Category: Opini pendidikan

  • Tujuan Berjuang Mencari Pendidikan Hakiki | Motivation Learning

    Tujuan Berjuang Mencari Pendidikan Hakiki | Motivation Learning

    Tujuan Berjuang Mencari Pendidikan Hakiki – Halo sobat Shalaazz, Ketika menyebutkan namanya pendidikan. maka, akan terbersit didalam pendidikan itu pasti ada dalam pembelajaran. Mencari ilmu dunia dan ilmu akhirat. terkadang ketika sudah berada di ranah pendidikan.

    Misalnya, saja dalam perkuliahan. Pasti ada rasa ingin cepat menyelesaikan semuanya tanpa proses yang panjang. dengan banyak tugas yang menyibukkan diri selama berjam-jam atau apalah hingga sampai begadang. Itulah mahasiswa di negeri sekarang.

    Ketika belum menjadi mahasiswa sampai-sampai ingin masuk ke perkuliahan dengan pengorbanan yang sangat besar sekali. Kini, sudah menjadi mahasiswa sudah kelihatan banyaknya yang berleha-leha terlena akan kehidupan dunia dan lupa tujuan diri ini sebenarnya kemana? Benarkah menjadi mahasiswa hanya untuk menuntut ilmu? atau adakah tujuan lain dibalik itu semua?

    Baca juga: 7 Tips Jitu Agar Lebih Produktif Setiap Hari!

    Tujuan Pendidikan Hakiki

    Ketika tujuan sudah di depan mata pemuda seringkali lupa kalau kehidupan selalu dilingkari dengan proses yang panjang, penuh tangisan, pengorbanan demi kemenangan yang agung, dan proses lainnya semakin menambah lelah semakin kuatlah ketegaran dalam menghadapi rintangan. Tidak banyak memang namun, memakan banyak waktu, tenaga dan jiwa. Akan terus berulang-ulang hingga saat Allah menyuruh manusia ini waktunya untuk pulang.

    Manusiawi bila hambanya suka mengeluh. Dikarenakan manusia bukan hati selembutnya malaikat bukan sekeras jin dan setan. Melainkan manusia butuh untuk diingatkan. Manusia seringkali lupa akan hal itu semua. Itulah pendidikan hakiki yang sebenarnya harus manusia cari sampai kapanpun.

    Baca juga: 5 Tips Sebelum Masuk Kuliah yang Harus Kamu Persiapkan!

    Pendidikan hakiki ketika manusia mulai mencari sampai ke akar-akarnya hingga tak lagi mampu menjawab dengan jawaban apapun. Sampai tiada berujung sampai berkata inilah ilmu tanpa batas dengan analisis yang kritis. Waktunya, pemuda berjuang mencari pendidikan hakiki itu. Karena negeri membutuhkan pemuda cerdas, brilian, dan religius dalam melawan semua penjajahan yang hingga detik ini belum dimerdekakan. Tanpa pendidikan hakiki itu tidak akan mampu melawan itu semua. Karena musuh abadi ialah melawan nafsu diri sendiri.

  • Pancasila Dasar Negara Apakah Masih Relevan?

    Pancasila Dasar Negara Apakah Masih Relevan?

    Apakah Pancasila Masih Relevan Saat Ini? – Mungkin pertanyaan ini sudah sering kita dengar dan temui sehari-hari di media-media. Apalagi di kaitkan dengan isu-isu saat ini mengenai masalah toleransi beragama, masalah kemanusiaan, tentang integrasi bangsa, serta tentang munculnya paham-paham baru di Indonesia.

    Hal-hal tersebut tentunya memunculkan beberapa pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai eksistensi Pancasila menjawab permasalahan yang ada di bangsa Indonesia saat ini.  Mari membahas Pancasila dasar negara Indonesia secara runut.

    Asal-usul Pancasila

    Istilah Pancasila telah dikenal sejak zaman Majapahit pada abad ke-14, yaitu terdapat dalam buku Negarakertagama karangan Empu Prapanca, dan dalam buku Sutasoma karangan Empu Tantular. Dalam buku Sutasoma ini, istilah Pancasila di samping mempunyai arti, “berbatu sendi yang lima”, berasal dari bahasa Sansekerta; Panca berarti lima dan sila berarti berbatu sendi, alas atau dasar, juga berarti “Pelaksanaan kesusilaan yang lima” (Pancasila Krama) yaitu tidak boleh:

    • Melakukan kekerasan.
    • Mencuri.
    • Berjiwa dengki.
    • Berbohong.
    • Tidak boleh mabuk, minum minuman keras.

    Kelima istilah tersebut sama sebagaimana dikemukakan Muhammad Yamin, yaitu kesusilaan yang lima. Pada masa itu istilah Pancasila bukan untuk menyebut asas kenegaraan, tetapi merupakan tuntunan tingkah laku atau akhlak (code of morality).  

    Setelah Proklamasi Kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan dan mengesahkan lima dasar negara yang rumusannya terdapat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, bersamaan dengan disahkannya Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 itu sendiri.  

    Pancasila Dasar Negara Indonesia

    Meskipun nama/kata “Pancasila” itu sendiri tidak terdapat baik di dalam Pembukaan maupun Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Namun cukup jelas, bahwa yang dimaksud Pancasila sebagai Dasar Falsafah Negara, adalah lima dasar negara yang perumusannya terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.  

    Jadi, secara terminologi yang dimaksud Pancasila sekarang ini adalah “Nama Dasar Negara kita, Negara Republik Indonesia”, berupa lima dasar negara yang perumusannya tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu:

    1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
    3. Persatuan Indonesia.
    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa eksistensi Pancasila dapat dirasakan hingga saat ini. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa berarti memahami Pancasila yang dapat  dipertanggungjawabkan baik secara yuridis-konstitusional maupun secara obyektif-ilmiah. Secara yuridis-konstitusinal karena Pancasila adalah dasar Negara, yang dipergunakan sebagai dasar mengatur, menyelenggarakan pemerintahan negara.

    Oleh karena itu tidak setiap orang boleh memberikan pengertian dan penafsiran sendiri, menurut pendapatnya sendiri. Sebab Pancasila merupakan hirarki peraturan tertinggi di Indonesia pertama yang kemudian dilanjut posisi kedua hirarki peraturan tertinggi yaitu UUD 1945.

    Alasan Ideologi Pancasila Masih Relevan Sampai Saat ini

    Alasan ideologi Pancasila tidak bisa tergantikan oleh ideologi atau paham-paham lain, karena Pancasila sebagai hasil persetujuan bersama wakil-wakil rakyat menjelang Proklamasi Kemerdekaan, yaitu disetujui bersama dan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Naskah persetujuan itu dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 oleh Pembentuk Negara.

    Karena merupakan persetujuan atau kesepakatan bersama, ia (Pancasila) merupakan perjanjian pada saat meletakkan atau menetapkan Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, maka ia (Pancasila) menjadi mengikat kita bersama dan perjanjian itu untuk kita hormati dan dilaksanakan bersama.  

    Dalam memahami Pancasila yang benar pada saat ini juga harus dapat dipertanggungjawabkan secara obyektif-ilmiah, karena Pancasila adalah suatu faham filsafat (philosophical system), sehingga uraiannya harus logis dan dapat diterima oleh akal sehat guna mendapat jawaban dari permasalahan yang terjadi pada saat ini. Seperti halnya mengenai masalah diskriminasi dan isu-isu agama, Pancasila dengan semboyannya “Bhinneka Tunggal Eka” merangkul semua dalam keberagaman tanpa adanya pengistimewaan antar golongan baik suku, agama, ras, maupun etnik.

    Referensi : Buku ajar MKDU-IAIN, tentang Pancasila Dasar Falsafah Negara. Nama penulis Drs. Rozikin Daman.

  • Bagaimana Peran Google vs Guru Di Industri 4.0?

    Bagaimana Peran Google vs Guru Di Industri 4.0?



    Bagaimana Peran Google vs Guru Di Industri 4.0?– Hai Sobat Shalaazz! Di era yang semakin global ini, kemajuan teknologi dan informasi semakin canggih. Seiring dengan berkembangnya disiplin ilmu yang memadai, mampu mencetak generasi-generasi dengan SDM yang mumpuni. Sehingga bisa mencetuskan ide-ide dan inovasi-inovasi baru yang kreatif di bidang teknologi dan informasi.

    Percepatan Teknologi dan Informasi

    Macam-macam aplikasi berbasis informasi yang ada dapat memudahkan manusia untuk mendapatkan informasi terkait ilmu, isu, kejadian, fenomena dan lain sebagainya. Sekarang, berbagai macam informasi bisa diakses dengan cepat dan jangkauannya pun luas. Memudahkan aktivitas manusia dan menunjang kinerja. Tak dapat dipungkiri bahwa meningkatnya aspek perekonomian, kebudayaan, pendidikan, olahraga dan lain sebagainya sangat didukung oleh percepatan teknologi dan informasi. Bisa membayangkan, jika teknologi dan informasi di negara kita belum secanggih saat ini. Mungkin kita akan jauh tertinggal dengan negara-negara lain. Di mana akan sangat berdampak pada berbagai aspek kehidupan.

    Peran Google Dalam Kehidupan Manusia Modern

    Salah satu teknologi informasi yang canggih dan familiar yaitu Google. Atau biasa dijuluki dengan “Mbah Google” hehehe. Siapa yang tidak mengenal aplikasi Google? Saya rasa, hampir semua mengetahuinya. Karena kita sering menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Baik untuk mendapatkan informasi terkait mengerjakan tugas sekolah, kuliah, kantor, bisnis, dan lain-lain. Kemampuan Google sudah tidak diragukan lagi. Perannya sebagai gudang penyedia informasi yang lengkap dari A-Z. Dari mulai informasi tentang pendidikan, sosial, politik, budaya, olahraga, kesehatan dan lain sebagainya. Saya rasa, hampir semua ilmu bisa kita dapatkan dari Google.

    Peran Google vs Guru di Industri 4.0

    Mengingat bahwa begitu lengkapnya informasi yang telah disediakan oleh Google, namun apakah Google dapat menggantikan peran seorang Guru? Menggantikan peran dalam mendidik dan mencerdaskan generasi.
    Jawabannya tentu tidak.
    Sebab, Google dan Guru adalah dua hal yang berbeda. Begitu pula dengan perannya. Mungkin, memang keduanya adalah wadah penyedia ilmu. Tetapi, tidak bisa kita samakan.
    Google memang menyediakan informasi yang super lengkap dari A-Z. Akan tetapi, bukan berarti dapat menggantikan peran seorang Guru. Sebab, peran seorang Guru tetap tidak akan pernah tergantikan.
    Perannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Guru tidak hanya memberikan informasi yang berkaitan dengan ilmu, namun juga mengajarkan akhlak dan budi pekerti.
    Selain itu, Guru juga memberikan contoh yang nyata sebagai figur yang baik bagi anak didiknya. Sehingga, bisa kita tarik benang merahnya bahwa peran Guru tetaplah sebagai Guru yang mengajarkan, mendidik, dan mencerdaskan generasi. Sedangkan Google sebagai penunjang penyedia informasi.
  • Ulasan Lengkap: Perlukah Kursus Bahasa Jerman?

    Perlukah Kursus Bahasa Jerman?
    Perlukah Kursus Bahasa Jerman?– Hai sobat Shalaazz! Bahasa Jerman merupakan bahasa penutur terbanyak di Eropa. Karena Bahasa Jerman mempunyai peranan penting dalam komunikasi Internasional. Bahasa Jerman juga di gunakan oleh beberapa negara seperti Austria, Swiss, Luxemburg dan Lichtenstein sebagai bahasa nasional, serta ada sekitar 20 juta orang di dunia telah mempelajari Bahasa Jerman.

    Dapat Bekerja di Wilayah Eropa

    Selain bisa digunakan dalam akses komunikasi bisnis internasional, Bahasa Jerman juga bisa menghantarkan kita untuk bekerja di wilayah Eropa. Bertempat tinggal di Eropa dengan pekerjaan yang mumpuni bukankah hal itu merupakan impian semua orang.

    Beasiswa Full Sampai Jenjang Strata-3 (S3)

    Bukan hanya dalam dunia bisnis dan pekerjaan yang mampu menopang kesuksesan. Dalam dunia pendidikan pun pemerintahan Jerman telah mensubsidi biaya pendidikan sampai ke jenjang yang paling tinggi yaitu Strata-3 (S3) dengan berbagai beasiswa bahkan ada yang sampai full gratis. Apalagi pendidikan di Negara Jerman itu merupakan peringkat 3 dunia terbaik dari segi kualitas. Tentu tidak akan merugi jika kita mau mempelajari Bahasa Jerman yang merupakan bahasa ibu di beberapa negara ini.

    Perlukah Kursus Bahasa Jerman?

    Jawabannya tentu sangat perlu. Sebab, Bahasa Jerman juga merupakan bahasa kedua setelah Inggris dalam dunia literatur ilmiah. Untuk orang yang haus akan ilmu rasanya perlu mempelajari Bahasa Jerman karena tersedia banyak sekali publikasi ilmiah yang menggunakan bahasa  Jerman.

    Menjadi tour guide untuk wisatawan asing Jerman yang sedang berlibur di Indonesia patut di pertimbangkan. Bukankah menyenangkan bisa jalan-jalan sambil belajar memperlancar Bahasa Jerman yang sudah kita pelajari. Tidak ada salahnya jika kita kursus Bahasa Jerman, manfaatnya begitu banyak bagi kehidupan kita. Hanya dengan mempelajari Bahasa Jerman asal kita mau berusaha untuk mencapai kesuksesan.

    Sebelum mengikuti kursus Bahasa Jerman kita juga harus memperhatikan hal-hal kecil seperti tempat kursusnya, waktu, biaya yang diperlukan, pengalaman alumni di tempat kursus tersebut, guru pengajarnya dan apa saja yang diajarkannya. Hal-hal tersebut perlu menjadi pertimbangan, karena memang selalu ada perbedaan di setiap tempat kursus. 

  • PTN atau PTS Kampus Mana yang lebih baik?

    PTN atau PTS Kampus Mana yang lebih baik?

    PTN atau PTS. Mana yang lebih baik
     
    PTN atau PTS Kampus Mana yang lebih baik? – Halo sobat Shalaazz!!… Mana nih suaranya yang lagi galau soal perguruan tinggi? hehe. Bingung mau ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS).
    Meskipun sudah lolos UAN, namun perjalanan belum usai bagi yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu ke Perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta. Nah, masing-masing pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.

    Kelebihan PTN dan PTS

    Kelebihan dan Kekurangan Perguruan Tinggi Negeri (PTN)

    Kelebihan : Di Indonesia Perguruan Tinggi Negeri (PTN) paling banyak diminati sebab dianggap lebih bergengsi seperti UI, UB, ITB, UNAIR dan lain-lain. Di Perguruan Tinggi Negeri biaya kuliah lebih terjangkau karena mendapatkan bantuan subsidi dari pemerintah. Selain itu, PTN juga terkenal akan informasi beasiswanya yang dapat diakses dengan mudah.
    Kekurangan : Untuk masuk ke PTN persaingan sangatlah ketat. Selain peminatnya yang sangat banyak,  calon mahasiswa harus mengikuti seleksi tes masuk PTN tersebut baik melalui jalur undangan yaitu SNMPTN atau melalui jalur tes tulis yaitu SBMPTN. Apalagi untuk beasiswa maka akan bersaing pada jalur bidikmisi. Dalam proses tersebut sangatlah selektif dan begitu banyak pertimbangan.

    Kelebihan dan Kekurangan  Perguruan Tinggi Swasta (PTS)

    Kelebihan : Biasanya jika gagal untuk memgikuti tes masuk PTN, maka pilihan terakhir adalah di PTS. PTS memiliki kelebihan yaitu dipilih karena popularitasnya yang mampu menciptakan citra yang positif. Antara lain seperti fasilitas yang disediakan tidak kalah dengan PTN. Sistem KBMnya pun lebih fleksible, jadi bisa disambi dengan kerja apabila ingin bekerja sambil kuliah.
    Kekurangan : Biaya yang terbilang cukup mahal karena tidak mendapat subsidi atau bantuan dari pemerintah. Dan akses informasi beasiswapun biasanya mahasiswa harus mandiri untuk mencari beasiswa tersebut.
    Nah, itulah kurang lebih perbedaan antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Apapun itu pilihanmu, yakinlah bahwa kamu memilihnya atas dasar minat dan kemampuan yaaa, semoga tepat pada pilihan yang terbaik. Amiiin…

    Plegmatis atau Pragmatis sering dikenal sebagai orang yang cinta damai. Mereka menunjukkan pribadi yang lebih tenang, cenderung diam atau kalem, mudah diatur, suka mengalah dan tidak menyukai konflik#karakterplegmatis #penamillennials #pendidikan #shalaazz

    — Shalaazz (@shalaazzcom) January 19, 2020

  • Siapa Pemimpin Indonesia Di Masa Mendatang?-Shalaazz.com

    Siapa Pemimpin Indonesia Di Masa Mendatang ?



    Siapa pemimpin Indonesia di masa mendatang? Jawabannya beragam. Ada yang berpendapat dari kalangan militer yang kuat kaderisasinya. Ada juga suatu saat muncul figur sipil lulusan perguruan tinggi yang mempunyai keahlian tertentu. Pokoknya jamak pemimpin biasanya dari kalangan ormas yang berdasarkan jumlah pengikut setianya.

    Petinggi militer muncul manakala ada masalah dengan stabilitas keamanan. Bisa dibenarkan atau bisa juga keliru. Benar karena keamanan terjamin sehingga pembangunan tidak terganggu. Keliru karena dikhawatirkan muncul negara fasis. Atau presiden bertangan besi menindas lawan-lawan politiknya. Baca juga: Prosedur Pemakzulan Presiden Secara Yuridis di Indonesia
    Tradisi perguruan tinggi menghasilkan pemimpin seperti Ir. Sukarno (ITB) dan Ir. Joko Widodo (UGM) perlu diperhitungkan di masa depan. Universitas tempat mahasiswa/i digodok untuk menjadi pemimpin negeri ini. Digembleng agar menjadi pemimpin yang tangguh. Gelombang demonstrasi mahasiswa/i meruntuhkan sekat-sekat lama dan melihat paradigma baru.
    Pimpinan model ormas pernah menghasilkan Gusdur (NU) dan Amien Rais (Muhammadiyah). Pimpinan seperti ini bertumpu pada kharismanya sebagai pemimpin ormas. Juga kecendikiaan yang mewarnai pemikirannya. Gusdur telah menjadi bapak bangsa. Siapa menyusul sebagai pemimpin Indonesia? Pimpinan model ormas mungkin agak kuno.
    Penulis
    I Wayan Budiartawan
    MGG-ITB-1987
  • Pentingkah NEM, IPK dan Ranking Menurut Nadiem Makarim?

    Pentingkah NEM, IPK dan Ranking Menurut Nadiem Makarim ?



    Pentingkah NEM, IPK dan Ranking Menurut Nadiem Makarim ? –  Kata Nadiem Makarim  Mematahkan Mitos NEM, IPK dan Rangking.

    Ada 3 hal ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap Kesuksesan yaitu :

    1. NEM
    2. IPK
    3. Rangking

    Saya mengarungi Pendidikan selama 22 Tahun :

    – 1 Tahun TK
    – 6 Tahun SD
    – 6 Tahun SMP-SMA
    – 4 Tahun S1
    – 5 Tahun S2 & S3

    Kemudian Saya mengajar selama 15 Tahun di Universitas di 3 Negara Maju :

    1. AS
    2. Korsel
    3. Australia
    dan juga di Tanah Air.

    Saya menjadi saksi betapa tidak relevannya ketiga konsep di atas terhadap kesuksesan.

    Ternyata sinyalemen Saya ini di dukung oleh Riset yang di lakukan oleh Thomas J. Stanley yang memetakan 100 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survey terhadap 733 Millioner di US. Hasil penelitiannya ternyata nilai yang baik (yakni NEM, IPK dan  rangking) hanya lah faktor sukses urutan ke-30. Sementara faktor IQ pada urutan ke-21. Bersekolah di Universitas/Sekolah Favorit di urutan ke-23.

    Jadi Saya ingin mengatakan secara sederhana :

    “Anak Anda Nilai Raportnya rendah, tidak masalah”.
    NEM Anak Anda tidak begitu besar?
    Paling akibatnya tidak bisa masuk Sekolah Favorit.

    Hal tersebut Menurut hasil Riset, tidak qterlalu pengaruh terhadap kesuksesan.

    Lalu apa faktor yang menentukan kesuksesan Seseorang itu?

    Menurut *Riset Stanley berikut ini adalah 10 faktor* teratas yang akan mempengaruhi *KESUKSESAN* :

    1. Kejujuran (Being honest with all People)
    2. Disiplin keras (Being well-disciplined)
    3. Mudah bergaul (Getting along with People)
    4. Dukungan pendamping (Having a supportive spouse)
    5. Kerja keras (Working harder than most people)
    6. Kecintaan pada yang di kerjakan (Loving my career/business)
    7. Kepemimpinan (Having strong Leadership qualities)
    8. Kepribadian kompetitif (Having a very competitive spirit/Personality)
    9. Hidup teratur (Being very well-Organized)
    10. Kemampuan menjual Ide (Having an ability to sell my Ideas/Products)

    Hampir kesemua faktor ini tidak terjangkau dengan NEM dan IPK.
    Dalam Kurikulum semua ini kita kategorikan : Softskill. Biasanya peserta didik memperolehnya dari kegiatan Ekstra-Kurikuler. 10 faktor di atas ada di dalam Pendidikan Pramuka. Membentuk karakter adalah kebutuhan utama. Mengejar kecerdasan Akademik semata hanya akan menjerumuskan diri, Amin. Bangsa Indonesia bukan tidak butuh orang yg pintar karena bangsa Indonesia sudah banyak orang pintar, namun bangsa Indonesia membutuhkan orang-orang yang memiliki “Karakter beradab sopan santun dan berakhlak mulia”.
  • Knowledge Is Power: Menelisik Negara Rusia dan Amerika

    Knowledge Is Power: Menelisik Rusia dan Amerika
     
     
    Knowledge Is Power– Negara Rusia dan Amerika merupakan dua negara yang saling mengungguli dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai akibatnya persaingan ini memicu konflik bersenjata  antara dua negara yang beda kepentingan ini. Knowledge is power, siapa yang unggul dalam hal iptek akan berkuasa di dunia. Indonesia juga menghadapi kepentingan negeri Cina di Laut Cina Selatan. Baca juga: Beasiswa S2 Program Hukum di Belanda
    Pembangunan iptek di Indonesia bisa ditelusuri sampai di ITB. Perguruan tinggi warisan Belanda ini gudangnya ilmuwan di tanah air. Iptek yang masuk ke tanah air harus diseleksi mana yang benar-benar bermanfaat bagi negara kita tercinta Indonesia.  Orang Indonesia mesti terdidik sesuai dengan kepribadian bangsa.
    Knowledge Manusia Indonesia harus berjiwa Pancasila yakni falsafah bangsa Indonesia yang majemuk ini. Rela berkorban demi negara dan bangsa. Menghormati sesama warga negara Indonesia. Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan.
    Seorang alumni ITB di Bali mengamati perkembangan teknologi informasi yang ada sekarang adalah sisa-sisa dari perang dingin Rusia melawan Amerika di masa lalu. Indonesia dibanjiri berbagai informasi dari luar di internet. Depdikbud diharapkan dapat membatasi program internet yang menjerumuskan dan merusak moral bangsa.
    Penulis
    I Wayan Budiartawan
  • Indonesia Nation Building Oleh I Wayan Budiartawan

    Indonesia Nation Building Oleh I Wayan Budiartawan
     
     
    Indonesia Nation Building – Generasi muda Indonesia yang sekarang lahir setelah revolusi kemerdekaan tahun 1945.Oleh karena itu pendidikan nation building perlu ditekankan di sekolah-sekolah. Rasa cinta tanah air harus ditumbuhkan kepada para peserta didik. Dan rasa kebangsaan dibangkitkan kepada anak-anak muda. Agar mempunyai kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.
    Nation building ditujukan agar timbul rasa solidaritas kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Patriotisme diajarkan guru-guru agar para peserta didik mencintai tanah air satu Indonesia dan rela berkorban membela bangsa. Disiplin tinggi diterapkan agar semangat kebangsaan bisa dipupuk. Baca juga: Inovatif! Limbah Organik Sebagai Media Pembelajaran yang Asik
    Karya anak-anak muda di masa mendatang akan menjadikan negeri ini mencapai kemajuan di bidang iptek. Generasi muda sekarang bertugas untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan menaikkan taraf hidup rakyat. Masyarakat adil dan makmur  bisa diwujudkan sebagaimana diamanatkan oleh bapak-bapak bangsa.
    Nation building menuju Indonesia yang mandiri. Kaum muda-mudi dibentuk sehingga mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Mengandalkan kekuatan sendiri, bekerja keras demi pembangunan. Sanggup mengatasi segala rintangan yang dihadapi bangsa ini. Semangat kebangsaan yang kokoh  untuk memacu derap pertumbuhan ekonomi. Etos kerja yang menghasilkan. Baca juga: Bagaimana Peran Google vs Guru di Revolusi Industri 4.0?
    Penulis
    I Wayan Budiartawan
  • Membangun Karakter dalam Pendidikan-Character Building

    Membangun Karakter dalam Pendidikan oleh I Wayan Budiartawan
     
     
    [Character Building] Membangun Karakter dalam Pendidikan– Pembangunan Indonesia adalah pembangunan manusia seutuhnya. Pendidikan tidak saja membekali peserta didik dengan iptek tetapi juga diajari pengetahuan agama yang cukup. Keseimbangan jasmaniah dan rohaniah harus dicapai kurikulum Depdikbud.
    Character building atau membangun karakter mesti didahulukan sehingga muncul insan yang jujur berjuang demi keadilan. Bukan manusia-manusia penipu alias koruptor. Manusia Indonesia di masa depan terdiri dari individu-individu yang gigih mempertahankan keutuhan bangsa. Character building dimulai orang tua sejak balita di rumah. Baca juga: Rumah Belajar (Learning Place) Dari Kemendikbud
    Pembangunan mental manusia amat penting agar didapatkan generasi muda yang  tangguh. Tidak mudah menyerah pada kesulitan hidup yang menghadang di depan. Saleh dan taat beribadat serta menyadari ke-Agung-an Tuhan Yang Maha Esa. Manusia berbudi luhur dan berakhlak yang baik. Baca juga: 5 Cara Menjadi Pendidik yang Kreatif di Era Milenial
    Character building bangsa Indonesia digali dalam Sila-Sila Pancasila yang berasal dari bumi persada nusantara. Sifat gotong royong, setia kawan adalah modal dasar membangun bangsa. Menolong kaum papa serta mengangkat harkat dan martabat kaum tertindas. Kepribadian yang utuh akan menjamin kelangsungan pembangunan.
    Penulis
    I Wayan Budiartawan

    Setiap orang adalah guru. Karena guru adalah teladan bagi murid-muridnya. Maka, contohkanlah dengan baik-baik#penamillennials #pendidikan #shalaazz pic.twitter.com/YyEC0reeMD

    — Pena Millennials | Shalaazz (@penamillennials) November 25, 2019

  • PAJAK: Serba-Serbi Ilmu Hukum dalam Dunia Perkuliahan

    PAJAK: Serba-Serbi Ilmu Hukum dalam Dunia Perkuliahan
    Serba-Serbi Ilmu Hukum dalam Dunia Perkuliahan  – Tahukah sobat Shalaazz kalau hasil pajak itu sekitar 80% dapat menjadi pemasukan kas negara? Banyak orang yang takut ketika ditagih akan pajak. Padahal, pada dasarnya pajak adalah anggaran yang paling terbesar untuk memenuhi pelayanan publik bagi masyarakat di seluruh Indonesia.Kebanyakan orang takut membayar pajak ketika mereka sudah memiliki banyak kekayaan dan seringkali kekayaan dalam menyetorkan pajak disembunyikan bahkan hingga dipalsukan. Agar negara tidak mengetahui kekayaannya. Bahkan, yang lebih parah lagi menyimpan kekayaan dengan nama orang lain.

    Mengapa sobat Shalaazz perlu mengetahui ilmu perpajakan dalam dunia perkuliahan? Tentunya agar mengetahui keadaan di Indonesia sangat urgent dan membutuhkan kesadaran teman-teman sebagai pemuda dalam agent of change untuk mengubah negara menjadi lebih baik lagi. Baca juga: Prosedur Pemakzulan Presiden Secara Yuridis di IndonesiaHal ini telah jelas sebagaimana dikatakan dalam.Landasan Hukum Pajak sendiri dapat dilihat di Konstitusi pada Pasal 23 A UUD’45 “Segala pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa diatur oleh undang-undang”.

    Dari ketentuan Pasal 23 A UUD’45 menjelaskan bahwasanya: Pertama, Pajak hanya boleh dipungut berdasarkan undang-undang. Kedua,  Pemungutan pajak yang ada dalam undang – undang merupakan implementasi dari wujud demokrasi Dan terakhir, Hanya negara yang boleh memungut pajak sebagai perwujudan dari prinsip pajak berdaulat.

    Ada empat titik berat dalam pemungutan pajak itu sendiri yaitu:

    • Kesadaran pajak (tax consciousness),
    • Kejujuran (honesty),
    • Hasrat bayar pajak (tax mindedness)
    • dan Disiplin pajak (tax discipline).
    Ketika keempat titik berat ini tidak dapat diseimbangkan antara kerjasama pemerintah dengan masyarakat. Maka, anggaran pajak tidak akan stabil dan Alhasil, pendapatan negara semakin menurun karena tidak ada bentuk kepedulian lagi seperti kesadaran akan membayar pajaknya. Kejujuran yang sering dilanggar dengan memperbanyak harta namun tak mau menanggung risiko yang terjadi ke depannya. Baca juga: Kondisi Hukum di Indonesia Saat Ini Adil Bagi “Mereka”Hasrat membayar pajak menurun hingga membawa pembayaran pajak ke pengadilan pajak untuk diperdebatkan karena pembayaran pajaknya terlalu besar. Disiplin untuk membayar pajak pun dilanggar dengan mengulur-ngulur keadaan agar tidak dikenakan pajak.

    Keempat titik berat ini sungguh harus ditanamkan dalam setiap individu. Karena, seluruh titik berat ini dapat mempengaruhi kehidupan suatu negara termasuk pelayanan publik. Jangan salahkan pemerintah kalau pelayanan publik kurang maksimal karena membayar pajak dalam masyarakat pun masih lamban dan harus ditagih-tagih secara paksa dengan memberikan surat peringatan.Jangan salahkan masyarakat juga kalau sering mendemo pemerintah karena seringkali pendekatan masyarakat dan pemerintah tidak pernah sejalan dengan keadaan yang ada dan dibutuhkan oleh masyarakat.

    Perspektif Ilmu Hukum Berkaitan dengan Pajak

    Oleh karena itu, untuk dapat mewujudkan keadilan dan kesejahteraan ialah dengan taat membayar pajak dan terjadinya check and balances antara masyarakat serta pemerintah sendiri. Pepatahnya ialah Semakin besar pajak dapat dicapai, memberi harapan semakin besar terwujudnya kebutuhan masyarakat. Sampai sekarang ini, Belum ada instrument hukum lain yang dapat mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, selain PAJAK. Baca juga: Pancasila Sebagai Dasar Negara Apakah Masih Relevan?

    Segala potensi bisa dikerjakan dengan NIAT yang ikhlas. Karena niat menunjukkan kita BERNILAI#penamillennials #pendidikan #shalaazz

    — Pena Millennials | Shalaazz (@penamillennials) November 27, 2019

  • [Opini] Nadiem Anwar Makarim Oleh I Wayan Budiartawan

    [Opini]-Nadiem Anwar Makarim Oleh I Wayan Budiartawan
    [Opini]-Nadiem Anwar Makarim Oleh I Wayan Budiartawan– Mendikbud yang baru memang mempunyai track record yang cemerlang. Lulusan Harvard dan pendiri Gojek, Nadiem Anwar Makarim, menduduki jabatan mendikbud untuk periode 5 tahun mendatang. Di pundak menteri baru ini dibebankan segala urusan depdikbud yang kian ruwet. Menjadi menteri memang bukan sekedar mengurus perusahaan atau lulus universitas kenamaan. Menteri harus mengabdi kepada orang-orang kecil.
    Pendidikan di Indonesia perlu pembenahan dengan segera. Banyak SD yang atapnya bocor perlu dana yang tidak sedikit untuk perbaikan. Seperti disoroti media televisi.Anak-anak putus sekolah berkeliaran di jalan-jalan. Aset bangsa masa depan negara. Dibutuhkan pejabat yang  berhati mulia untuk menolong masyarakat kelas bawah. Baca juga: Undang Guru Dari Luar Negeri, Apakah pendidikan Indonesia kurang percaya diri?
    Tidak semua orang bisa lulus universitas. Terbentur biaya kuliah yang mahal. Sehingga dikhawatirkan banyak anak-anak cerdas tidak mendapatkan kesempatan untuk maju. Padahal pembangunan membutuhkan banyak tenaga-tenaga terdidik.  Bangsa ini harus diurus oleh warganya sediri. Diberitakan di harian di Bali beberapa waktu lalu, pembangunan pusat tenaga listrik di Bali Utara tenaga  kerjanya 100 persen dari negeri Cina.
    Mangku Made Pastika semasa menjadi gubernur Bali mengeluhkan manajer-manajer hotel-hotel di Bali semua orang asing. Mendikbud RI yang baru, harus bisa mengantisipasi masalah ini. Pendidikan oleh bangsa sendiri dan untuk kepentingan bangsa sendiri. Teknologi asal pakai buatan luar negeri tidak patut dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Baca juga: Sudah meratakah pendidikan di Indonesia?
    Penulis
    I Wayan Budiartawan

    Kuncinya terletak pada seberapa banyak kita berlatih dan belajar dari pengalaman. Karena itu semua adalah kunci kekuatan potensi diri kita (be a yourself)#penamilennials #pendidikan #shalaazz

    — Pena Millennials | Shalaazz (@penamillennials) November 18, 2019

  • Aksi Milenial Untuk Negeri Ceramah UAS-POV Ilmu Hukum

    Aksi Milenial Untuk Negeri Ceramah UAS Ditinjau Dalam Ilmu Hukum
     
     
    Aksi Milenial Untuk Negeri Ceramah UAS Ditinjau Dalam Ilmu Hukum-Masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat majemuk dari berbeda keyakinan, kebiasaan, kebudayaan, bahasa, dan lainnya. Karena kemajemukan inilah yang harusnya dipertahankan. Bukan bermaksud bersikap kenetralan melainkan sesuai dengan Equality before the law. Menempatkan segala sesuatunya sesuai dengan porsinya. Nah, berhubungan dengan aksi milenial dalam bidang hukum untuk menyikapi persoalan ceramah yang disampaikan UAS seperti apa? Mari disimak di bawah ini ya! Baca juga: Jurusan Manajemen Haji Terbaik di Indonesia
    Sila pertama dalam pancasila yang menjunjung tinggi dalam menyikapi keagaamaan dibandingkan dengan apapun. Dimana setiap orang berhak memilih dan meyakini keyakinan agamanya masing-masing sesuai dengan UUD 1945 pasal 28 E ayat 1 dan 2. Tentunya ketika menyikapi isu keagamaan pastinya akan selalu berujung tentang ketuhanan yang harus disampaikan kepada umatnya dan dalam acara keagamaan. Terkecuali disampaikan kepada pemeluk agama lain di forum terbuka dalam keadaan yang memaksakan kehendak orang banyak. Dalam artian isu agama adalah hal yang sensitif untuk dibicarakan.

    Ceramah UAS Tentang Akidah

    Namun, harus disampaikan dengan penuh kedamaian bukanlah rasa kebencian. Sedangkan yang berita UAS dilaporkan atas ceramah tentang akidah yang disampaikannya sesuai dengan konstitusi yang memberikan jaminan untuk menjalankan ibadah dan kajian dalam rangka memudahkan umat untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya berdasarkan pasal 28 E ayat 1 Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
    Dilihat dalam praktik pemidanaan kasus UAS tidak termasuk dalam penistaan agama. Mengapa? Karena dilihat dari unsur subyektif UAS tidak sama sekali ada niat untuk merusak persatuan agama. Kedua lihat dari unsur obyektif yang merupakan kausalitas UAS terhadap penistaan agama hanya sekedar menjawab pertanyaan dalam keadaan yang tertutup dan disampaikan hanya untuk umat islam. Kalaupun ada yang menyiarkan videonya itu dalam rangka syiar setiap agama. Bukan bermaksud untuk memecah belah persatuan. Baca juga: Prosedur Pemakzulan Presiden Secara Yuridis di Indonesia
    Coba dilihat kasus penistaan agama yang dilakukan ahok dalam proses penyampaiannya menggunakan dengan perasaan kebencian, permusuhan sedangkan proses penyampaian yang dilakukan oleh UAS ialah menjawab pertanyaan yang sesuai dengan konteks Al-Qur’an dan Sunnah. Dimana konsep ketauhidan dalam islam adalah hal yang paling pertama untuk disampaikan. Kalau tidak disampaikan dengan jelas konsep ketauhidannya maka UAS dianggap sebagai penjunjung agama yang lain. Apalagi UAS sudah menyampaikan konsep ketauhidan sejak lama. Namun, kenapa permasalahan ini baru muncul? Kalau UAS menyimpang terhadap penistaan agama seharusnya dari sejak awal saat ia menyampaikan ketauhidan. Bukan ketika beliau menjawab pertanyaan umatnya. Inilah yang harus difikirkan sebagai setiap umat beragama.

    Pengertian Agama Menurut Ahli

    Menurut pendapat M Taib Thair Abdul Mui’in, beliau memberikan pengertian agama sebagai suatu peraturan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal, memegang peraturan tuhan dengan kehendaknya sendiri, untuk mencapai kebaikan hidup di dunia dan di akhirat. Dimana kalau setiap orang berpikir jernih ia harus memakai landasan ilmiah untuk melaporkan ceramah UAS itu sendiri sedangkan Unsur yang tidak boleh dinistakan dalam menyampaikan syiar agama Islam itu sendiri ialah Allah SWT, Nabi dan Rasul, Al-Qur’an sebagai kitab suci, ritual ibadah, simbol-simbol islam. Berdasarkan dengan hal ini penyampaian UAS sendiri sudah benar sesuai dengan tuntunan penyampaian syiar atas dasar sesi tanya jawab.

    Dasar Hukum Tentang Penodaan Agama

    Pada Pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menyatakan dipidana dengan penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan/penodaan terhadap agama yang dianut di indonesia.
    Tanya jawab dilakukan di masjid setelah salat subuh sehingga tidak memenuhi delik. Kalau umatnya bertanya dan dalam forum homogen itu bukan dari bagian penghinaan. Karena dalam konteks agama, orang akan menyampaikan kebenaran agamanya. Sedangkan pendeta yang melihat ceramah UAS sendiri menyetujui apa yang dipaparkan oleh UAS sesuai dengan al-kitabnya. Bisa disimak oleh teman-teman tentang pendeta yang setuju dengan pendapat UAS di Youtube. Berarti hal ini tidak memenuhi unsur penistaan. Baca juga: Profesi Menarik yang Berkaitan dengan Bidang Hukum
    Dalam KUHP sendiri Pasal 154a ini memiliki kerangka pasal yang tak menjelaskan batas-batas dimana negara tak boleh intervensi soal kehidupan beragama sebab agama di ranah privat. Salahnya lagi pada pasal 156a ini tidak memberikan penjelasan yang semestinya. Sehingga, orang yang memahaminya akan sulit menerjemahkannya. Dalam pasal 156a tidak dijelaskan yang hendak dilindunginya ialah “ajaran agama” atau “orang yang beragama”.
    Mungkin itulah beberapa ulasan dari aksi milenial untuk negeri di bidang hukum. Disinilah teman-teman dibutuhkan pemahaman pengetahuan agama yang mengakar agar tidak langsung melaporkan segala sesuatunya ke pengadilan karena ada beberapa permasalahan yang sebenarnya bisa disosialisasikan terhadap peraturan terkait penistaan agama yang sering diviralkan oleh banyak orang dan tentunya memilih-milih yang harusnya dipublikasikan terkait informasi-informasi apapun. Apalagi hal ini merupakan konteks yang paling sensitif terhadap masyarakat yang majemuk. Baca juga: Kupas Tuntas Program Magister Hukum di Universitas Amsterdam
  • Pengembangan Diri: Meningkatkan Kualitas Diri dan Negara

    [Pengembangan Diri]: Meningkatkan Kualitas Diri dan Negara

    [Pengembangan Diri]: Meningkatkan Kualitas Diri dan Negara – Dalam skala negara, sampai kapan pun Indonesia tidak akan maju! Apabila melihat realitas budaya baca mayarkat saat ini. Ada hubungan yang sangat besar antara kemajuan sebuah negara dengan tingkat baca rakyatya. Kebiasaan membaca berbanding lurus dengan kemajuan. Semakin tinggi minat baca masyarakat maka semakin maju negara tersebut. Dan begitu pula sebaliknya semakin rendah minat baca maka dikatagorikan  negara tersebut terbelakang. Bahkan dapat dikatakan bahwa kebiasaan membaca merupakan fondasi kemajuan sebuah bangsa.

    Knowledge is Power-Francis Bacon

    Dari hasil studi mengenai sejarah negara-negara maju ternyata tanpa diragukan lagi mereka semua mengawali proyek peradabannya dengan membangun budaya baca masyarakat. Itu sudah menjadi hukum besi sejarah atau kehidupan, hal itu sesuai dengan slogan yang diteriakan oleh Francis Bacon “knowledge is power”, barang siapa menguasai pengetahuan maka ia akan menjadi penguasa, dan kuncinya adalah membaca.
    Sekarang ini sistem pendidikan kita telah meninggalkan minat baca para peseta didiknya, padahal hakikat pendidikan adalah membaca. Terjadinya kemelut pendidikan, tragedi kemiskinan dan pengangguran sebenarnya bermula dari minat baca yang rendah. Membaca adalah instrumen yang teramat penting untuk tidak diabaikan demi memerdekakan manusia dari penjajahan, kebodohan, dan kemiskinan.
    Kemelut pendidikan, tragedi kemiskinan, dan kebobrokan politik merupakan rentetan persoalan abadi yang bagaikan tak akan menemukan ujung. Apabila diibaratkan Indonesia bagaikan sebuah bangunan yang tidak memiliki fondasi. Belajar dari sejarah-sejarah negara maju maka fondasi pembagunan adalah budaya baca masyarakat. Budaya baca bukan hanya mejadi fondasi pembangunan negara akan tetapi juga menjadi fondasi peradaban dalam skala personal dalam peningkatan kualitas hidup.
    Saat ini, tanpa dibarengi dengan tradisi membaca yang baik, institusi pendidikan tinggi tidak dapat dijadikan jaminan untuk menjadi orang sukses dikemudian hari, Malah boleh dikatakan bahwa institusi yang paling banyak memproduksi pengangguran adalah institusi pendidikan. Dalam sejarah belum pernaah ditemukan ada orang yang banyak ilmu atau pandai tapi menganggur. Memiliki kegemaran membaca merupakan conditio sine quanon untuk menjadi seorang intelektual maupun orang sukses.

    Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, marcusuar yang dipancarkan si samudra waktu” Barbara Tuchman (1989)  .

    *Conditio sine qua non artinya setiap akibat dapat ditentukan sebab-sebabnya dan masing-masing sebab meniliki pengaruh terhaadap taerjadinya suatu akibat
  • Pentingnya Sekolah Berbasis Pesantren Abad 21

    Pentingnya Sekolah Berbasis Pesantren Abad 21

    Hai sobat Shalaazz, Sejak diturunkannya wahyu pertama kepada sosok yang menjadi tolak ukur keteladanan manusia, yakni Rasulullah ﷺ beliau menerima wahyu pertama yaitu iqra “bacalah”, membaca adalah pondasi berkualitasnya sumber daya manusia. Ketika kita membaca pengetahuan atau keilmuan yang bersumber dari Allah SWT, kita akan tersadarkan untuk lebih peka membaca diri sendiri, membaca lingkungan, membaca karunia Allah.  

    Semakin kita sadar akan potensi yang kita miliki dengan cara mengkaji diri, maka tergeraklah untuk mengoptimaslkan segala potensi yang dititipkan. Membaca adalah kewajiban, begitu pun dengan belajar adalah kewajiban setiap manusia.

    Pembelajaran yang didapatkan di Sekolah haruslah yang bisa membuat kita semakin dekat dengan Allah ﷻ. Lalu pertanyaannya, Sekolah yang bagaimanakah yang bisa menjadi dualisme pengetahuan yang seimbang antara dunia dan akhirat?

    Jawabannya adalah Sekolah berbasis pesantren.   Karena Sekolah yang dipadu padankan dengan sistem pesantren akan menjadi dualisme pengetahuan yang kaya akan budi pekerti, akhlak dan wawasan umum. Jika memang dapat ditempuh keduanya kenapa tidak?

    Di Indonesia sangat menjamur Sekolah berbasis pesantren, entah itu pesantren tradisional maupun modern. Karena zaman sekarang banyak sekali pesantren salaf yang mendirikan sekolah formal, begitupun dengan pesantren modern yang memang didirikan atas  kesadaran pentingnya sekolah berbasis pesantren.  

    Keunggulan Sekolah berbasis pesantren yang paling dominan yaitu setiap siswa ditempa untuk mengedepankan akhlak dalam segala hal, akhlak & budi pekerti yang baik. Pengetahuan umum juga penting diajarkan, jika pondasinya baik maka siswa akan lebih tangguh menghadapi tantangan zaman. Abad 21 ini generasi milenial semakin memicu diri untuk bisa bersaing dan kompetitif dalam segala bidang.  

    Tanpa sadar, terkadang keroposnya keimanan juga turut mengiringi, akibat banyak tekanan hidup yang serba cepat. Maka dari itu, hadirnya Sekolah berbasis pesantren menjawab tantangan tersebut, siap menempa calon manusia-manusia yang unggul.

    Ditempa lahir bathin demi mewujudkan keharmonisan jasmani dan rohani, keseimbangan hidup antara dunia dan mempersiapkan bekal akhirat. Karena sejatinya kebahagiaan hakiki hanyalah menyerahkan sepenuhnya hidup dan mati kita hanya untukNya. Lillahita’ala.  

  • [OPINI] Selayang Pandang Pancasila

    [OPINI] Selayang Pandang Pancasila



    [OPINI] – Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sering digoyahkan oleh ideologi yang dianut oleh negara-negara blok Barat dan blok Timur. Bercermin dari pengalaman sejarah PKI sering melakukan pemberontakan untuk menggantikan dasar negara Indonesia dengan ideologi komunis. Baca juga: Jurusan Hukum Internasional 2, Belajar apa?

    Ideologi komunis identik dengan negara blok Timur. Negara blok Barat sendiri berusaha memasukkan paham paham kapitalis ke dalam negara kita Indonesia. Baca juga: Kondisi Hukum di Indonesia. Tercatat dalam sejarah di Sumatera pernah terjadi pemberontakan PRRI/Permesta yang didukung oleh Amerika Serikat. Baca juga: Pancasila Dasar Negara Apakah Masih Relevan?
    Sukarno, presiden Indonesia yang pertama,  berusaha mempersatukan paham nasionalis, agama dan komunis dalam apa yang disebut dengan Nasakom. Tahun 1965 meletus pemberontakan G30S/PKI yang paling dahsyat dalam sejarah. Sukarno tumbang digantikan oleh Suharto. Baca juga: Sejarah Hari Lahir Pancasila!
    Pasca Suharto berkuasa selama 30 tahun sampai sekarang muncul paham-paham negara berdasarkan agama. Pancasila sekali lagi mendapat tantangan berat karena Indonesia nanti akan dijadikan negara agama oleh gerakan-gerakan organisasi keagamaan yang marak akhir-akhir ini. Dan memberi ruang gerak bagi semua agama. Tapi tokoh garis keras di negeri ini menggunakan agama untuk menarik simpati rakyat. Baca juga: Relasi Pancasila Dalam Mewujudkan Pemuda Anti Hoax
    Penulis : I Wayan Budiartawan
  • Opini: Kemerdekaan Bukan Sekadar Perayaan

     

     

    Merdeka bukan kata yang digembor-gemborkan sebagai kebebasan dari penjajah semata. Melainkan kata merdeka ialah langkah para pejuang untuk meraih kemenangan. Kemenangan dalam hal apa? Kemenangan yang dalam arti bebas untuk memajukan daerahnya bukan membodohi masyarakatnya dengan tipu-tipu yang merugikan, baik diri sendiri maupun orang lain.

    Momentum Kemerdekaan, Apakah Kemerdekaan Sekadar Perayaan?

    Kemerdekaan sebuah momentum berharga untuk diraih di masa sekarang hingga mendatang. Namun, apakah cukup kemerdekaan sebatas bebas dari penjajah? Apakah cukup kemerdekaan hanya sekadar hari perayaan untuk mengenang para pejuang? Kemerdekaan kini patut dipertanyakan. Peringatan kemerdekaan hanya sebatas simbol pengenang saja. Makna kemerdekaan semakin kabur dan tidak memiliki ruh kepemilikan nasionalisme kebangsaan hingga ke akar-akarnya. Makna kemerdekaan semakin penting untuk dilaksanakan. Karena di tengah konstelasi politik kebangsaan yang diwarnai dengan maraknya kasus-kasus yang memudarkan nilai-nilai kebangsaan, dan harga diri negara di mata dunia masih belum sampai pada taraf ditakutkan oleh banyak negara. Sejatinya harga diri negara di mata dunia ialah senjata ampuh agar negara-negara lain segan kepada negara ini, untuk tidak mempermainkan kondisi nasional negara. Kemerdekaan sudah dibuktikan dengan penjajah telah keluar dari negeri ini. Nyatanya, negara belum dikatakan merdeka kalau perekonomian masih mengandalkan pinjaman kepada negara lain, perusahaan-perusahaan masih di tangan orang asing, pembangunan, pendidikan, dan seluruh pendanaan masih di tangan orang asing. Sejatinya, negara masih dibelenggu dengan kekuatan ekonomi orang asing. Sehingga, negara mau maju saja harus membayar bunga dibandingkan hutangnya terlebih dahulu. Baca juga: Tujuan Berjuang Mencari Pendidikan Hakiki

    Perlunya Manajemen Pasca Kemerdekaan

    Kemerdekaan harus dikelola dengan manajemen yang profesional oleh tenaga-tenaga yang berdedikasi tinggi, mau berkorban dan ikhlas beramal. Demi menyembuhkan kerawanan yang ada pada generasi muda kini dalam hal moral dan etika. Tentu saja dengan membabat habis seluruh mental para generasi agar mau mandiri, percaya diri, dan memperbaiki diri agar indonesia bisa berdiri di tanah sendiri. Kemerdekaan itu ialah banyaknya generasi muda dan remaja yang tahu akan jati diri, kokoh iman dan ilmu. Hal yang terakhir ini meningkatkan perkembangan batas antara kota dan desa. Bukan telah terkontaminasi dengan kebebasan yang tak kenal batas. Baca juga: Keuntungan Memilih Kuliah di Australia

    Mungkin sekilas kata merdeka untuk kemerdekaan yang sering diperingati terdengar klise. Alangkah baiknya kemerdekaan bukanlah ajang perlombaan semata melainkan meneruskan perjuangan untuk menjadikan tanah negeri ini bisa mandiri di tanah sendiri. Layaknya kata-kata Bung Karno, “Indonesia yang berdaulat secara politik, Indonesia yang mandiri secara ekonomi dan Indonesia yang berkepribadian secara sosial budaya.” Semoga bisa direalisasikan dalam kehidupan nyata. Baca juga: Bagaimana Pemuda Memaknai Kemerdekaan? Berikut Ulasannya!

    editor: Andrian Kukuh Pambudi

  • Program Rektor Asing, Berikut Pendekatan Secara Ilmu Hukumnya!

    Shalaazz Pemerintah Datangkan Rektor Asing, Bagaimana Pendekatan Secara Ilmu Hukum?  – Rektor selaku pimpinan adalah jabatan struktural tertinggi pada suatu Perguruan Tinggi Negeri. Rektor sebagai posisi strategis bisa menjadi penggerak dan penghalang mahasiswa dimana sebagai calon penerus dengan perilaku intelek, dinamis dan kritisnya untuk beberapa tahun kemudian. Bagaimana pendekatan hukum terhadap pemerintah yang serius untuk mendatangkan Rektor Asing? Simak penjelasannya di bawah ini!

    Regulasi Tentang Rektor Asing

    Ketentuan khusus yang mengatur tenaga kerja asing khususnya Rektor Asing setelah kemerdekaan terdapat dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1958 Tentang Penempatan Tenaga Asing atau disebut pula dengan Undang-undang tentang Penempatan Tenaga Kerja Asing. Alasan diterbitkannya Undang-undang tersebut, karena pada saat itu berbagai bidang-bidang pekerjaan tertentu ditempati oleh tenaga kerja asing. Hal ini selain melanjutkan bidang perkerjaan yang sudah dilaksanakan pada masa kolonial. Pun juga dikarenakan tenaga kerja Indonesia belum memungkinkan menempati bidang-bidang pekerjaan tetentu. Baik di bidang-bidang teknis maupun bidang-bidang usaha dalam suatu perusahaan.

    Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1958 tentang Penempatan Tenaga Asing

    Padahal, disadari kondisi tersebut tidak boleh berlangsung terus. Karena tidak baik untuk perkembangan tenaga kerja Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah berusaha untuk mengatasi hal tersebut dengan membuat Undang-undang Nomor 3 Tahun 1958 Tentang Penempatan Tenaga Asing. Sedangkan dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1958, untuk tenaga kerja asing hanya menempati posisi dan jangka waktu tertentu. Posisi yang dibatasi juga bukanlah bagian pemimpin tertinggi sama halnya seperti Rektor yang merupakan posisi tertinggi di kewilayahan yang setara dengan Gubernur. Kalaupun tinggi posisinya, harus didampingi oleh tenaga kerja dalam negeri, disertai dengan pengawasan yang cukup tinggi. Jangka waktu yang dibatasi hanya sekitar satu tahun dan untuk diperpanjang hanya ditambah satu tahun kembali.

    Jangka Waktu Rektor Dalam Negeri dengan Rektor Asing di Indonesia

    Dilihat dari Masa jabatan Rektor sekitar 5 tahun seperti jabatan presiden. Sedangkan dalam hukum ketenagakerjaan, tenaga kerja asing hanya memiliki jangka waktu bekerja sekitar satu tahun, kalaupun diperpanjang hanya satu tahun lagi. Jadi sekitar 2 tahun lamanya tenaga kerja asing bekerja di Indonesia. Dalam Undang-undang tersebut juga dijelaskan bahwa paspor para tenaga kerja asing ini tertulis, bahwa izin yang diberikan pemerintah Indonesia oleh pihak imigrasi adalah untuk bekerja sebagai tenaga kerja asing di Indonesia dengan jabatan dan waktu tertentu bahkan hanya sebagai turis.

    Terdapat Prioritas Pembangunan Nasional

    Hal itu pun harus diselaraskan dengan prioritas pembangunan nasional. Tidak boleh sembarangan dalam menunjuk pemimpin dari luar negeri hanya karena ingin memajukan pendidikan dalam negeri. Kalaupun izin mempekerjakan tenaga asing untuk rektor ini dilaksanakan, harus jelas terlebih dahulu rencana penggunaan tenaga kerja rektor asing ini untuk apa?. Kalau hanya alasan untuk memajukan pendidikan dalam negeri sepertinya tidak harus mencari ke luar negeri. Bukankah anak-anak negeri ini lebih pintar dari luar negeri?. Buktinya, banyak pemuda-pemudi yang risetnya luar biasa brilian. Bahkan hingga diperkejakan di luar sana dengan gaji yang tinggi.

    Rektor Sebagai Penggerak dan Representasi Bangsa yang Berkemajuan

    Bukankah ini cerminan para pemuda-pemudi yang sudah memaksimalkan pendidikannya? Masihkah pemerintah tidak mempercayai pemuda-pemudi bangsa di dalam negeri untuk memimpin negeri? Mereka perlu diasah dan digiatkan kembali dalam hal kepemimpinan, keagamaan, pendidikan hingga mencapai doktor ataupun professor. Bukan langsung mengimpor sumber daya manusia dari luar saja. Karena risikonya juga tinggi untuk pendidikan di dalam negeri. Khususnya rektor ialah penggerak dan representasi dari masyarakat untuk mewujudkan tridharma perguruan tinggi sekaligus sebagai pondasi kemajuan suatu bangsa.

    Editor: Andrian Kukuh Pambudi
  • Sistem Pendidikan Balita Oleh I Wayan Budiartawan

    Sistem Pendidikan Balita Oleh I Wayan Budiartawan

    Sistem Pendidikan Balita Oleh I Wayan Budiartawan
     
     
    Sistem Pendidikan Balita Oleh I Wayan Budiartawan – Halo sobat Shalaazz,  Para peneliti di negara-negara Barat mendapatkan kesimpulan bahwa pendidikan usia di bawah lima tahun atau balita amat menentukan masa depan anak-anak.
    Orang tua menyerukan kata cantik, manis, sayang kepada balita perempuan akan mendapatkan respon positif dari sang anak.
    Balita harus banyak bermain. Orang tua membelikan boneka dan sepeda untuk melatih kecerdasan dan ketangkasan.
    Mainan alias game bertindak sebagai simulasi yang banyak dilakukan orang dewasa untuk memahami kecanggihan teknologi. Anak sejak balita dikondisikan supaya tidak gagap teknologi.
    Para sarjana di luar negeri juga menyarankan agar balita mempunyai asupan gizi yang memadai sehingga pertumbuhan fisik dan mentalnya tidak mengalami hambatan serius. Di Indonesia dikenal nama PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini.
    Pre-school children. Pendidikan anak sebelum usia sekolah.
    PAUD disosialilasikan pemerintah Indonesia sampai ke desa-desa.
    Diharapkan generasi abad mendatang tidak ada lagi yang cacat baik secara jasmaniah maupun rohaniah.
    Indonesia perlu pemuda-pemudi yang tangguh dalam gerakan pembangunan negeri di segala bidang.
    Penulis
    I Wayan Budiartawan
  • [OPINI] Revolusi 1945 Belum Selesai



    [OPINI] Revolusi 1945 Belum Selesai – Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Perjuangan menuju kemerdekaan ketika itu didukung oleh kekuatan tentara nasional Indonesia yang bertempur untuk melawan pihak pasukan Belanda. Di samping itu para diplomat Indonesia turut juga berjuang lewat perundingan dengan pihak Belanda. Perundingan ini diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
    Revolusi 1945 berhasil mendirikan negara Republik Indonesia. Tetapi perjuangan belum selesai. Sekarang bangsa Indonesia sedang gencar-gencarnya melaksanakan pembangunan di segala bidang. Semangat revolusi 1945 adalah modal dasar bagi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya agar negeri ini tidak tertinggal  dari bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.
    Generasi muda bangsa ini mesti mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar pembangunan dapat berjalan dengan lancar. Kaum pelajar dan mahasiswa hendaknya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional. Tanpa iptek Indonesia akan menjadi negara yang paling terbelakang. Oleh karena itu iptek adalah satu-satunya jalan keluar agar bangsa ini bisa sejajar dengan negara-negara maju.
    Beberapa masalah yang dihadapi bangsa Indonesia antara lain kemiskinan, demokrasi, pelanggaran HAM dan gangguan keamanan. Gerakan separatis mengancam keutuhan NKRI. Pemilu yang bersih dan jujur adalah dambaan setiap insan Indonesia.  Program pembangunan diarahkan agar dapat mengikis kemiskinan rakyat Indonesia. Pendapatan per kapita Indonesia masih jauh di bawah negara kecil seperti Singapura.
    Penulis : I Wayan Budiartawan, lulusan Insitut Teknologi Bandung (ITB)