Tag: Opini

  • Tokoh Pendidikan Inspiratif Dunia Hingga Kini

    Tokoh Pendidikan Inspiratif Dunia Hingga Kini

    Tokoh Pendidikan Inspiratif Dunia Hingga Kini – Sobat Shalaazz, peran penting dalam pendidikan adalah upaya sadar dari dalam diri setiap individu. Upaya sadar tersebut diharapkan mampu untuk mendongkrak tingkat mobilitas kesejahteraan masyarakat.

    Oleh karena itu, pendidikan sebagai akar penompang suatu bangsa yang dapat menjadikan sumber daya manusia menjadi berkualitas. Sehingga perlu adanya saling kerjasama pemerintah dengan pendidik. Pemerintah dan pendidik pastinya memiliki tujuan yang sama untuk memajukan integritas pendidikan bagi Bangsa dan Negara.

    Dibalik itu pula ada peran dari tokoh-tokoh terdahulu yang telah memberikan efek dan dampak kemanjuan pendidikan pada jaman sekarang. Namun, apakah kalian tahu siapa saja tokoh Inpiratif yang juga berperan dalam pembangunan pendidikan dunia?

    Selain yang kita tahu Albert Einstein seoarang ilmuwan fisika teoritis yang telah memberikan ilmunya dalam pengembangan pendidikan bidang fisika, ternyata adapula 5 tokoh yang berperan dalam bidang berbeda untuk memajukan pendidikan, salah satunya ada tokoh inspiratif muslimah. Berikut yang terangkum dalam lima tokoh inspiratif tersebut:

    Tokoh Pendidikan Inspiratif Dunia Selain Albert Einstein

    Ibnu Sina

    Ibnu Sina yang memiliki nama lengkap Ali Husain Ibnu Abdilla Ibn Sina salah satu tokoh islam yang berperan dalam dunia pendidikan. Ia memiliki kemampuan yang cermelang sehingga semua pengetahuan ia menguasai, salah satunya Filsafat dan ilmu kedokteran. Ibnu Sina juga telah menuangkan kepintarannya memalalui buku berjudul “Al-Majmu (Compere Dim, Ihktisar)” yang memuat berbagai ilmu pengetahuan. Buku selanjutnya yang tak kalah cermelangnya dengan buku karya Ibnu Sina yang lain yaitu berjudul “Al-Qanun fi ath-Thibb” (Canon Of Medicine, Konstitusi ilmu Kedokteran).

    Al Ghazali

    Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali Ath-Thusi Asy-Syafi’i atau dikenal dengan nama Al Ghazali, beliau lahir di Thus 1058/ 450 H. Ketaatannya terhadap agama Islam yang membawanya menjadi seoarang ulama, ahli pikir, dan ahli filsafat islam. Banyak memberikan pemikiran-pemikirannya tentang filsafat islam untuk perkembangan manusia pada jamannya. Tidak hanya itu saja Al Ghazai juga menjadi teolog, filsif, dan sufi terbesar dalam dalam islam.

    Ibnu Qayyim

    Muhammad bin Abu Bakar bin Said bin Hariz Azzaril atau yang dikelan dengan nama Ibnu Qayyim merupakan salah satu ilmuwan muslim yang berperan dalam bidang pendidikan. Ketetarikan Ibnu Qayyim terhadap bidang sastra dan bahasa membu  

    atnya menjadi seorang penulis yang berbakat. Oleh karena itu, kedalaman ilmu dan kemampuan tata bahasanya tercermin dalam setiap tulisannya. Tidak hanya itu saja Ibnu Qayyim juga seorang pendidik yang mengajar di perguruan tinggi Aljauziyah milik ayahnya. Kemampuan Ibnu Qayyim inilah yang membawanya menajdi Filsof dan Pendidik yang cemelang.

    Baca juga: [Tokoh] Pak Habibie Sang Ahli Pesawat


    John Locke

    John Locke lahir pada tanggal 28 Agustus tahun 1632 di Wrington Somerset. John Locke merupakan seorang filsuf dari Inggris yang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Ketertarikan John Lock terhadap ilmu pengetahuan mengantarkannya menjadi sarjana muda. Berkat ketertarikan itulah John Locke juga terpilih menjadi salah satu anggota Royal Society. Meskipun ketertarikannya terhadap ilmu pengetahuan John Locke lebih memilih mengembangkan pikirannya terhadap masalah kurikulum dalam pendidikan. Menurutnya, kurikulum yang diterapkan dalam sistem pendidikan perlu memfokuskan pada kecerdasaan individual, kemampuan, serta keistimewaan anak agar mereka juga dapat memahami dan menguasai pengetahuan secara utuh.

    John Dewey

    Sama halnya dengan John Locke, John Dewey yang lahir pada tanggal 20 Oktober 1859 M di Burlington Amerika memiliki ketertarikan pada bidang ilmu pengetahuan. Ketertarikannya itulah yang membawa John Dewey menjadi seorang guru pada tahun 1879.

    Namun tidak cukup lama ia menjadi seorang guru, ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya sehingga berkat kecerdasannya di tahun 1884 John Dewey mendapat gelar doctor filsafat.

    Gelar menjadi doctor filsafat saat usia muda membakar semangatnya sehingga ia diterima mejadi dosen kemudian berlanjut menjadi asisten profesor di Michingan.

    Dari pengelamannya tersebut John Dewey juga memimpin bidang Paedagogik dan mendirikan sekolah percobaan. Ia juga menerapkan konsep Arc Reflex di Psikologi kritik terhadap konsep Psikologi standar dan dasar dari semua pekerjaan serta menerapkan pendidikan progresif alam dan manusia perilaku pada buku demokrasi dan pendidikan.

    Sumber:
    Hadi, Saiful._____. 125 Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah. Jakarta: Insan Cermelang.
    http://majalah.stfi.ac.id/ibnu-sina
    https://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Hamid_Muhammad_Al_Ghazali
    https://id-wikipedia.org/wiki/johndewey http://studiislamfarmasi.blogspot.com/2016/05/tokoh-tokoh-islam.html
    Murtiningsih, Wahyu. 2014. Biografi Para Ilmuwan Muslim. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Mandiri.
    www.gomuslim.co.id/read/Khazanah/2017/07/4678/html
    www.pendidikandemokrasibyfirdaus.blogspot.com/2016/12/biografi.john-dewey

  • Peran serta manfaat  Komputer Bagi Pendidikan Anak  Lengkap

    Peran serta manfaat Komputer Bagi Pendidikan Anak Lengkap

    Peran Komputer Bagi Pendidikan Anak – Halo sobat Shalaazz, ada awalnya komputer dititikberatkan pada proses pengolahan data, tetapi karena teknologi yang sangat pesat, saat ini teknologi komputer sudah menjadi sarana informasi dan pendidikan khususnya teknologi internet.  

    Dalam dunia pendidikan, komputer digunakan sebagai meda dalam proses belajar mengajar. Baik itu untuk guru maupun siswa. Digunakan sebagai alat bantu dalam proses belajar. Setiap alat pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan. Termasuk alat bantu dalam belajar. Selain itu komputer mempunyai kenggulan dalam hal ineraksi.

    Menumbuhkan minat belajar mandiri serta dapat disesauikan dengan kebutuhan mengajar kepada anak. Berinteraksi antara manusia dengan komputer belum dapat tergantikan. Selain itu masih lemahnya kemauan belajar.  

    Komputer berfungsi untuk alat uji yang mempunyai  keunggulan dalam keobyektifan, ketepatan dan kecepatan dalam penghitungan tetapi masih belum dapat menilai soal-soal essai, pendapat dan hal yang terkait dengan moral dan etika.  

    Yang terakhir, sebagai media alat peraga, komputer mempunyai kelebihan dapat memperagakan percobaan tanpa adanya resiko, tetapi membutuhkan waktu dalam pengembangannya.Dalam pmemperkenalkan komputer ke anak, cobalah orang tua atau guru dapat memahami perkembangan Kemudian usia 2-7 tahun anak mulai belajar menggunakan Bahasa, angka dan simbolsimbol tertentu.

    Baca juga: Apa sih Pengertian Pendidikan Anak Usia dini (PAUD)?

    Pada usia 7-12 tahun anak mulai dapat berpikir logis, terutama yang berhubungan dengan obyek yang tampak langsung olehnya. Hingga saat ini, diperlukan perhatikan yang lebih dari ornag tua maupun guru.

    Bagaimana cara memperkenalkan komputer kepada anak-anak .  Software “Edutainment” mempunyai kemampuan  dalam menumbuhkan serta mengembnagkan kreativitas pad anak-anak, juga melatih saraf pada anak. Salah satu contohnya ialah permainan kombinasi  yang bisa menyusun benda-benda ataupun gambar yang di dukung perangkat alat bantu lainnya.  

    Selain program aplikasi (software), dunia web semakin berarti bagi anak-anak. Internet memungkinkan anak mengambil dan mengolah ilmu pengetahuan ataupun informasi Iranian language situs-situs principle dikunjunginya tanpa adanya batasan jarak dan waktu.

    Di samping itu masih ADA manfaat lain principle didapat Iranian language web, misalnya surat menyurat (E-mail), berbincang (chatting), mengambil dan menyimpan informasi (download).  

    Untuk perkembangan pendidikan selanjutnya teknologi “Teleconference” (Konferensi interaktif secara on line dari jarak jauh) dirasakan sudah pantas di coba dan dikembangkan, karena dapat menghemat waktu, tenaga pengajar, kapasitas ruang belajar serta tidak mengenal letak geografis.  

  • Pendidikan Wanita, Masihkah Ada Diskriminasi?

    Pendidikan Wanita, Masihkah Ada Diskriminasi?

    Pendidikan Wanita, Masihkah Ada Diskriminasi? – Halo sobat Shalaazz, Seiring perkembangan zaman, pendidikan tetap menjadi tolok ukur masyarakat terhadap sikap dan moral. Dalam hal ini banyak sering terdengar titah masyarakat awam yang mengatakan “apa sih gunanya pendidikan untuk wanita?”

    “Buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi tapi pada akhirnya menjadi sarjana dapur?” Kita (terutama perempuan) pasti pernah dengar ocehan panas yang mungkin keluar dari mulut tetangga, mulut saudara bahkan mulut keluarga yang mungkin masih kurang paham terhadap pentingnya dunia pendidikan bagi perempuan.  

    Oke. sekarang di sini saya akan memaparkan sedikit ilmu yang telah saya baca di beberapa media tentang pendidikan wanita. Sobat shalaazz tentu tahu kan tentang pahlawan wanita di Indonesia yang sangat berperan dalam dunia pendidikan khususnya perempuan.  That’s right kalau kalian tahu. Berarti kalian nggak buta sejarah.

    Nah buat yang lupa saya ingatkan ya. Ini pahlawan wanita yang menjadi pelopor tentang pendidikan wanita yaitu Raden Adjeng Kartini,Raden Dewi Sartika,Martha Christina Tiahahu, Hj. Fatmawati Soekarno dan masih ada beberapa tokoh wanita lainnya.   Pernah nggak kita mikir ngapain coba perempuan itu dibela-belain sampai ke pendidikannya.

    Baca Juga: Siapakah Pahlawan Pendidikan Wanita Sebelum Kartini?

    Tentu sebagian kalian pernah nyadarkan. It’s oke. Untuk yang belum sadar sini saya sadarkan (mbaah)   Nah jadi pendidikan itu nggak berlaku hanya untuk satu gender aja. Pendidikan itu bebas dan setiap orang baik laki-laki, perempuan maupun setengahnya dari itu, berhak kok menempuh pendidikan nggak ada larangan.

    Sebab undang-undang pemerintahan dan agama menyetujui itu. termasuk perihal pendidikan wanita yang mungkin masih jadi tranding topik dikalangan masyarakat awam. Perlu kita tau bahwa wanita dengan pendidikan tinggi itu agar bisa mampu disejajarkan. 

    Maksudnya pengetahuannya mampu disejajarkan dengan golongan adam. Jadi wanita juga butuh pengetahuan untuk bisa bergerak bebas mengutarakan ide dan pendapatnya diluar. Jadi nggak didapur terus. Kalau dilihat dari segi sosial , ada beberapa kasus yang saya lihat, bahwa wanita yang berpendidikan rendah cenderung mendapatkan perlakuan yang kurang wajar.   

    Seperti penipuan, penindasan, kekerasan dalam rumah tangga, dan masih banyak lagi. Dalam hal ini wanita merasa terintimidasi. Setelah dilihat dari segi pendidikan ternyata sebagian wanita yang mendapat perlakuan yang semena-mena, rata-rata memiliki pendidikan rendah bahkan ada yang nggak sekolah. Itu tentu sangat berpengaruh terhadap dunia pendidikan khusunya bagi perempuan. Secara tidak langsung, ternyata masih ada diskriminasi bagi perempuan.  

    Nah jadi nggak salah kan wanita punya pendidikan tinggi supaya bisa lebih terbuka tentang kawasan dunia luar dan nggak gitu-gitu aja. Kalau kita lihat perjuangan pahlawan yang mempelopori wanita untuk berpendidikan kita bisa berkaca dari ibunya wanita indonesia (Raden Ajeng Kartini) yang bersih keras untuk mempelopori emansipasi wanita.   

    Beliau merupakan salah satu idola yang sangat dikagumi bangsa indonesia maupun negara tetangga karena kegigihannya dalam membela wanita. Lewat surat-surat yang beliau buat yang isinya tentang kesejajaran wanita dan pria dalam hal pendidikan. karena banyak dari masyarakat kita terutama yang awam terhadap pendidikan selalu menyudutkan wanita.   

    Dimana ada yang mengatakan bahwa pria harus lebih tinggi pendidikannya dibandingkan wanita. Sehingga pada zaman dulu wanita dilarang untuk sekolah bahkan sekalipun membaca buku. Nah dari sini lah Ibu R.A kartini mulai memperjuangkan wanita untuk bisa tetap sama-sama menempuh ilmu pendidikan.  

    Namun hingga masa ini pun masih ada masyarakat yang sangat kekeh untuk tidak memberikan pendidikan tinggi kepada anak perempuannya. Entah karena masa kendala biaya atau seperti apa, itu tergantung dari masing-masing pribadi orang tua. Kalau karena masalah biaya tentu pemerintah sudah menyediakan fasilitas yang cukup untuk menempuh pendidikan.  

    Kalau menurut saya untuk menghilangkan rasa-rasa yang mungkin masih tersisa pada zaman dahulu, kita yang mungkin merasa paham tentang pentingnya pendidikan wanita bisa melakukan hal-hal untuk menggalakkan kembali surat-surat kartini yang kini mulai sunyi untuk di perbincangkan dimasyarakat umum. Atau dengan sosialisasi mungkin, baik itu dengan lisan maupun tulisan.  

    Kita perlu meyakini kepada mereka bahwa wanita punya hak untuk menempuh pendidikan. Jangan biarkan mereka terkekang dan menyesal diakhir kemudian. Karena kita perlu melahirkan kartini-kartini baru untuk memperjuangkan emansipasi wanita yang kini masih tertindas dalam pendidikan.

    Dan seharusnya pria perlu membuka lebar pintu kedatangan mereka, dengan begitu pemikiran dunia jauh lebih luas karena di ikutsertakan dengan pendapat-pendapat wanita. Mungkin sekian artikel dari saya semoga memberi manfaat dan jangan lupa komentarnya yah.  Jangan lupa juga ajak temen-temen kalian, kerabat kalian, saudara/dingsanak kalian untuk baca artikel tentang pendidikan, supaya pemikiran kita bisa sama-sama lebih luas dan terbuka serta banyak menambah perbendaharaan pengetahuan untuk tau lebih banyak lagi tentang dunia pendidikan.

    Oh iya. baca artikel pendidikan itu bisa di shalaazz.com (Blognya Pendidikan). Blog yang disajikan Khusus tentang dunia pendidikan.   Oke sekian dari saya, sampai jumpa diartikel selanjutnya yah.

  • Daruratnya Pendidikan di Indonesia

    Daruratnya Pendidikan di Indonesia

    Daruratnya Pendidikan di Indonesia – Halo sobat Shalaazz, seperti yang kita lihat pendidikan di Indonesia semakin hari semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas tenaga pengajar, sarana dan prasarana serta murid-muridnya.   

    Sebagian guru ada yang tidak kompeten dalam menjalankan tugasnya, banyak orang yang menjadi guru bukan dari keinginannya melainkan tidak diterima di jurusan lain, kekurangan dana, ataupun sebagai pilihan akhir.   Kecuali guru yang memang menjadikan dirinya sebagai abdi negara yang berpengalaman dalam memberikan pelajaran.

    Selain itu juga, sarana dan prasarana di Indonesia juga semakin memburuk, terutama di daerah terbelakang.    Terbatasnya sarana dan prasarana serta sulitnya akses ke daerah tersebut, semakin membuat mereka tidak dapat menikmati pendidikan secara maksimal.   Berikut beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia yaitu:    

    1) Kualitas sarana yang rendah

     Untuk sarana fisik, sering kita jumpai disekolah ataupun perguruan tinggi yang gedungnya rusak, laboratorium tidak standar, penggunaan media belajar yang rendah, buku-buku di perpustakaan yang kurang lengkap, teknologi informasi yang kurang memadai, dan sebagainya.   Bahkan ada juga sebagian sekolah yang tidak memiliki bangunan sendiri, ruang laboratorium, dan perpustakaan.

    2) Kuliatas guru yang rendah

      Kualitas guru di Indonesia juga semakin memprihatinkan. Banyak guru di Indonesia yang belum profesional dalam menjalankan tugasnya.   Tak bisa dipungkiri, banyak di antara mereka memilih profesi sebagai guru hanya karena pilihan akhir, kekurangan dana ataupun tidak diterima di jurusan lain.

    Baca juga: Tujuan Berjuang Mencari Pendidikan Hakiki | Motivation Learning

    3) Prestasi siswa yang rendah

      Dengan sarana dan prasarana serta kualitas guru yang rendah, akan memberi dampak pada pencapaian prestasi para siswa.   Dalam skala Internasional menurut laporan Bank Dunia (Greaney, 1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation Achievement) di Asia Timur menunjukkan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah yaitu pada skor tes 51,7%.   Anak di Indonesia sudah terbiasa dengan menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda sehingga sulit untuk mengerjakan soal uraian yang memerlukan penalaran.  

    4) Biaya Pendidikan yang mahal

      Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi, terkadang menjadi pertimbangan ekonomi, terutama pada masyarakat yang tinggal di daerah terbelakang ataupun masyarakat kurang mampu, sehingga tak jarang pula, banyak orang tua yang mengeluh bahkan tidak menyekolahkan anaknya.  

    Mahalnya biaya pendidikan tidak terlepas dari kebijakan pemerintah, seperti munculnya BHMN (Badan Hukum Milik Negara), MBS (Manajemen Berbasis Sekolah).   Yang berakibat pada pemerataan pendidikan di Indonesia sehingga akan menghambat pengembangan Sumber Daya Masyarakat (SDM) secara keseluruhan.  

    5) Rendahnya Relevasi Pendidikan dengan kebutuhan

    Rendahnya relevansi ini dapat dilihat dari banyaknya angka pengangguran di Indonesia.   Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh BAPPENAS (1996), sejak tahun 1998 menunjukkan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU (25,47%), Diploma/SO (27,5%), Perguruan Tinggi (36,6%), sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan.  

    Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya, ada 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan.   Selain itu, masalah ketenagakerjaan juga dapat disebabkan oleh ketidakselarasan antara kurikulum yang kurang fungsional terhadap keterampilan di dunia kerja.    

    Solusi masalah Pendidikan di Indonesia

    Untuk mengatasi  masalah yang ada dalam dunia pendidikan ada beberapa solusi yang perlu kita tahu yaitu:  

    Pemerintah melakukan peninjauan kembali mengenai Kurikulum 2013.Selain hanya untuk kepentingan sesaat, pemerintah juga harus memerhatikan kepentingan orang banyak terutama guru, siswa, dan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.  

    Menambah mata pelajaran keagamaan dan pendidikan moral, agar siswa maupun mahasiswa dapat membentengi diri dari akhlak yang tercela, perilaku yang buruk, dan perbuatan yang melanggar norma dan hukum.   Selain itu juga, mata pelajaran TIK sebaiknya tidak dihapuskan, karena itu dapat menyebabkan negara kita ketinggalan informasi dan teknologi dengan negara lain.  

    Pemerintah harus sering mengadakan pelatihan pada seluruh guru di masing-masing bidang, agar pengetahuan  pengetahuan mereka semakin bertambah.   Terutama diisi dengan materi yang menarik, seperti cara mengajar agar siswa tidak mudah bosan dalam belajar.  

    Peran serta dalam pendidikan sangat penting dalam lingkungan keluarga. Oleh karena itu, waktu bersama keluarga sangat diperlukan. Tapi sekarang ini banyak sekolah yang menerapkan Full Day School, sehingga dapat mengurangi waktu yang penting bersama keluarga.  

    Pemerintah harus mengkaji ulang mata pelajaran yang diajarkan disekolah. Seharusnya pelajaran yang diajarkan lebih mengacu pada masa depan dan kebutuhan lapangan pekerjaan.

    Jangan sampai mata pelajaran yang menumpuk membuat pelajar merasa tertekan karena mereka dituntut untuk mampu menguasai seluruh mata pelajaran.   Padahal masing-masing pelajar mempunyai kelebihan dan keterampilan dalam pelajaran tertentu.   Demikianlah beberapa pemaparan yang dapat saya sampaikan dalam artikel ini tentang “Daruratnya Pendidikan di Indonesia” semoga dapat bermanfaat.  

    Mungkin dalam artikel ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu dimohonkan kepada para pembaca untuk memberikan saran atau kritik serta tambahan pada kolom komentar. Terima kasih.          

    Penulis: Erisya Rahma Dina

  • 4 Tips dan Trik Agar Konsisten  Dalam Belajar, Mau di Coba?

    4 Tips dan Trik Agar Konsisten Dalam Belajar, Mau di Coba?

    4 Tips dan Trik Agar Konsisten  Dalam Belajar, Mau di Coba? – Halo sobat Shalaazz, menurut KBBI Belajar adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh kecerdasan Ilmu Pengetahuan dengan berlatih berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Dengan kata lain Pengertian belajar dapat diartikan sebagai semua aktifitas diri yang dilakukan oleh seseorang, untuk meningkatkan kualitas, kecakapan, pengetahuan, keterampilan pemahaman, pengembangan daya pikir maupun kemampuan yang lain.  

    Kegiatan belajar ini bisa kita lakukan dimana saja, di sekolah, universitas, di tempat les, di rumah, di museum, di laboratorium, dll.   Pada  prakteknya banyak dari kita sangat kesulitan untuk konsisten dalam belajar, ketidak konsistenan ini bermula dari berbagai faktor, ada yang malas, lebih senang main, terpengaruh dengan teman untuk pergi shoping dan sebagainya .  

    Berikut ini akan dibahas beberapa Tips Konsisten dalam Belajar. 

    1. Miliki Motivasi yang Kuat

    Lebih bersemangat jika memiliki motivasi yang kuat, tuliskan keinginan-keinginan yang ingin di capai dalam buku diary atau menempelnya di dinding kamar, sehingga pada saat bangun tidur dan merasa malas untuk belajar dan bisa membayangkan kembali motivasi-motivasi apa saja yang ingin sobat Shalaazz capai.  

    2. Buat Jadwal yang Tepat

    Jadwal yang tepat akan membantu dalam belajar ataupun yang lain, jadwal belajar akan membantu untuk tetap konsisten dan kontinyu dalam belajar, sehingga meskipun melakukan aktifitas yang lain namun juga tidak meninggalkan waktu belajar.  

    3. Disiplin Dalam Belajar

    Sesudah membuat jadwal, sudah sepatutnya untuk disiplin terhadap apa yang sudah dijadwalkan, bisa memberikan punishment atau hukuman terhadap diri sendiri ketika ada jadwal belajar yang tidak lakukan misalkan tidak belajar di hari senin bisa memberi hukuman dengan sit up atau keliling rumah 5 kali dan sebagainya , dengan begitu akan merasa bertanggung jawab dan konsisten terhadap belajar.  

    4. Bangun Suasana yang Nyaman

    Selain tips-tips diatas untuk konsisten dalam belajar juga perlu membangun suasana yang nyaman dan enak menurut versi kamu, misalnya bisa belajar dibawah pohon yang hijau di waktu pagi ditemani secangkir susu atau teh dan beberapa jajanan, atau bisa belajar dengan mendengarkan musik favorit dan sebagainya. Demikian tips konsisten dalam belajar, semoga bermanfaat, 4 Tips dan Trik Agar Konsisten  Dalam Belajar, Mau di Coba?  

  • Dualisme Pendidikan  Di Ponpes Cipasung Tasikmalaya

    Dualisme Pendidikan Di Ponpes Cipasung Tasikmalaya

    Dualisme Pendidikan  Di Ponpes Cipasung Tasikmalaya – Halo sobat Shalaazz, Cipasung adalah sebuah Desa di Kabupaten Tasikmalaya, terdapat Yayasan yang menerapkan sistem pendidikan Formal & Informal. Sebut saja Pondok Pesantren Cipasung, Ponpes Cipasung menjadi potret sejarah perjuangan bidang dakwah & pendidikan.

    Sejak zaman VOC sampai sekarang zaman milenial, Cipasung tetap berdiri kokoh menjadi garda perjuangan melahirkan calon generasi pendidik yang berkompeten. Jenjang pendidikan yang terdapat disini mulai dari TK/RA, MI, MTs/SMP, SMA/SMK/MAN sampai Perguruan Tinggi (Institut & Sekolah Tinggi).   

    Sistem pendidikan di Ponpes Cipasung menerapkan sistem Boarding House, asrama disini sangat banyak, tempatnya terpisah antara asrama putra & putri. Sistem pendidikan Formal bersinergi dengan sistem Pondok Pesantren, jadi tidak heran kalau Cipasung menjadi daya tarik pelajar dari berbagai daerah untuk bisa menimba ilmu disini.   

    Setiap asrama menerapkan sistem yang berbeda-beda tergantung Pembina asrama yang bersangkutan, namun tidak keluar dari aturan Ponpes yang berlaku. Sedangkan di pendidikan formal, siswa diwajibkan untuk memakai seragam khas, yang kerudungnya dinamakan kerudung Tasawuf, semua siswi diwajibkan untuk berkerudung sedangkan siswa diwajibkan untuk memakai celana panjang & berpakaian sopan.   

    Baca juga: 5 TOP PONDOK PESANTREN MODERN DI INDONESIA

    Hal unik dari Desa ini adalah setiap dusun/gang terdapat Ponpes, hampir disetiap desa di Tasikmalaya terdapat Pondok Pesantren, maka tidak heran kalau Tasikmalaya disebut dengan Kota Santri. Suasana belajar di Cipasung sangat nyaman, selain masyarakatnya yang sangat ramah, aksesnya pun mudah dijangkau, biaya hidup & biaya pendidikan yang sangat terjangkau serta budayanya yang sangat religius.   

    Pemimpin Ponpes yang biasa disebut dengan kyai, mempunyai pandangan yang terbuka alias tidak kaku, beliau pernah mengatakan bahwa Ponpes Cipasung ini “Menerapkan sistem lama yang baik dan menambah sistem baru asal yang jauh lebih baik” jadi dengan dualisme pendidikan yang diterapkan di Ponpes Cipasung inilah yang akan melahirkan masa depan santri yang mampu membina umat sesuai dengan motonya.  

  • Sejarah dan Perkembangan Profesi Guru

    Sejarah dan Perkembangan Profesi Guru

    Sejarah dan Perkembangan Profesi Guru – Halo sobat Shalaazz, Guru merupakan pekerjaan tertua. Lebih dulu dibandingkan arsitek yang baru ada setelah manusia tidak lagi tinggal di gua. Atau, lebih juga dari insinyur metalurgi yang baru muncul pada masa manusia mengenal logam dan pengolahannya.

    Pekerjaan guru ada sejak manusia mampu berpikir dan mengenal ilmu pengetahuan. Sepanjang sejarah kehidupan manusia itu, guru selalu ada di tengah masyarakatnya. Ia mengajarkan berbagai ilmu dan pengetahuan untuk mempermudah manusia menjalankan kehidupannya. Atau kadang, hanya mengajarkan kebenaran.   

    Dalam lintasan sejarah Indonesia pekerjaan guru ternyata berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Mulai dari zaman kerajaan Hindu-Budha, kesultanan Islam hingga masa Reformasi. 

    Pada zaman dahulu, sebelum agama masuk Indonesia, seseorang yang ingin belajar harus mengunjungi seorang petapa.    Petapa itu mungkin saja yang telah meninggalkan takhta kerajaan karena sudah tua dan memperdalam masalah kerohanian. Petapa itulah yang disebut juga guru bagi muridnya yang menuntut ilmu di tempat tersebut.

    Biasanya para murid mengerjakan sawah ladang petapa untuk keperluan hidup sehari-hari. Pada masa kerajaan Budha atau Hindu di Indonesia orang belajar di Bihara. Biksu yang mengajar membaca serta menulis huruf sanskerta di Bihara tersebut disebut guru. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka bekerja di ladang.   

    Para siswa juga memberikan sedekah dari masyarakat untuk membantu kehidupan sehari- hari. Dalam agama Hindu, guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual atau kejiwaan murid-muridnya. Dalam agama Buddha, guru adalah orang yang memandu muridnya dalam jalan menuju kebenaran.

    Murid seorang guru memandang gurunya sebagai jelmaan Buddha atau Bodhisattva. Dalam agama Sikh, guru mempunyai makna yang mirip dengan agama Hindu dan Buddha, namun posisinya lebih penting lagi dikarenakan salah satu inti ajaran agama Sikh adalah kepercayaan terhadap ajaran sepuluh guru Sikh. Hanya ada sepuluh guru dalam agama Sikh.   

    Guru pertama, Guru Nanak Dev adalah pendiri agama ini. Orang India, Cina, Mesir, dan Israel menerima pengajaran dari guru yang merupakan seorang imam atau nabi. Oleh sebab itu, seorang guru sangat dihormati dan terkenal di masyarakat serta menganggap guru sebagai pembimbing untuk mendapat keselamatan dan dihormati bahkan lebih dari orang tua mereka.

    Pada masa ini guru berasal dari kasta Brahmana. Mereka mengajarkan segala hal yang berhubungan dengan agama dan kitab suci. Mereka mengajarkan filsafat, sastra, hukum, bela diri, dan lain sebagainya. Guru mendapatkan posisi yang terhormat di masyarakat.   Mereka statusnya lebih tinggi dari para raja dan bangsawan.

    Lebih tinggi pula dari para pengusaha. Kasta para guru ini memang lebih mulia dibandingkan kasta Ksatria dan kasta Waisya. Setelah agama Islam masuk di Indonesia orang belajar di Pesantren supaya dapat membaca Al-qur’an dan melakukan Shalat dengan benar. Ulama’ yang mengajar di Pesantren juga dinamakan guru.

    Para siswa biasanya tinggal di rumah ulama’ tersebut dan membantu bercocok tanam untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Pada masa itu, guru mengajarkan ilmu pengetahuannya di tempat-tempat tertentu.    Sudah dikenal pula lembaga-lembaga pendidikan. Sebagian besar lembaga pendidikan tersebut di berasrama.

    Ini adalah cikal bakal boarding school yang ada sekarang. Menurut keterangan I Tsing, seorang pelajar yang sempat belajar di kerajaan Sriwijaya, pendidikan di Nusantara sudah cukup maju. Bahkan, sistem pendidikan di kepulauan Nusantara dijadikan rujukan oleh negara kerajaan lainnya. Beberapa mahaguru pada saat itu dikenal dalam dunia pendidikan internasional. I Tsing menyebut Satyakirti, Dharmapala dan Djnanabhadra.

    Guru Zaman Kesultanan Islam Agama Islam masuk ke Indonesia dengan berbagai macam saluran.    Salah satunya adalah lewat jalur pendidikan dan dakwah. Di jalur pendidikan inilah para ulama mencetak para guru lewat serangkaian pendidikan di pesantren.

    Selain, pesantren ada lembaga pendidikan lain, yaitu mengaji di surau atau di langgar. Ilmu pengetahuan yang dipelajari di pesantren meliputi filsafat, tasawuf, bahasa, fikih, akhlak, aljabar, ilmu falak, dan lain sebagainya. Sedangkan, di surau biasanya hanya mempelajari bahasa, tajwid, fikih, dan akhlak.

    Baca juga: Bagaimanakah Menjadi Seorang Guru di Era Millenial?

    Pada masa kesultanan ini juga sudah dikenal guru dengan spesialisasinya. Ada guru fikih, Hadits, tasawuf, dan lain sebagainya. Model pendidikan pesantren ini juga menggunakan sistem sekolah berasrama dan juga menjadi cikal bakal boarding school saat ini.    Guru Zaman Penjajahan Eropa Pendidikan tradisional di kepulauan Nusantara terus berjalan, meski banyak raja-raja di Nusantara yang ditundukkan oleh Verenigde Oost Indische Compaqnie alias (VOC).

    Pemerintah kolonial baru peduli nasib pendidikan kaum bumiputra setelah diberlakukannya Politik Etika atau Politik Balas Budi. Kepedulian itu juga lebih dilandasi oleh kebutuhan Pemerintah Hindia-Belanda akan tenaga-tenaga profesional, seperti dokter, insinyur dan advokat. Jadi, bukan murni niat yang lurus untuk menyejahterakan kaum pribumi. Kebutuhan mendidik kaum profesional ini muncul setelah Pemerintah mengalkulasi alangkah mahalnya mendatangkan dokter, insinyur dan advokat dari Eropa.   

    Pendidikan pada masa Politik Etis dilakukan secara modern dan bergaya Eropa. Sekolah guru juga dibentuk untuk melahirkan guru-guru yang mampu mengawal sistem pendidikan kolonial. Ada HIK (Holandse Indische Kweekschool, atau sekolah guru bantu yang ada di semua Kabupaten) dan HKS (Hoogere Kweek School, atau sekolah guru atas yang ada di Jakarta, Medan, Bandung, dan Semarang.

    Sedangkan, Europese Kweek School (EKS, sebangsa Sekolah Guru Atas dengan dasar bahasa Belanda dengan maksud memberi ijazah untuk mengajar di sekolah Belanda, yang berbeda dengan HKS) yang hanya diperuntukkan bagi orang Belanda atau pribumi yang mahir sekali berbahasa Belanda ataupun orang Arab dan Tionghoa yang juga mahir sekali berbahasa Belanda, dan hanya ada satu di Surabaya.   

    Pada waktu itu, di EKS biasanya satu kelas ada dua puluh delapan orang, maka terdiri 20 orang Belanda, enam orang Arab dan Tionghoa, dan enam orang pribumi. Selain itu juga dikenal HCK atau Hollandsche Chineesche Kweekschool khusus untuk yang keturunan Tionghoa.

    Sistem pendidikan kolonial ini mulai mendapat lawan setelah kaum pergerakan nasional membangun sekolah-sekolah yang bernafaskan nasionalisme Indonesia.   

    Baca juga: Hari Guru: Pidato Lengkap Nadiem Makarim Kemendikbud

    Di antaranya adalah sekolah-sekolah Serikat Islam, sekolah-sekolah Muhammadiyah dan sekolah-sekolah kaum pergerakan lainnya. Begitu massif dan berpengaruhnya sekolah-sekolah ini membuat pemerintah kolonial berusaha ‘menertibkannya’. Akhirnya, pemerintah menerbitkan Ordonansi Sekolah Liar (Wilde Scholen Ordinantie).

    Guru-guru harus mendapatkan sertifikasi dari pemerintah kolonial. Ini berarti ancaman bagi guru dari sekolah-sekolah milik kaum pergerakan nasional. Penerbitan ordonansi ini ditolak oleh kaum pergerakan nasional.   

    Seluruh elemen pendidikan, persatuan pelajar hingga partai-partai politik nasionalis menentangnya. Kesatuan gerakan dan kuatnya isu pada masa itu berhasil mendobrak sistem kolonial sehingga pemerintah menarik kembali ordonansi yang telah diterbitkan. Sebuah kemenangan dalam sejarah pendidikan bahkan pergerakan pada masa itu.

    Kesadaran untuk bersatu inilah yang mengilhami berdirinya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.   

    Para pedagang Portugis dan Belanda yang datang di Indonesia umumnya beragama Kristen, selain berdagang mereka juga menyebarkan agama itu. Mempelajari agama Kristen, membaca dan menulis huruf latin.

    Para pendeta yang mengajarkan agama Kristen itu juga disebut guru. Untuk kepentingan penjajahannya Belanda memerlukan pegawai yang pandai menulis dan membaca huruf latin. Karena itu, mereka mendirikan sekolah dan mengajarkan ilmu pengetahuan yang tidak berkaitan dengan agama. Inilah awal mula sistem Pendidikan modern di Indonesia.   

    Pada zaman kemerdekaan Indonesia rakyat memperjuangkan pertahanan kemerdekaannya. Kaum guru Indonesia bertekad turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang diwujudkan dalam salah satu tujuan kelahiran PGRI yaitu : turut aktif mempersatukan kemerdekaan RI. Lahirnya guru berawal dari lahirnya PGRI.

    Baca juga: 5 Tips Menjadi Guru Kreatif dan Inovatif Era Milenial

    Dimana tepat 100 hari setelah proklamasi Kemerdekaan tepatnya pada tanggal 25 November 1945, PGRI dilahirkan. Setelah PGRI dilahirkan pada tanggal 23 s/d 25 November 1945 ke-1 di Surakarta, di gedung Somaharsana (pasar pon), Van De venter school (sekarang SMP N 3 Surakarta).   

    Pada saat itu kongres mendapat sambutan mitraliur Belanda dan serangan kapal terbang yang mengadakan operasi militer dengan sasaran gedung RRI Surakarta.

    Kelahiran PGRI sebagai wadah organisasi guru yang sedang berevolusi Kemerdekaan, merupakan manifestasi akan keinsafan dan rasa tanggung jawab kaum guru Indonesia dalam memenuhi kewajiban akan pengabdiannya serta partisipasinya kepada perjuangan menegakkan dan mengisi kemerdekaan RI.   

    Guru-guru sadar akan tugasnya bahwa pendidikan adalah sarana utama dalam pembangunan bangsa dan negara, mereka melaksanakan dwifungsi dalam kerjanya, yaitu : digaris belakang mendidik dan mengajar disekolah-sekolah biasa, sekolah peralihan, sekolah pengungsian.

    Di samping itu, mereka juga melakukan kerja sama dengan masyarakat mendirikan dapur umum dan mempersiapkan makanan untuk para pejuang di garis depan. Kecuali itu mereka menjadi pemimpin atau komandan barisan tentara : BKR, TKR, TRI/TNI, BARA , API, Hizbullah, Sabilillah, Pesindo, Laskar Rakyat, PMI, dan para pejuang lainnya.

    Penulis: Jrux Kuning

  • Pentingnya Pendidikan Nilai Agama dan Moral Bagi Anak

    Pentingnya Pendidikan Nilai Agama dan Moral Bagi Anak

    Pentingnya Pendidikan Nilai Agama dan Moral Bagi Anak – Pentingnya Nilai Agama dan Pendidikan Moral Bagi Anak Usia Dini – Masa kanak-kanak adalah masa keemasan. Dimana semua hal yang ditanamkan pada sang anak akan tertanam lebih kuat. Sebagai orangtua seharusnya memanfaatkan masa ini dalam mendidik generasi bangsa menjadi generasi yang bermoral dan beretika. Krisis moral yang dihadapi Indonesia bukanlah perkara sepele. Harus ada pembaharuan yang nyata. 

    Loka Karya (Workshop) parenting bagi para orangtua pemula sangat penting dalam meminimalisir krisis moral. Apalah guna negara yang kuat dan kokoh jika generasinya bobrok akan moral. Lihatlah lima tahun atau sepuluh tahun pasti akan terpuruk jua. Maka dari itu manfaatkan masa-masa dimana anak-anak lebih banyak menyerap ilmu yang diberikan kepada mereka. Yaitu masa anak usia dini.

    Dalam hal ini, penerapan harus dilakukan tidak hanya pada anak namun juga pada orangtua. Harus ada contoh konkret bagi si anak. Karena sejatinya anak usia dini lebih suka meniru daripada mendengarkan. 

    1.    Berbicara sopan kepada siapapun agar anak senantiasa menirunya.
    2.    Tidak berdebat di depan anak.
    3.    Menerapkan akhlak sehari-hari misalnya berdoa sebelum makan, memakai pakaian dimulai dari          sebelah kanan, dll.
    4.    Tidak menggunakan gadget secara dominan saat bersama anak.
    5.    Memperkenalkan permainan yang bisa meningkatkan sosialisasi anak.

    Dengan melakukan hal tersebut diharapkan dapat memberikan dampak yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

    Baca Juga: Rumah Belajar Bimbel Online Gratis Bagi Siswa


    Selain pendidikan formal, anak harus mendapatkan pendidikan agama seperti mengaji di TPQ. Tak hanya itu, anak harus dibiasakan mengaji di rumah. Dalam hal ini peran orangtua sangat dominan. Dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan baik sejak dini, maka tumbuh kembang anak akan baik pula. Penanaman perilaku yang terpuji seperti jujur, suka menolong, berkata yang baik dan sopan, rajin beribadah maka akan membentuk karakter generasi bangsa yang benar-benar membawa perubahan bagi negara ini kedepannya.

    Selain orangtua, guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) juga memiliki peran yang penting dalam memberikan pengajaran di sekolah. Anak kecil cenderung meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Sehingga sebagai seorang guru, apalagi guru PAUD maka haruslah sangat berhati-hati dalam bertingkah laku. 

    Seorang anak harus ditanamkan perilaku-perilaku yang baik pula seperti saling menolong antar teman, tidak membeda-bedakan teman yang satu dan lainnya dan berperilaku baik di lingkungan kelas atau sekolah. Ketika menegur anak yang tidak patuh peraturan atau berkata yang kurang baik maka haruslah menegur dengan baik tanpa unsur memarahi, agar anak tak meniru perilaku ‘emosi’ tersebut. Jika bukan kita yang mencetak generasi bangsa yang bermoral maka kepada siapa lagi kita serahkan nasib bangsa ini.

  • Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

    Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

    Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

    Pendidikan adalah cerminan dasar setiap manusia untuk mengangkat harkat dan martabat setiap pribadi manusia. Pendidikan adalah bagian dari ilmu yang diprogramkan atau diwujudkan dalam sebuah kelembagaan seperti sekolah-sekolah yang ada sekarang ini.
    Namun, tak dapat dipungkiri bahwasannya Pendidikan itu kadangkala dapat menjerumuskan orang-orang atau pribadinya sendiri apabila tidak dipergunakan dengan baik dan benar.  Bukan hanya itu saja, Pendidikan seringkali menjadi jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin. Bukan menyalahkan Pendidikan namun, ada sesuatu hal yang harus diluruskan agar tidak salah paham.
    Penyelenggaraan pendidikan memang penting. Namun, jauh lebih penting dengan pengembangan sebuah karakter yang tidak boleh berujung. Pendidikan takkan berujung korupsi apabila di hatinya terdapat penjernihan hati yang sudah ditanamkan sejak dini dan diulang terus menerus dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Karakter dapat dibentuk dengan memilik dasar agama yang kuat dan tangguh dalam menghadapi setiap tantangan maupun pantangan yang terdekat maupun yang terjauh sekalipun.

    Setelah memiliki pondasi agama yang kuat maka hal yang selanjutnya dilakukan ialah memahami nilai-nilai Pancasila untuk diimplementasikan dalam lingkup terkecil hingga terbesar sekalipun. Percuma Pancasila itu ada hanya untuk dibaca dan ditulis semata. Buat apa bangsa ini merdeka kalau Pendidikan itu tidak masuk ke dalam sanubari pemuda-pemudi yang terdalam.
    Pembunuhan karakter sangat bertentangan dengan pancasila yang memiliki nilai-nilai universal. Mengapa beralasan seperti ini? Dikarenakan Indonesia tidak menyadari dan sudah tidak peduli dengan arah Indonesia ini mau dibawa kemana? Dengan hanya sebuah teori demi teori tanpa adanya pengaplikasian.
    Untuk apa itu semua? Di satu sisi orang lain antri. Di sisi lain orang korupsi. Para akademisi sibuk berargumentasi. Orang birokrasi sibuk dengan biaya administrasi. Pola pikir dan pola hidup ilmuwan sudah jauh dari tradisi. Masalah ini harus disikapi. Dengan pengembangan hukum yang mampu mengatur distribusi Semua organ kelembagaan Pendidikan yang semestiya menginternalisasi nilai-nilai pancasila dalam setiap geraknya.
    Pendidikan menjadikan jurang pemisah ketika setiap manusia tidak menyikapi kalau di dunia ini manusia bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. Manusia hanya sebtas hamba yang diberikan rezeki yang maha kuasa yang mana rezeki itu harus diberikan kepada orang lain kembali. Karena rezeki bukanlah milik manusia seutuhnya. Tetapi, hanyalah sang pencipta yang memilikinya. Maka, janganlah berlaku sombong maupun rendah tetapi bersikaplah seperti budi baik yang tidak saling merendahkan satu sama lainnya.
    Lakukanlah gerak akademik dengan saling bekerja sama. Membangun kembali ilmu-ilmu yang bersifat tidak mengabaikan terhadap kelahiran pendidikan yang disatukan dalam pancasila sebagai pendukung dari segala permasalahan dengan tidak menghilangkan agama dari kepercayaan yang dibangun jauh-jauh hari sebelum dilahirkan di dunia.Akar dari permasalahan Pendidikan di Indonesia saat ini hanya satu ialah pribadinya sendiri. Pribadi yang tidak mau mengejar dari ketertinggalannya. Yakni dengan mengubah cara hidupnya yang tidak selalu ada di zona nyaman terus-terusan. Melainkan mencari tantangan untuk mencari hakikat diri sesungguhnya untuk menjadikan dirinya dapat bermanfaat di muka bumi ini. Begitupula yang seharusnya diselingi dengan peraturan yang tegas yang sama-sama diwujudkan dalam lingkaran kebersamaan.

    Kebersamaan dikala banyaknya keberagaman. Kedihan dikala kesenangan berada di puncaknya. Mengapa tidak saling berbagi dikala pengetahuan sudah mumpuni. Banyak orang yang hidupnya di bawah namun pribadi manusia selalu menginginkan teratas.