemampuan Anak
    Rangking Bukan Penentu Kemampuan Anak – Tak terasa libur sekolah telah berjalan dan anak-anak telah menerima hasil belajarnya selama satu semester. Pertanyaan pertama yang akan ditanyakan adalah juara atau tidak ?, dapat rangking berapa ?. dua pertanyaan itu akan selalu muncul ketika pembagian hasil belajar anak. Terkadang akan sangat membingungkan bagi saya, apakah tidak ada pertanyaan yang lain selain itu ?.
    Perlu sobat semua ketahui bahwa ranking bukanlah faktor penentu kemampan anak. Anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada anak memiliki kemampuan lebih dalam matematika atau bisa disebut kecerdasan logis atau matematis, ada pula anak yang memiliki kemampuan berbahasa atau memiliki kecerdasan linguistik. 
    Bukan berarti anak yang tidak memiliki kemampuan seperti contoh tersebut dapat dikatakan anak kurang pandai dan sebagainya, bisa jadi anak tersebut memiliki kemampuan lain yang tidak dimiliki oleh teman – teman sebayanya yang lain. Pakar pendidikan Howard Garner dari Havard university membagi menjadi delapan kecerdasan yang dimiliki oleh anak. Berikut macam-macam kecerdasan yang ada dalam diri anak;

    1.       Kecerdasan Linguistik (Word Smart)

    Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam berbahasa baik secara lisan maupun tulisan. hal tersebut dapat dilihat dari tulisan anak yang rapi, anak suka dalam membaca, cepat menghafal huruf dan lancar dalam mengeja, memiliki kemampuan berbicara yang lancar dengan lawan bicaranya, dan mendengarkan cerita.

    2.       Kecerdasan Logika Atau Matematis (Number Smart)

    Anak yang memiliki kecerdasan matematis akan lebih menyukai angka. Hal itu dimulai dari anak hafal angka, lancar dalam berhitung baik, penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Anak yang memiliki kecerdasan matematis akan lebih menyukai sesuatu yang berbau angka dan sains.

    3.       Kecerdasan Intrapersonal (Self Smart)

    Kecerdasan dalam menguasai diri. Anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal akan pandai dalam menguasai diri, termasuk emosi dan anak lebih suka bermain sendiri.

    4.       Kecerdasan Interpersonal (People Smart)

    Kecerdasan interpersonal atau bisa disebut kecerdasan bersosial. Anak yang memiliki kecerdasan interpersonal akan memiliki banyak teman, disebabkan karena anak mudah bergaul dengan orang lain. Anak akan memiliki rasa empati, mampu memahami perasaan orang lain dan menonjol.

    5.       Kecerdasan Musikal (Music Smart)

    Anak yang memiliki kecerdasan musikal dapat terlihat dari anak yang suka menyanyi, mendengarkan musik, dan berjoged

    6.       Kecerdasan Spasial (Picture Smart)

    Anak biasanya lebih suka menggambar, mencoret-coret dan mewarna.

    7.       Kecerdasan Kinetik (Body Smart)

    Anak yang memiliki kecerdasan ini lebih aktif, suka olahraga, menari dan sesuatu hal yang bersifat untuk melakukan sesuatu anak akan menyukainya.

    8.       Kecerdasan Naturalis (Nature Smart)

    Anak yang memiliki kecerdasan naturalis akan suka bermain di alam, seperti menyukai tanaman, hewan dan peduli terhadap lingkungan.
    Melalui gambaran mengenai kecerdasan yang dipaparkan,  Rangking Bukan Penentu Kemampuan Anak.  diharapkan sobat tidak lagi berfikir bahwa ketika anak tidak mendapatkan rangking anak belum bisa atau berfikir negatif tentang anak. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dengan anak yang lainnya. Ingatlah bahwa angka bisa dibuat dan diubah namun kecerdasan dan kemampuan adalah mutlak milik anak. Jadi jangan berpacu pada sebuah rangking untuk menilai kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki oleh anak.
  • Sistem Kebut Semalam, Efektifkah Bagi Usia Remaja?

    Sistem Kebut Semalam, Efektifkah Bagi Usia Remaja? – Metode kebut semalam adalah metode belajar yang dilakukan H-1 sebelum melakukan ujian ataupun sekedar mengumpul tugas. Ini adalah metode langganan kebanyakan para penuntut ilmu. Entah sebagai seorang siswa ataupun mungkin sebagai mahasiswa.
    Dalam metode kebut semalam ini, kamu harus rela mengorbankan jatah tidur malammu hanya untuk belajar mati-matian agar sukses menghadapi ujian ataupun sekedar menyelesaika tugas. Banyak alasan yang sering dikemukakan oleh pecinta metode system kebut semalam ini, mulai dari hafalannya lebih awet soalnya belum lama dipelajari hingga ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan dibandingkan menyelesaikan tugas.
    Jika ini alasan yang juga sering kamu gunakan, coba kamu tanyakan kembali pada dirimu, sebagai seorang remaja yang sedang menempuh pelajaran didunia sekolah, adakah yang lebih penting dari sekolah dan tugas-tugasmu? Kamu belum diberi beban untuk menanggung hidup sendiri. kamu masih menjadi tanggungan kedua bapak ibumu. Lalu mengapa kamu masih mengabaikan tugas-tugasmu. Kewajiban kamu di usia remajamu adalah meyelesaikan sekolahmu dengan sebaik-baiknya. Dan jika kau beralasan ada yang lebih penting dari menyelesaikan tugas, apa yang yang lebih enting itu? Coba tanyakan kembali pada dirimu.
    Dalam rentang usia remaja, belajar dan terus belajar haruslah menjadi aktifitas keseharianmu. Sangat tidak wajar jika kamu masih bergantung pada metode kebut semalam ini. Kau juga harus menyayangi diri dan otakmu. Waku yang mestinya dugunakan unutk mengistirahatkan badan dan otakmu, kamu paksa hanya untuk mengerjakan sesuatu yang semestinya bisa kamu selesaikan jauh hari sebelum H-1 kamu mengumpulkan tugas ataupun mengikuti ujian.
    Menurut penelitian oleh para peneliti dari Universitas California yang berada di Los Angeles dalam studinya yang dipublikasikan pada jurnal Child Development, ada beberapa fakta yang ditemukain bahwa belajar dengan metode Kebut semalam tidak akan sebanding dengan hasilnya karena akan memberikan hasil yang buruk. Para Peneliti melibatkan 535 siswa menengah di kawasan Los Angeles yang tengah berada di kelas 9, 10 dan 12.  Oleh karena itu, Para Peneliti meminta kepada para  partisipan untuk membuat diari berisi jumlah waktu yang mereka habiskan untuk tidur dan belajar selama dua minggu. Termasuk kapan saja partisipan merasa kesulitan memahami pelajaran di kelas dan kapan saja partisipan mendapatkan nilai jelek dalam tugas atau ujian.
    Setelah di tindak lanjuti,  para peneliti menemukan fakta bahwa semakin banyak jam tidur yang dikurangi siswa untuk belajar maka semakin buruk kinerja mereka saat mengerjakan tugas atau ujian.
    Meskipun tampaknya terkadang kita perlu memiliki jam ekstra untuk belajar di malam hari, namun ternyata ada ‘harga’ yang harus dibayar untuk ini,” ujar peneliti Andrew J. Profesor UCLA bernama Fuligni serta ilmuwan senior di Institute of Neuroscience and Human Behavior, UCLA seperti dilansir dari huffingtonpost, Jumat (24/8/2012).
    Untuk itu Profesor UCLA merekomendasikan kepada para siswa agar memikirkan cara lain untuk meningkatkan waktu belajar mereka di siang hari tanpa harus mengambil waktu tidurnya di malam hari.
    Beberapa dampak negative yang bisa kamu dapatkan jika masih bergantung pada metode kebut semalam ini diantaranya adalah kamu akan mendapatkan porsi tidur yang kurang yang menyebabakan terganggunya kerja otak dan menganggu system kerja jantung dan melemahkan system memori otak. Selain itu  juga memberikan dampak pada tubuh kita seperti mudah kelelahan, kurang konsentasi, gelisah dan stress,  bahkan sensitivitas insulin yang menyebabkan turunnya sisten kekebalan tubuh.
    Jika kamu intens melakukan sistemn kebuat semalam ini, H-1 ujian baru belajar, H-1 tugas baru diselesaikan, maka memori ingatanmu akan mudah semakin melemah. kamu akan mudah mengalami kelupaan dikarenakan ketidakmampuan memori ingatan untuk menyimpan suatu objek. Apakah kamu mau mengalami hal itu diusia remajamu? Usia yang semestinya  menjadi usia untuk kamu mengingat hal-hal yang berharga diusia mudamu.
    Sayangi tubuh dan otakmu, atur waktumu sebaik-baiknya dan hapus kebiasaan kebut semalam ini dari kebiasaanmu.
  • Karakter Anak Bangsa Ditentukan Kualitas Guru

    Karakter Anak Bangsa Ditentukan Kualitas Guru
    Karakter Anak Bangsa Ditentukan Kualitas Guru – Seorang guru adalah teladan untukgenerasi muda yang diajarinya. Teladan guru terlihat pada tingkah berbicara dan perbuatannya. Bagaimana menjadikan generasi muda berkualitas kalau gurunya saja tidak dapat menjadi contoh yang baik untuk generasi penerus? Guru yang mana mampu mendiskriminasikan generasi mudanya? Guru mana yang bilang engkau bodoh dan ini itu? Bukankah perkataan guru ialah doa? Doa yang harusnya dijaga jangan sampai menyakiti hati. Lalu, apa yang harusnya dibenarkan oleh guru dan atau generasi muda?
    Tulisan mengatakan kalau guru itu teladan. Kenyatannya guru belum mampu menjadi teladan yang baik. Bukan bermaksud menyalahkan. Namun yang dikecewakan ketika seorang guru tak mampu memberikan semangat untuk muridnya. Mampunya berkata kasar dan membuat generasi tidak percaya diri. Menganggap remeh kalau engkau tidak akan bisa melakukan ini karena ini merupakan semester depan. Apakah itu ucapan yang dijadikan teladan?
    Pandangan anak muda dari anggapan itu mungkin ada yang mengambil setiap hikmahnya. Namun, kalau dengan anak muda yang tidak mengerti bagaimana? Pasti akan merasakan malas untuk mencari ilmu. Begini tidak boleh begitu tidak boleh. Mana yang harius diambil. Yang ada membuat anak muda bingung sendiri.
    Apalagi kalau guru sudah diskrimasi terhadap pembedaan SARA. Apakah ada orang yang mau mendengarkannya? Pasti banyak yang tidak senang dengan ucapan dan tingkah lakunya. Atau guru yang suka menjelekkan satu sisi dengan sisi yang lain. Fikiran anak muda pasti akan terikuti dan diolah dalam otaknya. Mau dikatakan kemana kalau fikiran anak muda yang disampaikan oleh guru itu sampai kepada kebatilan bukan kebenaran?
    Guru bukanlah hanya mengajari di dunia melainkan apa yang diajarkannya menjadi bahan pertanggungjawabannya di akhirat. Maka, berhati-hatilah menjadin guru. Karena sesosok guru adalah teladan bagi muridnya. Kalau saja kehilangan figurnya anak muda ini. Dunia tidak akan menjamin keberhasilan untuk mencetak generasi-generasi yang berkualitas dan berintegritas. Sesuatu pelajaran itu datangnya dari kecil. Maka, jangan sekali-kali meremehkan hal yang kecil karena kecil itulah bisa menjadikan anak muda generasi yyang besar yyang mampu memberikan secara penggerak, pemikir dan ahli dalam berideolog dengan memperhatikan syariat islam.
  • Mengubah Pola Pikir Pelajar Generasi Millennial “Pemburu” Nilai Ujian

    Mengubah Pola Pikir Pelajar Generasi Millennial "Pemburu" Nilai Ujian

    Mengubah Pola Pikir Pelajar Generasi Millennial “Pemburu” Nilai Ujian – “Besok saya ujian, tapi saya tidak peduli. Karena selembar kertas tidak akan menentukan nasib saya dimasa yang akan datang” (Thomas Alfa Edison)
    Quotes pada umumnya seperti pisau bermata dua. Dapat memberikan suntikan semangat dalam melakukan kegiatan sehari-hari, salah satunya sebagai motivasi dalam belajar. Dan quotes dapat juga sebagai pemicu “kemalasan” seseorang, seperti halnya malas dalam berusaha dan melakukan sesuatu. Jadi, quotes itu tidak selamanya memicu semangat saja. Tetapi dapat membuat orang bermalas-malasan. Karena quotes ibarat pisau bermata dua yang di mana tergantung pemakainya menggunakan dan memanfaatkannya.
    Masih dalam konteks quotes, pasti kalian sudah tidak asing dengan quotes legend di atas bukan. Yaps, quotes dari bapak penemu bola lampu pijar yaitu Thomas Alfa Edison tersebut banyak tersebar di status-status atau stories para pelajar mendekati ujian-ujian sekolah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan quotesnya, tetapi salah pada penafsiran dan pemahaman dari rata-rata pelajar.
    Memang tidak menutup kemungkinan terdapat banyak penafsiran dari quotes tersebut. Sebab beda orang berbeda juga penafsiran atau interpretasinya. Tetapi penyimpangan dari pemahaman yang salah membuat tingkat motivasi atau dorongan untuk berusaha juga akan mengalami penurunan. Seperti halnya quotes tersebut, disalahgunakan atau diselewengkan makna sesungguhnya oleh para oknum-oknum pelajar yang malas untuk belajar dalam menghadapi ujian-ujian sekolah. Berikut penjelasan dan pemahamannya :
    Maksud “besok saya ujian, tapi saya tidak peduli” bukan kemudian kita tidak belajar untuk mempersiapkan ujian yang akan datang. Melainkan mempersiapkan kemampuan atau skill jauh-jauh hari sebelum mendekati ujian. Karena selembar kertas tidak akan menentukan nasib di masa yang akan datang memerlukan skill yang menjadi kelebihan dari diri kita di antara pelajar-pelajar yang hanya mengejar nilai tinggi dengan cara yang tidak fair play dalam mengerjakan selembar kertas ujian tersebut. 
    Percaya pada kemampuan diri sendiri lebih utama dan lebih mulia daripada mencotek teman sebelah meja yang hanya menambah dosa karena tidak jujur dalam mengerjakan tiap soalnya. Sebab semua pasti ada pertanggung jawabannya. Baik berupa pertanggung jawaban di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Nilai tinggi bukanlah ukuran intelektual seseorang dan nilai tinggi bukanlah jaminan langsung mendapat pekerjaan. Sebab, untuk mendapatkan suatu pekerjaan di era millenialis ini bukanlah nilai raport, IPK, dll yang berupa angka. 
    Karena angka bisa dimanipulasi dengan mudah di era digital ini. Kenyataannya, banyak pengangguran intelektual (golongan sarjana/yang terpelajar) yang susah melamar pekerjaan. Menurut Kemenristek Dikti, di tahun 2017 sarjana pengangguran mencapai 8,8% dari total 7 juta pengangguran yang ada di Indonesia. Jumlahnya mencapai lebih dari 630 ribu orang. Hal ini karena banyaknya persaingan yang semakin ketat ditandai dengan dibukanya era pasar bebas. Dan rata-rata kualifikasi yang dicari adalah yang mempunyai skill atau keahlian tertentu.
    Jadi, pada kesimpulannya skill atau keahlian itu berlaku jangka panjang, tidak seperti dengan nilai raport yang hanya sementara dan tidak bisa sebagai tolak ukur kemampuan seseorang. Karena walaupun tidak mengenyam bangku sekolah, atau bangku perkuliahan masih dapat mendapat pekerjaan yang layak sesuai dengan skill yang dimiliki. 
    Seperti halnya pengusaha sekaligus sebagai Kementerian Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang tidak mengenyam pendidikan tinggi seperti menteri-menteri lainnya, mampu menjadi menteri yang luar biasa. Karena skill yang mampu beliau pertanggungjawabkan kepada rakyat Indonesia, khususnya para nelayan di pesisir pantai. Pertanyaannya sudahkah kalian mempunyai skill atau keahlian khusus?
    Referensi : kompasiana.com | pikiran-rakyat.com
  • Penerapan Full Day School Diperlukan Kajian Ulang

    Penerapan Full Day School Diperlukan Kajian Ulang
    Penerapan Full Day School Diperlukan Kajian Ulang  – Kebijakan full day yang telah diterapkan oleh Mendikbud  Muhadjir Effendy diharapkan mampu membuat siswa mengembangkan kemampuan psikolosial di sekolah. Namun, dalam praktiknya menjadi suatu  pertanyaan  pentingkah fullday di Pendidikan Indonesia?      
    Belajar dari pendidikan yang ada di Negara Finlandia, negara yang terkenal dengan sistem pendidikan terbaik di dunia tersebut. Bahkan pendidikan dapat dijalankan amat baik di Negara Finlandia. Negara tersebut sangat mengharamkan sistem pendidikan yang membebani  para siswa dan guru dengan agenda pendidikan yang tidak menunjang mutu pendidikan itu sendiri. 
    Dari segi pembelajaran,Finlandia hanya menerapkan maksimal lima jam proses pembelajaran di sekolah.  Itupun , proses pembelajaran di desain enjoy dan membuat siswanya tidak jenuh akan pembelajaran.  Tidak adanya program fullday ataupun lainnya yang membebani para siswa. Program seperti itulah yang seharusnya diterapkan oleh Indonesia.
    Gagasan fullday yang dipaksakan dapat mematikan minat bakat anak akan sesuatu hal yang digemarinya. Pada kegiatan pragmatis di sekolah sehingga menjauhkan dari relasi sosial kemasyarakatan. Relasi sosial kemasyarakatan menjadi media pengembangan karakter anak yang didasari pada empati dan etika keadilan publik.
    Jika di telaah lebih mendalam,konsep fullday itu sendiri bisa dikatakan tidak dilandasi oleh tujuan substantial dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional di jenjang dasar dan menengah. Namun,hanya untuk mementingkan beberapa  kelompok masyarakat yang tidak memiliki waktu untuk mendidik dan menemani anak karena kesibukan bekerja.
    Sutradara pendidikan sebelum mengambil kebijakan seharusnya melihat para pelaku pendidikan. Harus ada keseimbangan visi dan misi antara sutradara dan pemeran pendidikan. Bisa dikatakan adanya program fullday school membuat pemeran dalam pendidikan menjadi terbebani.  Hal ini dapat dilihat dari siswa yang pulang sore harii dan tidak adanya waktu untuk mengembangkan bakat minat nya.
    Pada praktiknya program full day tersebut dijalankan 5 hari kerja. Namun,pada hari sabtu dan minggu siswa disibukkan akan tugas yang diberikkan oleh guru saat hari pembelajaran.  Dalam hal ini,fullday dapat mempengaruhi psikologi dan fisik siswa .
    Siswa sangat sulit konsentrasi saat memasuki sore hari. Konsentrasi siswa sebenarnya maksimal hingga pukul 12 siang dan selebihnya sult untuk konsentrasi dalam pembelajaran. Timbul masalah baru dalam hari ini. Kualitas siswa dari tahun ke tahun bisa dikatakan semakin menurun apabila program fullday terus dilaksanakan tanpa adanya pembenahan yang mendasar.
    Keluhan bukan hanya datang dari siswa melainkan juga para tenaga pendidiknya. Tambahan jam yang semakin banyak membuat guru yang merupakan juga pemeran pendidikan harus bekerja dengan tenaga ekstra dan stamina yang prima agar dapat menyampaikan materi pembelajaran untuk siswanya.
    Perlunya kajian yang mendalam oleh sutradara pendidikan dalam menerapkan fullday school. Kajian yang dimaksud harus menimbang para pemeran pendidikan agar keselerasan terjadi demi terwujudnya kemajuan Pendidikan Indonesia. Bangsa yang besar datang dari generasi dengan pendidikan yang berkualitas. Oleh karenanya diperlukan program penunjang yang dapat membuat generasi tersebut menjadi berkualitas.
  • Perlunya Penanaman Pendidikan Karakter Usia Dini

                                                               Source : Google Images

    Belakangan ini banyak permasalahan menyangkut korupsi terutama di Indonesia. Miris!  melihat, membaca, mendengar, serta menyaksikan fenomena semacam itu lalu lalang berseliweran tidak karuan. Akan tetapi, itulah kenyataan yang terjadi di bumi pertiwi ini.  
    Tanahair yang dibangun dengan tumpahan darah dengan pesonan nan indah tetapi tidak dibarengi dengan pemimpinnya  yang bertanggung jawab. Mengambil uang rakyat hanya  untuk  kenikmatan dunia atau membiayai anak istrinya untuk bergaya hidup serba ada atau sekedar foya-foya belaka.
    Pejabat yang seharusnya menjadi panutan dan teladan untuk rakyatnya malah melakukan tindakan yang membuat jutaan rakyatnya menderita kelaparan dan tercekik kemiskinan. Lemahnya karakter para pejabat menjadi satu faktor utama yang memungkinkan seorang pejabat melakukan tindakan semacam itu. Misalnya saja barubaru ini ramai diberitakan .  kasus yang terjadi di Malang Jawa Timur. 22 anggota DPRD ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka kasus suap dan gratifikasi.
    Wakil rakyat yang seharusnya menjadi tempat aspirasi dan teladan yang baik malah menjadi perampok berdasi untuk daerahnya. Akan dibawa negeri ini apabila kebanyakan pejabat tidak memiliki jiwa welas asih untuk rakyat jelata yang seharusnya memang harus diperjuangkan nasibnya? Sulit sekali rasanya Indonesia menjadi negara bebas korupsi. Hukuman kurungan, denda dan lain lain tidak membuat para perampok berdasi tersebut jera . Di sisi lain adanya KPK yang menjadi pilar utama dalam penanganan kasus korupsi. Hal tersebut,juga harus dibarengi  bantuan peran serta seluruh lapisan masyarakat  dinilai sangat penting untuk memberantas korupsi di Indonesia.
    Dalam praktik , upaya pemberantasan korupsi mengharuskan peran serta  seluruh lapisan masyarakat yang berani menyampaikan ketidakbenaran serta pentimpangan terhadap KPK apabila  mendapati kasus suap dan korupsi . Apabila semua lapisan masyarakat turut serta mendukung proses dalam upaya pemberantasan korupsi, maka akan terwujud  Indonesia menjadi negara bebas korupsi .



                                             source : google images

    Korupsi sangat merugikan semua pihak. Salah satunya yang paling merasakan kerugian tersebut ialah negara . Uang yang seharusnya dapat dijadikan sarana pembangunan dan pengembangan lainnya malah dijadikan sebagai ajang syukuran bagi para perampok berdasi. Korupsi menjadi penjajah ekonomi di zaman sekarang, memang bukan menjajah dengan cara perang dan menghilangkan banyak nyawa, melainkan menjajah melalui ekonomi , karakter , dan pola pikir suatu masyarakat dalam suatu negara. Penjajahan semacam ini justru lebih kejam ketimbang penjajahan yang dilakukan oleh para komeni terdahulu. Karena tindakan korupsi berarti merampas banyak hak asasi manusia yang kelak akan menjadi generasi penerus bangsa. Korupsi dapat merusak struktur pemerintahan yang ada di suatu negara,menjadi penghambat kemajuan suatu negara.
    Tidak bisa dibiarkan begitu saja kasus korupsi . Dijadikan permasalahan yang serius yang harus dihadapi . Diperlukan penanggulangan yang tepat untuk menangani kasus korupsi di Indonesia . Penanggulangan yang efektif untuk mengurangi korupsi yang ada di suatu negara,terutama Indonesia.
    Education is the most powerful weapon that you can use to change the world .” Pendidikan ,bagi seorang Nelson Mandela adalah senjata yang ampuh untuk merubah dunia . Kalimat dari pejuang anti diskriminasi ternyata dipakai sebagai ujung tombak bagi seluruh dunia .
    Negara Indonesia, juga menempatkan pendidikan sebagai suatu permasalahan bangsa . Pendidikan berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa. Pada dasarnya, pendidikan untuk mengembangkan kepribadian utuh dan warga negara yang baik.
     Penanaman pendidikan karakter dari usia dini menjadi jawaban yang tepat untuk penanggulangan kasus korupsi tersebut . Penanaman pendidikan karakter sangatlah penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti menanamkan sifat kejujuran dalam diri seorang anak . Sifat kejujuran yang harus ditanamkan dalam diri anak dibutuhkan apalagi pada zaman sekarang . Bukan hanya kejujuran saja,melainkan akhlaq mulia budi pekerti juga harus diajarkan dari usia dini . Hal tersebut ,  bisa mendorong anak menjadi memiliki iman yang kuat sehingga ketika dewasa kelak takut untuk mendekati korupsi . Kesadaran kolektif masyarakat juga perlu ditumbuhkan di usia dini .
     Penanaman pendidikan karakter bisa diawali dari keluarga. Keluarga bisa menjadi pondasi utama dalam pencegahan korupsi . Keluarga juga menjadi tempat pendidikan pertama bagi anak yang bisa membentuk karakter untuk masa depan. Pendidikan karakter di lingkungan keluarga tidak sekadar kurikulum pendidikan di sekolah, tetapi harus melibatkan peran orang tua dalam menumbuhkan kesadaran anti korupsi sejak usia dini. Komunikasi orang tua terhadap anak  harus berjalan seimbang.
    Syamsul Yusuf menuturkan ,bahwa “keluarga berfungsi sebagai fungsi biologi,ekonomi,pendidikan , sosialisasi , perlindungan,rekreatif dan agama.”  Melalui pendidikan dalam keluarga ,anak akan terdidik dan terbiasa dengan aktivitas yang bermanfaat bagi kehidupannya kelak.
                Kejujuran dapat dijadikan awal dari pendidikan karakter yang bisa diajarkan. Prinsip untuk tidak berkata bohong kepada diri sendiri dan orang lain sebisa mungkin telah melekat dalam sanubari seorang anak.
                Gaya hidup menjadi cara kedua yang bisa diajarkan dalam pendidikan karakter di keluarga. Orangtua harus bisa menekankan dan mengajarkan gaya hidup sederhana. Anak dibiasakan untuk tidak boros. Dalam lingkungan keluarga, seorang anak tidak boleh dibiarkan hidup dengan kemewahan dan dimanja dengan yang dimintanya. Hal itu, bertujuan agar anak bisa menerima dengan yang dimilikinya .
                Jika membiarkan seorang anak  hidup dengan berfoya-foya dan menghabiskan uang untuk kesenangan sesaat. Maka,bisa gaya hidup tersebut menular sampai dewasa. Tanpa disadari,anak bisa melakukan tindakan korupsi di kemudian hari.
                Peran penting orangtua diperlukan dalam mendidik anak-anak mereka dengan kasih sayang,perhatian,rasa cinta yang mendalam. Selain itu,orangtua juga mengajarkan pendidikan tentang kejujuran ,kedisplinan dan kesederhanaan dalam lingkungan keluarga. Diharapakan ,peran penting orangtua tersebut bisa membawa seorang anak memiliki perilaku yang berbudi luhur ketika berkecimpung di masyarakat dan pemerintahan.

  • Fasilitas Pendidikan Yang Baik Mendorong Terciptanya Generasi Unggul

    Fasilitas Pendidikan Yang Baik Mendorong Terciptanya Generasi Unggul


    Fasilitas Pendidikan Yang Baik Mendorong Terciptanya Generasi Unggul – Sejatinya sekolah menjadi wadah pengembangan minat bakat dan kemampuan berpikir anak didik. Dalam perkembangannya sekolah menjadi penumbuh peran secara mandiri untuk menumbuhkan pribadi yang cerdas dan kuat bagi generasi muda.
    Salah satu penunjang terciptanya generasi yang cerdas dan berkemampuan secara minat bakat berupa fasilitas pendidikan yang baik dan layak . Salah satu sekolah yang memberikan fasilitas pendidikan yang baik dan layak ialah SMA N 1 Salaman. Sekolah menengah yang berada di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.
    Sekolah tersebut memiliki visi beralaskan budaya bangsa,bernafaskan keimanan untuk menuju masyarakat disiplin dan terdidik. Dilihat dari visinya tersebut,bisa tergambar bahwa SMA N 1 Salaman ingin membuat anak didiknya dengan kedisiplinan dan terdidik yang baik. Kedisplinan di sekolah tersebut sangat diterapkan secara rapi dan bisa dikatakan baik.
    Bukan hanya kedisplinan saja,melainkan kondisi sekolah yang rindang dengan letak di desa. Hal ini mendorong siswanya belajar dengan baik . Fasilitas lain yang dapat mengembangkan minat bakat siswanya ialah adanya Gedung olahraga di sekolahan tersebut. Hal itu mendorong siswa bukan hanya cerdas di akademik saja melainkan di sisi non akademik minat bakat.
    Bukti nyata dari fasilitas penunjang yang baik itu,bisa dilihat dari banyaknya prestasi yang ditorehkan seperti kejuaraan turnamen futsal,volley,taekwondo dan lain sebagainya. Bukan hanya olahraga saja,dari sastra dan musik juga menorehkan prestasi yang diantaranya kejuaraan geguritan ,lomba acoustik gitar,debat dan banyak lainnya.
    Prestasi tersebut tak lepas dari siswanya yang memang memiliki banyak minat bakat yang bisa dikembangkan sehingga para guru hanya tinggal mengasah kemampuan tersebut hingga bisa menorehkan prestasi. Peran guru juga ada di dalamnya sehingga menciptakan siswa yang berprestasi.
    Tak hanya itu saja,sekolah ini juga baru gencar-gencarnya mengajak anak didiknya untuk lebih menyukai terhadap literasi. Hal itu bisa dilihat dari diadakan acara bulan bahasa pada oktober silam. Dampak positif dorongan literasi ini agar siswa bisa mencintai terhadap buku dan berwawasan luas.
    Sejatinya sekolah yang demikian ,harus juga dikembangkan oleh sekolah lain agar terciptanya bibit -bibit berprestasi dan generasi yang unggul. Fasilitas pendidikan yang baik dapat mendorong generasi muda yang berkualitas. Generasi muda yang berkualitas dapat menciptakan kemajuan bagi negara tercinta Indonesia.
    Kemajuan negara bisa dimulai dari generasi penerusnya. Semakin berkualitas generasi penerusnya maka cita-cita akan kemajuan sebuah negara bisa terwujud.
  • Inilah Sebenarnya Perbedaan SBMPTN 2018 dan 2019

    Inilah Sebenarnya Perbedaan SBMPTN 2018 dan 2019 – Hai kawan! Apa kabar? Bagaimana persiapan tes SBMPTN tahun depan? Sudah mulai belajar atau belum nih? Jangan lupa untuk belajar ya!Perlu kalian ketahui, setiap tahun tes seleksi ini memiliki perkembangan yang cukup signifikan loh. Oleh sebab itu, jangan sampai ketinggalan informasi! Agar ketika pelaksanaannya nanti, tidak terkejut bahwa setiap tahunnya memiliki perbedaan. Jadi, sudah pada tahu belum nih perbedaan SBMPTN 2018 dan 2019? Berdasarkan informasi yang didapat dari zenius.net perbedaannya antara lain:

    DAYA TAMPUNG

    Pada tahun 2018, daya tampung peserta tes minimal 30%, sedangkan untuk tahun 2019 bertambah menjadi minimal 40%. Jadi kalian punya kesempatan yang lebih besar untuk ikut tesnya. Akan tetapi siap-siap juga dengan persaingan yang semakin ketat ya kawan! Karena jumlah peserta semakin banyak. Wowww… masihkah berleha-leha? Ayooo semangat belajar kawan!!!.

    BASIS PELAKSANAAN UJIAN

    Bila pada tahun 2018 ujian pelaksanaan berbasis kertas dan komputer, maka pada tahun 2019 pelaksanaan ujian 100% berbasis komputer.

    JENIS UJIAN

    Biasanya, Ujian terdiri dari Tes Kemampuan dan Potensi Akademik (TKPA) dan Tes Kemampuan Dasar. Namun untuk tahun 2019 sudah berganti nama nih kawan, yaitu Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Kompetensi Akademik (TKA).
    bagaimana kawan? Namanya semakin keren ya? Pasti berpikir, “duhh makin sulit nih. dari namanya saja sudah mulai mencurigakan,” ehehe.. semangat ya!!.

    METODE

    Tahun 2018: daftar => ujian => penentuan kelulusan.
    Tahun 2019:  daftar => ujian => dapat nilai => daftar ke PTN => penentuan kelulusan

    PELAKSANAAN UJIAN

    Pada tahun 2018, ujian hanya dilaksanakan 1 kali saja. Sedangkan untuk tahun 2019 dilakukan beberapa kali ujian. Dalam setahun bisa ujian maksimal 2 kali.

    UJIAN KETERAMPILAN

    Tahun 2018: ujian keterampilan bagi yang memilih kelompok jurusan seni dan olahraga.
    Tahun 2019: seleksi portofolio bagi yang memilih kelompok jurusan seni dan olahraga.
    Bagaimana kawan? Lebih suka SBMPTN 2018 atau SBMPTN tahun 2019?  Tetapi apapun itu, jangan pernah menyerah! Tetap berusaha dan jangan putus usaha. Kita dituntut untuk berusaha dan tidak dituntut untu berhasil. Semangat!!!!! Salam pendidikan!.
    sumber: zenius.net
  • Kuliah di Luar Negeri: Punya motivasi kuat atau Sekadar Tren?

    Kuliah di Luar Negeri: Punya motivasi kuat  atau Sekedar Tren?


    Kuliah di Luar Negeri: Punya motivasi kuat  atau Sekedar Tren? – Dulu kalau ada orang yang berencana melanjutkan kuliah  di luar negeri, akses informasi mengenai negara tujuan, universitas, hingga beasiswa belum sebanyak sekarang yang bisa kita lihat di sosial media. Bisa dibilang  kuliah di luar negeri itu hanyalah untuk orang orang yang punya uang saja. Sedangkan di zaman sekarang banyak orang yang bisa bersekolah di luar negeri. Lembaga-lembaga Negeri maupun swasta memberikan beasiswa yang banyak dan sudah bervariasi, Semakin banyak pula teman, saudara bahkan keluarga yang  tahu mengenai informasi beasiswa di luar negeri.
    Tapi sebenarnya, Kuliah di luar negeri itu hanya sekedar  tren atau memang punya motivasi yang kuat?
    Kebanyakan orang yang ingin belajar diluar malah hanya ingin agar terlihat keren dihadapan teman teman nya, malah ada yang blak blakan  bahwa dia ingin kuliah ke luar negeri karena ingin menunjukkan pada orang lain bahwa dia cukup pintar. Seriously? Pertanyaannya, apakah keinginan seperti itu cukup untuk mereka sebagai bekal mereka diluar negeri?

    Perlu Motivasi yang Kuat, tentu saja.

    disamping itu juga ada yang serius kuliah di luar negeri dengan segala perencanaan yang matang. Ada? banyak malah. perencanaan yang matang merupakan sesuatu yang perlu direnungkan secara serius.
    Bagaimana tidak? untuk awalannya  saja, untuk melamar ke sebuah universitas di luar negeri biasanya motivation letter akan selalu ditanyakan. Jawabannya akan menentukan apakah kita layak untuk kuliah di sana atau tidak, dan jawaban “jalan-jalan” rasa rasanya kurang tepat, kecuali mereka memang mau melamar di jurusan traveling, hospitality ataupun sejenisnya.
    Soal bagaimana menuliskan motivasi itu dalam bahasa yang menarik  jelas sebuah poin yang amat teramat penting. Bagi saya sendiri sebuah motivasi tidak pernah ada yang “salah”, karena sifatnya personal. Tapi jika itu hanya karena untuk mengikuti tren dan teman teman teman?

    Coba kita tanya jawab hati 

    Bagaimana jika kemampuan bahasa asing kita masih jauh dari yang universitas tersebut persyaratkan? Bagaimana jika kita tidak lolos seleksi pada  penerimaan mahasiswa baru di kampus yang kita idam idamkan? Bagaimana jika proses pengurusan visa nya tidak semudah yang kita bayangkan?  Bagaimana jika kita tak punya teman sehati untuk berkeluh kesah? Bagaimana jika materi kuliahnya berat dan kita tidak sanggup? Bagaimana jika kita susah untuk lulus?

    Apakah motivasi yang kita punya cukup kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas?

    Motivasi tentunya bisa mempengaruhi usaha dan perjalanan kita ke sana. Jika tak siap dengan segala kesusahan studi di luar negeri, bisa jadi ada pilihan lain: cari mentor atau ikut pelatihan. Pengalaman itu mahal, dan pengalaman melanjutkan studi di luar negeri juga adalah kesempatan untuk mengenal banyak hal. Banyak kesempatan yang kini ditawarkan untuk itu. Banyak pula saingan yang ada di seluruh dunia. Kata pepatah, “Tidak ada yang gratis didunia ini” Untuk mendapatkan sesuatu, perlu sesuatu juga: perjuangan, ikhtiar serta dukungan. Studi  di luar negeri memang menyenangkan, pasti ada usaha keras dan momen-momen “berdarah” di balik layar.
    Selamat berjuang! ♡
    Gagal itu urusan nanti, yang terpenting kita pernah berusaha untuk mencoba ♡

    bakat memiliki 3 dimensi psikologi yakni dimensi perseptual, dimensi psikomotor dan juga dimensi intelektual. Bakat mempengaruhi cita-cita dan pengenalan diri sendiri.#psikologi #penamillennials #pendidikan #shalaazz

    — Pena Millennials | Shalaazz (@penamillennials) January 20, 2020

  • Maraknya Perdagangan Gelar – Fake Degrees Shock

    Maraknya Perdagangan Gelar – Fake Degrees Shock  – Dunia pendidikan zaman sekarang memang sangatlah unik. Liberalisasi pendidikan yang terjadi, membuat pendidikan menjadi carut marut tidak beraturan. Sehingga mengakibatkan kualitas pendidikan kita masih jauh dibawah Negara lain. Serta kurangnya kesadaran terhadap pendidikan.
    Salah satu problem yang dihadapi akhir-akhir ini yaitu adanya sindikat jual beli gelar. Berdasarkan kabar dari merdeka.com, praktik jual beli gelar ini memiliki kantor pusat di Jakarta, Bandung dan beberapa kota lainnya. Mereka menyediakan jasa pemblian ijazah dengan mematok harga jutaan rupiah. Hanya dengan membayar segepok uang, maka telah menyandang gelar sarjana tanpa harus mengikuti kompetensi belajar.
    Bisnis perdagangan gelar dijalankan oleh Institut Management Global Indonesia (IMGI). Institute ini memiliki beberapa jaringan lembaga lain, diantaranya, Senior University (SU), North California Global University (NCGU), Jakarta International Management (JIM), dan American World University (AWU). Ironisnya lembaga tersebut telah meluluskan sekitar 30.000 orang tanpa menunggu waktu lama. Sasarannya adalah PNS (Pegawai Negeri Sipil), kalangan artis, pengusaha, dan pejabat pemerintahan.
    Tentu saja mereka tertarik denga praktik jual beli gelar tersebut. Karena dengan proses instan tanpa harus repot-repot mengerjakan tugas-tugas dan mengikuti kegiatan belajar, bisa menyandang gelar palsu tersebut. Pola pemikiran masyarakat Indonesia yang menginginkan serba instan, menjadi terpancing dengan pemberian gelar palsu tersebut.
    Menurut mereka, dengan gelar akademik dapat mengangkat harkat dan derajat sosial masyarakat. Dipandang hebat dan berpendidikan dengan penggunaan gelar tersebut. Mereka dibuat silau dengan gelar. Nah, apalagi setelah mendengar kabar adanya lembaga perdagangan gelar tanpa harus memenuhi tahap belajar.
    Hal tersebut meresahkan sejumlah pihak. Karena apabila lembaga tersebut masih berdiri, dapat menggeser lembaga pendidikan legal dan mengakibatkan persaingan kerja yang sangat ketat. Natara lulusan lembaga pendidikan legal dan illegal. Selain itu, pendidikan Indonesia tidak lagi berkualitas.
    Oleh sebab itu, mari sadari pentingnya pendidikan. Gelar hanyalah hasil dari sebuah pencapaian dan sebagai hadiah dari kerja keras kita. Jangan mudah tertipu dengan hal demikian! Apalah jadinya generasi muda apabila gelar yang disandangnya palsu semata.
  • Bukan Pendidikan Basa-Basi

    Bukan Pendidikan Basa-Basi – Pendidikan ada yang mengatakan sebatas basa-basi saja. Ketika pendidikan terlena untuk mencari penghargaan dan pujian. Hanya mengatasnamakan rasa ikhlas. padahal, hatinya tidak mengatakan demikian. Pendidikan seharusnya to the point agar lebih jelas dan pasti. Karena pemuda membutuhkan kepastian bukan keragu-raguan. Kalau sebatas janji semua orang juga bisa. Kalau sebatas teori semua juga bisa belajar dari materi dan mencari sendiri. berbeda dengan teori yang dipraktikkan. Akan ada hal yang tidak pernah terlupakan dan langsung mengena di hati pemuda.
    Melihat dari tujuan hukum ialah semua kehidupan dalam masyarakat selalu dibutuhkan adanya ketentuan yang mengatur masyarakat dalam beraktivitas. apabila keberadaan masyarakat itu sendiri tidak disertai keberadaan hukum, maka hak dan kewajiban seseorang tidak akan terlindungi, oleh karena itu dimana ada masyarakat yang beraktivitas maka keberadaan hukum sangat diperlukan dalam segala aspek.

    Misalnya, saja dalam dunia pendidikan. kalau hukum tidak mengaturnya. pendidikan akan sulit untuk menuju tujuan awalnya yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. pendidikan harus dilandasi dengan kerja cerdas bukan kerja keras. kalau sekedar kerja pendidikan tidak akan berjalan hanya beraktivitas tetapi hati ya tidak mencintai pekerjaan itu ataupun pendidikan itu. kalau hanya kerja keras maka hati yang akan kewalahan sendiri tidak bekerja dengan tim. sedangkan kerja cerdas inilah yang membawa pendidikan menuju peluangnya yang hebat.

    Bukan sekedar waktu, tenaga, harta dan jiwa semuanya dipertaruhkan dalam satu ikatan bersama tim untuk mencapai satu tujuan pendidikan yang berlandaskan pancasila yang diawali dengan keagamaan yang kuat akan berpengaruh besar bagi setiap kehidupan.

    kepentingan orang dan golongan dalam pendidikan pasti berbeda-beda. namun, dengan adanya ikatan yang berdasarkan sejarah akan kuat. kalau saja semua tahu kalau perjuangan itu diawali degan proses yang panjang dan tak kenal lelah. bukan sekedar mengkritisi bukan sekedar memberi tugas bukan sekedar teori-teori ataupun langsung dipraktikkan. namun, bagaimana saudara dapat mencintai pendidikan itu sendiri. semakin orang cinta maka semakin akan didalami pendidikan. hakikatnya hanya terdiri dan terjadi ataupun terbentuk dari self masing-masing.

    Percaya atau tidak percaya tanyakan pendidikan itu dihatimu? dimanakah letak pendidikan yang akan saudara perjuangkan? mungkin sama halnya dengan mencintai sesuatu atau makrifatullah tepatnya. itulah pendidikan yang bukan sekedar basa-basi.