Category: Opini

  • Peran Pemuda Sebagai Volunteer Bidang Pendidikan

         

    Peran Pemuda Sebagai Volunteer Bidang Pendidikan


    Peran Pemuda Sebagai Volunteer Bidang Pendidikan – Pemuda adalah sosok harapan bangsa untuk mewujudkan cita-cita suatu negara. Saat ini banyak sekali pemuda di Indonesia, apalagi di era 2030 akan memasuki bonus demografi. Pemuda yang  berumur produktif dengan jumlah lebih banyak akan menanggung masyarakat tidak produktif. Bahkan Bapak Proklamator RI (Republik Indonesia) juga menyampaikan “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, maka kuguncangkan dunia”.

    Begitu pentingnya peran pemuda hanya dengan satu orang, apalagi semua pemuda di seluruh pelosok Indonesia dengan jiwa semangat yang membara akan mengubah dunia lebih baik. Berdasarkaan data sensus BPS (2010), penduduk umur 16-30 yang termasuk pemuda berjumlah 62 juta. Jumlah yang begitu besar menjadi aset bangsa, terutama di bidang pendidikan.

    Pendidikan adalah pintu gerbang menuju cita-cita Indonesia yang tertuang di dalam pembukaan UUD (Undang-Undang Dasar) 1945. Upaya pencerdasan bangsa melalui peningkatan kualitas adalah pemerataan pendidikan. Setiap bangsa Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak baik formal maupun non formal. Jika kita melihat kondisi pendidikan Indonesia saat ini perlu ditingkatkan kualitasnya. Hal tersebut bisa teratasi melalui peran seorang pemuda yang terjun langsung di bidang pendidikan. Mahasiswa yang biasa disebut agent of change (agen perubahan) dapat mengaplikasikan sebutan itu bukan sekedar fiksi melainkan fakta.

    Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus dijunjung oleh akademisi adalah mengajar, penelitian dan pengabdian. Salah satu peran mahasiswa yaitu pengabdian, biasanya dilaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) pada tingkat akhir. Akan tetapi, bentuk pengabdian ini seharusnya tidak berhenti hanya saat KKN. Jiwa kepedulian dan nasionalisme yang tinggi harus terpatri dalam sanubari mahasiswa. Mencoba melihat permasalahan bidang pendidikan di lingkungan sekitar, masih banyak anak putus sekolah, kekurangan tenaga pengajar dan fasilitas tempat belajar yang tidak layak. Memang pemerintah sudah memberikan beasiswa pendidikan, tetapi masih ada masyarakat Indonesia yang kurang mendapat informasi.

    Dimulai dari hal kecil saja, mahasiswa sebagai calon sarjana yang akan menjadi calon pemimpin bangsa harus membuka pikiran untuk membantu mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia. Satu orang mahasiswa berinisiatif mengajak temannya bahkan pemuda lainnya yang hanya lulusan SMA sederajat untuk membentuk suatu komunitas pejuang pendidikan. Jika yang berjuang banyak akan semakin menguatkan visi tercapai. Peran sederhana dari seorang pemuda yang berdampak besar bagi pendidikan Indonesia adalah menjadi volunteer (relawan). Memang menjadi relawan tidak digaji karena melakukannya dengan ikhlas tanpa pamrih. Pemuda harus meyakini bahwa menjadi volunteer adalah pekerjaan mulia yang akan bernilai pahala tidak terhingga dari Tuhan. Saat ini banyak dijumpai sebuah komunitas yang terdiri dari volunteer pendidikan.

    Hati saya sendiri tergugah saat pulang dari”Asia Pasific Future Leader Conference 2017″ yang diselenggarakan di Kuala Lumpur. Disana saya bertemu dengan para pemuda dari Asia Pasifik. Mereka mempresentasikan hal-hal yang sudah dilakukan untuk mewujudkan SDG’s (Suistanable Development Goals) yang ada 17. Lalu, saya merasa belum berkontribusi untuk Negeri selama menempuh pendidikan Perguruan Tinggi melalui beasiswa. Setelah kembali ke Indonesia, timbul niat saya untuk mewujudkan SDG’s yang ke-4 tentang kualitas pendidikan. Saya merasa anak-anak yang tinggal di Panti tidak mendapatkan kualitas pendidikan yang sama dengan temannya karena masalah biaya sehingga tidak bisa kursus. Lalu, timbul ide untuk membuat komunitas Laskar Panti yang diikuti volunteer dari mahasiswa berbagai jurusan dan angkatan.

    Kegiatan utama yang dilaksanakan adalah bimbingan belajar gratis untuk adik-adik yang tinggal di salah satu Panti Purwokerto. Selain itu, terdapat pelatihan sesuai bakat dan minat dan berbagi ilmu sesuai bidang tiap volunteer. Biasanya mengajarkan ilmu pertanian melalui hidroponik, menanam di hidrogel dan lainnya. Jadi, adik-adik di Panti dapat merasakan tambahan belajar di luar sekolah secara gratis dan pengetahuan di bidang lain.

           
    Komunitas di bidang sosial maupun pendidikan sudah banyak dijumpai di Purwokerto. Sebelum adanya Laskar Panti, sudah berdiri Sahabat Panti, Bhinneka Ceria, Kelas Inspirasi dan lainnya. Beberapa bulan yang lalu terdapat komunitas baru lagi yang terdapat bidang pendidikan yaitu “Inspirator Indonesia Chapter Barlingmascakeb”. Salah satu kontribusi sederhananya adalah menjadi volunteer pengajar di salah satu TPQ Perumahan Purwokerto yang kekurangan tenaga pengajar. Buat seluruh pemuda, janganlah berdiam diri menghadapi permasalah pendidikan di lingkungan sekitar karena kunci terwujudnya Indonesia yang makmur dan sejahtera.

    Bertindak dan berkontribusi semampunya karena hancur atau tidaknya suatu negara berada di tangan para pemuda. Jangan hanya mengkritisi tetapi beraksi yang pasti sebelum mati.
    Salam Menginspirasi dan Mengabdi Tuk Negeri.
             
  • Penanaman Kecintaan Pada Seni dan Budaya Melalui Dunia Pendidikan

    Penanaman Kecintaan Pada Seni dan Budaya Melalui Dunia Pendidikan
                Seperti halnya kecintaan pada Bangsa dan Negera, kecintaan pada Seni dan Budaya tidak bisa serta merta tumbuh pada diri seseorang. Seorang anak yang tidak bersentuhan langsung terhadap seni, maupun tidak diperkenalkan sejak dini mengenai seni dan kebudayaan, biasanya tumbuh menjadi anak yang kurang peka terhadap estetika (keindahan) maupun budaya yang ada disekitarnya.
                Saat menjadi guru saya banyak melihat hal yang demikian. Seni dan budaya tanpa kita sadari sebenanrnya adalah sebuah hal yang melebur di dalam diri kita, di dalam masyarakat kita dan dalam semua kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Hanya saja kita tidak peka terhadap hal tersebut, sehingga hal tersebut acapkali terlihat biasa saja, bahkan tidak berpengaruh apa-apa pada diri mereka.
                Hal inilah yang terkadang memberikan sedikit kesulitan dalam pembelajaran seni budaya di sekolaha. Karena bagi mereka seni adalah sebuah maha karya dan budaya adalah seseuatu mengenai tradisi turun menurun yang sifatnya tua dan menjadi mlik kita sejak dahulu. Pengenalan seni dan budaya sangat melekat erat. Sejak di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) tentu kita sudah berusaha mendekatkan anak-anak pada seni dan kebudayaan kita. Contoh paling sederhana adalah ketika kita menyanyikan lagu kebangsaan di depan kelas. Menyenyi adalah bagian dari seni dan lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah bagian dari kebudayaan yang kita miliki. Sampai pada hal yang paling kompleks saat anak-anak diajarkan tampil untuk berani tampil untuk membawakan sebuah tarian bersama atau drama-drama sederhana di atas panggung saat malam perpisahan.
    Pada dasarnya penerapan seni sejak TK dan SD menekankan pada keberanian untuk tampil dan pengembangan diri. Saya jarang sekali menemukan seorang guru yang mungkin dalam bentuk sederhana menjelaskan apa itu batik sambil mencontohkan seragam almamater yang mereka pakai hari itu, atau seorang wali kelas di SD yang menceritakan perihal sejarah munculnya budaya Tari Singo Ulung sebagai bentuk kearifan lokal yang ada di Kabupaten kami, Bondowoso, di jenjang Sekolah Dasar (SD).
                Hal semacam ini saya pikir telah membuat jarak yang cukup jauh, sehingga pada akhirnya di jejang SMP dan SMA para guru seni perlu membuat lompatan yang besar, untuk memperkenalkan sei dan budaya yang ada di daearah, sampai mereka benar-benar paham apa itu budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh daerah kami. Kebanyakan anak-anak yang tidak bersentuhan langsung dengan seni dan kebudayaan di lingkungannya, mengetahui seni hanya dengan mendengar dan membaca sekilas pada buku teks tanpa mendalaminya.
                Begitu masuk di jenjang SMA, saya banyak menemukan bahwa anak-anak tidak bisa menyebutkan lebih dari 3 kebudayaan yang daerah kami miliki, tarian apa yang kami miliki, kearifan lokal apa yang berkembang dalam masyarakat kami dan tradisi apa yang kami miliki. Semua pertanyaan itu seperti sangat mudah dijawab dan diketahui semua orang, tetapi tidak bagi mereka. Hal ini terjadi, karena pengenalan seni dan budaya tidak dilakukan sejak dini. Mulai lunturnya berbagai tradisi dan budaya yang ada di masyarakat, juga membuat mereka semakin jauh dari budaya yang seharusya wajib mereka warisi.
                Di daerah saya, Kabupaten Bondowoso, saya mulai melihat pertunjukan Tarian Singo Ulung dan Ojung menjadi hal yang hampir langka. Selain saat hari-hari besar dan event-event daerah maupun budaya, tarian ini tidak mentradisi dilingkungan tempat tinggal kami, yang dulunya dari Buyut saya pernah bercerita, bahwa pertunjukan Ludruk, Leong, Tarian Singo Ulung, Wayang Golek maupun Ojung adalah hiburan yang merakyat, dimana hampir tiap bulan nikah, peringatan 1 Muharram, Maulid Nabi Muhammad dan Hari Kemerdekaan, semua orang berkumpul untuk menyaksikannya di kantor desa atau rumah-rumah yang memiliki hajat. 
    Hal ini jelas membawa pengaruh besar pada rasa cinta dan memiliki akan seni maupun budaya yang ada tumbuh di lingkungan mereka. Sehingga secara tidak langsung, mereka telah mengenal dan memplajari seni dan budaya dalam bentuk hiburan rakyat sejak dini, dari lingkungan mereka sendiri tanpa perlu materi di dalam kelas. Seharusnya materi mengenai Seni dana Kebudayaan local di kelas adalah bagian dari penguatan pemahaman mereka. Bukan pengetahuan baru.
    (https://dolandolen.com/6-seni-kebudayaan-unik-milik-bondowoso-yang-wajib-dolaners-ketahui-dan-pelajari/)

    Beberapa kebudayaan yang dimiliki Kabupaten Bondowoso

                Pengalaman estetis adalah cara termudah dan paling mudah membekas di hati tiap anak dalam hal mengingat. Saat mereka terlibat langsung di dalam kebudayaan dan kultur itu sendiri, maka mereka tidak perlu lagi menghafal. Mereka hanya perlu mengingat, bahwa apa yang mereka lihat adalah kebudayaan yang mereka miliki, sehingga rasa ingin mempertahankan, kepedulian dan rasa melindungi menjadi lebih kuat.
                Perkembangan zaman dan pola mendidik dan memperkenalkan seni dan budaya dalam dunia pendidikan memang sudah banyak berubah, dan sebagai guru pun saya tidak serta merta meyalahkan keadaan ini, karena saya pun hidup dalam lingkungan tersebut. Sehingga segala kesulita tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri bagi kami para guru seni budaya.
                Salah satu cara yang biasanya saya lakukan dalam proses pengenalan seni dan budaya kepada mereka adalah dengan cara melakukan berbagai obeservasi, baik itu pada sebuah badan usaha seperti batik dan kerajinan kuningan khas Kabupaten kami, pada acara kebudayaan, maupun pada narasumber tertentu di lingkungan tempat tinggal mereka. Dengan cara itu mereka bisa mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai budaya apa yang dulu berkebangan dan tumbuh di sekitar mereka. Medengar dan turun langsung ke lapangan bagi saya adalah cara paling ampuh kedua untuk membuat mereka memahami tentang seni dan kebudayaan, dari pada mendengar penjelasan materi di dalam kelas.
                Jika kami memiliki watu senggang atau jam pelajaran yang lebih, maka biasanya saya meminta mereka untuk membaca sebuah buku yang nantinya akan kami bahas bersama di kelas, sehigga anak yang telah membaca bisa bercerita tetang apa yang dia tahu pada teman yang lainnya.dengan begitu, kami memiliki bahan diskusi mengnai kebudayaan. 
    Selain itu menonton VCD mengeai tari-tarian daerah, Ludruk, teater dan kesenian lain juga dapat membantu kami untuk bisa mengapresiasi budaya tersebut dengan cara yang paling mudah dan murah. Meskipun dirasa sedikit berat, saya begitu ingin meyampaikan dan mengajarkan kepada para siswa siswi saya, bahwa seni dan budaya adalah cakupan yang sangat luas. Pembelajaran seni, buka hanya tentang ‘kamu harus bisa menggambar’, tetapi jauh lebih dari itu, kami para guru harus menumbuhkan rasa cinta pada tiap seni dan budaya yang kami miliki dengan tetap mempertahankan tradisi dan kearifan lokal ditengah perkembangan zaman. 
    Dengan begitu, kami semua akan memiliki rasa bertanggung jawab yang sama besar, rasa memiliki yang sama besar, juga rasa ingin menjaga dan melestarikan yang sama besar. Saat itu terjadi, bukan hal mustahil untuk melestarikan budaya hingga bisa kita perkenalkan pada dunia Internasional melalui pembelajran seni dan budaya di sekolah.
  • Pentingnya Pendidikan Bagi Kaum Hawa, Wajib Tahu!

    Pentingnya Pendidikan Bagi Kaum Hawa, Wajib Tahu!
    Pentingnya Pendidikan Bagi Kaum Hawa, Wajib Tahu! – Dikenal istilah ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tentu istilah tersebut merujuk pada pentingnya pendidikan bagi kaum hawa. Pendidikan yang dimaksud disini bukan hanya pendidikan di sekolah saja, namun pendidikan agama juga harus dikuasai oleh kaum hawa. Seperti menguasai bacaan Alquran. Agar kelak anak-anaknya mendapatkan pembelajaran pertama mengenai Alquran dari dirinya. Banyak sekali orangtua yang hanya mengedepankan pendidikan sekolah namun tidak dengan pendidikan agama. Padahal pendidikan agama juga sangat diperlukan bagi kehidupan, lebih-lebih jika sudah terjun dalam masyarakat.
                Seperti halnya ketika bulan Ramadhan, kemampuan membaca Alquran sangatlah diperlukan, tidak hanya bagi kaum Hawa tapi juga kaum Adam. Akan selalu ada tadarrus Alquran yang dilaksanakan di setiap masjid ataupun musholla. Seorang perempuan, terlebih ketika telah menjadi ibu haruslah menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Saat seorang ibu menyuruh anaknya belajar agama atau mengaji maka seorang ibu haruslah bisa mengaji atau setidaknya menguasai ilmu agama meski sedikit.
                Mindset masyarakat kebanyakan adalah setinggi apapun pendidikan seorang wanita, akhirnya jua dia akan berkecimpung dalam dunia perdapuran. Hal seperti itu memang benar, namun seorang ibu bukan hanya koki bagi anak dan suaminya. Namun seorang ibu haruslah menguasai berbagai macam ilmu, seperti kedokteran untuk menangani anggota keluarganya yang sakit. Seperti guru untuk mengajari anaknya ketika mendapatkan PR dari guru sekolahnya. Kaum hawa pun harus terampil dan kreatif ketika anaknya mendapatkan tugas keterampilan dari sekolahnya.
                Jadi, berpikirlah ke depan ketika kalian kaum hawa mulai merasakan malas belajar. Karena di tangan kalianlah generasi bangsa ini akan diarahkan kemana.
  • Menebar Pengalaman Dalam Memberikan Perkara Pendidikan

    Menebar Pengalaman Dalam Memberikan Perkara Pendidikan
    Menebar Pengalaman Dalam Memberikan Perkara Pendidikan – Berani memulai sebuah kata untuk menebar informasi dan kebaikan. Mengungkap sebuah pembenaran dalam fakta yang sesuai Menurut data dari KOMNAS HAM Pendidikan Indonesia sedang dalam keadaan darurat. Pertama, Darurat karena banyak kasus pelanggaran HAM. Kedua, Darurat karena Pendidikan Indonesia yang buruk. Ketiga, Banyak kasus korupsi yang berkaitan dengan anggaran Pendidikan. Keempat, Sistem Pendidikan yang belum berjalan baik. Melihat fakta yang sedang terjadi dan digambarkan saat ini. Mari mengambil telaah dari setiap fakta untuk mengetahui solusi seharusnya melalui riset.
    Pertama, darurat karena banyak kasus pelanggaran HAM. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena melihat dari segi kenyataan bahwasannya Indonesia terlena akan buaian retorika yang benyak menjerumuskan. Terlalu sering ikut-ikutan juga membuat paradigma semakin tak tentu arah sehingga melakukan pelanggaraan demi pelanggaran. Hingga akhirnya membuat label Pendidikan itu sudah tiada di dalam perbuatan maupun tercermin dalam kehidupan.
    Kedua, Darurat karena Pendidikan Indonesia yang buruk. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dikarenakan Pendidikan di Indonesia tidak diberikan teladan yang baik yang mana sebelum mencari ilmu harus tahu adab terlebih dahulu. Adab sebelum ilmu itulah perkataan yang seharusnya menggugahkan selera. Pendidikan di Indonesia hanya mengejar tingkat agar ranking sekolahnya naik, berlomba dalam berprestasi yang intinya didalam Pendidikan sekolah tercerminkan sebuah persaingan yang bisa saja persaingan itu saling merendahkan satu sama lain dan merasa paling tinggi diantara yang lain. Bukankah dalam buku tasawuf karya Buya Hamka menuliskan manusia itu saling mencintai dirinya sendiri. Maksudnya manusia tidak suka akan direndahkan begitupula ketika manusia dipuji mereka akan lebih senang. Jadi, Pendidikan di Indonesia harus tak saling menjatuhkan bukan tidak boleh dalam berprestasi tetapi kejarlah sebuah perlombaan bukan sebuah persaingan yang mengakibatkan ketidaksehatan dalam membangun sebuah negara.
    Ketiga, banyak kasus korupsi yang berkaitan dengan anggaran Pendidikan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dikarenakan Pendidikan hanya dijadikan sebuah formalitas bukan sebuah benteng yang dapat menjaga dari perbuatan yang tercela. Dari tahun ke tahun korupsi semakin tinggi. Namun, pembenahan dalam diri tidak pernah henti. Bukankah Pendidikan mengajarkan kepada kita kebaikan dalam kebermanfaatan? Dimanakah rasa atau naluri dalam proses pengajaran Pendidikan? Apakah Pendidikan hanya dijadikan ajang pencari ijazah saja lalu pergi untuk tidak mengabdi? Kemana janji semua itu? Jadikanlah renungan itu sebagi proses panjang dalam setiap mengambil keputusan.
    Keempat, system Pendidikan yang belum berjalan baik. Dikarenakan Indonesia terlalu banyak mengadopsi hukum dari negeri luar dibandingkan negeri sendiri. Proses dalam pembelajaran saja seringkali terhenti.  Maka dari itulah, mari membenah diri hingga tujuan akan selalu di akhir waktu.
    Jadi, seiring dengan berjalannya waktu ini mari mengembangkan Teknik yang canggih untuk memahami perilaku dalam Pendidikan sebelum belajar harus terlebih dahulu dibangun akhlaqnya.
  • Metode Saintifik versus Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

    Metode Saintifik versus Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
    Sumber Gambar: www.americanboard.org/blog/starting-teaching-job-mid-year/


    Pengantar

    Ketika mendengar kalimat pahlawan tanpa tanda jasa, maka yang terlintas dalam benak kita adalah sosok guru. Dikutip dari Wikipedia, guru berasal dari bahasa Sanskerta adalah seorang pengajar  suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk kepada pendidik profesional  dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,  mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi. Jadi apakah hubungan antara pendekatan  saintifik dengan pahlawan tanpa tanda jasa?

    Metode Saintifik

    Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dicanangkan pemerintah untuk menggantikan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dimana dalam kurikulum ini diwajibkan untuk menggunakan metode saintifik pada pembelajaran di Sekolah Dasar dan Menengah. Lalu apakah metode saintifik itu? Metode saintifik adalah metode pembelajaran yang harus memenuhi kriteria ilmiah. Kriteria ilmiah yang dimaksud terdapat pada Permendikbud (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) Nomor 81 A Tahun 2013 lampiran IV terdiri atas:
    1. Mengamati
    2. Menanya
    3. Eksperimen
    4. Mengasosiasikan
    5. Mengkomunikasikan
    6. Mencipta
    Metode saintifik dipercaya dapat menjadikan perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik lebih optimal.

    Pahlawan tanpa Tanda Jasa

    Pahlawan tanpa tanda jasa adalah orang yang berani dan rela berkorban dalam membela kebenaran tanpa mengharapkan keuntungan pribadi.
    Benar sekali jika makna pahlawan tanpa tanda jasa di berikan kepada guru dimana sangat banyak sekali pengorbanan yang diberikan guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, hal ini kembali menjadi perhatian kita ketika makna tersebut disalah artikan.
    Penyalahartian makna tersebut bisa kita lihat ketika minimnya upah guru di negara ini. Ketika membicarakan keuntungan maka yang terlintas adalah uang. Sementara pengertian pahlawan tanpa tanda jasa tidak mencari keuntungan, mari kita berpikir secara logika. Sebagian besar guru memiliki keluarga. Minimnya upah guru di negeri ini, kurang mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga terlepas dari guru berstatus pegawai negeri sipil yang mendapatkan sertifikasi.


    Hubungan antara Metode Saintifik dengan Guru


    Tuntutan pemerintah untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan tidak selaras dengan nasib guru di negara ini yang masih perlu diperhatikan. Ketika guru dituntut untuk kreatif dan inovatif, metode saintifik memerlukan biaya dalam penerapannya. Terutama ketika sampai ke poin ke enam mencipta, maka butuh ekstra pemikiran keras dalam mewujudkannya. Sementara guru juga memiliki keluarga dan fasilitas sekolah kurang memadai dalam penerapan metode saintifik yang diwajibkan menerapkannya dalam kurikulum 2013, maka guru mau tidak mau harus mengeluarkan uang yang terbilang cukup banyak dalam menerapkan metode saintifik terlepas dari gaji sertifikasi yang didapatkan dari pelatihan yang disediakan pemerintah dimana tidak semua guru mendapatkan kesempatan tersebut. Sehingga, penulis berharap pemerintah secara detail meneliti terlebih dahulu sebuah kurikulum sebelum diterapkan di lingkungan sekolah.

    • Dunia Pesantren, Penjaga Adab Bangsa

      dunia pesantren
      Dunia pesantren, penjaga adab bangsa ­-Bagi kebanyakan orang, pendidikan di pesantren tidak terlalu diminati. Dikarenakan pendidikan tradisional di pesantren tergeser oleh lembaga pendidikan modern, hingga lulusannya diremehkan dan dianggap tidak mengikuti kemajuan zaman. Selain itu, sulitnya mendapat pekerjaan semakin membuat masyarakat tidak berminat.
      Padahal, dunia pendidikan di pesantren sangat berperan penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sistem pendidikan yang religius mengajarkan untuk menjalani hidup sesuai dengan ajaran agama. Terlebih lagi dalam menjaga adab-adab atau budi pekerti yang baik untuk hidup ditengah-tengah masyarakat.
      Di pesantren, kita diwajibkan untuk bermukim atau tinggal di asrama, kegiatannya pun lebih padat dibandingkan dengan sekolah formal modern. Antara lain, mengaji, mengkaji kitab, hafalan, dan kegiatan sekolah seperti biasa. Lembaga pendidikannya memiliki keistimewaan tersendiri yang dijaga secara turun-temurun.
      Suatu hari, saya pernah berkunjung disebuah pesantren didaerah saya. Yang saya kagumi ialah santri-santri yang menjaga adab didepan guru maupun orang lain, dan tentu saja jarang saya dapatkan dilingkungan sekolah saya dulu atau bahkan sekolah modern seperti sekarang. Tutur bahasanya yang halus dan lemah lembut, membuat saya sendiri malu.
      Selain itu, hangatnya hidup dalam kebersamaan bersama teman-teman yang tidak akan didapatkan didunia luar dengan mereka yang sibuk dengan gadged dan gaya hidup individualisme. Keistimewaan inilah yang patut dijaga dan dipertahankan diera globalisasi seperti sekarang. Sebagai penyeimbang dan pengawal moral bangsa yang semakin memburuk.
      Dengan kelebihan-kelebihan tersebut, seharusnya pemerintah semakin mendukung dan menyediakan sarana dan prasana di lingkungan pesantren, agar pesantren tetap berdiri dan tidak tergusur oleh pendidikan di zaman modern. Serta untuk dunia industri yang menyediakan lapangan pekerjaan, harusnya tak perlu khawatir dengan alumni pesantren. Mereka telah mendapatkan bekal khusus dilingkungannya. Terlebih tentang akhlaq.
      Oleh karena itu, pendidikan di pesantren tidak bisa dipandang sebelah mata atau bahkan diremehkan. Negeri ini membutuhkan generasi yang mampu menjaga moralitas bangsanya bukan hanya sekedar kepandaian dan materi saja, melainkan adab-adab dan budi pekerti. Semoga pesantren di Indonesia tetap kokoh tidak tergusur oleh modernisasi.
    • Pengembangan Diri : Mengenal Lebih dekat PBAK Mahasiswa

      Pengembangan Diri  Mengenal Lebih dekat PBAK Mahasiswa

      Pengembangan Diri : Mengenal Lebih dekat PBAK Mahasiswa – Kemarin, aku PBAK. Untuk pertama kalinya. Untuk menyambungkan pendidikan yang lebih tinggi di sekolah Menengah. Dulu, memang aku anak SMA yang menyebalkan. Dianggap orang remeh karena gatau matematika. Jujur, aku adalah salah satu yang lumayan gasuka Matematika. Tapi, ini adalah hal yang umum. Semua pendidikan juga punya mata pelajarannya masing-masing. Semua kampus, punya mata kuliahnya masing masing.
      Banyak yang ku dapat ketika PBAK kemarin . Apa itu PBAK? PBAK adalah Pengenalan Budaya dan Akademik kemahasiswaan. Dosen ku menyampaikan banyak hal. Terutama tentang, Apa itu pendidikan yang sebenarnya?
      Semua siswa punya karakternya Masing-masing. Semua guru, bahkan dosen juga punya kriterianya masing-masing.
      Sering kali, kita sebagai Mahasiswa dianggap tak berdaya disini. Katanya… Kerja kita cuma datang, duduk, dengar ceramah, dengar tugas, ngerjain, selesai semua itu pulang. Salah! Aku menganggap semua itu adalah salah.
      Ketika aku PBAK, bukan hanya ilmu yang ku dapat, masih saja hari pertama PBAK aku sudah menyimpulkan bagaimana kegiatan Mahasiswa disana. Banyak orang menganggap, kuliah seperti di televisi itu. Ternyata salah lagi, lagi lagi, banyak orang yang berpikir salah tentang kependidikan kemahasiswaan disini.
      Aku bukan hanya banyak mendapatkan teman baru, bersosialisasi dengan hal yang baru, bertukar pikiran, bertukar pendapat. Tapi, aku juga mendapatkan apa arti kepentingan bersama meraih ilmu dengan IPK tertinggi. Seharusnya kalian bangga dengan gelar MAHA, kalian bukan lagi SISWA tetapi sudah MAHASISWA. Aku bangga… Siapa tidak bangga?
      Berikut ada beberapa point yang aku dapatkan ketika aku PBAK kemarin. Kegagalan yang sering Mahasiswa lakukan di masa kuliah. Apa saja itu? Catat point ini!
      1.salah orientasi(kebebasan tanggung jawab) .
      2. Salah jurusan. (Melahirkan kegagalan) .
      Jadi, kamu jangan sampai malah salah jurusan. Ingat, masih ada waktu buat maba yang baru masuk. Bisabisa kamu gagal. Tapi jangan berpikir gitu juga yah, mungkin saja Allah mentakdirkan kamu dijurusan yang tidak kamu inginkan. Bisa jadi, sesuatu yang amat kamu benci malah menjadi yang baik untukmu. Begitupun sebaliknya. So, harus tetap percaya yah!!
      3. ‎Kuliah bukan keinginan kita, but keinginan orangtua. (Sesuatu yg dipaksakan pasti ujungnya gaena, ada sesuatu yg dipaksa tapi mengenakan.’ibadah’)
      Nah, kalo di point ini. Kamu ambil hikmahnya saja yah, negatif nya kamu buang!
      4. ‎kita berpikir, bahwa tak ada pekerjaan dimasa depan. (Berpikirlah kita mau jd apa,  bukan aku jadi apa?)
      Berpikir, adalah hal yang utama sebelum berbicara. Pikirkan kedepan mau jadi apa kita?
      5. ‎Uang. (Ada dan tidak ada, bisa gagal. ) (Orang gagal adalah orang yg bisa menghasilkan uang sendiri)
      Jadi pengusaha yuk!
      6. ‎Orang yg sibuk berorganisasi. (Aplikasi teori harus ada wadahnya)=organisasi.
      Jadi nanti harus ngikuti organisasi, “jangan larut karena organisasi “
      Nah salah satunya berorganisasi. Kenapa? Selain menambah ilmu pengetahuan, wawasan. Kita disini bisa lebih spesifik lagi. Lebih luas lagi. So, organisasi adalah hal yang terpenting disini. Karna aktifnya jadi Mahasiswa bukan cuma dikelas, tapi diluar kelas.
      Enam point diatas, saya dapat dari PBAK. Gimana? Ngerti? Ngerti ngertiin aja deh ya. :’)
    • Krisis Pendidikan menurut Kacamata UNESCO, memprihatinkan!

      Krisis Pendidikan  menurut Kacamata UNESCO,  memprihatinkan!



      Krisis Pendidikan  menurut Kacamata UNESCO,  memprihatinkan!– (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, atau yang dlebih dikenal dengan UNESCO) merupakan salh satu badan khusus yang dinaungi PBB yang didirikan pada tahun 1945

      Salah satu tujuan paling penting dari program UNESCO: Semua anak di dunia harus punya hak penuh akses pendidikan. Namun sayangnya, UNESCO menyatakan bahwa sampai dengan tahun 2015 tujuan tersebut belum bisa dicapai
      UNESCO menyatakan dalam laporannya di ibukota Ethopia mengenai pendidikan, Addis Ababa, sangat memprihatinkan. Dalam laporannya UNESCO mengemukakan bahwa ada 57 juta anak di seluruh dunia tidak sekolah, sedangkan 774 juta orang dewasa di seluruh dunia mengalami buta huruf, yang paling memprihatinkan perempuan dan laki-laki yang tinggal di daerah pedesaan dan negara-negara berkembang, mereka yang paling sering dirugikan dalam masalah  pendidikan. 
      Menurut Pauline Rose, bahwa UNESCO akan terus bekerja keras hingga mewujudkan tujuan-tujuan dalam maslah pedidikan. 
      Nota kesepakatan yang telah diwujudkan di Dakar  pada tahun 2000, dalam forum pendidikan dunia terdengar begitu penuh harapan. Diantaranya ada 164 negara di dunia dalam forum tersebut menyatakan diri berkewajiban untuk memasukkan 6 tujuan utama pendidikan dalam agenda . Termasuk diantaranya adalah akses pendidikan lebih baik bagi anak usia dini dan sekolah dasar, pengurangan setengah jumlah orang buta huruf dan kesetaraan peluang pendidikan baik laki-laki maupun perempuan.

      Kemajuan dalam pendidikan dunia

      Barbara Malina selaku sebagai komisi UNESCO jerman untuk bidang pendidikan memaparkan bahwa salah satu faktor kemaujian suatu dunia diakibatkan oleh akses pendidikannya sendiri.
      Meski telah ada perbaikan, pebaikan-perbaikan tersebut tercapai pada tahun-tahun pertama setelah pelaksanaan forum pendidikan dunia di Dakar. Sejak saat itu perkembangan di berbagai bidang penting menjadi mandek. Contohnya adalah jumlah remaja yang tidak pergi ke sekolah, sejak tahun 1999 memang telah ada penurunan sebanyak 31 persen atau sebanyak 69 juta orang, akan tetapi sejak tahun 2007, hanya ada sedikit perubahan. Palulana Rosie menyatakan bahwa Akses  pendidikan bagi remaja harus segera siperbaiki dalam waktu dekat.
      Stagnasi juga terlihat jelas dalam jumlah orang dewasa buta huruf. Setidaknya ada 774 Juta  di dunia mengalami buta huruf sepertiga dari mereka mayoritasny adalah kaum perempuan. Salah satu pernyataan Pauline Rosie.Jumlah orang dewasa yang buta huruf sejak tahun 1990 telah turun sebanyak 12 persen, akan tetapi semenjak tahun 2000 penurunannya hanya satu persen.
      Dalam data UNESCO, sekitar 175 juta kaum muda di seluruh dunia hanya sedikit bisa baca tulis dan bahkan tidak sama sekali. ini merupakan Sebuah masalah yang menimpa sepertiga dari kaum muda perempuan di selatan dan barat Afrika. 
      Sampai saat ini, UNESCO belum bisa mencapai target seperti yang telah disepakati dalam acara forum pendidikan dunia di Dakar, hal ini terjadi terutama akibat kondisi guru dan kualitas pelajaran. Belajar dan mengajar adalah tema utama untuk laporan tahun ini. Sekitar 250 juta anak di seluruh dunia tidak memperoleh kemampuan dasar seperti membaca dan menghitung meskipun separuh dari mereka telah bersekolah selama 4 tahun, 
      Menurut UNESCO, kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru dan pelajaran. Di banyak negara terjadi kekurangan guru yang sangat signifikan. Supaya anak-anak di seluruh dunia mendapayan haknya di pendidikan sekolah dasar, sampai tahun 2015 dibutuhkan sebanyak 5,1 juta guru. Dalam laporan UNESCO tersebut juga dinyatakan bahwa guru di daerah dibelahan di dunia sangat membutuhkan pendidikan dan pendidikan lanjutan yang lebih baik serta kemudahan akses terhadap materi pelajaran dan gaji yang sesuai. 
      Tingkat partisipasi pendidikan di Indonesia meningkat tajam, namun mutu pendidikan yang didapat setiap anak, belum setara.Tapi, penyediaan kualitas pendidikan yang baik merupakan salah satu kunci menciptakan generasi yang berkualitas.
      Asisten UNESCO yakni Qian Tang mengemukakan bahwa kesenjangan mutu pendidikan masih menjadi kendala banyak negara salah satunya Indonesia.
    • Motivasi Bagi Pemuda Indonesia untuk 100 Tahun Kedepan

      Motivasi Bagi Pemuda Indonesia untuk 100 Tahun Kedepan
      Motivasi Bagi Pemuda Indonesia untuk 100 Tahun Kedepan – Apakah Indonesia akan tetap berdiri dengan stabil 100 tahun kedepan? Siapa yang akan memberikan jaminan Indonesia masih tetap stabil dan berkembang untuk 100 tahun kedepan? Kunci utamanya terletak pada setiap penduduk Indonesia yang harus menumbuhkan perilaku bermoral dan cinta pada tanah air. Salah satu cara memprediksi tetap berdirinya suatu negara untuk 100 tahun kedepan yaitu dengan mengamati pemuda saat ini yang berumur kisaran 10-25 tahun, dimana pada saat itu sebagian besar kita sudah tidak bisa berkontribusi secara langsung terhadap negara pada masa itu.
      Pemuda adalah salah satu tonggak berdirinya atau hancurnya suatu negera kedepannya, bukan kita lihat pada saat ini, yang mayoritas kita hidup dalam keadaan aman, nyaman, dipimpin oleh orang-orang hebat, meskipun belum sejahtera seutuhnya. Menurut pendapat saya kita sebagai penduduk yang cerdas harus menerima terlebih dahulu apa yang ada didepan kita. Lihatlah negara yang sedang berperang atau negara yang kekurangan bahan pangan. Hal tersebut menjadi perbandingan awal sebelum kita melihat negara-negara maju.
      Pendidikan lingkungan akan mengukir suatu kertas putih polos yang nantinya akan menjadi karya hebat disuatu tempat. Para tokoh negara yang saat ini sedang memimpin kita adalah buah tangan dari nenek moyang 100 tahun lalu. Bagaimana mereka mendidik diri sendiri, keturunan dan lingkungan mereka sehingga, sekarang bisa menjadi generasi penerus yang baik seperti tokoh-tokoh, penguasa dan orang yang berpengaruh di dalam negara. Bukan hal mudah untuk membentuk karakter manusia hebat dan bermoral jika tidak dilatarbelakangi dengan pendidikan, tempaan, dan lingkungan yang mendukung. Nenek moyang kita sungguh sangat tangguh ketika kita lihat dari peninggalan sejarah mereka seperti masjid yang megah, candi, budaya,  dan bangunan megah lainnya. Kerja keras, kerja cerdas, optimis dan taat pada agamanya menjadi salah satu prinsip hidup yang sangat membanggakan dan harus dilestarikan.
      Salah satu hasil penelitian sains menyatakan jika kebiasaan, gaya hidup dan pola makan akan membentuk karakteristik gen dalam tubuh kita. Kebiasaan itu pasti akan diturunkan pada keturunan kita sedikit atau banyak. Setelah gen itu tertanam pada suatu individu baru maka lingkunganlah yang akan mengisi masa depannya. Lingkungan yang baik akan membentuk individu yang baik. Sehingga keturunan kita kebawah akan menjadi baik.

      Sadarlah untuk para wanita, jadilah orang yang baik karena mitokondria seorang manusia hanya diperoleh dari seorang ibu bukan dari seorang ayah. Kita tahu, fungsi utama mitokondria yaitu untuk membentuk energi didalam tubuh. Ketika catatan gen kita kurang baik kita harus terus berusaha memperbaiakinya untuk bisa mencapai masa depan yang jauh lebih baik dengan dorongan lingkungan yang baik.

      Lingkungan rumah yang cenderung agamis akan membentuk karakter anak yang lebih bermoral namun dengan karakter masing-masing setiap orang tentunya, ada anak yang karakternya aktif cenderung nakal, ada pula anak yang pendiam cenderung menjerumuskan. Itulah karakter, itulah perbedaan diantara manusia yang harus kita terima dan disikapi secara cerdas. Masa kanak-kanak merupakan masa emas yang harus kita selamatkan dari berbagai macam kebiasaan buruk yang pada saat ini dan manjadi budaya baru kita. Misalnya seperti tontonan bermesraan orang berpacaran yang sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan sehari-hari.
      Masa-masa emas itu harus kita kokohkan dengan nilai-nilai dan ajaran agama yang kuat. Maka dimanapun dia berada di desa, kota, dalam negeri atau luar negeri dia akan tetap mampu menjunjung tinggi nilai nilai agama yang ada pada dalam dirinya. Pemuda itu akan tetap menjadi berlian meskipun dia harus berada di tempat yang kumuh sekalipun. Bahkan pemuda itu membuat lingkungan kumuh berubah sedikit demi sedikit menjadi istana berlian yang megah. Pemuda yang bermoral akan menguntungkan jika berada diposisi manpun ketika sedang dipimpin atau memimpin.
    • Pendidikan Kebersihan Lingkungan: Bukti Peduli Indonesia

      Pendidikan Kebersihan Lingkungan: Bukti Peduli Indonesia

      Pendidikan Kebersihan Lingkungan : Bukti Peduli Indonesia –  Harus dimulai dari dalam rumah. Ilmu tentang kebersihan lingkungan merupakan hal yang wajib kita tularkan pada setiap orang disekitar kita. Berawal dari diri kita sendiri yang sadar akan lingkungan hidup. Kita harus sadar dan menyadarkan orang lain akan bahayanya tindakan kita yang semena-mena terhadap sampah. Hanya sebuah SAMPAH untuk kita bahas namun itu hal yang akan mengubah budaya jelek kita “membuang sampah sembarangan” akan hilang dengan sendirinya. Bagaimana jika kita terus menerus melihat pencemaran di mana-mana dari masa kecil hingga dewasa. Tidakkah hati nurani kita tergerak untuk mencegah atau mencari solusinya??? Maka dari itu perlu suatu frame work yang tepat dalam memutus rantai “budaya” membuang sampah sembarangan, yaitu salah satunya melalui pendidikan kebersihan lingkungan.

      Sampah Plastik dan Problematikanya

      Pembahasan kita bisa dikerucutkan pada sampah plastik. Sampah ini merupakan sampah yang bermanfaat saat masih dibutuhkan dan akan menjadi masalah besar ketika sudah di tempat pembuangan sampah. Sampah plastik merupakan salah satu sampah yang tidak bisa diuraikan bakteri sampai 1000 tahun yang akan datang. Hal tentu akan mengganggu keseimbangann ekosistem ketika jumlahnya sudah banyak.  Baca Juga

      Sudah terlalu banyak orang yang membahas tentang sampah namun tidak ada hasil yang bisa didapatkan dari solusi itu. Banyak faktor penyebab tidak ada solusi yang nyata tersebut. Misalnya karena belum menjadi suatu kebiasaan, tidak adanya singkronisasi antara pemerintah dan masyarakat mengenai pengolahan sampah, tidak ada badan khusus pengolah sampah di Indonesia, kurangnya ketegasan untuk sanksi yang nyata, tidak ada sarana prasarana untuk pengolahan sampah yang memadai, belum banyak pemahaman di masyarakat tentang pengolahan sampah dan faktor yang lain. Salah satu cara yang bisa diterapkan setiap orang di seluruh Indonesia yaitu mengurangi penggunaan sampah plastik. 

      Baca Juga:

      Salah Satu Pendidikan Kebersihan Lingkungan Bermula Pada Diri Sendiri

      Ketika kita membeli barang di suatu tempat usahakan untuk membawa tas kantong sendiri atau meminimalkan penggunaan plastik ketika barangnya sedikit. Kita kumpulkan sampah plastik yang masih bagus di rumah, lipatlah yang rapi dan bisa di pakai kembali. Hal ini tentu masih menjadi suatu permasalahan yang pro dan kontra. Kita bisa terapkan dalam rumah tangga masing-masing. Ide tanpa action yang nyata akan hanya akan menjadi mimpi belaka. Yukkk mari bersama-sama kita mengajak keluarga, orang sekitar dan lingkungan disekitar kita. Semangat untuk menjaga lingkungan yaaa teman-teman.. Baca juga media pembelajaran inovatif yang memanfaatkan limbah organik, klik di sini.

    • Buat Perempuan, Pendidikan itu penting! Bukan main main!

      pendidikan itu penting bagi perempuan
      Buat Perempuan,  Pendidikan itu Penting!  Bukan main-main!– Mungkin hari ini, banyak orang bilang dan berpikir ‘Ngapain sekolah tinggi-tinggi, tapi ujungnya juga jadi ibu rumah tangga? ” ini adalah perkataan yang rendah buat orang yang tak tahu artinya sekolah tinggi dan ini adalah pemikiran yang salah. Tapi menurut orang yang berpikir tinggi dan kreasi Pendidikan adalah nomer satu diantara yang lain. Walaupun banyak wanita yang telah lulus dari jenjang perkuliahan dan mendapatkan title yang panjang dan itu larinya ke dapur. Itu adalah Pemikiran yang sangat, sangat salah besar.
      Kenapa? Wanita akan menjadi Madrasah pertama untuk anak-anak nya kelak. Wanita disekolah tinggi bukan buat ngejar jodoh, bukan buat dapat gelar, bukan buat ajang pelarian, dan bukan juga buat ajang meminta uang. Tapi, wanita disekolahkan sampai jenjang tinggi itu untuk mendapatkan ilmu yang barokah. Tujuannya untuk apa? Untuk diaplikasikan dikehidupan sehari-hari nya.Maka pendidikan itu penting.
      Wanita yang berpendidikan dengan wanita yang tak berpendidikan itu sangatlah jauh berbeda. Dari cara pandang, cara berjalan, beradab, berbicara, bahkan dengan cara menyampaikan itu sangat 180° itu berbeda.Kenapa dikatakan berbeda? Ilmu yang ia dapat itu bukan sekedar ilmu. Ilmu yang ia dapatkan pun bukan sembarang ilmu. Ia gunakan, ia aplikasikan dengan orang sekitar. Itulah gunanya ilmu.
      Pendidikan itu penting, sebagai intinya orang tak akan meremehkan kita, tak akan memandang kita rendah.
      Kalo ditanya mau jadi apa, gausah bingung. Karena Allah adalah segala penentu jalan menuju kesuksesan. Dan itu semua dari pendidikan.
      Pendidikan bukan hanya membawamu sukses. Tapi pendidikan membawamu menuju ke ahlian. Semua propesi kamu pegang.
      Jadi, pendidikan dimata kita, kami, kamu, semuanya itu sangatlah penting. Bukan hanya mengantarkanmu pada kebaikan, tetapi insyaallah pada ke hakikian.
      Catat! poin penting yang perlu di praktekan yaitu tentang sukses ada tiga:
      1)Sukses spiritual, semakin dekat dengan Allah. Semakin bersama Allah, dan semakin dekat dan dekat pada Allah. 
      2)Sukses emosional, selalu melakukan silahturahmi. Jangan anggap, kamu sudah berpendidikan, tapi kamu tak memiliki sukses emosional. Apalah kamu, tanpa ada rasa emosional. Pengontrolan diri serta pencapaian diri. 
      3)Sukses Jati diri, sukses akan kemampuan yang kita capai.
      Jadi, Pendidikan itu penting untuk wanita, salam hangat dari seluruh wanita pencinta pendidikan. 🙂
    • Filosopi Pendidikan : Belajar dari Bumbu Masakan

      Filosopi Pendidikan : Belajar dari Bumbu Masakan
      Belum lama ini umat muslim di seluruh dunia telah merayakan hari raya Idul Adha atau Idul Kurban, tentunya disambut suka cita oleh seluruh umat muslim. Baik sapi, kambing maupun unta banyak yang dikurbankan namun di Indonesia hanya mengurbankan sapi, kambing maupun kerbau yang kemudian dagingnya dibagikan ke masyarakat luas. Membahas mengenai hari raya idul kurban tentunya tidak bisa lepas dari olahan daging yang dimasak menjadi berbagai macam masakan mulai dari sate, rendang, empal, bistik, dll.
      Untuk membuat suatu masakan yang lezat dan bercita rasa tinggi harus menggunakan berbagai bumbu masakan, mulai dari garam, penyedap rasa, bawang merah, bawang putih, cabai, jahe, kunyit, merica, ketumbar, dll. Di Indonesia sangat mudah ditemukan bumbu masakan tersebut, karena Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah termasuk bumbu yang biasa dikatakan rempah-rempah. Jika kita menengok ke belakang, alasan utama Eropa datang ke Indonesia yaitu untuk mencari rempah-rempah di Indonesia. Hal ini berpengaruh pada masakan-masakan yang ada di Indonesia satu masakan saja bisa terdiri dari berbagai bumbu masak misalnya saja rendang yang bumbu masaknya terdiri dari garam, bawang merah, bawang merah, cabai merah, kunyit lengkuas, ketumbar, kemiri, jahe, pala, dll sehingga dari bumbu-bumbu tersebut terciptalah sebuah masakan rendang yang lezat dan bercita rasa tinggi dan sangat dikenal oleh masyarakat luas bahkan mendapat predikat sebagai makanan terenak di dunia.
      Jika kita telaah lebih dalam terkait bumbu masakan tersebut, banyak nilai-nilai yang bisa kita petik khususnya dalam bidang pendidikan. Bagaimana bisa, untuk membuat sebuah masakan yang lezat tentunya terdiri dari berbagai macam bumbu yang memiliki khas masing-masing yang kemudian disatukan menjadi sebuah cita rasa yang lezat. Dari situ kita dapat melihat bahwa perbedaan akan menciptakan suatu hal luar biasa. Disinilah letak nilai dari sebuah bumbu masakan terhadap pendidikan yaitu mengajarkan sebuah perbedaan. Pentingnya memupuk rasa toleransi dalam sebuah perbedaan akan berdampak baik untuk kemajuan suatu masyarakat, bangsa maupun negara. Hal ini haruslah dipupuk dalam dunia pendidikan tentunya sejak dini, apalagi melihat negara kita yang kaya akan budaya dan bangsanya.
      Di negara tetangga kita yaitu Malaysia sudah dilakukan pendidikan mengenai sebuah perbedaan dalam bentuk film Upin-Ipin secara tidak kita sadari bahwa film Upin-Ipin telah menggambarkan sebuah didikan kepada anak mengenai indahnya sebuah perbedaan di masyarakat. Bagaimana tidak dalam Upin-Ipin tidak menunjukan hanya orang melayu saja melainkan ada dari Etnis Tionghoa yang digambarkan oleh tokoh Mei-mei, Sing yang digambarkan oleh Jarjit, Indonesia yang digambarkan oleh Susanti. Dengan tokoh-tokoh tersebut menggambarkan bahwa perbedaan bukanlah sebagai penghalang untuk menciptakan kondisi masyarakat yang baik, justru malah menciptakan sebuah kehidupan masyarakat yang harmonis dengan saling membantu satu sama lain.
      Tidak harus seperti Upin-Ipin, dalam membentuk suatu pendidikan mengenai sebuah perbedaan bisa dilakukan lewat apa saja. Misalnya saja bisa dilakukan dalam pendidikan kebudayaan dengan mengambil nilai-nilai budayanya sendiri tentang indahnya sebuah perbedaan, realisasinya bisa dilakukan dalam bermain musik tradisional seperti karawitan yang terdiri dari goong, kendang, saron, bonang, rebab, dll yang masing-masing memiliki peran yang berbeda dan jika ditampilkan dengan baik akan membentuk sebuah musik karawitan yang indah. Intinya dalam sebuah perbedaan janganlah merasa paling hebat diantara yang lainnya karena dalam budaya jawa saja telah memiliki falsafah kehidupan bahwa seseorang tidak boleh memiliki sifat adigang, adigung dan adiguna. Akan sangat fatal jika sifat tersebut banyak muncul di masyarakat yang notabene memiliki keragaman bangsa maupun budaya.
      Semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah disusun sejak awal kemerdekaan, sebagai warga negara Indonesia haruslah dipupuk sejak dini mengenai sebuah perbedaan, tentunya untuk memupuk tersebut utamanya lewat bidang pendidikan. Tidak harus pendidikan secara formal namun bisa dilakukan dengan cara apapun yang bertujuan untuk membentuk masyarakat yang harmonis meskipun dengan berbagai keragaman budaya maupun bangsa seperti halnya rendang yang terdiri dari berbagai bumbu masakan yang masing-masing memiliki aroma yang berbeda 
    • ILMU PARENTING Siapkan generasi yang berkualitas

        
      ILMU PARENTING Siapkan generasi yang berkualitas
      ILMU PARENTING Siapkan generasi yang berkualitas 
      Dewasa ini, ilmu parenting memang sangat dibutuhkan bagi seorang calon ibu dan calon ayah. Memang, jika dikata usia kita masih sangat muda. Namun, tidak ada salahnya jika kita mempersiapkan sedini mungkin untuk perbanyak ilmu parenting kita guna mendidik calon anak agar menjadi generasi yang cerdas dan berkualitas tentunya.

         Nah, jadi aku mau berbagi sedikit tips bagaimana menjadi calon orang tua yang baik bagi generasi penerus kita nanti. Ini beberapa tips yang aku dapat setelah mengikuti kajian beberapa hari kemarin.
      Beberapa tips cara mendidik anak yang diajarkan oleh nabi kita Ibrahim AS.

      1. Jangan jauhkan anak dari masjid

           Cara pertama mentarbiyah anak adalah mencari, membentuk biah yang shalihah. Representasi biah, lingkungan yang shalihah bagi Nabi Ibrahim Baitullah [rumah Allah], dan kalau kita adalah masjid [rumah Allah]. Maka, kita bertempat tinggal dekat dengan masjid atau anak-anak kita lebih sering ke masjid, mereka mencintai masjid. Bukankah salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di saat tidak ada lagi naungan adalah pemuda yang hatinya cenderung kepada masjid.

      2. Ajarkan anak untuk mendirikan sholat

          Cara kedua adalah mentarbiyah anak agar mendirikan shalat. Mendirikan shalat ini merupakan karakter umat Muhammad saw sebagaimana yang uraian di atas. Nabi Ibrahim bahkan lebih khusus di ayat yang ke-40 dari surat Ibrahim berdoa agar anak keturunannya tetap mendirikan shalat. Shalat merupakan salah satu pembeda antara umat Muhammad saw dengan selainnya. Shalat merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat Rasulullah saw memberikan arahan tentang keharusan pembelajaran shalat kepada anak. suruhlah anak shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah bila tidak shalat pada usia 10 tahun. Rasulullah saw membolehkan memukul anak di usia 10 tahun kalau dia tidak melakukan shalat dari pertama kali disuruh di usia 7 tahun. Ini artinya ada masa 3 tahun, orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk shalat. Dan waktu yang cukup untuk melakukan pendidikan shalat.

      3. Ajarkan anak untuk menjaga pergaulan

          Cara ketiga adalah mentarbiyah anak agar disenangi banyak orang, seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah saw: “Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” [HR. Bukhari]. Anak kita diberikan cerita tentang Rasulullah saw, supaya muncul kebanggaan dan kekaguman kepada nabinya, yang pada gilirannya menjadi Rasulullah menjadi teladannya. Kalau anak kita dapat meneladani Rasulullah saw berarti mereka sudah memiliki akhlaq yang baik karena—sebagaimana kita ketahui—Rasulullah memiliki akhlaq yang baik.

      4. Arahkan anak untuk memiliki life skill

      Cara keempat adalah mentarbiyah anak agar dapat menjemput rezki yang Allah telah siapkan bagi setiap orang. Anak ditarbiyah untuk memiliki life skill [keterampilan hidup] dan skill to life [keterampilan untuk hidup]. Rezki yang telah Allah siapkan Setelah itu anak diajarkan untuk bersyukur.

      5. Ajarkan anak untuk mempertebal iman

      Cara kelima adalah mentarbiyah anak dengan mempertebal terus keimanan, sampai harus merasakan kebersamaan dan pengawasan Allah kepada mereka.

      6. Ajarkan anak untuk saling menghormati

      Cara keenam adalah mentarbiyah anak agar tetap memperhatikan orang-orang yang berjasa—sekalipun sekadar doa—dan peduli terhadap orang-orang yang beriman yang ada di sekitarnya baik yang ada sekarang maupun yang telah mendahuluinya.
       Nah, sebagai calon orang tua yang baik mari kita sama-sama belajar menerapkan ilmu parenting. Siapkan bekal yang cukup dan mumpuni mulai dari sekarang, agar kelak tidak salah dalam mendidik dan mengajarkan kepada anak. Jadikan generasi penerus kita sebagai generasi yang cerdas dan berkualitas, tentunya dimulai dari calon orang tua yang cerdas pula. Semangatt belajar kawan, ayoo perbanyak bekal kita 🙂
      Sumber : dakwatuna.com
    • OPINI : Mau dibawa kemana “The next Young generation” Indonesia ?

      the next young generations
      OPINI – Kalau ngomongin “Young Generation” jadi pengen nyanyi aja bawaannya. Boleh yaa sedikit lagunya Armada yang “Mau dibawa kemana Young generation ???…” hehehe… Bicara mengenai young generation, saya begitu greget. Pasalnya, begitu banyak sekali fenomena-fenomena yang terjadi saat ini yang sudah intoleransi dimana the next young generation menjadi titik fokus utama. Bagaimana tidak ?. Disaat karakter dan mental building yang seharusnya dipupuk dan dikembangkan, namun tergerus dengan maraknya hal-hal yang unfaedah.
          Sebagai contoh, salah satunya jika kita lihat fenomena yang sering terjadi akhir-akhir ini khususnya di dunia maya, dimana banyak sekali content-content yang unfaedah dan mirisnya para generasi mudalah yang justru memviralkan hal tersebut. Saya tidak habis fikir, kok bisa yaaa ??… Apakah hal ini terjadi karena faktor kegabutan yang seringkali melanda para generasi muda. Sehingga mereka melihat hal-hal yang aneh sebagai hal yang lucu dan patut untuk diviralkan. Sungguh miriisss sekali…
          Salah satu contoh di atas merupakan satu diantara banyaknya virus yang dapat meracuni karakter dan mental building para generasi muda. Lalu, apa dan bagaimana peran kita sebagai generasi muda yang baik agar the next young generation tidak ikut masuk ke dalam jurang yang sama. Saya fikir, ada 3 komponen penting yang harus dirubah. Apa saja itu ??

      1. Self Reminder

          Dalam hal ini kita perlu mengingatkan diri sendiri agar tidak melupakan peran kita sebagai generasi muda penerus bangsa. Dimana, sebagai generasi muda haruslah kita berfikir kreatif dan inovatif untuk memajukan bangsa kita menjadi bangsa yang lebih maju dengan SDM yang mumpuni.

      2. Self Motivation

           Dalam hal ini kita sebagai young generation perlu mempunyai suatu motivasi kuat yang dapat menggugah diri kita agar mau dan mampu untuk berkontribusi bagi bangsa kita. Karena seharusnya, tidaklah perlu kita melihat sudah seberapa besar kontribusi bangsa dan negara terhadap kita. Namun, yang perlu kita tanamkan dalam mindset kita adalah “Sudahkan kita berkontribusi untuk bangsa dan negara kita?.” Itulah PR yang harus segera kita tuntaskan.

      3. Open minded

           Sebagai young genaration haruslah kita mempunyai fikiran yang terbuka. Dalam hal ini, mempunyai mindset yang tinggi untuk memajukan bangsa dan negara. Tidaklah harus dengan suatu hal yang besar dan terlihat, namun mulailah dari hal sederhana yang kemudian mampu membawanya menjadi yang spektakuler.
          Jadi siap yaa untuk menjadi the next young generation yang berkualitas. Jangan suka ikut-ikutan mengikuti arus perkembangan zaman yang semakin dan semakin terperosok jauh ke dalam jurang. Boleh saja mengikuti perkembangan zaman. Siapa bilang tidak boleh ?… Tapi harus pinter-pinter memilih dan memilah. Ambil positifnya, buang negatifnya yaaa… hehehe 🙂 
      SALAM THE NEXT YOUNG GENERATION. 🙂
    • Apa Kabar Kurikulum 2013?

      Apa Kabar Kurikulum 2013

      Sudah beberapa tahun kurikulum 2013 mulai diberlakukan namun belum bisa diterapkan secara keseluruhan di Indonesia. Terlebih lagi dengan banyaknya sekolah-sekolah yang merasa belum sanggup menerapkannya. Lalu apa kabar kurikulum 2013?

      Kurikulum

      Kurikulum menjadi suatu perangkat yang diterapkan demi tercapainya suatu tujuan. Hingga saat ini tercatat sudah 10 kurikulum yang pernah digunakan oleh sistem pendidikan Indonesia. Saya sendiri pernah merasakan bagaimana belajar menggunakan kurikulum 1994 yang memiliki caturwulan, sehingga akan ada evaluasi setiap tiga bulan sekali. Pun, nama-nama yang digunakan dalam buku pelajarannya sangat Indonesia, Budi, Ibu Budi dan Ani. Kurikulum pun tak ingin ketinggalan jaman, sehingga terbitlah kurikulum berbasis kompetensi (KBK) kemudian kurikulum KTSP dan sekarang kurikulum 2013.

      Kendala

      Untuk membahasnya, saya mengambil sudut pandang pendidikan tingkat sekolah dasar. Karena saya kira, anak-anak SD jaman sekarang harus begitu aktif dibandingkan ketika saya SD dulu. Mereka harus berinteraksi di dalam kelas dengan memahami pelajaran yang dipadukan dalam 1 tema. Ketika saya melihat buku paketnya pun saya kaget. Karena dalam satu buku itu sudah mencakup seluruh pelajaran yang ada, baik matematika, IPA, IPS, PKn serta pelajaran kebudayaan dan olahraganya. Apakah anak SD ini sudah mampu?
      Kurikulum ini tak hanya membuat anak SD belajar, namun juga gurunya. Dari beberapa jurnal yang saya baca, mulai dari tahun 2015 hingga sekarang kendala yang dihadapi masih tetap sama. Kendala dari pemerintah, guru, siswa dan orang tua. Apa saja kendala itu? Kita simak satu persatu.

      1.    Kendala dari pemerintah

      Seperti biasa, kendala ini pastilah berasal dari penyaluran buku yang seringnya terlambat.

      2.      Kendala dari guru

      Guru merupakan kunci utama dalam keberhasilan tercapainya pendidikan kita. Kendala dari mereka tentu saja ada. Karena harus selalu mengikuti perubahan kurikulum dan mencoba belajar mengimplementasikannya di dalam kelas. Namun, kurikulum 2013 ternyata menuntut lebih. Guru-guru diharuskan memiliki model pembelajaran yang kreatif dan inovatif sehingga mampu mengajak siswa untuk berinteraksi secara aktif di dalam kelas.

      3.      Kendala dari siswa

      Siswa yang kurang bisa berinteraksi secara aktif sehingga seringnya mereka kebingungan. Mereka juga hanya memegang buku siswa tanpa adanya buku penunjang yang lain.

      4.      Kendala dari orangtua

      Orangtua kebanyakan belum memahami kurikulum 2013. Apalagi saat evaluasi yamg mencantumkan huruf A B atau C sehingga tak jarang ada miskomunikasi yang terjadi di antara guru, siswa maupun orangtua siswa.

      Jadi, Apa kabar kurikulum 2013?

      Nah, dari kendala di atas sepertinya kabar kurikulum 2013 belum begitu baik. Belum juga mampu diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia. Namun kita selalu berharap para guru mampu mengimplementasikan kurikulum 2013 di dalam kelas sehingga siswa mampu mengikuti pembelajaran dengan sebaik mungkin. Tak lupa juga kepada orangtua untuk selalu membimbing anaknya, paling tidak memberikan buku penunjang untuk pembelajaran, karena buku dengan 1 tema itu tidaklah cukup.
      Semoga sistem pendidikan Indonesia lebih baik, ya. Adik-adik kita layak mendapatkan ilmu dasar yang mantap agar pondasinya kuat ke jenjang selanjutnya.
      Salam pendidikan.
      Sumber:
      Friani, I.F., dkk. 2017. Kendala Guru dalam Menerapkan Model Pembelajaran pada Pembelajaran Tematik Berdasarkan Kurikulum 2013 di SD Negeri 2 Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 2(1). FKIP Unsyiah.
      Krissandi, A.D.S., dkk. 2015. Kendala Guru Sekolah Dasar dalam Implementasi Kurikulum 2013. Cakrawala Pendidikan. 3. FKIP Universitas Sanata Darma.
      Saputra, S.Y., dkk. 2017. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik sesuai Kurikulum 2013 di SD Muhammadiyah 03 Wajak. ELSE. 1(1). Universitas Muhammadiyah, Malang.
    • Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

      Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

      Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

      Pendidikan adalah cerminan dasar setiap manusia untuk mengangkat harkat dan martabat setiap pribadi manusia. Pendidikan adalah bagian dari ilmu yang diprogramkan atau diwujudkan dalam sebuah kelembagaan seperti sekolah-sekolah yang ada sekarang ini.
      Namun, tak dapat dipungkiri bahwasannya Pendidikan itu kadangkala dapat menjerumuskan orang-orang atau pribadinya sendiri apabila tidak dipergunakan dengan baik dan benar.  Bukan hanya itu saja, Pendidikan seringkali menjadi jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin. Bukan menyalahkan Pendidikan namun, ada sesuatu hal yang harus diluruskan agar tidak salah paham.
      Penyelenggaraan pendidikan memang penting. Namun, jauh lebih penting dengan pengembangan sebuah karakter yang tidak boleh berujung. Pendidikan takkan berujung korupsi apabila di hatinya terdapat penjernihan hati yang sudah ditanamkan sejak dini dan diulang terus menerus dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Karakter dapat dibentuk dengan memilik dasar agama yang kuat dan tangguh dalam menghadapi setiap tantangan maupun pantangan yang terdekat maupun yang terjauh sekalipun.

      Setelah memiliki pondasi agama yang kuat maka hal yang selanjutnya dilakukan ialah memahami nilai-nilai Pancasila untuk diimplementasikan dalam lingkup terkecil hingga terbesar sekalipun. Percuma Pancasila itu ada hanya untuk dibaca dan ditulis semata. Buat apa bangsa ini merdeka kalau Pendidikan itu tidak masuk ke dalam sanubari pemuda-pemudi yang terdalam.
      Pembunuhan karakter sangat bertentangan dengan pancasila yang memiliki nilai-nilai universal. Mengapa beralasan seperti ini? Dikarenakan Indonesia tidak menyadari dan sudah tidak peduli dengan arah Indonesia ini mau dibawa kemana? Dengan hanya sebuah teori demi teori tanpa adanya pengaplikasian.
      Untuk apa itu semua? Di satu sisi orang lain antri. Di sisi lain orang korupsi. Para akademisi sibuk berargumentasi. Orang birokrasi sibuk dengan biaya administrasi. Pola pikir dan pola hidup ilmuwan sudah jauh dari tradisi. Masalah ini harus disikapi. Dengan pengembangan hukum yang mampu mengatur distribusi Semua organ kelembagaan Pendidikan yang semestiya menginternalisasi nilai-nilai pancasila dalam setiap geraknya.
      Pendidikan menjadikan jurang pemisah ketika setiap manusia tidak menyikapi kalau di dunia ini manusia bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. Manusia hanya sebtas hamba yang diberikan rezeki yang maha kuasa yang mana rezeki itu harus diberikan kepada orang lain kembali. Karena rezeki bukanlah milik manusia seutuhnya. Tetapi, hanyalah sang pencipta yang memilikinya. Maka, janganlah berlaku sombong maupun rendah tetapi bersikaplah seperti budi baik yang tidak saling merendahkan satu sama lainnya.
      Lakukanlah gerak akademik dengan saling bekerja sama. Membangun kembali ilmu-ilmu yang bersifat tidak mengabaikan terhadap kelahiran pendidikan yang disatukan dalam pancasila sebagai pendukung dari segala permasalahan dengan tidak menghilangkan agama dari kepercayaan yang dibangun jauh-jauh hari sebelum dilahirkan di dunia.Akar dari permasalahan Pendidikan di Indonesia saat ini hanya satu ialah pribadinya sendiri. Pribadi yang tidak mau mengejar dari ketertinggalannya. Yakni dengan mengubah cara hidupnya yang tidak selalu ada di zona nyaman terus-terusan. Melainkan mencari tantangan untuk mencari hakikat diri sesungguhnya untuk menjadikan dirinya dapat bermanfaat di muka bumi ini. Begitupula yang seharusnya diselingi dengan peraturan yang tegas yang sama-sama diwujudkan dalam lingkaran kebersamaan.

      Kebersamaan dikala banyaknya keberagaman. Kedihan dikala kesenangan berada di puncaknya. Mengapa tidak saling berbagi dikala pengetahuan sudah mumpuni. Banyak orang yang hidupnya di bawah namun pribadi manusia selalu menginginkan teratas.