Category: Opini

  • Apa Arti Pendidikan Bagimu ? (Part 1 Dariku untukmu)

    Apa Arti Pendidikan Bagimu ? (Part 1 Dariku untukmu)

    Apa Arti Pendidikan Bagimu ? (Part 1 Dariku untukmu) – Assalamulaikum wr.wb . . Kali ini saya ingin berpendapat tentang arti pendidikan bagi diri saya sendiri. Menurut saya pendidikan itu penting, bahkan amat penting karena pendidikan itu bisa mengubah karakter kita jika kita menempatkan pendidikan itu pada proporsi yang tepat. Tepat di sini tidak berlebihan dan tidak setengah setengah. Sebelumnya ijinkan saya bercerita tentang pendidikan saya yang sempat menyesal karena tidak masuk perguruan tinggi negeri. 
    Kenapa saya menyesal, rasanya begitu iri melihat teman-teman saya duduk di bangku perkuliahan tinggi negeri dan dengan bangga mereka memamerkannya di media sosial. Itu membuat saya merasa kecewa kok saya gak bisa masuk negeri ya padahal saya sudah berusaha belajar, mengikuti tes perguruan tinggi negeri dari mulai snmptn, umptn, sbmptn, dan spanptkin. Sebenarnya saya tak ingin berkuliah di perguruan tinggi swasta, apalagi dengan jurusan yang saya pikir bukan saya banget. Tapi, sekarang sadar semua orang mempunyai kesulitannya masing-masing. Saya yakin tuhan pun tak akan membebani sesuatu di luar kemampuannya.
    Saya sudah menyesal karena gagal masuk perguruan tinggi negeri apakah saya harus kembali menyesal karena menyianyiakan waktu 1 tahun saya berkuliah di swasta. Rasanya itu pukulan telak, seharusnya saya merasa bersyukur karena saya masih bisa bersekolah. Di luaran sana saya yakin banyak sekali yang posisinya lebih sulit dari saya. Maka dari itu mulai dari sekarang saya harus serius dalam pendidikan.
    Apalagi pendidikan itu merupakan sebuah tiang penyangga bagi saya. Dimana jika sebuah tiang tak ada maka rumahpun tak akan jadi. Saya teringat akan sosok yang selalu mengisnpirasi saya ketika belajar dan sosok yang selalu membuat saya semangat dalam hal pendidikan. Di akhir hayatnya sosok itu masih peduli akan pendidikan saya, lalu apakah saya akan menyerah begitu saja, tentu tidak.
    Setelah saya bersekolah kurang lebih 12 tahun apakah saya harus berhenti memperjuangkan pendidikan yang selama ini selalu saya junjung tinggi karena perannya yang begitu besar bagi diri saya. Sekolah bukan hanya mengajarkan saya tentang ilmu akademis yang bisa di apresiasi dengan nilai, tapi bagaimana sikap kita untuk hadapi hari esok dengan ilmu yang kita punya.
    Pendidikan mengajarkan saya banyak hal, untuk itu berbalas budi dengan menekuninya saja itu merupakan sebuah apresiasi yang besar menurut saya. Apagi jika ilmu yang saya punya dari hasil pendidikan itu bisa di sampaikan kepada orang lain. Pendidikan bukan hanya tentang sekolah tapi juga tentang mereka yang selalu haus akan ilmu, mereka yang selalu memanfaatkan waktunya untuk mencari ilmu dan melakukan hal baik.
    Perguruan tinggi hanyalah perantara bukan penentu, tapi diri kita sendirilah yang akan membawa diri ini kemana tujuannya. Tak ada yang salah dengan swasta selama kita mampu untuk bersaing dengan negeri bukan hanya berkecil hati hanya lulusan swasta. Untukmu yang bernasib sama sepertiku, tenanglah selama kita mau berusaha untuk tetap maju pasti akan ada jalannya.
    Untukmu ingatlah kamu tak sendiri selalu ada cahaya terang tuk keluar dari gelapnya gua yang kau tempati. Jadikanlah pendidikan itu sebaik-baiknya ilmu yang bisa menjadikannya cahaya keluar dari jurang yang terjal. Buktikanlah dengan kemampuan kita. Kembali  teringat sosok inspirasi saya yang kedua, seseorang yang sudah membela negeri ini habis-habisan, orang yang tak pernah lelah belajar, dan orang yang selalu haus akan ilmu. Sosok itulah yang membuatku yakin selalu ada jalan untuk menuju roma. 
    Siapapun tokoh inspirasi kalian yakinkah kita bisa seperti mereka selama kita berkeinginan untuk mewujudkannya. Terakhir bagi saya pendidikan bukan hanya sekadar lulus lalu bebas, gelar sarjana itu sangat amat berat buatku apalagi jika kita berkuliah hanya untuk mendapat ijazah saja. Percuma, waktu kita terbuang sia-sia, uang kita terbuang sia-sia dan ilmu yang kita punya juga terbilang sia-sia. Pendidikan itu bukan hanya sekadar gelar dan lulus. Tapi, sebuah pemahaman dan penerapan akan ilmu yang telah kita dapat. Untuk apa gelar jika kita tak paham dan tak kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
    Wasalamualikum.wr.wb
  • 5 Rahasia Filosopi Layang-layang Dalam Pendidikan

    5 Rahasia Filosopi Layang-layang Dalam Pendidikan

    5 Rahasia Tersembunyi Filosopi Layang-layang – Layang-layang dalah suatu permainan yang sering dimainkan oleh anak-anak ketika musim panen tiba. Namun sekarang ini tidak hanya anak-anak yang memainkan layang-layang tetapi orang dewasapun juga memainkan layang-layang. Layang-layang pada zaman dulu hanya dimainkan oleh anak-anak di desa, namun seiring berkembangnya zaman layang-layang kini menjadi suatu ajang perlombaan yang dapat diperhitungkan. Namun tahukah rahasia dibalik sebuah layang-layang tersebut ?.
    Layang-layang yang memiliki bentuk sederhana sampai yang rumit sekalipun memiliki makna besar yang dibawanya. Layang-layang tidak hanya sekedar sebuah permainan untuk hiburan namun juga sebagai media dalam pembelajaran. Layang-layang sebagai media pembelajaran memiliki arti yang penting sebagai penyampai pesan dari seorang guru pada peserta didiknya. Siapa yang menyangka bila dengan sebuah layang-layang mampu membantu peserta didik dalam memahami banyak mata pelajaran seperti matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, seni, IPS, PKn, IPA dan Olahraga. Tanpa disadari melalui sebuah permainan kecil banyak hal yang mampu dipelajari. Berikut uraian layang-layang sebagai media pembelajaran:
    1. Layang-layang dalam pembelajaran matematika membantu peserta didik dalam belajar mengukur panjang, karena layang-layang tidak akan bisa terbang dengan sempurna bila tidak seimbang antara kerangka sisi kiri dan kanannya. Peserta didik harus mengukur terlebih dahulu panjang kerangka layang-layang antara sebelah kiri dan kanannya telah seimbang ataukah belum agar layang-layang mampu terbang dengan baik. Memperkenalkan pada peserta didik bahwa layang-layang adalah salah satu contoh dari bangun datar.
    2 Layang-layang sebagai media dalam pembelajaran bahasa Indonesia, peserta didik mendeskripsikan bagaimana cara membuat layang-layang mulai dari bahan apa saja yang digunakan sampai proses pembuatannya sehingga jadilah layang-layang. Selain mendiskripsikan, peserta didik dapat belajar puisi melalui layang-layang. Sedangkan pembelajaran bahasa Inggris peserta didik dapat belajar mengeai bahasa inggrisnya layang-layang, menyebutkan bahan-bahan untuk membuat layang-layang dalam bahasa inggris dan juga dapat berpuisi dengan bahasa Inggris.
    3. Layang-layang adalah sebuah seni, di mana dalam pembuatan layang-layang memerlukan kreatifitas seorang pembuatnya. Selain menghasilkan suatu karya yang indah membuat layang-layang juga mengasah kreatifitas dan daya imajinasi peserta didik. Semakin tinggi daya imajinasi peserta didik maka kreatifitasnya juga tinggi dan menghasilkan suatu karya yang indah. Layang-layang juga dapat dijadikan sebagai sebuah lagu, yang telah kita ketahui tentang lagu yang berjudul “Layang-Layang”.
    4. Media pembelajaran IPS dan Pkn, melalui bungkus layang-layang dapat digambar berbagai bentuk misalnya gambar pulau, gambar lambang koperasi atau lambang negari kita. Melalui gambar-gambar tersebut peserta didik didik secara tidak langsung akan belajar banyak hal, tidak hanya pelajaran IPS namun juga Pkn. Selain itu, dengan mengunjungi museum layang-layang peserta didik akan belajar banyak mengenai berbagai macam bentuk layang-layang dari berbagai daerah, sejarah layang-layang, dan beraneka ciri khas dari masing-masing layang-layang.
    5. LLayang-layang media pembelajaran untuk IPA dan Olahraga, dengan bermain layang-layang akan menggerakkan semua anggota tubuh. Sebagai contoh pada saat menarik layang-layang maka kekuatan tangan dan kaki sangat diperlukan. Melalui kegiatan tersebut peserta didik dapat belajar mengenai fungsi otot dan gerak. Ketika badan berkeringat dalam mengejar layang-layang otomatis akan berlari yang dapat dikategorikan dalam kegiatan olahraga.
    Layang-layang adalah sebuah permainan zaman dulu yang semakin hari semakin berkembang. Tanpa disadari bahwa layang-layang memiliki kedudukan yang penting dalam pembelajaran yaitu sebagai media  dalam proses pembelajaran. Sesuatu hal yang kecil dan sepele bukan berarti tidak memiliki makna, namun bisa jadi sesuatu yang kecil adalah permata yang tenggelam.

  • Ini Alasannya Dunia Pendidikan harus minta maaf pada K.H. Dewantara

    Ini Alasannya Dunia Pendidikan harus minta maaf pada K.H. Dewantara


    Ini Alasannya Dunia Pendidikan harus minta maaf pada K.H. Dewantara – Kita semua atau mungkin sebagian sepakat dengan kalimat ini “Peradaban dapat dijemput melalui pendidikan”. Karena kita sadar bahwa pendidikan adalah wadah yang didalamnya manusia dimanusiakan. Berkaca pada kalimat terakhir di kalimat sebelumnya yaitu “ Memanusiakan manusia” maka akan timbul beberapa pertanyaan, seperti kenapa memanusiakan manusia? Apakah manusia belum manusia sejak ia dilahirkan? Jawabannya sederhana, silahkan bertanya pada hakikat pendidikan. 

    Loh kenapa kepada pendidikan? Apakah pendidikan memiliki jawaban terhadap pertanyaan itu. Jawabanya Iya, karena kita meyakini bahwa pendidikan adalah gerbang yang mengantarkan manusia kepada sesutau yang kita sebut dengan“ manusia”. Jika kita melihat definisi pendidikan secara etimologi yang berasal dari bahasa Latin yaitu ducare memiliki arti menuntun, mengarahkan, atau memimpin, dan awalan huruf e memilki arti keluar, nah jika digabungkan maka berarti menuntun keluar. Sederhananya pendidikan berarti sesuatu yang menuntun manusia untuk keluar dari sesuatu menuju sesuatu, misal dari sesuatu yang tidak diketahui menjadi tahu, dan lain-lain. Baik, secara ringkas mungkin kita tahu apa itu pendidikan melalui etimologi pendidikan. 
    Namun pertanyaan yang timbul selanjutnya ialah, apa kaitannya dengan “memanusiakan manusia”. Kita bisa kembali pada tujuan pendidikan itu sendiri yang termaktub pada UU No 20 Tahun 2003 pada pasal 3 bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia , sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Namun apakah pendidikan dinegeri ini sudah sampai pada tahap diatas?. Kita sedang berjuang menuju tujuan itu, dengan segenap yang dimilki oleh bangsa ini. Berjuang diatas gentingnya kepentingan pemerintah yang mengaburkan tujuan tersebut. 
    Sedikit sensitif mungkin jika dikaitkan dengan kepentingan pemerintah, dan apa kaitannya dengan itu semua. Ketika kita mengamati kondisi pendidikan dengan rasional, maka akan kita temukan kondisi pendidikan yang seakan terseret-seret tanpa identias diatas pergantian periodisasi pemerintahan. Perubahan sistem, kurikulum, teknis, konsep maupun dasar kerap terjadi beriringan dengan pergantian periodesasi pemerintah dinegeri ini. Lalu kemana identitas pendikan yang sebenarnya, pendidikan yang harusnya mampu berdiri tegak diatas gelombang kepenntingan, berdiri tegak tanpa harus tergadaikan identitasnya, pendidikan yang mandiri dan mampu berjalan diatas rel kemanusian. lupakan sejarah yang terus berjalan dinegeri ini, mari kita lebih dalam meyelami eksekusi dunia pendidikan kita. 
    Sudahkah pendidikan kita memasuki lorong hak anak bangsa?, apakah pendidikan kita sudah berdasarkan potensi (kodrat) anak bangsa ini? [ K.H. Dewantara : “anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kondratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu”] atau hanya memaksakan kehendak dengan dalih anak-anak akan sukses jika dibekali dengan multi disiplin ilmu. Jika kita lihat kata-kata yang disampaikan oleh bapak pendidik bahwa tugas pendidik adalah merawat bukan memaksa/mencekokin semua materi ilmu yang tidak berdasar pada kodrat anak itu sendiri. 
    Tapi apakah tulisan ini akan sampai dan diterima oleh praktisi pendidikan Negeri ini?, tidak peduli diterima atau tidak. Terpenting adalah, kita para pemuda aktivis pendidikan yang tahu peliknya pendidikan negeri ini. Jadi, mari bergerak diatas komando K.H. Dewantara
  • Apakah Tugas Sekolah Penting Untuk Masa Depan?

    Apakah Tugas Sekolah Itu Penting Untuk Masa Depan?


    Apakah Tugas Sekolah Penting Untuk Masa Depan? – Kali ini, mari kita membahas fenomena realistis siswa siswi di Indonesia yang abai dengan tugas sekolahnya. Mereka seolah-olah tidak peduli dengan tugas yang diberikan guru, mengentengkannya dan memilih mencontek pekerjaan teman.

    Kurangnya kesadaran bahwa sekolah merupakan jembatan masa depan, sehingga acuh pada pendidikan. Padahal  salah satu alasan dan harapan orang tua menyekolahkan putra-putrinya yaitu menginginkan masa depan mereka benderang. Selain itu, siswa adalah tunas-tunas bangsa yang sebagai pewaris negeri yang diharapkan dapat memajukan integritas bangsa.

    Lantas bagaimana apabila fenomena itu berkelanjutan yang justru menjadi penyakit menular dan mematikan? Entah apa yang terjadi dengan bangsa dan Negara ini? Yang sejak berabad-abad lalu dipertahankan dengan susah payah oleh pejuang dan harus berakhir dalam genggaman generasinya sendiri. Miris bukan?
    Jadi apa sajakah fenomena-fenomena itu? Let’s start

    MALAS
    Penyakit ini tidak hanya diidap oleh anak sekolahan saja, akan tetapi semua orang, bahkan saya pun begitu. Ehehe… hanya saja semua bergantung bagaimana kita menyembuhkan penyakit tersebut. Perlu disadari, tugas sekolah sebenarnya adalah elemen penting menuju masa depan. Karena dengan guru memberikan latihan soal, kita akan melatih otak kita bekerja lebih serius. Ibarat pisau, semakin sering diasah maka semakin tajam. Jadi, rasa malas ini perlu dilenyapkan, semangatlah dalam menuntut ilmu.

    PUTUS ASA SEBELUM USAHA
    Tak jarang kita temui bila mendapat tugas yang teramat sulit, misalnya matematika. Haha.. sudah lumrah, bukan? Matematika adalah pelajaran terhoror sepanjang sejarah. Tapi bukan berarti kita putus asa memusuhi pelajarannya apalagi memusuhi guru pengajarnya, jangan ya kawan! Ada baiknya kita coba kerjakan dulu tugas tersebut sesuai dengan yang diajarkan guru. Nah, apalagi saat ini zaman sudah maju, kita bisa cari referensi di internet. Jadi jangan putus asa! Kerjakan tugas dengan nikmat.

    MENGELUH
    Hal yang satu ini memang sulit terlepas dari sifat manusia. Kurang bersyukur sehingga cepat mengeluh. Salah satunya dikalangan anak sekolah. Apa yang dikeluhkan? Tugas? Padatnya jam pelajaran? Hem.. bukankah sekolah memang seperti itu? Identik dengan tugas-tugas yang katanya, “membebankan”. Padahal bila kita tanya pada mereka yang tidak bisa sekolah, mereka akan rindu dengan tugas-tugas, ingin sibuk sama halnya dengan anak-anak lain yang sekolah. Dalam hal ini, harusnya kita lebih banyak bersyukur agar tidak terlalu sering mengeluh.

    Tugas sekolah merupakan elemen penting pembelajaran. Yang berguna untuk melatih otak kita agar terasah sehingga menambah kecerdasan. Bersungguh-sungguhlah menuntut ilmuJkarena diluar sana banyak dari mereka yang menginginkan ada di posisi kita yang sibuk dengan tugas sekolah. Jangan menyerah!
  • Aku Bangga Menjadi Petani Muda, Kenapa Tidak?

    Aku Bangga Menjadi Petani Muda, Kenapa Tidak?


    Aku Bangga Menjadi Petani Muda, Kenapa Tidak? – Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Begitu banyak sumber daya alam yang melimpah. Terdapat dalam lirik lagu bahwa “Tanah Kita Tanah Surga”, artinya tiap tanaman yang ditanam di tanah akan tumbuh subur. Air melimpah ruah untuk kebutuhan hidup sehari-hari maupun irigasi pertanian. Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan ?. Manusia harus bisa memanfaatkan potensi yang dimiliki Indonesia sebaik mungkin, hal itu sama saja mensyukuri karunia yang Tuhan berikan.

    Beberapa hari yang lalu, tepatnya 24 September 2018 diperingati sebagai “Hari Tani Nasional”. Sungguh menandakan bahwa petani adalah pekerjaan mulia yang dapat meningkatkan harkat dan martabat. Namun, ironisnya pemuda zaman sekarang anti menjadi petani. Mayoritas banyak yang lebih memilih kuliah di Fakultas Kedokteran, padahal semua profesi butuh pangan. Lalu, kalau tidak ada petani maka tidak ada pejuang pangan di negeri ini.

    Faktor-faktor yang menjadikan profesi petani dipandang remeh antara lain:

    a. mindset yang salah sejak dini, selalu beranggapan bahwa menjadi petani itu pekerjaan orang miskin dan kotor-kotoran,
    b. orang tua yang berprofesi sebagai petani malah menyuruh anaknya tidak mengikuti jejaknya, nasibnya harus lebih baik. Jadi tidak diizinkan mendaftar ke Fakultas Pertanian,
    c. banyak terjadi urbanisasi sehingga timbul aging labor (penuaan pekerja), artinya lebih banyak pekerja tua di desa yang berprofesi petani daripada pemuda yang lebih banyak pilih pindah kerja ke kota,
    d. kurangnya ilmu pengetahuan dan teknologi tentang bertani modern.

    Masih ingat dengan salah satu pernyataan tentang pertanian Indonesia ?.

    “Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia pada 2040”, artinya semua pangan tercukupi untuk kebutuhan tanpa harus impor bahkan bisa ekspor ke negara lain di seluruh dunia. Berdasarkan data BPS (2017) di berita Suara Merdeka.com, bahwa pertanian Indonesia dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Menjadi penyumbang devisa tertinggi kedua setelah Pengolahan. Apakah kalian tidak takjub dan banga pada para pejuang pangan ?

    Mulai dari akademisi pertanian, praktisi pertanian sampai petani kecil begitu berjasa pada Indonesia. Jadi, salah satu hal untuk menjaga eksistensi pertanian Indonesia adalah menumbuhkan kesadaran pemuda akan pentingnya pertanian. Mengapa demikian ?. Indonesia diprediksi pada 2025 akan memasuki bonus demografi, artinya pemuda yang berumur produktif akan menanggung orang tua yang sudah tidak produktif. Jadi, tidak mungkin selamanya orang tua yang akan bekerja sebagai petani. Butuh generasi muda yang menggantikan.

    Cara untuk menumbuhkan jiwa pertanian pada pemuda sebagai berikut:

    a. Mahasiswa pertanian membentuk komunitas, misalnya “Pejuang Pangan”. Sasarannya adalah para anak desa baik yang masih sekolah atau bahkan sudah putus sekolah,
    b. Lembaga pertanian di masing-masing daerah menugaskan Penyuluh Pertanian untuk pemuda, mengajarkan teknologi bertani modern. Misal hidroponik, aquaponik, mina padi dan lainnya,
    c. Pendampingan baik dari dosen pertanian atau instansi lainnya tentang “agopreneurship”, diajarkan mulai dari cara pengolahan, pengemasan sampai pemasarannya.

    Jika ketiga cara tersebut diterapkan, maka pemuda desa akan merasa betah menekuni profesi tani di tempatnya. Bahkan jika diterapkan di kota, maka pemuda kota tidak gengsi lagi untuk bertani melalui teknologi dan inovasi pertanian. Buktinya sekarang sudah banyak pemuda yang menjadi “agropreneurship”, menjadi pengusaha sukses bahkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru. Hal tersebut membawa dampak positif yakni mengurangi angka pengangguran. Perlu ditanam dalam pikiran para pemuda, jika pangan melimpah maka dapat membasmi kelaparan dan kemiskinan di negeri ini. Jadi tindak kriminalisasi di Indonesia akan berkurang karena salah satu faktor penyebabnya yakni kemiskinan dan kelaparan dapat teratasi.

  • Fakta Menarik Cewek Elektro SMKN 3 Kendal

    Fakta Menarik Cewek Elektro SMAN 3 Kendal

    Fakta Menarik Cewek Elektro SMKN 3 Kendal  –   Jika mendengar kata Elektro,hal yang pasti terbayang adalah alat-alat elektronik,Teknisi, lampu dan hal-hal lain yang berhubungan dengan listrik.Tapi sebenarnya apa itu Teknik Elektro? 

    Pada dasarnya, Teknik Elektro adalah Ilmu Teknik yang mempelajari tentang dunia kelistrikan yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.Ahli di bidang Elektronika disebut dengan Electrical engineer.Ilmu Teknik Elektro sendiri dibagi menjadi dua:

    1. Arus kuat : Ilmu yang mempelajari tentang tenaga listrik bertenaga tinggi.
    2. Arus lemah : Ilmu yang mempelajari tentang tenaga listrik bertegangan rendah.

      Jika dikaitkan dengan jurusan di sekolah atau perguruan tinggi, maka Elektro adalah jurusan yang kebanyakan peminat nya adalah kaum laki-laki.Tapi siapa sangka perempuan juga bisa mahir Elektro.
      Di SMKN 3 Kendal, salah satu SMK jurusan teknik favorit di Kendal yang salah satu jurusan nya adalah Teknik Elektronika Industri, peminat nya bukan hanya dari kaum laki-laki, melainkan juga kaum perempuan.

      Hebat bukan ? walaupun siswa perempuan nya masih tergolong sedikit, tapi ini justru membuka kesempatan kerja yang cukup luas bagi mereka.
    Serunya belajar Teknik Elektronika di SMKN 3 Kendal
      Dunia Elektronika sebenarnya sangat seru dan menarik,tidak serumit kelihatan nya jika kita bersungguh sungguh dalam mempelajari nya.Bagaimana tidak? hampir semua alat yang kita gunakan sehari-hari adalah berupa mesin atau robot yang tidak akan lepas dari kelistrikan.Tidak dapat dipungkiri,bahwa penggunaan mesin atau robot sebagai pengganti pekerjaan manusia terlihat lebih efektif dan efisien.Hal ini tentu akan jadi lebih menyenangkan jika kita bisa menciptakan mesin-mesin dan robot-robot itu sendiri tanpa harus membeli dengan harga yang mungkin 2x lebih mahal ketimbang membuat sendiri.

      Di SMKN 3 Kendal, siswa jurusan Teknik Elektronika Industri dituntut untuk bisa berkreasi dalam membuat sebuah alat elektronik.Mulai dari perencanaan sampai perancangan nya.Dan secara tidak langsung, siswa juga dituntut untuk bisa menghafal komponen-komponen Elektronika yang dibutuhkan.

      Seru bukan? 
     Apalagi jika praktek membuat  robot,maka kita bisa berkreasi sebebas mungkin dalam perancangan model robot nya.Kita bisa membuat robot berkaki, robot beroda, flying robot, underwater robot, robot Humanoid,dll.Kita bisa mengontrol nya secara manual menggunakan saklar atau remote control,bisa juga lewat program contohnya Arduino.

    Bekal ilmu Elektronika ini sangat bermanfaat saat nanti lulus dari SMK.Bagi para penghobi Elektronika sekaligus berjiwa wirausaha maka tidak ada salahnya jika kita memanfaatkan lampu-lampu LED untuk merancang nya menjadi lampu hias berbagai design lalu menjualnya.Untuk tingkata lebih tinggi,kita bisa merancang sebuah aplikasi sensor, aplikasi aktuator dan aplikasi PLC untuk meraup keuntungan yang lebih besar.
    Bagaimana ? masih menganggap belajar Teknik Elektronika itu sulit? yang ada belajar Teknik Elektronika itu sangat seru.Baik untuk laki-laki maupun perempuan,semua bisa jadi Teknisi.
      Sekian dan terima kasih.
  • Gagasan Pendidikan Cocok Untuk Indonesia TERBARU

    Gagasan Pendidikan Cocok Untuk Indonesia TERBARU
    Gagasan Pendidikan Cocok Untuk Indonesia TERBARU – Sejarah mengatakan kalau Pendidikan di Indonesia ialah Pendidikan yang kebanyakan dibawa oleh para penjajah yang membawa sekat antara rakyat atas dan bawah. Dilihat dari segi kenyataan di lapangan Indonesia belum mampu menciptakan Pendidikan yang sesuai dengan negara-negara maju ataupun undang-undang dasar 1945. Dikarenakan Pendidikan sekarang sudah jauh dari nilai-nilai kepribadian Pancasila. Oleh karena itu, artikel ini akan menjelaskan bagaimana Pendidikan yang seharusnya diterapkan di Indonesia saat ini? Ada dua hal yang dibahas dalam artikel ini, yaitu: Pendidikan pesantren dan Pendidikan militer.
    Pertama, Pendidikan pesantren menurut Mastuhu adalah lembaga pendidikan tradisional Islam yang mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. Keberadaan pondok pesantren ditengah-tengah masyarakat mempunyai peran dan fungsi sebagai tempat pengenalan dan pemahaman agama Islam sekaligus sebagai pusat penyebaran agama Islam.
                Pondok pesantren pada bentuk aslinya menggunakan sistem pendidikan non klasikal, dimana dalam penyampaian pelajaran menggunakan dua sistem pengajaran, yaitu sistem sorogan, yang sering disebut sistem individual, dan sistem bandongan atau wetonan yang sering disebut kolektif. Sistem Pendidikan ini membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan yang sangat kokoh. Agar, tidak melarikan diri ketika sudah di tengah-tengah pelajaran maupun ujian berikutnya.
    Kedua, Pendidikan yang berdasarkan keprajuritan merupakan dasar pendidikan untuk membentuk pola pikir, sikap, dan pola tindak sebagai seorang prajurit yang selalu di garis terdepan dalam membela bangsa. Pendidikan militer dikenal dengan pelatihan fisik yang keras dan berdisiplin tinggi, namum pembinaan fisik ini tidak identik dengan kekerasan. Pendidikan yang membawa diri agar bisa berjiwa korsa dimanapun berada serta menjadi prajurit yang gagah perkasa dalam segi fisik.
    Kedua Pendidikan ini sebenarnya saling mengisi. Dikarenakan Indonesia membutuhkan orang-orang yang berjiwa religius dengan fisik ala kadar militer. Fisik tanpa ruhiyah yang kuat akan terbuang percuma. Begitupula dengan nilai religious tinggi juga akan percuma tanpa didasari dengan fisik yang kuat. Karena orang yang kuat lebih dicintai oleh Allah. Menjadikan diriuntuk tidak mendzalimi diri sendiri maupun orang lain serta bukan juga membatasi diri sebelum mencoba melakukannya untuk menjadi pribadi yang tangguh.
    Sekolah bukan hanya Pendidikan akademik semata yang hanya menggunakan nilai ijazah sebagai kebanggaan tetapi dimana kita menuju keharibaannya allah yang senantiasa berpendidikan dengan tidak menyimpang dari ajaran yang telah digariskan oleh Allah SWT.
    Pendidikan yang seharusnya ialah Pendidikan yang mampu membentuk karakter baik, aktif, dan kuat. Bukan hanya itu saja, Pendidikan yang sebenarnya ialah Pendidikan yang mendidik kita bagaimana cara kita berorganisasi, berlatih dalam kegiatan apapun yang sifatnya baik secara fisik maupun tidak, serta menjadikan Pendidikan sebagai wadah dalam berkomunitas yang menunjukkan kesaudaraan yang sangat kuat karena ukhuwah itu sudah terjalin dengan berjiwa korsa.
    Pendidikan bukan hanya seperti sekarang yang hanya berdiam dan bertanya semata. Melainkan Pendidikan harusnya dapat menanamkan nilai-nilai seperti kedisiplinan, beberapa pantangan yang menjadikan waktu sia-sia, serta kepribadian muslim yang harusnya diterapkan kepada siswa agar mereka belajar untuk mendapatkan pengalaman yang mengajarkan hikmah yang luar biasa.
    Jadi, Pendidikan yang harusnya diterapkan di Indonesia ialah Pendidikan militer yang berbasis nilai-nilai keagamaan yang diterapkan dalam perilaku sehari-hari. Anggap saja seperti Pendidikan yang diajarkan oleh Daarut Tauhid yang ada di Bandung.
  • Nasib Guru Honorer di Indonesia, Memprihatinkan!‎

    Nasib Guru Honorer di Indonesia, Memprihatinkan!‎
               Banyak sekali kampus di Indonesia ini yang memfokuskan dirinya di bidang pendidikan. Namun, sayang sekali pendidik atau yang biasa disebut guru, bahkan tak mendapat pelayanan yang layak dari negara. Sebut saja guru honorer, guru yang belum sertifikasi atau masih baru mengajar. Guru honorer yang biasanya masih tergolong baru akan mendapatkan jam mengajar yang lumayan banyak. Apalagi jika mendekati kegiatan akreditasi. Guru bekerja mulai pagi sampai siang, kadang sampai sore tergantung tingkat pendidikan apa yang digelutinya.
                Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Seyogyanya seorang guru diberikan penghargaan yang layak atas kinerjanya. Mendidik satu orang peserta didik saja tidak mudah apalagi mendidik puluhan bahkan ratusan peserta didik. Ditambah lagi harus rela dengan honor yang tidak mencapai standart. Terkadang lebih tinggi honor OB (office boy) yang bekerja di kantor daripada seorang guru yang tugasnya mencerdaskan generasi bangsa. Di negara maju, guru sangatlah makmur dengan berbagai layanan yang disediakan negara.
                Di zaman yang serba canggih ini, bahkan guru terkadang masih mendapat perlakuan yang kurang beretika dari wali murid. Contohnya saja, ketika seorang murid tidak bisa mengerjakan soal atau mendapat nilai yang kurang baik maka orangtua atau wali murid dengan semena-mena menyalahkan guru. Padahal jatah pertemuan guru dengan muridnya lebih minim daripada orangtua murid itu sendiri. Sudah seharusnya negara memikirkan nasib guru terlebih guru honorer.
                Dimana arti, dimana makna bahwa guru adalah pahlawan negara. Jika yang terjadi malah sebaliknya. Ketika tak ada yang bisa dibanggakan dari pekerjaan menjadi guru maka yang dibutuhkan adalah nurani. Guru bukanlah pekerjaan, guru adalah ladang amal. Karena menjadi guru tidak hanya mengajar namun mendidik karakter anak, mengarahkan perilaku anak menjadi lebih baik lagi dan juga menyalurkan ilmu dengan kasih sayang tanpa adanya kekerasan.
                Indonesia memang masih terbilang negara berkembang, namun jika menteri pendidikan mau menengok sebentar saja, bagaimana kehidupan guru honorer maka sesaat saja makmurlah mereka. Tak hanya menteri pendidikan, namun juga orang nomor satu negeri ini. Jangan hanya berkuasa namun tak kuasa, jangan hanya menjadi namun tak terjadi. Tak terjadi apa yang pernah disosialisasikan saat belum menjadi. Lihatlah kami, kami guru honorer yang bahkan tak ada daya menuntut gaji dan sertifikasi.
  • Model Pembelajaran Berbasis Sentra Pendidikan Anak Usia Dini

    Model Pembelajaran Berbasis Sentra Pendidikan Anak Usia Dini
    Model Pembelajaran Berbasis Sentra Pendidikan Anak Usia Dini – Pendidikan anak usia dini atau yang biasa disebut dengan PAUD merupakan pendidikan dasar yang sangat penting bagi anak namun sering dikesampingkan. Keberadaan pendidikan anak usia dini memiliki kedudukan yang sangat vital dimana anak dapat mengeksplorasi minat, bakat serta kemampuan di bidang akademik maupun non-akademik. Dengan keberadaan pendidikan di tingkat ini, anak menjadi lebih terarah untuk siap diluncurkan ke pendidikan jenjang sekolah dasar. Setiap anak memiliki karakteristik dan watak masing-masing, tidak dapat begitu saja dilepaskan kedunia sekolah tanpa mengetahui dirinya seperti apa dan berpotensi dibidang apa.
    Keberadaan play grup, TK (Tanaman Kanak-kanak), KB (Kelompok Bermain), RA, TPA (Tempat Penitipan Anak), dan lain-lain sebagai lembaga pendidikan anak usia dini menjadi suatu hal yang tepat untuk memfokuskan anak terhadap potensi yang dimilikinya. Menjamurnya keberadaan lembaga tersebut di masyarakat diikuti oleh meningkatnya kesadaran orangtua terhadap pentingnya pendidikan usia dini untuk anak. Dalam lembaga tersebut anak dapat belajar sambil bermain, mulai belajar bernyanyi, menggerakan tangan untuk menulis dan mewarnai, hingga akhirnya anak-anak berlajar tentang berinteraksi dengan orang lain.
    Pembelajaran di lembaga PAUD umumnya masih menggunakan metode pembelajaran klasik. Hingga kini mulai diperkenalkan model pembelajaran berbasis sentra untuk memfokuskan anak pada minat, potensi serta kekuatannya terhadap bidang yang disukai. Model pembelajaran ini didasarkan pada kemampuan dan potensi setiap anak yang berbeda dan tidak mungkin disama-ratakan dalam satu kelas. Ada anak yang berpotensi di bidang alam, seni, agama dan lain-lain. Pembelajaran dengan mewajibkan anak untuk mengikuti suatu pelajaran yang telah ditentukan dirasa kurang efektif, karena anak yang tidak berminat akan mogok dan akhirnya menyebabkan anak tertinggal dengan temannya yang berbakat dibidang itu, sehingga akhirnya anak menjadi malas belajar. Dengan alasan yang demikian, maka para ahli melalui penelitian yang panjang mulai memperkenalkan model pembelajaran berbasis sentra.
    Model pembelajaran berbasis sentra merupakan pembelajaran dengan membebaskan anak memilih kelas manapun yang mereka inginkan setiap harinya. Model ini terdiri dari beberapa kelas, yaitu kelas sentra alam, sentra kreativitas (seni), sentra balok, sentra MTA, sentra bermain peran, sentra persiapan, dan juga sentra memasak. Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai kelas berbasis sentra yang disediakan:

    1.    Sentra alam

    Sentra alam merupakan nuansa pembelajaran yang difokuskan pada kegiatan bermain menggunakan media yang berasal dari alam. Contohnya: menanam biji kacang hijau, mewarnai dengan menggunakan bahan alam seperti kunyit, menghitung jumlah gambar burung dan menyebutkan habitatnya, menghitung jumlah kura-kura, menyebutkan habitatnya dan lain sebagainya. Anak yang menyukai hal-hal yang berbau alam dapat memilih kelas ini dalam satu hari dan bahkan hari-hari selanjutnya.

    2.    Sentra kreativitas (seni)

    Sentra kreativitas (seni) merupakan ruang lingkup pembelajaran yang dibagi menjadi seni tari, seni musik, seni kriya atau seni pahat. Penyediaan seni ini didasarkan pada kemampuan penyelenggara pendidikan anak usia dini. Disarankan terdapat  minimal dua seni yang diajarkan, yaitu seni musik dan seni kria. Seni musik meliputi bernyanyi dan memainkan marching band ataupun drum band.  Sedangkan seni kriya dapat berupa menganyam, mengambar, membuat bunga dari kertas.

    3.    Sentra balok

    Sentra balok memfasilitasi anak dalam mengetahui lebih dalam mengenai bentuk, ukuran, keterkaitan bentuk, ketelitian serta kreativitas. Bermain sentra balok ini misalnya bermain lego, puzzle, dan juga menyusun sebuah bangunan.

    4.    Sentra IMTAQ

    Sentra IMTAQ difokuskan untuk mengenalkan kehidupan beragama kepada anak sesuai dengan agama yang dianutnya. Misalnya dengan mengenalkan doa-doa, etika, tata cara beribadah, atribut agama, tempat beribadah dan juga sikap saling menghormati antar agama.

    5.    Sentra bermain peran

    Sentra bermain peran dibagi kedalam dua sub kelas, yaitu sentra berman peran mikro dan sentra bermain peran makro. Sentra bermain peran mikro mengembangkan kemampuan berpikir abstrak, sosial-emosional, menyambungkan pengetahuan yang telah dimiliki dengan pengetahuan baru yang didapatkan dengan menggunakan alat main peran berskala kecil. Alat bermain peran mikro terebut misalnya: miniature mainan, mainan mini alat kedokteran, mainan mini alat transportasi dan lain sebagainya. 
    Sedangkan sentra bermain peran makro lebih berpusat untuk mengembangkan kemampuan mengenal lingkungan sosial, mengembangkan kemampuan bahasa serta kematangan emosi dengan menggunakan alat main yang sesuai dengan ukuran yang sebenarnya. Alat bermain peran makro tersebut misalnya: mainan untuk dokter-dokteran, mainan untuk pasar-pasaran, mainan untuk rumah-rumahan dan lain sebagainya.

    6.    Sentra persiapan

    Sentra persiapan lebih menekankan pada pengenalan awal terhadap akademik anak. Kegiatan ini meliputi pengenalan buku, alat tulis, dan lain sebagainya. Frekuensi kelas ini didominasi oleh anak yang segera masuk ke jenjang sekolah dasar. Hal itu disebabkan pada sentra ini diisi kegiatan yang diperkaya jenis permainannya.

    7.    Sentra memasak

    Sentra memasak ini diisi dengan kegiatan bagi anak untuk mengenal bahan makanan dan proses pembuatan makanan yang menyenagkan. Disentra memasak anak belajar konsep matematika, sains, alam dan sosial sehingga menunjang perkembangan sosial-emosional , bahasa, motorik dan kognitif.
    Model-model pendidikan berbasis sentra diatas sangat penting untuk menunjang eksplorasi kemampuan anak. Diharapkan anak dengan karakteristik dan potensi yang berbeda dapat mematangkan potensi masing-masing tanpa ada yang merasa tertinggal karena merasakan kesulitan. Dengan adanya metode ini, diharapkan pula anak siap untuk dilepas kejenjang sekolah dasar (Ind).
  • Ternyata Begini Kehidupan Pasca Sarjana, Serem gak Yah?

    September adalah momen wisuda yang banyak diselenggarakan di berbagai kampus. 3 tahun, 4 tahun bahkan lebih dalam menjalani proses perkuliahan untuk mewujudkan impian memakai toga. Kesenangan memang hanya dirasakan sesaat.Para wisudawan sudah tidak asing dengan statement “Welcome To The Jungle”. Dunia pasca perkuliahan adalah dunia sebenarnya untuk berproses dalam kehidupan. 

    Ternyata Begini Kehidupan Pasca Sarjana, Serem Gak Ya? – Apapun yang dikerjakan saat pasca sarjana itu pilihan hidup. Kita tidak boleh ikut campur pilihan pribadi apalagi menghakiminya. Banyak sarjana yang jadi pengacara (pengangguran banyak acara). Hal ini bukanlah hina karena masih hidup produktif. Pilih kerja, lanjut studi, nikah, berwirausaha dan lainnya memang harus timbul dari diri sendiri. Bukan paksaan dari orang lain yang justru akan menjadi ancaman pada diri sendiri.

    Lakukan hal positif bagi pribadi dan lingkungan sekitar. Jika ada istilah kerja di luar jurusan, selagi itu berdampak positif tidak masalah. Saya pribadi beranggapan bahwa para sarjana yang bekerja atau mengabdi sesuai dengan disiplin ilmunya, maka akan lebih bermanfaat. Alasannya karena ilmu yang semakin diaplikasikan akan semakin berkah.

    Masalah tempat kerja juga tidak perlu dipermasalahkan. Jika memang ingin membangun tempat lahir melalui sarjananya, silahkan merantau jauh untuk menimba ilmu bahkan sampai benua lain tidak masalah. Jika sudah siap nikah secara lahir dan batin, segerakan juga agar ada dua pemikiran untuk merancang misi ke depan demi mewujudkan visi hidup.

    Apapun pilihan kehidupan pasca sarjana tidak dipermasalahkan, asalkan positif dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh. Ingat, bahwa  gelar adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan.
  • Bagaimana Pendidikan dunia kerja di Terapkan?

    Bagaimana Pendidikan dunia kerja  di Terapkan?


    Bagaimana Pendidikan dunia kerja  di Terapkan? – Pendidikan merupakan suatu hal yang wajib bagi manusia, karena kita di berikan akal untuk berpikir. Berpikir tentang kehidupan, masa depan dan akhir dari kehidupan. Pendidikan bisa mengubah kita secara perlahan, dari yang buruk menjadi baik yang tidak tahu menjadi tahu. Orang berlomba-lomba untuk mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dengan sejuta mimpi dan harapan. Tapi apakah itu bisa menjamin masa depan ? Menurutku tentu tidak karena masa depan itu kita yang tentukan. Pendidikan memang bukan jaminan tapi itu adalah sebuah keharusan.

    Sebagai manusia yang tak tahu apa-apa, tentu kita harus bisa mengetahui apa yang belum kita ketahui. Yaitu melalui pendidikan. Tapi sayangnya, banyak yang tak sadar bahwa skill atau keterampilan itu lebih di butuhkan di dunia kerja. Kita juga bisa mengetahui hal apa saja yang belum kita ketahui dengan berkaca pada dunia. Jika hal itu tidak bisa kita lakukan maka lihatlah lingkungan sekitar kita, sekolah, jalanan, rumah makan, tempat wisata dan lainnya. Ilmu itu akan kita dapat jika kita mau menjelajahinya. Come on, dunia itu luas bukan hanya rumah-sekolah ataupun tempat bermain, mall dan lainnya.
    Dunia kerja itu keras, harus tahan bantingan, cacian, makian, umpatan ataupun segala hal yang bisa membuat hati kita sakit. Pendidikan itu memang penting tapi jika tidak terencana secara jelas sudah tau kan akhirnya kemana. Yups, pengangguran. Angka pengangguran di Indonesia semakin meningkat setiap harinya. Para pencari kerja banyak, tetapi lapangan kerja lebih sedikit. Hidup ini hanya sekali jangan sampai menyesal nanti. Seseorang yang saya kira hanya pendidikan rendah tapi ternyata d3, dia hanya seorang pedagang biasa yang mungkin keuntungannya pun gak seberapa.
    Pendidikan bukan jaminan, karena saya merasakannya sendiri. Ketika saya melamar pekerjaan kesana kemari tanpa punya skill apapun itu sulit. Lebih sulit dari soal matematika yang di berikan oleh guru paling killer sekalipun. 
    Lebih sulit ketika ngelobi orang tua untuk minta uang lebih karena jajanan naik. Ini bukan hanya sekadar cerita tapi ini nyata, nyatanya di luaran sana perusahaan lebih membutuhkan orang yang mempunyai skill daripada Ijazah sarjana yang sudab kita tempuh mati-matian itu.  Betapa mahalnya ijazah kita jika hanya cacian yang kita dapatkan, betapa mahalnya waktu yang kita habiskan untuk menempuh jalur tersebut.
    Kita gak akan pernah tau akan masa depan jika tidak kita tentukan dari sekarang. Bagi yang memang mempunyai skill di bidang pendidikan tentu bisa sukses meraih masa depan, tapi jangan salah dunia itu berputar kadang di atas kadang di bawah. Hanya sekadar mengingatkan untuk bisa mencoba mencari jalan lain menuju roma ketika dengan jalan satu tak mampu maka kita harus punya jalan yang lain. Karena apa, semakin hari persaingan semakin ketat. Apalagi sekarang ini MEA telah di buka, sangat sulit negara kita untuk bersaing dengan negara luar yang memang skill dan pendidikannya sudah tidak bisa di ragukan. 
    Para perusahaan tentu tak ingin rugi dengan menerima kita yang kurang mempunyai keterampilan. Kembali lagi kita hanya sebagai penonton bagi orang asing yang menjadi bintang film di negara sendiri. Terkadang miris, kita hidup di negara sendiri tapi kebanyakan perusahaan pemiliknya orang asing bukan warga negara Indonesia. Jatohnya kita hanya sebagai pekerja, pekerja dan pekerja lagi bukan pengusaha yang mampu berdiri tegak memimpin barisan untuk membangun masa depan.
    Nasib memang tuhan yang tentukan, tapi kehidupan kita yang menjalankan. 
    Sejak dini tanamkan kemandirian agar dewasa kelak bisa jadi pimpinan. Pendidikan itu penting sangat penting menurutku tapi, alangkah baiknya jika kita juga bisa mempunyai salah satu skill yang di butuhkan oleh perusahaan. Agar nantinya kita tidak perlu lagi untuk belajar skill tersebut ketika sudah lulus kuliah ataupun sekolah dan memasuki dunia kerja. 
  • Tinjauan Yuridis Sistem Pendidikan Nasional

    Tinjauan Yuridis Sistem Pendidikan Nasional
    Indonesia adalah negara hukum sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 1 ayat 3 UUD 1945 jadi segala aspek kehidupan berdasarkan aturan-aturan hukum yang ada dan berlaku di Indonesia termasuk dalam urusan pendidikan di Indonesia. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Hal ini diatur dalam BAB VIII Pasal 31 dan 32 UUD 1945.
    Namun kali ini penulis akan membahas menganai tinjauan yuridis sistem pendidikan di Indonesia. Sistem Pendidikan di Indonesia (Sisdiknas) diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bisa dikatakan bahwa UU ini merupakan amanat dan penjabaran dari UUD 1945 sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Namun demikian, penulis hanya akan membahawa mengenai pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, dan hak dan kewajibannya saja karena jika dalam UU ini mengatur sangat banyak maka dari itu penulis membatasinya.
    Dalam UU ini telah menjelaskan tentang pengertian pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu upaya kesadaran yang terencana guna mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Pasal 1 angka 1 UU No. 20 Tahun 2003).
    Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (Pasal 1 angka 3 UU No. 20 Tahun 2003).
    Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman & bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Pasal 3 UU No. 23 Tahun 2003.

    Prinsip penyelenggaraan pendidikan  meliputi:

    1. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
    2. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna
    3. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
    4. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
    5. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
    6. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. (Pasal 4 UU No. 23 Tahun 2003)

    Dalam aturan ini juga mengatur hak dan kewajiban dalam menjalankan suatu pendidikan di Indonesia, adapun yang memiliki hak dan kewajiban yaitu warga negara, orang tua, masyarakat dan pemerintah.
    Hak dan Kewajiban Warga Negara diatur dalam Pasal 5 dan 6 UU tersebut. Adapun Hak warga negara :
    (1)  Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.
    (2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
    (3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
    (4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.
    (5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. (Pasal 5 UU No. 20 Tahun 2003)
    Kewajiban warga negara diatur dalam Pasal 6 UU tersebut, adapun kewajibannya yaitu:
    (1) Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.
    (2) Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan.
    Peranan orang tua sangatlah penting dalam dunia pendidikan karena orang tua merupakan pintu awal anak mengenal pendidikan. Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya. Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. Sedangkan masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan. Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.
    Pemerintah yang dimaksud dalam aturan ini yaitu pemerintah dan pemerintah daerah. Pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban :
    (1) Memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.
    (2) Menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun
    Aturan mengenai sistem pendidikan di Indonesia cukup jelas namun impelmentasinya tergantung pada semua elemen masyarakat baik itu orang tua, masyarakat atau pemerintah jika kesemuanya saling bekerjasama dengan baik maka akan menciptakan pendidikan yang kondusif yang berujung pada suksesnya program pendidikan di Indonesia dengan dibuktikan prestasi-prestasi yang diukir oleh peserta didik dan tentunya semua lulusannya memiliki karir yang bagus dan bisa memajukan bangsa dan negara Indonesia.
    Sumber :
    ü  UUD 1945
    ü  UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  • Polemik Antara pendidikan dan pernikahan

    Polemik Antara pendidikan dan pernikahan
    Polemik Antara pendidikan dan pernikahan
    Polemik Antara pendidikan dan pernikahan – Membahas tentang pendidikan dan pernikahan, dua kata ini adalah suatu yang sangat penting dan harus dilakukan, kenapa? dua kata ini memiliki esensi yang sangat berharga. Pendidikan, berbicara tentang pendidikan tentu semua orang percaya tau pentingnya pendidikan, pendidikan bisa membuat orang menjadi ilmuan, dengan pendidikan orang akan mengetahui yang sebelumnya belum tau menjadi tau, namun mungkin  hanya sebagian kecil yang hanya menganggap kata yang satu ini adalah suatu yang tak berharga atau tak mungkin dilakukan. 
    Terkait dengan  kata dari sebuah pernikahan , pernikahan adalah sebuah keharusan bahkan kewajiban seluruh manusia yang hidup dimuka bumi ini, semua orang akan mengalami yang namanya pernikahan, semua orang menginginkan pernikahan, tetapi sekarang masalahnya manakah yang paling utama antara pendidikan atau pernikahan? semua orang memiliki pilihan masing-masing asalkan semua itu baik dan menjadikan orang itu menjadi lebih baik lagi, sebagian orang memilih menikah dulu baru melanjutkan pendidikan, dan ada juga sebagaian orang memilih pendidikan dulu baru menikah. 
    Semua itu yang kita pilih itu tidak ada yang salah, hanya saja yang salah adalah, ketika kita menikah kita tidak memiliki unsur pendidikan sedikitpun, ketika menikah tidak memiliki ilmu tentang pernikahan atau semacamnya, itulah yang salah, kebanyakan sekarang anak muda atau bahkan orang dewasa hanya sekedar menikah, hanya sekedar melamar, yang penting halal dalam berhubungan namun tak pernah memikirkan dampak pernikahan, tanpa mengetahui seluk beluk dari sebuah pernikahan, tanpa tau apa yang harus dikerjakan tau dilakukan ketika menikah, dan disinilah dibutuhkan yang namanya pendidikan , disinilah dibutuhkan yang namanya belajar, disinalah dibutuhkan yang namanya ilmu.
    Oleh sebab itu pendidikan disini sangatlah dibutuhkan, sekolah dan belajar juga sangat berati dan harus dilakukan sebelum menikah, jangan hanya menganggap pendidikan itu suatu yang kuno, suatu yang tak penting, mau jadi apapun kita asalkan sudah mencoba, asalakan sudah mencoba, semua itu kita memiliki takdir yang berbeda-beda, kita semua memiliki nasib yang berbeda-beda yang telah ditentukan, yang kita lakukan hanyalah memperlajari dan terus mencoba berapun kegagalan, berapapun tantangan dan hambatan itu, selanjutnya mengenai pendidikan dulu baru menikah, ini pilihan yang sangat bijaksana, tetapi sebagian orang membenci ketika mendengar sebuah kata tentang kata “pernikahan” .

    Mereka seolah  tak memperdulikan tentang namanya sebuah pernikahan, bahkan sangat membencinya, mereka lebih indah sendiri katanya, namun dia tak tau ada yang lebih indah dari kesendirian itu, itu adalah suatu yang salah bahkan sangat salah, kita semua diciptakan untuk hidup berpasang-pasangan, untuk hidup berdampingan, untuk menjalani kehidupan yang kejam ini menjadi kehidupan  yang  lebih indah dan berseri,  yang dulu hidup didunia pana menjadi kehidupan yang penuh dengan canda dan tawa,  bersama pasangan hidup. 

    Jangan menjadi manusia yang egois ketika sudah memiliki pendidikan yang tinggi kita melupakan arti dari sebuah pernikahan, hakikat dari sebuah penikahan. jangan lupakan bahwa kita hidup dari ibu dan bapak kita yang sudah menikah, jadi ketika kita sudah  memikili pendidikan yang selayaknya kita harus  menikah, kemudian kita akan menjadi manusia yang paling beruntung. ingatlah satu hal kita lahir dari ibu dan bapak yang berpasangan, jadi tak harusnya membenci pernikahan, jangan sekali-kali  menunda pernikahan, ketika sudah mampu lahir dan bathin maka menikahlah, jemput pasangan atau jemput pasangan itu, dan janganlah menikah hanya sekedar kata menikah sebelum mengetahui tau memhami arti dari sebuah pernikahan karna menikah bukanlah suatu yang main-main dan bukan untuk mempermainkan.
  • Tujuan Pendidikan Adalah untuk Saling Mengasihi

    Tujuan Pendidikan Adalah untuk Saling Mengasihi
    Tujuan Pendidikan Adalah untuk Saling Mengasihi- Sering kali, jika ditanya mengapa kita butuh untuk bersekolah setinggi mungkin, maka sangat beragam jawaban untuk menjawab pertanyaan tersebut seperti untuk mendapatkan pekerjaan, untuk mendapatkan pengakuan di lingkungan masyarakat, bahkan untuk mendapatkan jodoh yang sepantasnya. Apakah alasan tersebut salah? Jawabannya adalah tidak salah. Kita tidak perlu munafik untuk menyanggah jawaban – jawaban tersebut.
    Penulis ingin mengajak pembaca untuk berpikir di sisi yang berbeda tentang tujuan pendidikan yaitu untuk saling mengasihi. Para guru dan orangtua terlalu sibuk menanamkan bahwa pendidikan  untuk mendapatkan masa depan lebih baik. Padahal tanpa menanamkan kasih, pendidikan itu sia-sia bahkan menjadi boomerang bagi semua manusia.
    Penulis memberikan gambaran sebagaiberikut. 
    Ketika seorang manusia telah menyelesaikan jenjang pendidikannya yang tidak ditanamkan untuk saling mengasihi sesama umat manusia, maka manusia itu akan bertumbuh menjadi seorang yang egois. Dunia pekerjaan sebagai ajang persaingan jabatan dengan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya sekalipun harus menyakiti sesama rekan kerjanya bahkan masyarakat. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sangat marak terjadi sebagai ajang pemuasan nafsu belaka tanpa memperhatikan dampak pemerosotan kualitas negara. Negara menjadi budak untuk kepuasan nafsu pribadi setiap orang yang dapat kita rasakan saat ini yaitu banyaknya tuntutan kepada pemerintah untuk sempurna dalam memanjakan setiap masyarakat.
    Sementara, ketika manusia diajarkan untuk saling mengasihi maka yang terjadi adalah manusia akan melakukan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga, negara, dan yang terpenting kepada Tuhan. Maka setiap manusia akan berusaha untuk berjuang memperbaiki kecerdasan intelektual, moral, karakter, dan spiritual untuk mempersembahkan yang terbaik dalam hidupnya. Tidak ada tuntutan pemuasan nafsu pribadi karena hal itu akan menjatuhkan harga diri manusia yang paham akan kasih. Sehingga, negara menjadi maju dan makmur.
    Pendidikan yang bertujuan untuk saling mengasihi bisa ditanamkan dengan cara menyadarkan umat manusia sejak dini bahwa Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita maka kita sepatutnya mengasihi sesama manusia untuk kemuliaan nama Tuhan. Ajarkan bagaimana pendidikan sebagai sarana untuk saling tolong – menolong sesama umat manusia tanpa pandang bulu, bersaing dengan kualitas hidup bukan dengan kuantitas manusia, mendukung secara objektif setiap manusia apapun jabatannya untuk mempersembahkan yang terbaik bagi masyarakat dan negara, dan filosofi tentang apa yang bisa kita perbuat untuk negara bukan apa yang bisa diperbuat negara untuk kita, masyarakat.

    Hal-hal tersebut jika berhasil ditanamkan, niscaya akan menghasilkan sumber daya manusia yang maju dan negarapun menjadi maju dan sejahtera.

    Harapan penulis semoga kita bersama-sama untuk menanamkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengasihi sesama manusia tanpa pandang bulu untuk kebaikan kita bersama dan kemuliaan nama Tuhan.
  • IBU ADALAH PENDIDIKAN PERTAMA BAGI ANAK

    IBU ADALAH PENDIDIKAN PERTAMA DAN UTAMA BAGI ANAK


    IBU ADALAH PENDIDIKAN PERTAMA BAGI ANAK – Apa pendapat pembaca tentang orang tua pencetak anak ?


    Berikut ulasan mengenai orang tua pencetak anak.

    IBU ADALAH PENDIDIKAN PERTAMA DAN UTAMA BAGI ANAKOrang tua adalah tempat pertama bagi seorang anak mengenal yang dinamakan pendidikan. Orang tua adalah tempat pembentukan karakter, tempat anak pertama kali mengenal dunia luar, tempat menggali semua informasi untuk pertama kalinya, tempat untuk berlatih berbicara, tempat mengenal sesuatu dan banyak lagi yang didapat anak melalui orang tua. Sadar atau tidak, bahwa orang tua adalah tokoh utama dan tiruan untuk anak. Tidak jarang bahwa anak sering mengalami permasalahan dan juga trauma yang disebabkan dari keluarga. Disatu sisi bukan berarti lingkungan sekolah dan lingkungan bermain tidak mempengaruhi, namun pengaruh terbesarnya ada pada lingkungan rumah. Anak dibentuk dari mulai masih dalam kandungan sang ibu sampai lahir, orang tua sudah memiliki perencanaan untuk anak.

    Peran kedua orang tua sangat penting bagi pendidikan anak, namun seorang ibu memiliki peran penting untuk anak. Ibu adalah guru pertama bagi anak, menjadi sosok yang akan selalu diidolakan oleh anak. Mau menjadi apa seorang anak ditentukan bagaimana seorang ibu membentuknya. Mulai dari mengajari membaca dengan ibu, mendengarkan cerita dengan ibu, mengambil keputusan dengan ibu semanya ibu. Olah sebab itu, untuk menjadi seorang ibu membutuhkan bekal yang kuat untuk menjadikan anak sebagai seorang yang diinginkan.  Walau kita sadari bahwa seorang ayah juga memiliki andil dalam pertumbuhan anak. Lalu bagaimana jadinya jikalau orangtua tidak memiliki rasa tanggung jawab dengan seorang anak ?, apakah mereka tidak menyesal pada kemudian hari ?, karena sesungguhnya semakin anak tumbuh besar maka semakin sedikit waktu bersama dengan anak. Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut maka orang tua perlu bekerja sama dengan baik dalam membentuk anak. Melalui kegitan di bawah ini akan membantu orang tua mendidik anak dan juga merekatkan kebersamaan antara orang tua dan anak.

    Tumbuhkankan Creativity (Kreativitas) pada anak, bagaimna caranya ?. Menyempatkan waktu luang untuk bersama anak. Salah satu contohnya bermain bersama antara orang tua dan anak. Bermain bukan sekadar bermain, namun bermain menggunakan permainan yang bisa mengasah pemikiran dan kreativitas anak. Mainan tersebut contohnya adalah lego, siapa yang tidak mengenal lego ? pasti semua tahu dan pernah bermain lego. Namun apakah terfikirkan bahwa mainan tersebut mampu menumbuhkan kreativitas anak ?, tanpa disangka lego adalah permainan sederhana untuk anak yang secara tidak langsung memberikan dampak positif untuk anak. Dampak positif tersebut yaitu melatih kreativitas anak untuk mencipta berbagai bentuk dari sebuah mainan lego. Kreativitas menjadi bekal untuk pengembangan diri anak yang didampingi oleh orang tua.



    Critical Thinking (Berpikir Kritis), melatih anak untuk menanggapi sesuatu hal tidak hanya dari satu sudut pandang saja, melainkan dari berbagai sudut pandang. Salah satu contohnya adalah ketika orang tua menemani anak untuk belajar. Dimulai dari hal kecil yaitu ketika mewarnai suatu gambar anak akan berfikir warna apa yang cocok untuk gambar tersebut. Memulai dari memilih warna anak sudah berfikir, ditambah dengan peran orang tua untuk membantu anak mengkritisi gambar tersebut atau mendiskripsikan gambar tersebut dengan berbagai pendapat. Melalui hal sederhana tersebut anak sudah belajar Critical Thinking dan tanpa terasa terjalinlah kebersamaan antar anak dan orang tua.
    Communication (Komunikasi), bagi kebanyakan orang untuk saat ini komunikasi secara langsung atau tatap muka mulai dianggap sebagai sesuatu hal yang kurang atau bisa juga berpendapat akan mengganggu aktivitas. Namun tanpa disadari komunikasi sesuatu hal yang penting bagi sebuah hubungan, utamanya hubungan antara anak dengan orang tuanya. Komunikasi yang terjalin antara anak dan orang tua sangatlah penting. Melalui komunikasi orang tua akan tahu apa saja yang dirasakan anak, kesulitan yang dihadapi, bagaimana perasaannya, dan yang lainnya. Dari situlah orang tua akan berperan, memberikan ilmunya pada anak, memberi nasihat, memberikan solusi, dan juga dapat mengukur sampai seberapa kedekatan orang tua dan anak serta orang tua yang baik akan mampu memerankan perannya sesuai kebutuhan anak, yaitu menjadi teman curhat, sahabat, kakak atau sebagai orang tua itu sendiri. Dari komunikasi secara tidak langsung membentuk karakter anak yaitu jujur serta melatih sopan santunnya bila dilihat dari segi moral dan etika.
    Collaboration (Kolaborasi) atau biasa disebut kerjasama. Sejakkecil anak harus diajarkan untuk bekerjasama dengan sesama. Menanamkan pentingnya bekerjasama pada anak mulai sejak kecil, dimulai dari keluarga dan dari yang mudah seperti membersihkan rumah bersama. Sepele, memang. Namun, dibalik itu menyimpan manfaat yang banyak untuk anak. Dalam diri anak akan memiliki jiwa sosial dan tidak menjadi anak yang individualis, mudah bergaul serta mudah menerima orang baru.
     Satu hal penting yang orang tua hendak ketahui bahwa anak memiliki masa keemasan, dimana setiap kegiatan yang dilakukan dan kejadian yang terjadi pada masa keemasan anak akan selalu diingat anak sampai mereka dewasa bahkan sampai tua. Oleh karena itu, orang tua harus bekerja sama untuk menjadikan masa keemasan anak menjadi waktu yang tepat untuk memberikan nilai-nilai yang baik untuk diingat oleh anak. Menjadikan masa keemasan anak menjadi masa yang produktif untuk membentuk pendidikan anak. Supaya anak menjadi seperti apa yang telah direncanakan. Perlu diingat, rencana bukan dibuat untuk mengekang anak, namun untuk menjadikan patokan kemana anak harus melangkah dan orang tua yang mendampinginya.



    Jadilah orang tua yang produktif, jadilah ibu yang menjadi teladan anak-anaknya dan bentuklah anak menjadi anak yang teladan seperti ibunya.
  • Tahukah Sahabat, Inilah Pentingnya Pendidikan untuk Anak Usia Dini!

       
    Tahukah Sahabat, Inilah Pentingnya Pendidikan untuk Anak Usia Dini!

    Tahukah Sahabat, Inilah Pentingnya Pendidikan untuk Anak Usia Dini! – Pendidikan memiliki peran penting bahkan teramat sangat penting untuk manusia, sebab dengan pendidikanlah yang akan mengantarkan manusia menuju manusia yang lebih baik hingga menjadi manusia terbaik. Bahkan dengan pendidikan juga yang nantinya membawa manusia unruk menciptakan prestasi demi prestasi yang gemilang, dengan pendidikan yang nantinya akan membuat manusia untuk berinovasi dalam menciptakan hal-hal baru dan terbaik demi kehidupan yang lebih berwarna. Lantas bagaimana dengan pendidikan anak usia dini?
    Tentu, teramat sangatlah penting pendidikan untuk anak-kita. Anak dimana usia belia, usia yang hanya terdapat sekali seumur hidup dan teramat sangat penting dalam mendukung keberlangsungan hiup setelahnya. Ya, itulah yang dinamakan masa Golden Age (Usia Keemasan). Diusia keemasan anak-anak kita akan sangat penting untuk kehidupan diusia selanjutnya. Mari kita renungkan betapa banyak anak-anak yang diusia muda sudah pandai berprestasi, berkarir dan bakat yang begitu spektakuler kita temui. Dilain sisi ada juga anak yang dengan usia yang bahkan sudah hampir dewasa namun tetap biasa-biasa saja, hidup tanpa cita-cita. Hidup dalam balutan kepasrahan. Semua itu bisa kita ikhtiarkan melalui pendidikan di usia dini.
    Pembaca yang berbahagia, usia anak memanglah usia untuk bermain, usia untuk senang-senang, usia untuk berwarna dalam dunianya. Namun, dengan dunianya untuk bermain bukan berarti membuat kita sebagai orang tua ataupun pendidik PAUD membiarkan mereka hanya asyik dalam dunia mereka tanpa kita bimbing langkah apa yang bisa mereka lakukan untuk menjadi anak-anak yang hebat kedepannya.
    Diusia yang sangat belia tersebut, dapat kita torehkan karya untuk anak-anak kita dengan stimulus yang konsisten, terus kita asah bakat anak-anak kita. Kita lihat apa yang mereka nikmati, kita lihat apa yang mereka sukai dengan dunianya, dan kita bawa bakat itu menjadi lebih bermakna. Misal jika anak kita menyukai dunia musik, coba kita ajak mereka bermain dengan musik, kita kenalkan dengan dunia musik melalui permainan. Dengan begitu mereka akan merasa senang, akan asyik dengan pelajaran yang diterima, bukan menganggapnya sebabi beban.
    Intinya, kita ajak anak-anak kita untuk senang dalam belajar, karena dunia mereka adalah dunia imajinasi, bukan dunia analisa. Dunia mereka lebih cenderung meniru apa yang didengar, apa yang dilihat dan apa yang dicontohkan. Untuk itu, marilah kita untuk mendukung pendidikan untuk anak-anak kita. 
  • Mengajar Dengan Cinta Oleh Muhammad Iqbal

    Mengajar dengan cinta

    Mengajar Dengan Cinta  Oleh Muhammad Iqbal – Di bawah terik matahari kami tengah asyik menikmati proses pembelajaran hari ini, seakan tak ingin berhenti, semua siswa dengan serius mendengarkan pemaparanku. Aku begitu senang melihat mereka, serasa tak ingin berpisah dan ingin terus bercerita membagikan ilmuku untuk mereka, yang sesekali kelas ini diwarnai dengan canda dan tawa antara kami, hitung-hitung sebagai penghibur sementara ketika mulai jenuh. 
    Begitulah mengajar, banyak sensasi yang bisa kita risakan, yang terkadang kita bisa merasa bosan, kesal, senang, semangat, dan berbagai sensasi lainnya. Semua itu tergantung pribadi masing-masing dalam menyikapinya. Maka jangan heran jika di sekolah ada guru yang sangat disenangi siswa, ada yang ditakuti siswa, dan ada yang disegani siswa. Dari Kketiga pilihan tersebut tentu kita menginginkan pilihan pertama bukan? Yaitu ingin disenangi oleh seluruh siswa kita. 
    Tak mudah memang menjadi guru yang disenangi siswa, kita harus sabar menghadapi berbagai tingkah laku siswa, mulai dari yang baik, sampai yang nakal, semua itu harus kita hadapi dengan tidak pilih kasih, sebab kasih sayang guru kepada siswanya tidak dilihat dari kemampuannya, meskipun ia tidak memiliki kemampuan apapun untuk diunggulkan, namun seorang guru harus bersikap sama, memberikan perhatiannya dengan kadar yang sama. 
    Begitu juga ketika mengajarkan siswa, seorang guru harus mampu menguasai konsep mengajar dengan penuh cinta. Sebab jika tidak, materi yang disampaikan hanya sekedar pelengkap saja, padahal materi itulah yang harus dikuasai, namun tidak bisa dikuasai oleh siswa, jika guru mengajar dengan keadaan terpaksa bukan karena cinta. 
    Hanya orang-orang pilihan yang bisa melakukannya, baginya mengajar bukan lagi sebuah keterpaksaan, melainkan sebuah kewajiban yang harus ditunaikan dalam rangka mewujudkan pendidikan bangsa. Menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk menyiapkan strategi pembelajaran yang menarik bagi mereka, terutama karakter cinta, sehingga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat dan bisa menghasilkan ide dewasa. 
    Penuh rasa, makna, dan cinta itulah berbagai karatker yang akan dialami. Hal serupa dialami oleh mereka yang tengah asyik mengabdikan dirinya sebagai guru di sekolah terpencil. Bisa kita lihat betapa sabarnya mereka, meskipun dibawah pohon rindang, mereka tak peduli, mereka tetap saja menikmati waktu bersama siswa, semuanya dilakukan karena cinta, sebab cintalah yang buatku seperti ini, mengajar ilmu dengan sepenuh hati.

    Penulis Muhammad Iqbal

  • Organisasi dalam Perspektif Mahasiswa, Menurutmu?


    Kalian tipikal mahasiswa yang seperti apa? Aktivis atau akademisi? Menjadi tipikal mahasiswa yang aktivis ataupun akademisi tidaklah salah. Karena sejatinya hidup memang sebuah pilihan. Semua dijalani tergantung dari pilihan yang sudah kita tentukan. Berdasarkan pengamatan pribadi, mahasiswa lebih suka menjadi tipikal yang akademisi. Entah faktor dari dorongan orang tua yang menginginkan anaknya cepat menyelesaikan studi, atau tidak menyukai kesibukan di luar dunia perkuliahan. Bagaimana dengan kampus kalian? Kebanyakan mahasiswa beranggapan bahwa kegiatan organisasi hanya akan menghambat perkuliahan dan menambah beban yang mengakibatkan lelah.

    Pemikiran yang demikian benar-benar dapat dikatakan terlalu sempit. Padahal, kategori mahasiswa sudah harus mengajarkan kita arti kehidupan yang sesungguhnya. Perlu diperbaiki dalam hal pola pikir mahasiswa yang mengatakan bahwa organisasi hanya akan menghambat perkuliahan. Bagaimana dengan mahasiswa yang mendapatkan gelar mahasiswa berprestasi? Apakah mereka mahasiswa yang biasa-biasa saja? Tidak! Persisnya tidak diketahui teknik suatu universitas memberikan gelar mahasiswa berprestasi. Di kampus pribadi, gelar mahasiswa berprestasi didapatkan karena mahasiswa yang memiliki IPK > 3,5 dan aktif berorganisasi. Mengapa demikian?

    Hal tersebut diapresiasi karena mahasiswa aktivis mampu memanajemen waktu dengan baik antara kegiatan organisasi dan perkuliahan. Toh, buktinya mahasiswa yang mendapatkan gelar sarjana terbaik adalah mereka mahasiswa aktivis. Bukan akademisi. Sebenarnya masih sangat ngambang pada pemikiran yang mengatakan bahwa ‘organisasi hanya akan menghambat perkuliahan’. Sisi mana yang menghambat perkuliahan? Sedangkan waktu yang dipergunakan untuk perkuliahan tidak akan habis dalam 24 jam. Jika dikalkulasikan waktu kosong kalian di luar perkuliahan, berapa banyak waktu kosong yang kalian miliki? Apakah waktu kosong tersebut kalian gunakan untuk kegiatan yang produktif?

    Silahkan jawab pada diri masing-masing. Mahasiswa sudah harus belajar untuk memecahkan permasalahan. Menjadi seorang yang aktivis akan menjadikan kita lebih dewasa. Mungkin pada awal waktu, kalian akan kelabakan dan belum bisa mengatasi semua permasalahan dalam hal manajemen waktu. Tetapi, seiring berjalannya waktu semua akan mengalir. Apa yang harus kita lakukan? Perbaiki manajemen waktu. Jika tidak dimulai dari sekarang, sampai kapan kalian mau berada di zona nyaman kalian yang hanya akan mengurusi perkuliahan saja?

    Tulisan ini bukan mensugetsi diri kalian untuk menjadi aktivis kampus. Sama sekali tidak! Hanya saja, sedikit meluruskan pandangan mahasiswa terkait dengan para aktivis kampus. Sekiranya kalian adalah tipe mahasiswa yang akademisi, mungkin memiliki sahabat yang aktif berorganisasi. Baiknya agar tidak mengucilkan sahabat kalian hanya karena mereka seorang aktivis. Tetapi, coba sharing bersama mereka. Mahasiswa yang aktivis sangat berbeda dengan mahasiswa yang akademisi. Mulai dari segi sosial, pandangan hidup bahkan wawasan. Mengapa? Dari segi sosial, mahasiswa aktivis tentu memiliki banyak jaringan. Jaringan dalam artian teman. Jangan salah ya, karena teman juga merupakan salah satu rezeki bagi kita.

    Selain itu, memiliki pandangan hidup yang berbeda. Berkegiatan di luar perkuliahan akan mengajarkan kita tentang pentingnya memanfaatkan waktu luang. Membuat diri kita sadar bahwa waktu luang yang dimiliki harus dilakukan untuk kegiatan yang produktif. Permasalahan di luar perkuliahan akan mengajarkan kita tentang miniatur kehidupan. Bersosialisasi, berbicara dengan orang yang tidak dikenal, tampil dengan percaya diri di depan orang banyak, dan masih banyak lagi. Itulah mengapa mahasiswa akktivis dan akademisi sangat berbeda. Bagi mahasiswa yang akademisi, tentu akan tenang dan nyaman saja. Yang dipikirkan hanya dunia perkuliahan. Mungkin saat perkuliahan belum terasa kekurangannya. Namun, puncaknya ada pada dunia pekerjaan.

    Mengapa? Perbedaan akan sangat terlihat. Mahasiswa yang aktivis tentu softskill sudah terbangun sejak berorganisasi. Softskill yang seperti apa? Banyak. Tampil dengan percaya diri, mampu berkomunikasi yang baik, mampu bekerja dalam tim dengan baik dan sebagainya. Sedangkan mahasiswa akademisi, baginya itu akan terasa asing dan canggung. Tidak sedikit kita lihat bahwa banyak yang tidak percaya diri, tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang lain, individualism dan lainnya. Lalu, apa manfaat dari hasil IPK 4,0. Jika, semua nilai yang dipertahankan agar tetap bagus di bangku perkuliahan menjadi tidak berarti sama sekali.

    Sehingga, sangat penting bagi kita yang berlabel mahasiswa untuk mempertimbangkan segala sesuatunya. Toh, yang merasakan manfaatnya adalah diri sendiri. Tipikal apapun itu, mahasiswa akademisi ataupun aktivis, silahkan jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain. Semoga tulisan ini dapat memotivasi diri dan menjadikan diri kita lebih produktif lagi dalam memanfaatkan waktu luang yang ada. Hidup Mahasiswa! J
  • Tilik Kesuksesan Pendidikan Zaman “Doeloe”

    Tilik Kesuksesan Pendidikan Zaman "Doeloe"
      TILIK PENDIDIKAN JAMAN “DOELOE”Pendidikan jaman sekarang jika dibedakan dengan pendidikan pada jaman dahulu memang sudah sangat jauh berbeda.Mulai dari media pembelajaran,alat tulis yang digunakan, tempat yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dan lain sebagainya.Jika kita lihat media yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar pada waktu itu masih banyak menggunakan papan tulis dilengkapi kapur sebagai alat tulisnya.Tidak jarang juga beberapa siswa yang masih menggunakan batu tulis sebagai pengganti buku tulis.

      Dahulu, beberapa murid hanya memakai sandal atau bahkan bertelanjang kaki untuk pergi ke sekolah.Mereka pun biasanya hanya menggunakan satu buku sebagai buku catatan beragam materi pelajaran yang diwadahi dalam kantong plastik atau dimasukkan pada saku celana.Keadaan Sekolah mereka pada waktu itu masih sangat sederhana dengan penerangan seadanya dan fasilitas yang sangat terbatas.

      Bisa kita lihat contohnya ada dalam Film yang berjudul “Laskar Pelangi” yang disutradarai oleh Riri Riza yang sempat booming pada tahun 2009.Film ini menggambarkan tentang kesederhanaan pendidikan di sebuah daerah di Belitung yang pada saat itu fasilitas nya masih jauh di atas kata layak.Walaupun demikian, para murid tetap semangat dalam bersekolah guna mewujudkan impian mulia mereka.

      Hal ini jika dibandingkan dengan pendidikan jaman sekarang, tentunya jauh sangat berbeda.Bagaimana tidak ? siswa jaman sekarang sudah sangat dimanjakan dengan berbagai fasilitas modern baik dari sekolah maupun fasilitas pribadi.Berangkat sekolah jadi dimudahkan dengan adanya motor pribadi,mobil pribadi, ataupun kendaraan umum.Sesampainya di sekolah, mereka kembali di manjakan dengan Gedung Sekolah yang megah beserta fasilitas-fasilitas memadai di dalamnya seperti AC dan Komputer.Media pembelajaran lebih sering menggunakan LCD Proyektor sebagai pengganti dari white board.Terkadang, para siswa hanya tinggal menggunakan fasilitas berupa internet untuk mengunduh materi pembelajaran dan menyimpannya pada ponsel mereka masing-masing tanpa harus menulis ulang pada buku.

      Alangkah disayangkan karena generasi muda jaman sekarang tidak terlalu memikirkan tentang pentingnya pendidikan, sehingga mereka cenderung bosan jika berada di sekolah.Membolos saat jam pelajaran, tidak berangkat sekolah tanpa keterangan yang jelas,tawuran, membangkang kepada Guru sudah menjadi hal yang lazim terjadi di kalangan pelajar.

      Sebagai pelajar yang baik, sudah seharusnya kita banyak belajar dari kegigihan dan ketekunan para pelajar terdahulu yang sangat berjuang demi memperoleh ilmu pengetahuan dan pendidikan yang layak.Oleh karena itu mari kita manfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya agar kita menjadi generasi yang cerdas dan berprestasi.Karena Bangsa ini tergantung pada para Generasi muda nya.
  • Ekonomi dan Pendidikan, 2 Dimensi Yang Berbenturan, Betulkah?

    Ekonomi dan Pendidikan, 2 Dimensi Yang Berbenturan


    Ekonomi dan Pendidikan, 2 Dimensi Yang Berbenturan – Madura merupakan sebuah pulau besar yang terletak bersebelahan dengan Pulau Jawa. Keberadaan Pulau Madura berbatasan langsung dengan Pulau Jawa melalui kota Bangkalan (Ujung Barat Pulau Madura) dan Pelabuhan Perak Surabaya yang dibatasi oleh lautan. Madura dibagi menjadi empat Kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Sebagai sebuah wilayah kepulauan, Madura dikelilingi oleh daerah perlautan yang membentang kesegala penjuru. Keberadaan jembatan Suramadu semakin membuat Pulau ini mudah berinteraksi baik secara ekonomi maupun sosial dengan masyarakat di Pulau Jawa.
    Memiliki sumber daya alam melimpah disektor laut dan pertanian, penduduk Pulau Madura mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai petani, nelayan, petani garam, peternak dan sebagaian merantau ke luar pulau sampai menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di negera tetangga. Minimnya tingkat pendidikan merupakan masalah yang krusial di Pulau ini. Pendidikan tertinggi yang dicapai penduduknya mayoritas hanya terbatas di SD, SMP, maupun SMA dan hanya sedikit yang mampu melanjutkan di Perguruan Tinggi. Minimnya tingkat pendidikan tersebut disebabkan oleh keterbatasan segi ekonomi dan juga minat pemuda untuk melanjutkan pendidikan.
    Pemandangan pengemis cilik di Pelabuhan Kamal, Bangkalan, Madura, menjadi titik pandang terhadap minimnya pendidikan. Pengemis cilik itu didominasi oleh anak dengan kisaran umur 2 sampai 10 tahun. Bahkan, sempat terlihat anak berumur 7 tahun-an yang menggendong adiknya yang masih berumur 2 tahun. Sangat miris, mereka meminta-minta disepanjang jalan pelabuhan hingga masuk kedalam kapal. Setelah ditelusuri lebih lanjut, mereka meminta-minta karena unsur paksaan dari orangtuanya. Mereka bukan hanya berasal dari daerah setempat, tetapi juga berasal dari Kabupaten Sampang dan Pamekasan.
    Jam kerja mereka dimulai sejak pagi hari sampai menjelang petang. Ketika disinggung tentang sekolah, sebagian besar dari mereka menjawab kalau mereka tidak bersekolah. Meskipun ada sedikit dari mereka yang masih berkesempatan untuk sekolah. Dengan kondisi yang demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar dari mereka juga belum dapat membaca dan menulis. Yang mereka tahu adalah meminta uang kepada penumpang kapal dengan cara merengek-rengek mengenakan pakaian lusuh dan tas kecil slepang yang membuat siapapun merasa iba.
    Ekonomi dan Pendidikan, 2 Dimensi Yang Berbenturan
    Gardu pendidikan pertama adalah keluarga, khususnya orangtua. Pendidikan sendiri memegang peranan yang sangat penting untuk masa depan anak. Sudah sepantasnya memberi kesempatan kepada anak untuk mengenal angka, mengeja huruf, meningkatkan kecerdasan dan mengembangkan kemampuan. Sangat disayangkan, jika anak kemudian dirampas haknya untuk mengenyam pendidikan dan diganti dengan kegiatan bekerja bukan pada waktunya. Terlebih lagi dengan pekerjaan meminta-minta. Untuk orangtua, jika ekonomi menjadi pembatas, jangan jadikan anak-anak sebagai pekerja, tapi bekerjalah lebih keras agar anak-anak kalian tidak bekerja sekeras dirimu dimasa ini. Melihat anak-anak lebih maju dari orangtuanya, pasti menjadi sesuatu yang sangat membanggakan (Ind).