Category: Opini

  • Program Rektor Asing, Berikut Pendekatan Secara Ilmu Hukumnya!

    Shalaazz Pemerintah Datangkan Rektor Asing, Bagaimana Pendekatan Secara Ilmu Hukum?  – Rektor selaku pimpinan adalah jabatan struktural tertinggi pada suatu Perguruan Tinggi Negeri. Rektor sebagai posisi strategis bisa menjadi penggerak dan penghalang mahasiswa dimana sebagai calon penerus dengan perilaku intelek, dinamis dan kritisnya untuk beberapa tahun kemudian. Bagaimana pendekatan hukum terhadap pemerintah yang serius untuk mendatangkan Rektor Asing? Simak penjelasannya di bawah ini!

    Regulasi Tentang Rektor Asing

    Ketentuan khusus yang mengatur tenaga kerja asing khususnya Rektor Asing setelah kemerdekaan terdapat dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1958 Tentang Penempatan Tenaga Asing atau disebut pula dengan Undang-undang tentang Penempatan Tenaga Kerja Asing. Alasan diterbitkannya Undang-undang tersebut, karena pada saat itu berbagai bidang-bidang pekerjaan tertentu ditempati oleh tenaga kerja asing. Hal ini selain melanjutkan bidang perkerjaan yang sudah dilaksanakan pada masa kolonial. Pun juga dikarenakan tenaga kerja Indonesia belum memungkinkan menempati bidang-bidang pekerjaan tetentu. Baik di bidang-bidang teknis maupun bidang-bidang usaha dalam suatu perusahaan.

    Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1958 tentang Penempatan Tenaga Asing

    Padahal, disadari kondisi tersebut tidak boleh berlangsung terus. Karena tidak baik untuk perkembangan tenaga kerja Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah berusaha untuk mengatasi hal tersebut dengan membuat Undang-undang Nomor 3 Tahun 1958 Tentang Penempatan Tenaga Asing. Sedangkan dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1958, untuk tenaga kerja asing hanya menempati posisi dan jangka waktu tertentu. Posisi yang dibatasi juga bukanlah bagian pemimpin tertinggi sama halnya seperti Rektor yang merupakan posisi tertinggi di kewilayahan yang setara dengan Gubernur. Kalaupun tinggi posisinya, harus didampingi oleh tenaga kerja dalam negeri, disertai dengan pengawasan yang cukup tinggi. Jangka waktu yang dibatasi hanya sekitar satu tahun dan untuk diperpanjang hanya ditambah satu tahun kembali.

    Jangka Waktu Rektor Dalam Negeri dengan Rektor Asing di Indonesia

    Dilihat dari Masa jabatan Rektor sekitar 5 tahun seperti jabatan presiden. Sedangkan dalam hukum ketenagakerjaan, tenaga kerja asing hanya memiliki jangka waktu bekerja sekitar satu tahun, kalaupun diperpanjang hanya satu tahun lagi. Jadi sekitar 2 tahun lamanya tenaga kerja asing bekerja di Indonesia. Dalam Undang-undang tersebut juga dijelaskan bahwa paspor para tenaga kerja asing ini tertulis, bahwa izin yang diberikan pemerintah Indonesia oleh pihak imigrasi adalah untuk bekerja sebagai tenaga kerja asing di Indonesia dengan jabatan dan waktu tertentu bahkan hanya sebagai turis.

    Terdapat Prioritas Pembangunan Nasional

    Hal itu pun harus diselaraskan dengan prioritas pembangunan nasional. Tidak boleh sembarangan dalam menunjuk pemimpin dari luar negeri hanya karena ingin memajukan pendidikan dalam negeri. Kalaupun izin mempekerjakan tenaga asing untuk rektor ini dilaksanakan, harus jelas terlebih dahulu rencana penggunaan tenaga kerja rektor asing ini untuk apa?. Kalau hanya alasan untuk memajukan pendidikan dalam negeri sepertinya tidak harus mencari ke luar negeri. Bukankah anak-anak negeri ini lebih pintar dari luar negeri?. Buktinya, banyak pemuda-pemudi yang risetnya luar biasa brilian. Bahkan hingga diperkejakan di luar sana dengan gaji yang tinggi.

    Rektor Sebagai Penggerak dan Representasi Bangsa yang Berkemajuan

    Bukankah ini cerminan para pemuda-pemudi yang sudah memaksimalkan pendidikannya? Masihkah pemerintah tidak mempercayai pemuda-pemudi bangsa di dalam negeri untuk memimpin negeri? Mereka perlu diasah dan digiatkan kembali dalam hal kepemimpinan, keagamaan, pendidikan hingga mencapai doktor ataupun professor. Bukan langsung mengimpor sumber daya manusia dari luar saja. Karena risikonya juga tinggi untuk pendidikan di dalam negeri. Khususnya rektor ialah penggerak dan representasi dari masyarakat untuk mewujudkan tridharma perguruan tinggi sekaligus sebagai pondasi kemajuan suatu bangsa.

    Editor: Andrian Kukuh Pambudi
  • Sistem Pendidikan Balita Oleh I Wayan Budiartawan

    Sistem Pendidikan Balita Oleh I Wayan Budiartawan

    Sistem Pendidikan Balita Oleh I Wayan Budiartawan
     
     
    Sistem Pendidikan Balita Oleh I Wayan Budiartawan – Halo sobat Shalaazz,  Para peneliti di negara-negara Barat mendapatkan kesimpulan bahwa pendidikan usia di bawah lima tahun atau balita amat menentukan masa depan anak-anak.
    Orang tua menyerukan kata cantik, manis, sayang kepada balita perempuan akan mendapatkan respon positif dari sang anak.
    Balita harus banyak bermain. Orang tua membelikan boneka dan sepeda untuk melatih kecerdasan dan ketangkasan.
    Mainan alias game bertindak sebagai simulasi yang banyak dilakukan orang dewasa untuk memahami kecanggihan teknologi. Anak sejak balita dikondisikan supaya tidak gagap teknologi.
    Para sarjana di luar negeri juga menyarankan agar balita mempunyai asupan gizi yang memadai sehingga pertumbuhan fisik dan mentalnya tidak mengalami hambatan serius. Di Indonesia dikenal nama PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini.
    Pre-school children. Pendidikan anak sebelum usia sekolah.
    PAUD disosialilasikan pemerintah Indonesia sampai ke desa-desa.
    Diharapkan generasi abad mendatang tidak ada lagi yang cacat baik secara jasmaniah maupun rohaniah.
    Indonesia perlu pemuda-pemudi yang tangguh dalam gerakan pembangunan negeri di segala bidang.
    Penulis
    I Wayan Budiartawan
  • [OPINI] Revolusi 1945 Belum Selesai



    [OPINI] Revolusi 1945 Belum Selesai – Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Perjuangan menuju kemerdekaan ketika itu didukung oleh kekuatan tentara nasional Indonesia yang bertempur untuk melawan pihak pasukan Belanda. Di samping itu para diplomat Indonesia turut juga berjuang lewat perundingan dengan pihak Belanda. Perundingan ini diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
    Revolusi 1945 berhasil mendirikan negara Republik Indonesia. Tetapi perjuangan belum selesai. Sekarang bangsa Indonesia sedang gencar-gencarnya melaksanakan pembangunan di segala bidang. Semangat revolusi 1945 adalah modal dasar bagi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya agar negeri ini tidak tertinggal  dari bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.
    Generasi muda bangsa ini mesti mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar pembangunan dapat berjalan dengan lancar. Kaum pelajar dan mahasiswa hendaknya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional. Tanpa iptek Indonesia akan menjadi negara yang paling terbelakang. Oleh karena itu iptek adalah satu-satunya jalan keluar agar bangsa ini bisa sejajar dengan negara-negara maju.
    Beberapa masalah yang dihadapi bangsa Indonesia antara lain kemiskinan, demokrasi, pelanggaran HAM dan gangguan keamanan. Gerakan separatis mengancam keutuhan NKRI. Pemilu yang bersih dan jujur adalah dambaan setiap insan Indonesia.  Program pembangunan diarahkan agar dapat mengikis kemiskinan rakyat Indonesia. Pendapatan per kapita Indonesia masih jauh di bawah negara kecil seperti Singapura.
    Penulis : I Wayan Budiartawan, lulusan Insitut Teknologi Bandung (ITB)
  • Kolaborasi Design Thinking Dalam Pendidikan Generasi Milenial Z

    Kolaborasi Design Thinking Dalam Pendidikan Generasi Milenial Z

    Kolaborasi Design Thinking Dalam Pendidikan Generasi Milenial Z – Halo sobat Shalaazz, Konsep sebuah pendidikan berawal dari sebuah pohon. Dimana manusia belajar dari akar hingga menuju ke buah. Mempelajari sesuatunya harus dari akarnya dulu yang harus dituntaskan. Untuk menuju puncak melalui banyak proses.  

    Akar menuntut manusia untuk membawa bekal yang akan dibawanya kelak. Dijadikan bekal itu bermanfaat bagi orang-orang banyak. Yaitu bekal yang dibawa ialah iman dan ukhuwah. Dimana keduanya harus saling melengkapi dan menyeimbangi agar tidak berat sebelah. Lalu, setalah itu diasahlah soft dan hard skill yang manusia miliki melalui analythical (Analisis), Design dan Intuitive (Perasaan). 

    Analythical sebagai kemampuan manusia untuk problem solving dalam keadaan masyarakat yang ditempatinya. Agar manusia yang berada disana membawa perubahan baik skala kecil maupun besar dengan melakukan pemetaan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan letak geografis serta kemampuan lainnya yang dapat mendukung wilayah tersebut.

    Design sebagai kemampuan manusia untuk berinovasi dalam mewujudkan problem solving tersebut. Tanpa adanya design manusia tidak dapat memasarkan jasa maupun produk dalam skala dunia internasional. Kebutuhan yang harus didesign sebagaimana target yang dicapai ialah generasi Z yang semakin banyak.   

    Tujuannya ialah memberdayakan manusia menuju kebermanfaatan yang dilandasi dengan iman dan ukhuwah dalam konsep design thinking yang mengedepankan etika dan moralitas dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya ialah kejayaan yang menguasai dunia dalam skala besar. Baik itu ekonomi, politik, hukum, pendidikan dan lainnya. Intuitive sebagai kemampuan manusia agar mau peka terhadap manusia, hewan dan lingkungannnya.   

    Kenapa harus intuitive? Karena mengubah mental block yang ada di generasi Baby Boomes hingga milenial generasi Z. Dimana mental Block tersebut ialah mengubah cara pandang diri, penghargaan diri, dan ideal diri. Hal itulah yang harus diidentifikasi dalam proses komunikasi yang baik kepada manusia,hewan, dan lingkungan.

    Baca juga: Kesempatan Generasi Millenial Menjadi Volunteer di Agrofood Expo Indonesia

    Yakni disebut sebagai HAUR (Hearing, Attention, Understanding, Remembering). maksudnya agar manusia menjadi pendengar yang baik, pemerhati yang baik, pemahaman yang mendalam tentang keseluruhan, serta pengingat yang bijak dalam berinteraksi sosial.   Batang menuntut manusia untuk memproses dalam mewujudkan akar tersebut.

    Setelah manusia memiliki pemahaman akar yang mendalam tadi bisa masukke proses ini. Kebijakan untuk mengambil langkah selanjutnya ialah melakukan latihan secara kontinyu. Latihan apa yang bisa tepat untuk semua kalangan? Bagi kalangan anak-anak menggunakan bermain edukasi dengan gambar dan suara.

    Bagi kalangan generasi Z menggunakan design thinking yang berarti ialah penalaran dalam berdiskusi, berargumentasi, berliterasi, dan digitalisasi. Bagi kalangan dewasa menggunakan keseriusan dalam menata penalaran, menata ilmu yang sudah mumpuni, dan menerapkannya dalam pelaksanaan kehidupan sesuai kajian ilmu yang dimilikinya.  

    Daun menuntut manusia untuk memiliki visi dalam jangka pendek. Visi itu sekitaran 5 tahun yang dicapai untuk ke depannya. Misalnya tahun pertama menyesuaikan frame yang ada dalam diri sendiri dengan masyarakat sekitar, tahun kedua membuat komunitas yang sesuai dengan vision, action, passion, dan collaboration.

    Tahun ketiga membuat bisnis dalam rangka memberdayakan dan memakmurkan kesejahteraan diri sendiri dan masyarakat sekitar.

    Tahun keempat untuk mendatangkan konsumen dalam skala global atau mendunia.

    Tahun kelima tercapainya tujuan dan menggulir kembali pelatihan agar yang mengendalikan tidak statis melainkan dinamis. Sehingga setiap orangnya memiliki akar, batang, dan daun untuk mencapai buah kesuksesan yang dinantikannya.  

    Buah ialah puncak kesempurnaan yang telah dicapainya melalui proses nan panjang. Melalui penyucian dirinya, meleburkan dalam komunikasi sosialnya, menerapkan ilmu-ilmu yang telah didapatnya dan dilakukan secara kontinyu. Disini walaupun sudah mencapai kesempurnaan manusia tetap dituntut untuk memperpanjang visinya dalam 10 tahun ke depan. Apa yang akan dilakukannya dalam tahun-tahun berikutnya?

    Sehingga perjalanan itu tidak berhenti melainkan berkala secara produktivitas.   Melakukan konsep design thinking dalam pendidikan ini diperlukan agar makin berkreasi generasi milenial Z dan dapat berdampak banyak kepada feeling setiap manusia. Tentunya dengan semangat perjuangan yang tinggi, keikhlasan serta mimpi untuk mencapai kejayaan abadi.

  • Ilmu Hayat Sebuah Pengenalan Oleh I Wayan Budiartawan

    Ilmu Hayat Sebuah Pengenalan Oleh I Wayan Budiartawan


    Ilmu Hayat Sebuah Pengenalan Oleh I Wayan Budiartawan – Zaman bapak-bapak kita sekolah salah satu pelajaran yang wajib diikuti adalah ilmu hayat. Sekolah Rakyat (SR) adalah pendidikan awal anak-anak sekolah pada tahun 1950-an. Ilmu hayat mengajarkan hewan atau binatang.Di samping tumbuh-tumbuhan alias tanaman. Tubuh manusia dibahas untuk tahap lanjut yang membutuhkan keahlian tertentu.
    Tumbuh-tumbuhan terdiri dari akar, batang dan daun. Di tambah buah-buahan serta umbi-umbian. Akar terdiri dari akar tunjang dan serabut. Batang terdiri atas cabang dan ranting. Disebutkan tumbuhan atau tanaman menyerap bahan makanan dari serabut akar.
    Bunga-bunga, sari serta proses penyerbukan.
    Hewan terdiri atas hewan yang berkembang biak dengan telur seperti ayam dan itik. Juga binatang atau hewan yang melahirkan anak dari kandungan seperti sapi dan kerbau. Bapak-bapak lulusan SR ini banyak yang menjadi petani. Menjadi penghasil gabah alias buah padi. Atau menjadi penghasil umbi singkong.  Pelihara unggas dan sapi atau kerbau.
    Tubuh manusia dibahas lebih teliti. Seperti tulang dan otot sebagai rangka tegaknya tubuh dan menunjang  kemampuan bergerak. Alat pencernaan seperti usus. Alat pernafasan seperti paru-paru. Juga jantung untuk memompa darah. Juga hati untuk menimbun racun. Darah mengedarkan sari-sari makanan. Otak sebagai pusat pengendali syaraf yang berkuasa atas tubuh manusia.
    Penulis
    I Wayan Budiartawan
  • Untuk Apa Berpendidikan?Penting, Ini Alasannya

    Untuk Apa Berpendidikan?Penting, Ini Alasannya

    Untuk Apa Berpendidikan? Penting, Ini Alasannya – Hai, Sobat Shalaazz, Pernah tidak kita memikirkan secara sungguh-sungguh tentang pertanyaan judul di atas? untuk apa kita belajar? untuk apa kita berpendidikan?  

    Selama ini kita berangkat pagi, lalu bertemu dengan banyak tugas di Sekolah/di Kampus. Sebenarnya, itu untuk apa sih?   Apakah untuk diri sendiri? atau untuk orang tercinta seperti orang tua, saudara, keluarga, dan sebagainya.  

    Coba pikirkan sejenak. Pada dasarnya di lubuk hati terdalam semua bersumber dari perasaan cinta, baik mencintai atau ingin dicintai.   Alasan inilah yang memberikan motivasi besar bagi kita supaya tetap bertahan dan berhasil berpendidikan atau apa yang diupayakan.  

    Baca juga: Pendidikan Proses Terbaik Menuju Kehidupan Cemerlang

    Ya, faktor cinta memang bisa memberikan keyakinan semakin kuat. Menumbuhkan rasa semangat yang tinggi untuk sukses. Akan tetapi, jika suatu saat sumber cinta itu menghilang, masihkah ada semangat besar dalam diri kita?  

    Masih inginkah kita berusaha? Atau hanya diam dan tak berbuat apa-apa?   Perasaan cinta memang selalu memberikan kebahagian, dan bahkan dapat menambah semangat dan keyakinan untuk melakukan segalanya.  

    Namun, tak jarang pula menjadikan kita kehilangan arah saat cinta hilang. Akhirnya, kita memilih mundur atau hanya berjalan di tempat.  

    Oleh karena itu, alangkah baiknya jangan jadikan cinta yang sifatnya duniawi sebagai fokus utama mengejar impian dan cita-cita. Temukanlah cinta yang sifatnya abadi dan memberikan energi motivasi.   Tentu, kita pun tahu cinta yang terbatas adalah dari dan untuk Sang Pencipta, Allah SWT.

  • Pembentukan Karakter Anak Melalui Pendidikan Agama Islam

    Pembentukan Karakter Anak Melalui Pendidikan Agama Islam

    Pembentukan Karakter Anak Melalui Pendidikan Agama Islam – Halo sobat Shalaazz, Dewasa ini, pendidikan karakter pada anak menjadi hal yang sangat penting melihat banyaknya terjadi amoral baik dalam lingkungan masyarakat maupun pemerintah.

    Amoral adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki moral yang buruk atau tidak memiliki moral yang baik. Banyaknya kasus kriminalitas seperti pencopetan, pembegalan, pembunuhan, kasus-kasus korupsi, pelanggaran HAM, dan lain-lain. Hal ini mencerminkan semakin rusaknya karakter pada diri seseorang.

    Baca juga: Cara Mengajak Anak agar Mencintai Al-Qur’an

    Jika dibiarkan terus menerus maka kerusakan karakter bisa jadi mengakar dan diwariskan dari generasi ke generasi. Maka dari itu, untuk mencegah hal tersebut terjadi perlu dilakukan pencegahan sejak dini pada anak melalui pendidikan agama islam.  

    Mengajarkan pendidikan agama islam pada anak bisa dilakukan melalui pendidikan formal (lingkungan pendidikan/sekolah) dan informal (di lingkungan keluarga dan sekitarnya). Keduanya menjadi cara yang sangat efektif untuk menanamkan karakter yang baik pada anak apabila dioptimalkan dengan baik.  

    Ada 3 aspek yang menjadi tujuan pendidikan agama islam :

    1. Aspek Kognitif

    Yaitu pendidikan agama islam sebagai sarana mentransformasi ilmu pengetahuan dalam aspek keagamaan.

    2. Aspek Afektif

    Yaitu pendidikan agama islam sebagai sarana mentransformasikan nilai-nilai moral dan norma guna pembentukan sikap.

    3. Aspek Psikomotorik

    Yaitu pendidikan agama islam sebagai sarana pengendalian perilaku.   Mirisnya, pendidikan agama islam di lembaga formal hanya disampaikan sebagai sebuah ilmu pengetahuan tanpa pengaplikasian secara optimal. Di mana capaiannya hanya terfokus pada aspek kognitif yang mengutamakan nilai.

    Padahal 3 aspek di atas (Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik) seharusnya menjadi target yang dituju dan seimbang, agar tercipta karakter/kepribadian yang seutuhnya.   (Sumber : Jurnal Al-ulum)

  • Menyoroti Problematika Sistem Zonasi Dalam PPDB

    Menyoroti Problematika Sistem Zonasi Dalam PPDB – Para pengamat pendidikan  menilai PPDB menggunakan sistem zonasi tidak patut untuk diterapkan di Indonesia. Pasalnya kualitas sekolahan di setiap daerah berbeda. Selayak pandang pemerintah harus menerapkan sistem PPDB dengan memikirkan kualitas dan delapan standar pendidikan. Dalam hal ini, PPDB dengan zonasi menimbulkan pro dan kontra di khalayak ramai.
    PPDB dengan sistem zonasi itu sendiri kebijakan pemerintah pusat. Hal ini membuat pemerintah daerah hanya bisa untuk menjalankan skema yang ada. Maka dari itu memunculkan masalah baru berkaitan keragaman yang ada di Indonesia.
    Masalah yang akan di hadapi contohnya saja dalam hal kualitas sekolah yang berbeda, tidak adanya kompetisi, Sikap belajar anak yang akan cenderung menurun apabila pemilihan sekolah hanya berdasarkan jarak rumah dan bukannya berdasarkan minat.
    Sisi buruk lainnya dari sistem zonasi ini adalah memunculkan ketidakadilan pada masyarakat. Hal ini bisa dibuktikan ketika seorang anak yang belajar dengan sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai bagus malah tidak diterima di sekolah pilihannya karena kalah dengan anak yang memiliki jarak rumahnya dekat dengan sekolah tersebut, meskipun dengan nilai yang lebih rendah darinya. Fakta tersebut sudah banyak dijumpai di lingkungan masyarakat pada akhir-akhir ini. Memanglah pilu, namun begitulah realita yang harus diungkapkan.
    Maka dari itu, pemerintah harus segera membenahi permasalahan tersebut. Pembenahan memang sangat dibutuhkan karena bertujuan agar sistem pendidikan Indonesia mengarah pada progress kemajuan seperti yang dicita-citakan oleh semua pihak.
  • Kurikulum Pendidikan Kedokteran tentang Sel Darah Merah

    Kurikulum Pendidikan Kedokteran Tentang Sel Darah Merah

    Sel Darah Manusia 

     Sel Darah Manusia Sel darah digolongkan ke dalam dua jenis. Sel darah merah dan sel darah putih. 
    Sel darah merah berfungsi untuk membawa dari sari makanan ke seluruh tubuh. Sel darah putih berfungsi untuk mencegah timbulnya penyakit. 
     Kurikulum pendidikan sekolah dasar telah membahas sel darah manusia ini. Dengan demikian diharapkan siswa-siswi sekolah dasar mengenal pengetahuan tentang sel darah. 
    Dan selanjutnya bisa menjaga tubuh supaya tidak terjadi apa-apa dengan darah yang bisa membahayakan. Untuk mencegah kematian yang tidak diharapkan. Menjaga kesehatan darah perlu dilakukan sejak dini. 
    Sayur-sayuran yang dikonsumsi mengandung vitamin A dan sejenisnya. Sedangkan buah-buahan mengandung vitamin C seperti buah jeruk. Kacang hijau mengandung vitamin B. 
    Sementara daging dan ikan mengandung protein.  Air minum mengandung mineral. Pendidikan sekolah dasar memberi contoh transfusi darah yang mengeluarkan biaya besar. 
    Perlu hati-hati dalam makan dan minum agar tidak ada masalah kesehatan seperti penyakit akibat kekurangan darah. Wajah pucat dan lesi adalah ciri-ciri tubuh kekurangan darah. 
    Sementara badan lemah juga ada hubungannya dengan gejala penyakit kekurangan darah. 
    Ditulis oleh :  I Wayan Budiartawan Staf redaksi majalah Elektron ITB, 1988-1992
  • Membangun Krisis Karakter di Lingkungan Pendidikan

    Membangun Krisis Karakter di Lingkungan Pendidikan

    Membangun Krisis Karakter di Lingkungan Pendidikan – Halo sobat Shalaazz, Masalah itu seolah tak pernah selesai, setiap waktu ada saja yang diperkarakan karena masalah tersebut, pelakunya pun tak tanggung-tanggung, mereka kebanyakan merupakan pejabat tinggi, bahkan orang nomor satu atau pemimpin di kelompoknya, ya masalah itu adalah korupsi.

    Korupsi atau rasuah  merupakan tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tdak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk memperoleh keuntungan sepihak. 

    Masalah korupsi bukanlah masalah baru di Indonesia, sejak orde lama korupsi sudah banyak ditemukan, bahkan terus berkembang, hingga puncaknya pada masa Orde Baru, dimana pada masa tersebut kasus korupsi seolah tak terbendung.

    Hal ini disebabkan karena adanya perubahan gaya hidup akibat sentralistik yang berlebihan, yang menyebabkan terjadinya kongkalikong antara pengusaha dan birokrat agar cepat merealisasikan permintaan mereka. Sehingga banyak para pejabat publik yang ditangkap karena kasus korupsi.

    Pada masa ini, budaya korupsi seolah merupakan suatu hal yang dianggap biasa. Itulah mengapa korupsi menjadi masalah yang paling berat untuk diselesaikan di Indonesia.   Berdasarkan data dari Komisi Pemberentasan Korupsi (KPK), jumlah penanganan tindak pidana korupsi dari tahun 2014 sampai tahun 2018 terus mengalami peningkatan, hal ini menunjukkan bahwa tingkat korupsi di Indonesia masih tinggi.

    Meskipun di satu sisi indeks persepsi korupsi Indonesia dikabarkan semakin tinggi, yaitu pada tahun 2018 naik menjadi 38.    Terdapat ketimpangan antara jumlah penanganan tindak pidana korupsi dan indeks persepsi korupsi di Indonesia. oleh karenanya kita tidak boleh berpuas diri, selama peluang untuk melakukan korupsi masih terbuka lebar, kasus korupsi di Indonesia bisajadi akan terus bertambah.

    KPK sebagai lembaga pemberantasan korupsi harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah, dan mengatasi tindakan korupsi di Indonesia. tidak hanya KPK, pendidikan juga harus ikut serta dalam menyelesaikan korupsi di Indonesia.  

    Penanaman nilai atau karakter di sekolah sejak usia dini bisa menjadi salah satu solusi dalam mengatasi tindakan korupsi di Indonesia. Seluruh siswa harus diajarkan tentang kejujuran, jujur dalam berbicara, dan jujur dalam bertindak.

    Kejujuran menjadi karakter utama yang mesti diajarkan kepada siswa, sebab kejujuran merupakan pencegah timbulnya benih perilaku korupsi.

    Pembiasaan karakter jujur biasanya dapat diterapkan pada saat siswa mengikuti ujian, sekolah harus membuat sistem yang meminimalisir siswa untuk berlaku curang ketika ujian.

    Tidak hanya saat ujian, dimanapun dan dalam kondisi apapun, siswa hendaknya diajarkan untuk selalu berlaku jujur, sehingga jujur akan menjadi karakter yang mengakar dalam diri siswa.   Pembuat kebijakan sekolah hendaknya membuat sebuah sistem, dimana siswa merasa malu dan merasa bersalah ketika ia berbuat curang.

    Siswa tidak boleh dibiarkan bebas dengan perilaku ketidakjujurannya, apalagi sampai ia merasa bangga akan sikapnya tersebut, sebab inilah yang menjadi awal timbulnya tindakan korupsi.

    Lingkungan sekolah sangat berperan penting dalam hal ini, lingkungan harus dibuat sedemikian rupa, seperti dengan menempel kalimat-kalimat motivasi untuk berbuat jujur di berbagai tempat strategis sekolah, setiap warga sekolah juga harus menunjukkan perilaku jujur, sehingga peluang siswa untuk berbohong semakin kecil.         

    Bukanlah mudah menanamkan karakter jujur pada siswa, dalam hal ini seluruh tenaga kependidikan yang ada di sekolah, seperti kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, dan perangkat lainnya hendaknya dapat memberikan keteladanan akan kejujuran, sebab satu keteladanan akan lebih efektif daripada seribu nasihat.   

    Meskipun sebenarnya penanaman karakter jujur pada siswa bukan hanya tugas sekolah saja, Keluarga dan Masyarakat juga harus turut andil, sehingga akan tercipta masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Jika masyarakat sudah jujur, korupsi bukanlah hal yang sulit untuk ditaklukkan.

    Penulis: M Iqbal

  • Awas! Smartphone Menjadi Virus Utama Untuk Anak

    Awas! Smartphone Menjadi Virus Utama Untuk Anak

    Awas! Smartphone Menjadi Virus Utama Untuk Anak – Halo sobat Shalaazz, Buku menjadi jendela dunia karena didalamnya mengandung banyak sekali wawasan dan pengetahuan yang berharga. Namun, pada zaman modern ini minat baca seseorang tergolong rendah dan sangat mengkhawatirkan.

    Hal ini harus mendapatkan perhatian khusus untuk mendapatkan menaikkan minat baca. Perhatian itu terutama tertuju pada anak-anak dan remaja yang sekarang lebih mementingkan smartphone daripada membaca buku.     Rendahnya minat baca terhadap anak-anak di Indonesia terbukti dari data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization yang menunjukkan persentase minat baca anak Indonesia sebesar 0,01%.

    Artinya hanya beberapa orang anak saja yang gemar terhadap membaca. Dalam hal imi, minat baca anak rendah karena disebabkan oleh beberapa faktor.    Faktor ini didapatkan dari survsu yang telah dilakukan dengan sample beberapa anak. Faktor itu antara lain :    1. Keadaan Ekonomi yang berasal dari keluarga yang kurang sejahtera. 2. Kurangnya kesadaran anak dan remaja dengan literasi.   3. Lebih mementingkan kesenaangan pribadi   4. Ketertarikan yang berlebih terhadap smartphone Gambaran faktor sederhana ini membuat miris terutama para penggiat literasi di Indonesia.

    Para penggiat literasi harus dihadapkan dengan kasus yang sebenarnya sederhana namun bisa menjadi masalah yang kompleks, sehingga perlu menanamkan sikap minat baca terhadap anak dan remaja.

    Selanjutnya penggiat literasi memberikan program yang menunjang untuk perubahan minat baca tersebut. Program tersebut antara lain mendirikan rumah baca, perpustakaan keliling, dan lain sebagainya.

    Program yang ada itu harus dibuat dengan inovasi yang kreatif. Hal itu diharapkan dapat membangun minat baca dan mengembangkan literasi di Indonesia.

    Akan tetapi, perlu juga adanya dorongan dari orang sekitarnya dan terutama para orang tua untuk keberhasilan dari program tersebut Dalam prakteknya terkadang program tersebut masih saja terdapat kendala.

    Kendala tersebut muncul dari faktor internal para anak tersebut. Faktor internal itu bisa juga karena para anak malas gerak ketika sudah memegang smartphone.

    Oleh karena itu, para orang tua harus memberikan batasan kepada anak dalam bermain smartphone dan memberikannya buku-buku yang mengandung wawasan. Mungkin saja bisa membuat anak menjadi sadar akan pentingnya membaca buku.

    Penulis Naufal

  • Motivasi : Majulah Indonesia Dalam Kancah Internasional

    Motivasi : Majulah Indonesia Dalam Kancah Internasional

    Motivasi : Majulah Indonesia Dalam Kancah Internasional – Halo sobat Shalaazz, Menjadi manusia berpendidikan tidaklah mudah kawanku. Setidaknya ketika anda menjadi orang tinggi pendidikan adab memang haruslah dijaga baik sesama teman, orang tua, dan siapapun yang mengenal atau tidak dikenal. Pendidikan belum tentu menjadikan orang beradab. Namun, orang beradab pastilah orang yang berpendidikan.   

    Mengapa? Karena semua diawali dengan adab. Setiap pencarian ilmu pastilah adab yang akan dikedepankan.    Mencairnya ilmu dalam akal ialah ketika anda bisa menghargai orang yang sedang berbicara. Tidak semua orang mau mendengarkan semua ilmu.   

    Namun, banyak orang yang ingin berbicara di depan umum tanpa memperhatikan kalau dirinya tak mampu mendengarkan atau menghargai orang lain.   

    Sebagaimana yang diketahui pendidikan di indonesia mengarah untuk membangun masyarakat demokrasi yang beradab. Secara normatif, pendidikan kewarganegaraan memperoleh dasar hukum yang diatur dalam pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.   

    Selaras dengan tujuan pendidikan nasional menurut pasal 3 Undang-undang tentang sisdiknas yang berbunyi, yaitu:  “…berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Apabila dilihat dari undang-undangnya dapat ditelaah dengan khidmat.  

    Maka, akan ditemukan esensi Undang-undang menjunjung tinggi adab dibalik permulaan ilmu, menjadi warga negara yang mampu menjaga kesehatannya, tidaklah cukup sebatas ilmu dan sehat melainkan harus cakap dalam menerangkan isi yang terkandung dalam ilmu. Seseorang yang tidak cakap akan sulit membagikan ilmunya karena transformasinya tidak berjalan dengan baik.   

    Kreatif dalam memberdayakan warga-warga yang masih produktif untuk mendorong skill ke taraf yang lebih ahli agar para pemuda tidak kalah bersaing dengan pemuda ASEAN ataupun Luar Negeri. Mandiri dalam mengelola sumber daya alam yang terkandung dalam pasal 33 UUD 1945 belum sepenuhnya terpenuhi dengan baik.   

    Maka, dari itu dibutuhkan kemandirian dari warga negara indonesia sendiri agar cepat-cepat mengambil alih dari tangan orang asing. Peraturan di Indonesia sudah baik.   

    Hanya saja perlu dalam praktik penerapannya baik aparat penegak hukumnya maupun kesadaran bagi masyarakatnya akan hukum dalam menciptakan pendidikan yang ideal demi kemajuan suatu negara dan bersaing di dunia internasional.

  • Relasi Pancasila Dalam Mewujudkan Pemuda Anti Hoax

     
    Relasi Pancasila Dalam Mewujudkan Pemuda Anti Hoax di Era Generasi Milenial
     

    Relasi Pancasila Dalam Mewujudkan Pemuda Anti Hoax di Era Generasi Milenial—Pemuda adalah harapan bagi masa depan bangsa Indonesia. Dalam upaya mewujudkan cita-cita, bangsa Indonesia mengharapkan agar pemuda Indonesia memiliki peranan yang baik untuk kemajuan Indonesia. Untuk mencapai kondisi bangsa Indonesia yang baik maka pemuda Indonesia hendaknya mempunyai jati diri yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa. Relasi Pancasila dalam mewujudkan pemuda anti hoax perlu digalakkan di seluruh penjuru negeri.

    Peran Pemuda Indonesia

    Melihat realita pemuda Indonesia saat ini, jelas terlihat bahwa pemuda Indonesia telah mengalami krisis moral dan juga krisis kebangsaan. Hal ini membuat pemuda Indonesia tidak mempunyai arah dan tujuan hidup. Padahal nasib bangsa itu ada ditangan pemudanya. Jika moral pemudanya buruk maka Indonesia juga akan buruk, begitupun sebaliknya.
    Kini, masihkah pemuda dianggap sebagai agent of change? Berdasarkan permasalah tersebut, pendidikan karakter hendaknya perlu diterapkan bagi pemuda Indonesia.
    Mengapa demikian? Karena jika pemuda Indonesia masih tetap dibiarkan dalam keadaan terkikis moralnya, minat belajarnya kurang, pemahaman agamanya juga kurang maka besar kemungkinan pemuda itu akan bersikap sesuka hatinya.
    Sikap pemuda seperti misalnya menyebarkan pemberitaan atau informasi palsu (hoax) sering kali terjadi terutama melalui media sosial. Hal ini bisa dilatarbelakangi karena faktor memang pemuda tersebut tidak mengetahui kebenaran realnya, bisa karena sebagai pelampiasan untuk mencari kesenangan pribadi, ingin mencari materi saja, atau bahkan karena ingin menaikkan popularitasnya.
    Jika hal ini dibiarkan terus terjadi maka orang yang ada disekitarnya yang akan menjadi korban kerugian. Upaya untuk mengatasi masalah tersebut juga bisa dilakukan dengan menanamkan pendidikan pancasila dalam kepribadian pemuda Indonesia.

    Kenapa harus Pancasila?

    Kenapa harus pancasila? Karena pancasila merupakan ideologi sekaligus dasar negara bagi bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman bagi bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    Nilai-nilai Pancasila Sebagai Pondasi Perubahan

    Adapun keterkaitan antara nilai-nilai pancasila dalam membantu mewujudkan pemuda Indonesia agar menjadi pemuda yang berkarakter positif diantaranya:

    Sila ke-1

    Butir pertama : “Ketuhanan Yang Maha Esa” Sila pertama ini mengandung arti bahwa setiap orang berhak memeluk agama sesuai apa yang ia yakini, karena agama di Indonesia tidak hanya Islam melainkan ada juga kristen, katholik, hindhu, budha, dan kong hu chu. Dalam sila pertama ini juga mengajarkan kepada kita tentang toleransi, jika toleransi antar umat sudah kokoh maka dapat menciptakan suasana serasi, damai, penuh kasih sayang, dan aman dalam kehidupan kesehariannya. Sehingga kecil kemungkinan seseorang akan meakukan suatu tindakan yang dapat merugikan orang lain, karena jika iman seseorang kuat, maka sikap dan perilakunya pasti akan baik juga.

    Sila ke-2

    Sila kedua: “Kemanusiaan yang adil dan beradab” Sila kedua ini mengandung arti bahwa setiap orang itu memiliki kedudukan yang sama tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agamanya. Dengan kita mengakui adanya harkat dan martabat setiap orang maka akan memunculkan sikap tenggang rasa dalam diri kita agar kita tidak berbuat semena-mena terhadap orang lain.

    SILA KE-3

    Sila ketiga: “Persatuan Indonesia” Sila ketiga ini mengandung arti bahwa sebagai masyarakat Indonesia yang plural akan suku, budaya, dan agamanya, kita harus bersatu untuk memajukan bangsa Indonesia. Seperti peribahasa “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”.

    SILA KE-4

    Sila keempat: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” Sila keempat ini mengandung arti bahwa dalam menyikapi suatu permasalahan hendaknya dilakukan dengan cara musyawarah. Karena tidak hanya pendapat kita saja yang diperlukan disini, tetapi juga dari orang lain. Dari berbagai pendapat itu kemudian disatukan sehingga dapat diambil kesimpulan atau solusi terbaik dari suatu permasalahan yang ada.

    SILA KE-5

    Sila kelima: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” Sila kelima ini mengandung arti bahwa, kita hendaknya bisa mewujudkan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.
    Demikian ulasan singkat mengenai relasi Pancasila dalam mewujudkan pemuda anti hoax. Baca juga artikel-artikel menarik lainnya mengenai seputaran pendidikan, pendidikan karakter, filsafat, sampai ke info beasiswa semua ada di shalaazz.com. See you!
    Penulis : Nur Hidayah
  • Bagaimana Perspektif Pendidikan Dalam Hukum Internasional?

    Bagaimana Perspektif Pendidikan Dalam Hukum Internasional?
    Tbiinfo.eu

     

     
     

    Bagaimana Perspektif Pendidikan Dalam Hukum Internasional? – Halo sobat Shalaazz, Kesempurnaan dalam menoreh sebuah pendidikan tidak akan terhentikan. Akan ada proses yang dimana proses tersebut menyebutnya dengan perbaharuan. Saling adanya perlengkapan di masing-masing pendidikan.    Melirik sejarah yang tersekularisasi ataupun sejarah yang masih terintimidasi. Dalam pendidikan hukum internasional tergariskan.    Ada sebuah aturan yang lebih tinggi dari teori lainnya.

    Dimana aturan tersebut dinamakan pacta sunt servanda. Namun, konteksnya belum jelas apa yang lebih tinggi itu? Mengambil dari perspektif lain yang mana Ketika aturan saja bisa melebihi aturan lainnya.    Berarti, pendidikan yang ada di Indonesia saat ini bisa melebihi pendidikan negara-negara maju. Apapun alasannya indonesia mampu mewujudkan pendidikan yang lebih tinggi itu.   Memang, indonesia belum memiliki teknologi canggih seperti halnya dunia barat. Namun, perlu diluruskan teknologi canggih tidak akan mampu berjalan tanpa adanya sumber daya alam.   

    Teknologi canggih juga tidak akan tercipta tanpa adanya orang-orang yang pintar. Pendidikan hukum internasional yang mengatakan bahwasannya masyarakat harus tercipta damai dan patuh pada aturan.    Kenyataannya, teori tidak terbukti dengan lapangan yang ada. Analoginya seperti indonesia belum mampu menjadi negara yang tinggi dari lainnya.   

    Bagaimana Perspektif Pendidikan Dalam Hukum Internasional?- Aturan indonesia pun terikat dengan hubungan internasional. Sehingga, seringkali kedaulatan terdikte dengan aturan-aturan. Sedangkan yang membuat aturan saja bisa melanggar aturannya.

    Mengapa indonesia tidak mampu untuk menyimpang dari aturan tersebut?   Padahal indonesia menciptakan pendidikan yang mandiri bersama uni asia lainnya. Mengapa uni-uni tersebut tidak terintegrasikan dengan menjadikan hak veto bagi setiap negara. Dimana letak keadilan untuk pendidikan? Ketika semuanya terdikte akan banyaknya teori.   

    Namun, belum mampu mentransformasikan pendidikan secara murni. Bagaimana menjadikan pendidikan di indonesia lebih tinggi seperti halnya pacta sunt servanda yang ditaati bersama? Pertanyaan ini masih belum terjawabkan karena belum ada standar baku untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas.  Terkadang pendidikan maju pun belum relevan dengan perkembangan zaman sekarang. Masih terindikasi dengan akibat yang muncul setelah pendidikan itu dilaluinya. Masih merasa pembuat aturan dalam pendidikan tidak bisa diproses.

  • SMA 2 Denpasar Dulu dan Kini oleh I Wayan Budiartawan

    SMA 2 Denpasar Dulu dan Kini oleh I Wayan Budiartawan

    SMA 2 Denpasar Dulu dan Kini oleh I Wayan Budiartawan  – SMA 2 Denpasar Dulu Dan Kini I Wayan Budiartawan Ir. I Made Dana M. Tangkas adalah lulusan SMA 2 Denpasar. Setelah lulus dia masuk ITB tahun 1984. Kuliah di Jurusan Teknik Industri ITB dia jalani selama 5 tahun. 
    Setelah tamat dia memulai karir di PT Astra Internasional sampai ke posisi puncak (direktur) dari bawah. SMA 2 Denpasar pun harum namanya di Indonesia karena dia. Beda dengan Oka Rusmini. 
    Perempuan Bali ini seorang pegiat sastra yang terkemuka. Selain menjadi dosen di Fakultas Sastra UNUD, dia juga bekerja sebagai wartawan dan akhirnya menjadi salah seorang redaksi surat kabar Bali Post. Dia masuk SMA 2 Denpasar tahun 1984. 
    Kuliah di Fakultas sastra UGM dia tempuh selama 5 tahun sejak tahun 1987. SMA 2 Denpasar terletak di Jalan Sudirman. Sekarang gedung baru telah dibangun dengan mengandalkan uang bangunan dari para siswa. 
    SMA 2 Denpasar menerima siswa-siswi dari seantero wilayah Kabupaten Badung. Siswa-siswi dari luar dapat juga diterima mesti jumlahnya sangat dibatasi. Ir. I Made Dana M. 
    Tangkas dan Oka Rusmini tentu saja dua sosok yang menonjol di negeri ini yang merupakan alumni SMA 2 Denpasar. Semua orang masih ingat semboyan SMA 2 Denpasar tempo dulu : SMA 2-ku, SMA 2 – mu, SMA 2 kita tercinta.  Lulusan SMA 2 Denpasar diterima di tengah-tengah masyarakat.
  • Problematika Moral Pendidikan, Bagaimana Mengatasinya?

    Problematika Moral Pendidikan, Bagaimana Mengatasinya?

    Problematika Moral Pendidikan, Bagaimana Mengatasinya? – Halo sobat Shalaazz, Pendidikan adalah salah satu faktor terpenting untuk mengembangkan inovasi dan pertumbuhan ekonomi serta untuk perkembangan bisnis dalam masyarakat. Pemerintah harus lebih giat lagi ikut campur tangan dalam dunia pendidikan formal maupun informal.

    Keterlibatan masyarakat yang aktif dan peka akan potensi sumber daya alam sekitar menjadi suatu hal yang harus digali terus menerus. Namun sumberdaya alam yang melimpah akan hancur juga ketika ditangani oleh sumberdaya manusia yang kurang tepat. Kejahatan yang sering ada dalam suatu masyarakat dan telah menjadi budaya adalah korupsi.

    Korupsi dapat menghancurkan individu dalam sumber daya manusia. Selain itu korupsi juga akan berdampak langsung pada beberapa hal penting seperti investasi asing, konsolidasi anggaran, pembangunan, dan ekonomi bangsa. Kerugian-kerugian tersebut sangat berdampak secara langsung dan tidak langsung.

    Baca juga: Contoh Analisis Kasus Hukum Lengkap Penjelasannya!

    Korupsi juga sering direncanakan dengan organisasi yang mapan. Budaya korupsi memang harus kita kikis sedikit demi sedikit dari segi manapun harus kita berantas. Korupsi tidak hanya terjadi ketika ada kesempatan namun juga berkembang karena kurang pedulian kita kepada negara ini.

    Urusan korupsi bukan hanya urusan pemerintah, KPK dan jajarannya tapi hendaknya dimanapun kita berada, kapanpun, dan apapun status sosial kita minimal kita menjaga diri dan orang-orang sekitar kita terhindar dari penyakit kanker ganas ini.

    Baca juga: Relasi Pancasila Dalam Mewujudkan Pemuda Anti Hoax

    Diibaratkan demikian karena kanker cepat sekali bermetastasis kemana saja ketika sudah berkuasa dalam tubuh, mengendalikan sistem kekebalan tubuh dan pada saat mendapatkan kondisi yang sangat optimal untuk berkembang. Alangkah indahnya ketika kita saling melihat kondisi kehidupan di samping kanan dan kiri kita.

    Masih adakah orang yang sangat tidak layak untuk hidup? tidakkah hati nurani kita tergerak, dengan segala jenjang pendidikan yang kita tempuh selama ini? Kita harus berlomba-lomba memberantas korupsi sesuai peran kita dalam masyarakat dengan tujuan mulia yaitu untuk keadilan kita bersama. Kata adil tidak memiliki arti harus sama rata, namun sesuai porsi masing-masing.

    Sesuai kapasitas setiap orang dengan standar yang mencukupi kelayakan hidup seseorang. Teruslah mengembangkan nilai diri kita sehingga kita bisa menghindari hal-hal negatif yang datang dalam bentuk kesempatan dalam waktu yang tepat.

    Penulis: Nurus Syamsiah

  • Tantangan Pendidikan di era Revolusi industri 4.0, Apa Saja?

    Tantangan Pendidikan di era Revolusi industri 4.0, Apa Saja?

    Tantangan Pendidikan di era Revolusi industri 4.0, Apa Saja? – Halo sobat Shalaazz, di era Revolusi Industri 4.0(Klaus Schwab, The Fourth Industrial Revolution(2017)). Era yang diwarnai oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence), era super komputer, rekayasa genetika, teknologi nano, mobil otomatis, inovasi, dan perubahan yang terjadi dalam kecepatan eksponensial yang akan mengakibatkan dampak terhadap industri,ekonomi, pemerintahan, politik, bahkan membuka perdebatan atas definisi manusia itu sendiri.

    Pada tahun 1962, Marshall McLuhan, The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man bahwa sekarang adalah era yang menegaskan dunia sebagai kampung global

    Dimana di jaman Revolusi Industri 4.0 ini tak lagi menggunakan kinerja otak manusia. Melainkan semuanya di serba warnakan dengan tenaga kerja otak komputer. Dimana di era ini semua serba otomatis, era super komputer. Semua pekerjaan telah dikerjakan oleh mesin, bukan dari tangan manusia sendiri.

    Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah mengubah dunia. Sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Salah satun kemajuan teknologi adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18.

    Tercatat oleh Pada saat Revolusi, sejarah berhasil mengerek naik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.

    Lalu, bagaimana jika Pendidikan dikaitkan dengan Era Revolusi industri 0.4 itu sendiri. Mampukah siswa melakukannya?

    Baca juga: 5 Skill Paling Banyak Dibutuhkan di Era Revolusi Industri 4.0

    Karena semua serba komputer, pasti setiap siswa yang mempunyai pekerjaan rumah misalnya tak lagi membaca buku, sekadar membuka buku semua sudah ada di dalam kinerja mesin komputer itu sendiri.

    Ketika di sekolah, Siswa juga harus berhadapan dengan komputer. Dimana semua di era ini serba komputer. Computer full generation. Bahkan siswa yang akan mengerjakan tugas dari guru pun harus melakukan pengiriman data lewat komputer, karena memang lebih mudah dan praktis apabila hal ini sudah diterapkan.

    Dan sebagian memang, disekolah maupun di universitas di Indonesia, di pendidikan kita sudah banyak menggunakan sistem ini. Dimana sistem ini digunakan untuk membuat siswanya lebih praktis tanpa harus ribet. Dan ada juga dampak dari hal tersebut, apabila siswa selalu melakukan ini, takutnya otaknya mudah lelah.

    Dan mampukah siswa berhadapan di era Revolusi industri yang full penuh komputer ini? Jawabannya, pasti tentu bisa, bahkan hal ini bisa membuat mereka sedikit senang.

    Dan alangkah baiknya memang ada pencegahan dari hal yang tidak menyenangkan. Dampak berhadapan dengan komputer ini sangat besar, sebaiknya siswa yang berhadapan di era ini disesuaikan dengan usianya. Agar hal – hal tak enak tidak akan terjadi.

    Nah bahkan ada dua poin penting yang menjadi tugas pendidikan di era ini bahkan di era revolusi industri nanti yakni memfasilitasi segala kebutuhan siswa atau mahasiswa dan menghasilkan lulusan sesuai kebutuhan zamannya.

    Berkembangnya teknologi pada zaman revolusi industri 0.4 nanti akan berpengaruh pula terhadap sistem pendidikan. Tantangan terberat pendidikan di masa depan adalah tugas guru digantikan oleh mesin robot.

    Maka dari itu, baiknya penggerak pendidikan untuk mendidik anak menjadi baik, meluluskan siswanya dengan baik, dengan berkembang teknologi ini justru kita lah yang harus berperan dalam hal ini, dimana kitalah yang harus menguasai teknologi yang bahkan belum dilakukan sama sekali, tetapi kita lulus bukan teknologi yang menguasai kita.

    Kadang, memang terjadi, otak kita dipengaruhi oleh teknologi, sehingga diri kita saja sudah sulit melakukan sesuatu, disebabkan karena apa? Disebabkan karena teknologi sudah menguasai pemikiran kita, dan kita tidak lagi bisa mengendalikan apa yang seharusnya kita kendalikan.

    Bahkan ada hal-hal yang diharuskan untuk para pendidik untuk melakukan merefleksikan untuk terus berupaya.

    Keynote Speaker Simposium Pendidikan disampaikan oleh perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Ir. Ananto Kusuma Seta, M.Sc, menyampaikan di Dalam acara yang bertemakan “Teknologi, Industri dan Pendidikan”.

    Tepatnya di Universitas Sebelas Maret Surakarta (16/02/2019) lalu mengatakan bahwa :

    Pendidikan itu memanusiakan manusia. Meski dengan kemajuan teknologi, pendidikan itu tidak bisa diubah nilainya, janganlah merobotkan manusia.

    Mendefinisikan sosok lulusan, harus mengerti batasan lulusan dan sistem apa yang akan dibangun.

    Perbaikan kurikulum menjadi sangat penting bagi guru atau dosen. Tanpa kurikulum, pendidikan tidak akan tercapai dan sebisa mungkin kurikulum dibuat fleksibel.

    Mengintegrasikan karakter literasi dan kompetensi. Perlu pemahaman bahwa literasi itu bukan hanya membaca, tapi juga menulis karya dalam bentuk digital.

    Nah, itulah yang disampaikan nya, dan Memang sebagai siswa maupun mahasiswa jika kita dihadapkan di era revolusi industri ini sebaiknya kita menjadi kreatif dalam hal ini mempunyai karya-karya yang bisa kita tunjukkan. Kita bukan hanya berkuku pada Teknologi tapi kita juga bisa terkuku pada apa yang menjadi suatu bakat yang kita miliki.

    Karena, pada Zaman Revolusi industri 4.0 nanti bahkan pekerja tak akan lagi butuhkan melainkan mesinlah yang akan menggantikan semua pekerjaan yang manusia biasa lakukan.

    Penerapan teknologi di jaman ini sudah digunakan oleh negara aneh ada lain, terutama negara Jepang, dalamnya mereka mampu menggunakan nya dengan seimbang antara pendidikan dan perekonomian pada masyarakat dalam segala bidang kehidupan.
    Itu kenapa, masyarakat diharuskan mampu menyeimbangkan segalanya di era revolusi industri 4.0 .

    Kita tahu, dunia ini penuh dengan teknologi, yang dimana memang sangat terkait dengan pembangunan sumber daya alam terhadap masyarakat. Selain itu, masyarakat juga diharapkan mampu untuk mengalami era revolusi industri 4.0 yang dimana semua disebarkan dengan hal hal mesin. Bonus demografi bahkan menjadi faktor utama kualitas daya saing di masyarakat.

    Hal ini juga dipengaruhi oleh pesatnya kecanggihan teknologi di Era Revolusi Industri 4.0 yang memberikan dampak di segala bidang kehidupan.

    Itu makanya kenapa Mahasiswa sangat diperlukan dalam hal ini, dengan ilmunya diharapkan mampu untuk bertindak menghadapi masyarakat di era revolusi industri nanti.

    Segala pekerjaan tak lagi mereka lakukan, bahkan hampir semua kita menggunakan mesin yang bisa menggantikan kita. Dampaknya banyak, yang kita harapkan kita mampu menyeimbangkan nya, sepertinya memang kita harus mencontohkan negara Jepang yang mampu dahulu untuk menyeimbangkan kehidupan di segala aspek dalam era revolusi industri 0.4 ini.

    maka kita mempunyai peluang yang luar biasa dalam menghadapi bonus demografi ini.

    kita sebagai mahasiswa juga pendidik serta masyarakat harus bisa mengatur dan mengelola mengenai perekonomian juga teknologi yang ada. Kenapa? Karena dari situlah kita yang akan menentukan keberhasilan dalam menyikapi bonus demografi tersebut.

    Jadi, Intinya itu bahwa perkembangan teknologi ini membuat manusia bisa terlena terhadap segala sesuatu yang berurusan tentang kepentingannya,tentang kehidupan nya, semua serba praktis untuk memulai usaha tak ada lagi usaha yang bisa mereka lakukan sendiri, bahkan tanpa memiliki modal sedikitpun mereka hanya mengandalkan yang memang mereka tak bisa lakukan.

    Mereka hanya mengharapkan mesin untuk melakukan semua pekerjaan mereka.Maka dari itu, kita lah yang harus menguasai teknologi, bukan teknologi yang akan menguasai kita.

  • Pentingnya Pendidikan Agama Bagi Kehidupan

    Penitngnya Pendidikan Agama Bagi Kehidupan
     
     

    Pentingnya Pendidikan Agama Bagi Kehidupan – Halo sobat Shalaazz, di zaman era globalisasi saat ini, kita hidup di jaman dimana semua serba technologi, kecanggihan dunia semakin pesat semakin maju semakin modern. Gaya hidup milenial sekarang jauh sekali dengan gaya hidup di jaman dulu. Tidak sedikit anak di indonesia khususnya yang memiliki gaya hidup mengikuti orang-orang barat.  

    Contoh seperti dari pakaian, musik, bahkan perilaku sehari-hari dan lain-lain. Kita tidak bisa menyalahkan gaya mereka, sebab mereka mengikuti jaman. Seiring berjalannya waktu, zaman semakin maju dan wajar saja anak-anak mengikutinya, sebab jika tidak mengikuti jaman yang modern ini maka mereka akan ketinggalan jaman.   Anak-anak indonesia tidak sedikit yang meneruskan pendidikan nya ke luar negeri, seperti ke Jepang, Korea, amerika, mesir, cina dan lain-lain.

    Menurut saya itu memang sangat bagus, kita perlu belajar ke negara-negara yang teknologi nya jauh lebih maju dari negara kita supaya kita bisa menyerap ilmunya dan diterapakan di indonesia tercinta ini.   Bahkan ada sebuah hadits nabi tentang menuntut ilmu. Kata nabi “kejarlah ilmu sampai ke negeri cina” nabi saja menyuruh kita mencari ilmu sampai ke negeri cina “ada apa di negeri Cina?” Kita perlu mengkaji dan memahami kemudian mencari apa makna dari hadits tersebut.

    Tetapi, jika anak-anak menuntut ilmu tidak seimbang dengan ilmu agama, maka dunia akan kehilangan keseimbangannya.   Misalkan anak ini fisika nya pintar bagus, matematika nya pintar bagus, bahasa inggris nya pintar bagus, IPS nya pintar bagus, tapi tidak tau ilmu agama maka hidup nya tidak seimbang. Tetapi jika Fsika nya pintar, matematika nya pintar, IPS nya pintar dan ilmu agama nya pun jago maka ini jauh lebih utama, anak seperti ini yang akan bermanfaat bagi manusia dan negara.  

    Kenapa penting nya pendidikan agama? Sebab jika anak-anak hanya cerdas pendidikan matematika, kimia, fisika dll tetapi pendidikan agama nya tidak tau dan tidak faham, maka ditakutkan mereka bertuhan kepada selain tuhan, misalkan bertuhan kepada uang, jabatan dll. Seperti apa yang di tafsirkan surat al kahfi ayat 15 “Kaum kami ini telah menjadikan selain DIA sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah).   

    Kenapa mereka tidak mengungkapkan alasan yang jelas tentang keyakinan mereka?  Siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”Semoga generasi muda menjadi generasi yang dapat menjungjung tinggi agama dan moral 

    Penulis: Kayan Manggala

  • Penafsiran Pendidikan Jalan Cinta Para Pejuang Ala Salim A Fillah

    Penafsiran Pendidikan Jalan Cinta Para Pejuang Ala Salim A Fillah
     
     
     

    Penafsiran Pendidikan Jalan Cinta Para Pejuang Ala Salim A Fillah  – Halo sobat Shalaazz, Pendidikan membicarakan hukum tentang yang sedikit. Jalan cinta para pencari ilmu adalah yang sedikit untuk masuk ke dalam dunia perkuliahan atau dunia pendidikan.

    Terlihat banyak tetapi sedikit sekali yang menjajaki ilmu lebih dalam dan mengeksplorasikan dalam sendi-sendi kehidupan. Lalu,  bagaimana peran anak zaman sekarang yang dikatakan oleh Salim A Fillah dikaitkan dengan dunia pendidikan? Salim A Fillah mengungkapkan bahwa dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang, “Seperti kita semua setiap pejuang adalah anak zaman.

    Tetap, mereka menguak celah dinding sejarah. Tepat di saat mentari meninggi. Lalu peradaban menjadi cerah” saya mengartikan apa yang dikatakan Salim A Fillah ini setiap anak pasti akan berbeda masa untuk berjuang. Dalam setiap kehidupan ditentukan oleh pakar-pakar yang berbeda. Berkorban sesuai dengan bidang ilmu yang digelutinya. Menerobos setiap ujung dengan penemuan-penemuan yang mereka teliti serta dituangkan dalam disertasi yang akan membuka logika-logika anak zaman.   

    Membuka pintu-pintu sejarah yang akan dijadikan patokan dalam memainkan perannya sebagai anak zaman muda sekarang. Menjadikan kisah sebagai suatu pelajaran dalam mendidik anak-anak yang terlahir dari rahim ibu sejak kecil. Agar tidak terjadi penyimpangan dalam dunia pendidikan. Ketika terjadi suatu penyimpangan alangkah baiknya anak zaman diikatkan dengan risalah kasih sayang. Karena apa saja yang berasal dari hati maka akan masuk ke hati, apa yang keluar dari lisan maka akan masuk ke telinga, dan anak zaman bukanlah insan yang sekeras batu bukan juga insan yang sebersih para malaikat.  

    Pendidikan menjadi hal yang berfaedah ketika menemukan ikatan kedua insan yang saling menyatukan bukan menyombongkan. Pendidikan yang dikatakan Salim A Fillah harus tegak diantar hikmah-hikmah. Memunculkan kepekaan dan kepedulian melalui hikmah yang menyentuh kalbu akan terasa manfaat yang sangat besar.

    Dibandingkan memarahi atau menceramahi dalam setiap pembelajaran. Tidak akan terasa nikmatnya dalam menuntut ilmu dengan beberapa perjuangan yang telah tertulis dalam sejarah. Dikala semangat anak zaman meninggi. Maka, disitulah akan tercapai peradan yang hakiki.

  • Gagasan Unik Ivan Illich Tentang Lembaga Pendidikan yang Memonopoli

    Gagasan Unik Ivan Illich Tentang Lembaga Pendidikan yang Memonopoli

    Gagasan Unik  Ivan Illich Tentang Lembaga Pendidikan yang Memonopoli – Halo sobat Shalaazz, pendidikan termasuk dalam topic yang tidak pernah bosan dibicarakan di setiap sudut negeri ini. Pembahasannya selalu menarik untuk dikaji ulang, ditulis, diperdebatkan, ditayangkan di televisi nasional, bahkan digosipkan dengan isu-isu pendidikan yang kian hari kian panas terdengar. Entah dari biaya pendidikan, lembaga pendidikan, kurikulum, tenaga pendidik bahkan peserta didiknya.

    Ivan Illich (4 September 1926-2 Desember 2002), seorang Rohaniawan, filsuf dan kritikus sosial asal Wina, mengkritik instrumentalisasi pendidikan yang digunakan untuk tujuan kapitalis. Dia berpendapat bahwa, pendidikan telah dimonopoli oleh Negara. Sehingga banyak orang mengira bahwa pengetahuan hanya bisa didapat dari dunia sekolah.

    Hal ini, menurut Illich, merendahkan bentuk-bentuk pengetahuan yang lain. Pengetahuan dan pendidikan telah menjadi komoditas utama ekonomi yang dikonsumsi oleh seseorang. Perilaku diskriminatif, tidak egaliter, mekanistik dan mendehumanisasi seakan menjadi paket didunia pendidikan.

    Telah kita jumpai di negeri sendiri, yang mana menurut penilaian mayoritas masyarakat, lembaga pendidikan yang disebut “sekolah” merupakan tempat yang sah untuk memperoleh pengetahuan. Terlalu tergila-gila dengan ijazah dan gelar. Sedangkan mereka yang tidak mengenyam pendidikan di sekolah dianggap sebagai orang yang tidak berpengetahuan dan rendahan.

    Baca juga: Gagasan Pendidikan Cocok Untuk Indonesia TERBARU

    Illich berpendapat bahwa sekolah mirip jalan layang, yang sekilas tampak terbuka terhadap semua yang datang ke sekolah. Padahal realitanya, sekolah hanya terbuka kepada mereka yang mampu memperbaharui kepercayaan. Menciptakan kesan, bahwa biaya sekolah semakin bertambah setiap tahunnya, dan tentu saja sekolah hanya berisi golongan dari mereka yang mampu memenuhi kebutuhan sekolah.

    Pendidikan kini hilang makna, menguap dan hanya membeku sekadar wacana yang ditulis dalam visi dan misi suatu lembaga pendidikan. Ketergantungan tersebut, tentu saja bukan menghasilkan sumber daya manusia dengan wadah ilmu pengetahuan luas, melainkan hanya sebuah lembaran ijazah yang tercetak dan dibanggakan

    Lantas, apakah solusi Illich untuk pendidikan? Antara lain:

    • Belajar sebagai kebalikan dari sekolah;
    • Keramahan sebagai kebalikan dari manipulasi;
    • Responsibilitas sebagai kebalikan dari responsibilitas;
    • 4 Partisipasi kebalikan dari kendali.

    Tulisan ini berguna untuk agar kita bisa bermuhasabah terhadap diri sendiri. Apakah yang kita peroleh dari lembaga pendidikan? Sudah bermanfaatkah kita setelah mengenyam pendidikan? Diajari oleh guru atau tenaga pendidik? Mari tanyakan pada diri sendiri untuk pendidikan negeri yang lebih berkualitas.

    Referensi: Pendidikan Posmodernisme, Telaah Kritis Pemikiran Tokoh Pendidikan , Bab 2: Pemikiran Pendidikan Ivan Illich