Indonesia Website Awards
SITE OF THE MONTH

Kuliah Jurusan Seni mau Jadi Apa?

Kuliah jurusan seni mau jadi apa

Kuliah Jurusan Seni Mau Jadi Apa? – Pertanyaan awal kebanyakan para orang tua ketika anaknya berkeinginan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi seni. Sebelumnya wajib kita pahami tentang apa yang pernah terucap oleh Ki Hajar Dewantara bahwa tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia, yaitu selamat raganya dan bahagia jiwanya (survive and happy).

Setelah kemarin mengalami perjalanan kuliah di bidang seni selama tiga setengah tahun, akhirnya aku bisa simpulkan bahwa kuliah di kampus manapun dan jurusan apapun, hasil akhirnya tergantung pada diri pribadi masing-masing. Apakah lulusan kuliah kedokteran pasti jadi dokter?

Akhirnya aku mencari info beasiswa di internet dan beejodoh dengan salah satu kampus seni di kota Bandung. Memiliki hobi menari sejak kecil, tentu ini jadi kesempatan menarik untuk lebih mengasah bakat sekelas perguruan tinggi.

Semangat mengumpulkan kelengkapan berkas beasiswa, akhirnya lolos beasiswa dan mulai berkuliah tahun 2013 lalu. Mendapat beasiswa full sampai tamat kuliah tentu hal yang sangat menyenangkan, selain bebas dari biaya perkuliahan juga mendapatkan uang saku kurang lebih Rp.600.000,- saat itu.

Hal terpenting yang diingat dari mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ini adalah “bagaimana caranya harus mempertahankan nilai bahkan berprestasi di kampus” ini menjadi semangatku untuk terus belajar giat dan berprestasi di kampus.

Aku menjadi mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Fakultas Seni Pertunjukan dengan program studi Seni Tari, selain itu da dua Fakultas lainnya yang bisa kalian pilih jika masuk ke ISBI, yaitu Fakultas Seni Rupa dan Desain, juga Fakultas Rekam dan Media. Saat di awal semester tentu ada rasa kaget dan ingin menyerah menjalani proses perkuliahan yang melelahkan.

Baca juga: Inilah 15 Kampus Jurusan Musik Terakreditasi dan Terbaik di Indonesia

Jauh sebelum memutuskan melanjutkan untuk berkuliah adalah bayangan menjadi mahasiswa yang rapi, semangat datang ke kampus untuk berkuliah, jadwal teratur, dan jalan bersama teman-teman.

Ternyata realitanya di kampus seni sama sekali tidak seperti itu, mahasiswa seni yang memang terkenal dengan gaya gaya nyentrik juga pola pikirnya yang kreatif membuat pemandangan kampus tidak rapi dan kaku seperti kampus lainnya, banyak mural indah di tembok hasil dari mahasiswa seni rupa, melihat para mahasiswa tari berlatih di pendopo lengkap dengan gamelan, kadang ada para mahasiswa teater yang berlatih acting di halaman kampus, olah vokal dan latihan musik mahasiswa karawitan dan lainnya. Semuanya luar biasa, sangat indah dan bisa meninggalkan rindu saat lulus kuliah.

Sempat merasa lelah karena di awal semester para mahasiswa tari dikenalkan dengan kelas olah tubuh yang memang menguras fisik, belum lagi ditambah aku yang aktif berkegiatan di beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), namun seiring berjalannya waktu semua aktivitas itu menjadi sangat menyenangkan dan enjoy dijalani. Hal unik yang bisa dirasakan saat menjadi mahasiswa seni adalah melihat isi tas kita saat hendak ke kampus, pada umumnya mahasiswa itu ya membawa buku mata kuliah yang akan dipelajari. Lalu dengan mahasiswa seni tari?

Tentu sama, tapi bukan beberapa buku dan alat tulis yang dibawa. Untuk mata kuliah teori apapun itu cukup dengan 1 buku binder dan tempat pensil beserta isinya, ada juga yang hanya membawa 1 pulpen, atau bahkan tak bawa apapun kertas meminta pada teman dan alat tulis meminjam. Ada ada saja ya.

Baca juga: Kamu Siswa bahasa? Cek 10 Jurusan Kuliah Ini, Punya Prospek Kerja Bagus.

Kenapa seperti itu? Karena materi yang kita tulis adalah apa yang telah kita rangkum dari ucapan dosen (intinya saja) jadi tak perlu banyak buku. Lebih uniknya di pertengahan semester yang hampir setiap hari ada mata kuliah praktek.

Isi tas berubah dengan berbagai macam hal, membawa panah, gondewa, selendang, samping dan korset (untuk mata kuliah tari wayang), membawa keris (tari keurseus), membawa baju dan celana ganti karena pasti banjir keringat (olah tubuh dan tari jaipong), membawa topeng dan tekes (tari topeng), membawa sanggul dan full alat makeup (untuk mata kuliah tata rias busana). Lebih luar biasa lagi saat mata kuliah komposisi tari dan tata pentas, apa yang kita konsepkan untuk sebuah karya kita ya itu yang kita bawa.

Misal aku pernah membuat karya tari anak-anak tentu yang aku bawa ke kampus adalah congklak, skiping dari karet gelang, kapur, juga buku hafalan lagu lagu anak, ada juga temanku yang membuat karya tari tentang tunadaksa, kalian tau apa yang dia bawa? Kursi Roda! Iya, dia sewa ke rumah sakit untuk kursi roda yang dibawanya ke kampus itu. Sungguh unik.

Jika ada undangan untuk pertunjukan kolaborasi pasti kita akan berbaur dengan jurusan lain, dan akan banyak keunikan yang kita lihat, misal melihat mahasiswa teater berbicara sendiri (menghafal naskah), mahasiswa seni rupa yang terlihat berantakan karena dikejar deadline untuk karyanya, atau bahkan mahasiswa tari sendiri yang menari nari tanpa musik dan menutup matanya.

Di pertengahan semester juga mulai banyak pertanyaan dari teman-temanku di kampus lain “Kuliah jurusan tari hanya menari saja di kampusnya?” Dengan tegas aku jawab “tidak.” Di jurusan seni apapun itu kita tetap ada mata kuliah bahasa, pengetahuan umum, juga hal-hal yang menunjang untuk fakultasnya, misal aku di Fakultas seni pertunjukan yang mencakup seni tari, seni teater dan seni karawitan, selain fokus pada jurusan yang diambil, kami juga belajar mengenai tata pentas, sejarah, manajemen produksi seni dan hal lainnya. Pertanyaan berikutnya adalah “Setelah lulus nanti bekerja dimana?” Jika pemikirannya kerja adalah mendapatkan gaji, maka kami para mahasiswa seni sudah lebih dulu bekerja sebelum lulus kuliah.

Untuk jurusan tari sendiri, hampir seluruh mahasiswanya terkenal dengan kemampuan menarinya yang baik, sehingga hampir setiap sabtu dan minggu mengisi acara baik itu menari di acara pernikahan atau event event besar dan semua itu mendapatkan penghasilan yang lumayan cukup untuk membayar sewa kontrakan juga makan sehari-hari. Belajar mandiri sebelum lulus kuliah, dan aku pribadi berpikiran untuk tidak menjadi pekerja setelah lulus nanti, tapi bisa membuka lowongan pekerjaan.

Syukur luar biasa itu terwujud, kini aku punya sebuah Sanggar Tari milik pribadi dengan 2 cabang lokasi, aku membuka lowongan mengajar di sanggarku untuk para adik kelas di kampusku dulu.

Bisa berbagi rezeki dengan orang lain itu membahagiakan bukan? “Lalu apakah ada kegiatan di luar kampus?” jawabannya banyak sekali dan semuanya menyenangkan. Sebut salah satunya bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis bahkan juga dibayar besar.

Tak jarang kampus seni ini mendapat undangan untuk tampil di luare negeri hingga menginap disana beberapa hari. Tapi tentu tidak semua mahasiswa ikut, akan ada beberapa mahasiswa terbaik yang dipilih oleh ketua jurusan untuk ikut serta dalam event ini. Ada juga kegiatan tahunan khusus untruk jurusan tari “Dialog Tari” ini salah satu hal yang sangat menarik, karena pada acara ini kami mengundang perwakilan mahasiswa dari seluruh kampus seni di Indonesia, yaitu ada Institut Seni Indonesia Denpasar (ISI Denpasar), ISI Padang Panjang, ISI Surakarta, ISI Yogyakarta juga IKJ untul berdiskusi mengenai tema yang diangkat saat itu.

Pesan terakhir jika kamu punya keinginan untuk melanjutkan kuliah di bidang seni adalah perjelas tujuan, juga jangan patah semangat, karena menjadi mahasiswa seni harus memiliki semangat yang tinggi untuk terus belajar banyak hal, termasuk pemahaman akan seni yang sangat dalam,  akan banyak rintangan saat menjalaninya entah itu jadwal tidur yang berantakan karena sibuk mengerjakan tugas kuliah, latihan untuk mengisi acara, atau pergi antar kota untuk mengisi acara.

Lelah tapi sangat menyenangkan. Kembali lagi pada topik di atas yang terpenting itu selamat raganya dan bahagia jiwanya. Jangan memaksakan diri untuk menjadi peran yang dipilihkan orangtua. Setiap jiwa berhak atas pengambilan keputusan untuk hidupnya, juga wajib bertanggungjawab dengan apa yang telah ia putuskan. Tetap semangat ! Jadilah pribadi yang bersemangat untuk terus memperbaiki diri.   

Salam, Mantan mahasiswa ISBI yang rindu almamaternyaLinda Herlianti S.Sn