Category: kurikulum pendidikan

  • Kenali STEM dan Pengaruhnya Dalam Pendidikan

    Kenali STEM dan Pengaruhnya Dalam Pendidikan

    Kenali STEM dan Pengaruhnya Dalam Dunia PendidikanPernah dengar pembelajaran STEM? Atau hanya sekadar membaca? Atau sudah teraplikasi mungkin?. STEM  yang merupakan akronim dari Science, Technology, Engeneering and Mathematic bukan hal baru untuk dibahas kali ini. Namun beberapa tahun belakang ini STEM menjadi pembelajaran trending yang dibahas pada dunia pendidikan, khususnya Indonesia. Terlebih banyaknya mahasiswa, Guru maupun Dosen gencar melakukan sumbangsih terhadap dunia pendidikan melalui bentuk penelitian. Nah, Apa itu STEM dan Bagaimana Pengaruhnya dalam dunia pendidikan akan kita bahas satu persatu dalam artikel kali ini. Kenali STEM dan pengaruhnya dalam dunia pendidikan.

    Apa itu STEM? Kenali STEM, yuk

    Beberapa dari kita mungkin masih awam atau bisa jadi sudah cukup paham terkait pembelajaran yang satu ini. Kalau bertanya luar negeri, pembelajaran berbasis STEM ini sudah tidak baru lagi untuk jadi pokok pembahasan, mungkin saja mereka akan santai menjawab dengan cukup menyodorkan beberapa data dari hasil penelitian. Sebaliknya, di Indonesia baru-baru ini menjadi ternding topik yang  menarik untuk di perbincangkan dalam kurikulum pendidikan, terlebih dalam hal penelitian. Tak jarang  juga loh, banyak yang memodifikasi STEM dengan menambah/ memasukkan satu displin ilmu dalam pembelajaran tersebut seperti STEAM (Science, Technology, Engeneering, Art, and Mathematics), STEM-A (Science, Technology, Engeneering, Mathematics- Animation), hal tersebut menjadi suatu yang cukup menarik bukan untuk dikembangkan.

    STEM (Science, Technology, Engeneering and Mathematic) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggabungkan 4 aspek atau disiplin ilmu berupa sains, teknologi, rekayasa dan matematika dalam satu pokok bahasan.

    Science (Sains)

    Science (Sains) : mewakili pengetahuan yang terkait dengan hukum dan konsep-konsep yang berlaku di alam, seperti pengaitannya dalam suatu pembelajaran dengan menggunakan konsep Fisika, Biologi dan Kimia.

    Technology (Teknologi)

    Technology (Teknologi) : berkaitan dengan keterampilan penggunaan alat yang digunakan untuk memudahkan pembelajaran. Misalnya dalam pembelajaran Matematika, kita akan dimudahka  mengukur besar sudut jika terampil dalam menggunakan alat berupa Klinometer, tidak hanya itu keterampilan dalam penggunaan aplikasi seperti SPSS, Geogebra juga termasuk bagian dari pengaplikasian teknlogi.

    Engeneering (Rekayasa)

    Engeneering (Rekayasa) : Hal ini terkait bagaimana mendesain suatu pemecahan masalah menjadi suatu prosedur yang sistematis dalam menyelesaikan suatu pemecahan masalah. Seperti merancang gedung tinggi dengan menggunakan konsep pola bilangan.

    Mathematics (Matematika)

    Mathematics (Matematika) : tentang ilmu yang menghubungkan antara angka, besaran dan ruang yang membutuhkan argumen logis. Seperti bagaimana menyelesaikan suatu masalah berdasarkan perhitungan matematis dan menyimpulkan penyelesaian dari permasalahan tersebut.

    Dari 4 disiplin ilmu tersebut, begitulah sekiranya gambaran dari pembelajaran STEM ini dan biasanya pembelajaran ini sering di kombinasikan dengan pembelajaran kooperatif seperti pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) dan Problem Based Learning. pendekatan STEM memberikan cara baru dalam kurikulum pembelajaran di Negara kita. STEM tidak hanya sekedar pembelajaran yang menuntut guru untuk melakukan banyak hal seperti memberikan materi atau  menjelaskan materi, tapi  siswa dituntut harus turut aktif, kreatif, dan berinovatif  untuk terpenuhinya pencapaian dalam pembelajaran. Walaupun  hal melibatkan peserta didik bukanlah hal yang tidak biasa, yang mungkin saja sudah di terapkan dalam model pembelajaran lain, tapi kali ini STEM berbeda. dimana tindak nyata yang dilakukan siswa memberikan effect yang tidak hanya mempengaruhi pada peserta didik maupun pendidika dalam pembelajarannya tapi juga dalam kehidupan sehari-harinya. Kelebihan pembelajaran STEM ini adalah peserta didik akan  lebih luas untuk berekplorasi dan bereksperiment baik dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan nyata. Menarik bukan.

    Pengaruh STEM dalam Dunia Pendidikan

    STEM yang pertama kali di usung oleh negara adidaya, Amerika Serikat ini, menjadi suatu negara yang berhasil dalam mempeloporkan STEM hingga diadopsi oleh beberapa negara di Dunia. Seperti Inggris, Finlandia, Tiongkok, Malaysia, Vietnam , Turki dan termasuk Indonesia yang turut menjadi Negara Tiri yang mengadopsi STEM dalam kurikulumnya. Aplikasi STEM di negara maju sudah lebih di akui sebagai bentuk pembelajaran yang sangat mempengaruhi. Beberapa penelitian yang dilakukan terhadap pembelajaran ini memberikan kesimpulan. Baik dari segi penerapan, pengembangan, pengaruh serta menunjukan kevalidan yang cukup baik dalam implementasinya. Namun, hanya baru beberapa tahun belakangan ini pembelajaran STEM gencar di bicarakan di Indonesia.

    Kabar baiknya, pemerintah melalui Kemendikbud sudah meng-Apply pembelajaran STEM dalam dunia Kurikulum pendidikan di negara kita. Tapi sayang sekali, implementasinya masih belum tersebar merata. Hanya ada beberapa sekolah yang menerapkan, seperti sekolah-sekolah bertaraf tinggi internasional maupun yang terlihat akreditasinya. Mungkin ada beberapa alasan mendasar terkait kurangnya implementasi STEM ini. Pertama, dari segi fasilitas yang masih kurang dan beberapa guru yang masih kurang terlatih terhadap model pembelajaran STEM ini.

    References : Torlakson, Innovate: A Blueprint fot Science, Technology, Engineering, and Mathematics in California Public Education.

  • Kurikulum Pendidikan Kedokteran tentang Sel Darah Merah

    Kurikulum Pendidikan Kedokteran Tentang Sel Darah Merah

    Sel Darah Manusia 

     Sel Darah Manusia Sel darah digolongkan ke dalam dua jenis. Sel darah merah dan sel darah putih. 
    Sel darah merah berfungsi untuk membawa dari sari makanan ke seluruh tubuh. Sel darah putih berfungsi untuk mencegah timbulnya penyakit. 
     Kurikulum pendidikan sekolah dasar telah membahas sel darah manusia ini. Dengan demikian diharapkan siswa-siswi sekolah dasar mengenal pengetahuan tentang sel darah. 
    Dan selanjutnya bisa menjaga tubuh supaya tidak terjadi apa-apa dengan darah yang bisa membahayakan. Untuk mencegah kematian yang tidak diharapkan. Menjaga kesehatan darah perlu dilakukan sejak dini. 
    Sayur-sayuran yang dikonsumsi mengandung vitamin A dan sejenisnya. Sedangkan buah-buahan mengandung vitamin C seperti buah jeruk. Kacang hijau mengandung vitamin B. 
    Sementara daging dan ikan mengandung protein.  Air minum mengandung mineral. Pendidikan sekolah dasar memberi contoh transfusi darah yang mengeluarkan biaya besar. 
    Perlu hati-hati dalam makan dan minum agar tidak ada masalah kesehatan seperti penyakit akibat kekurangan darah. Wajah pucat dan lesi adalah ciri-ciri tubuh kekurangan darah. 
    Sementara badan lemah juga ada hubungannya dengan gejala penyakit kekurangan darah. 
    Ditulis oleh :  I Wayan Budiartawan Staf redaksi majalah Elektron ITB, 1988-1992
  • Mungkinkah E-Sport Masuk Kurikulum Pendidikan?

    Mungkinkah E-Sport Masuk Kurikulum Pendidikan?



    Mungkinkah E-Sport Masuk Kurikulum Pendidikan? – Pendidikan merupakan hak-hak dasar yang harus diberikan Negara kepada segenap warganya, terkhususnya pendidikan diberikan kepada generasi muda sebagai generasi penentu nasib bangsa dimasa yang akan datang.
    Secara garis besar konsep pendidikan  yang ada di Negara ini terbuat dan tersusun  kedalam Kurikulum,  tercatat bahwa kurikulum pendidikan yang ada di Indonesia telah mengalami pergantian dari tahun ke tahun, di tahun 90-an konsep pendidikan di tanah air pernah menganut sistem pendididikan  Cara Belajar Siwa Aktif  (CBSA), kemudian ditahun 2006 sempat memakai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2006) terus kemudian berubah  menjadi Kurikulum  Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2013) yang pada saat itu dicabut oleh Menteri Pendidikan Anies Baswedan.
    Silih bergantinya konsep kurikulum  dunia pendidikan yang  telah dianut  sedikit banyak telah merubah wajah pendidikan di Negara ini, berdasarkan data dari World Economy Forum di tahun 2017 peringkat kuliatas pendidikan Indonesia berada di urutan 65 dari 130 negara.
    Saat ini perkembangan dunia game  telah berkembang dengan pesatnya, yang dahulunya game hanya permainan yang dimainkan untuk mengisi waktu kini telah bertarnsformasi menjadi permainan yang diperlombahkan hingga ke tingkat dunia dengan mayoritas pemain atau penikmatnya (player) adalah pemuda yang berasal dari kalangan pelajar yang masih menempu proses pendidikan.
    Suatu hal yang menarik sebagaimana penulis  kutip dari portal berita Online yang menyatakan bahwa Kementrian Pemuda Dan Olahraga (Kemenpora)  mendukung ketika  eSport masuk kedalam kurikulum pendidikan bahkan Kemenpora  bersedia  mengangarkan dana sebesar 50 Miliyar untuk hal tersebut.
    Di berbagai  Negara lembaga pendidikan sudah memberikan tempat tersendiri bagi masuknya eSport kedalam ranah pendidikannya mislanya Universitas Robert Marris yang menawarkan beasiswa kepada para atlit eSport berprestasi bahkan Universitas California (UC) salah satu Universitas bergensi di Amerika Serikat sampai-sampai  memiliki arena eSport diarea kampusnya.
    Bahkan di Negara kita sendiri terdapat beberapa sekolah yang memiliki ekskul yang berfokus pada dunia game.
    Lantas yang menjadi pertanyaan terbesar ialah Mungkinkah Esport Akan  Masuk Kedalam Kurikulum Pendidikan Ditanah Air? Sebelum  menjawab pertanyaan tersebut patut pula diingat bahwa kurikulum pendididikan merupakan konsep pendidikan yang akan berlaku secara umum dan bukan hanya berlaku untuk satu atau beberapa lembaga pendidikan saja.
    Bisa dibayangkan lembaga pendidikan yang ada di Indonesia mulai dari Sabang sampai  Merauke  terdiri dari beragam sekolah dengan tingkat kemampuan dan ketrampilan muridnya yang berbeda (Heterogen), takutnya ketika eSport tersebut dimasukan maka akan ada sekolah yang tidak mampu untuk mejalangkannya
    Selanjutnya ketika eSport masuk kedalam kurikulum pendidikan maka mau tidak mau setiap sekolah harus memiliki tenaga pendidik yang mampu memahami betul seluk beluk eSport,  dan ketika eSport sudah menjadi kurikulum maka dibutuhkan anggaran yang lebih besar pula dalam dunia pendidikan.
    Belum lagi dalam dunia eSport sendiri tidak memiliki game yang pasti dan akan tetap dipertandingkan hingga ke tingkat Internasional, selama ini pergelaran tournament eSport  mengikuti game yang saat ini peminatnya banyak itu berarti game yang ada di dunia eSport akan berubah ubah tiap saat  sesuai dengan banyak sedikit peminatnya. Dan menjadi pertanyaan pula bagaimana nantinya konsep kurikulum pendidikan dengan eSport mampu mengatasi dinamisasi seperti ini.?
    Harus diakui dunia eSport Indonesia telah menjadi industry yang banyak mendudkung perekonomian Negara ini, hal tersebut dibenarakan oleh Badan ekonomi kreatif yang menyatakan bahwa industry eSport Indonesia menempati  peringkat ke 16 didunia pada 2017 silam .
    Bagi pandangan penulis  tersendiri ketika saat ini  eSport masuk kedalam kurikulum pendidikan masih kurang tepat dikarenakan sejauh ini dunia pendidikan negeri ini sangat kekurangan Sumber daya manusia ( Human Resource Defisit) belum lagi ditambah dengan sarana dan prasarana yang kurang memadai apalagi kertika eSport  nantinya akan masuk kedalam kurikulum.
    Namun on the otherside ketika permalasahan kekurangan Sumber daya manusia ( Human Resource Defisit)  dan pemasalahan anggrang bisa diatasi pemerintah dengan bqaik  silahkan pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kementrian Pemuda dan Olahraga untuk  merangcang konsep eSport yang nantinya akan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan.