Tag: Essay Kemerdekaan Indonesia

  • Semangat 1945 Untuk Meraih Impian Essay

    Semangat 1945 Untuk Meraih Impian Essay

    Semangat 1945 Untuk Meraih Impian Essay – 17 Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan Indonesia.Tidak sia-sia perjuangan pahlawan Indonesia yang telah banyak berkorban. Oleh sebab itu, kita sebagai generasi penerus bangsa harus meneruskan perjuangan pahlawan Indonesia dengan cara meraih cita-cita dan impian kita. Kita harus bersemangat meraihnya.Supaya bisa membanggakan orang tua dan negara yang kita cintai ini.

    Generasi Penerus Bangsa

    Dengan semangat 1945 kita harus mengatur strategi supaya apa yang kita impian dapat tercapai. Kita harus mencontoh semangat pahlawan Indonesia untuk melawan penjajah. Bukan mudah melawan penjajah pahlawan Indonesia harus bertaruh nyawa dan berkorban demi negeri ini. Nah, kita sebagai generasi penerus bangsa tidak ada alasan untuk tidak bersemangat dan membanggakan negeri yang kita cintai ini.

    Baca Juga: Pro-Kontra Kemerdekaan Metropolitan Essay

    Belajar yang rajin, tidak bolos, jujur, mematuhi perintah orang tua dan guru. Itu sudah cukup untuk menghargai perjuangan pahlawan Indonesia. Janganlah kita membuat negara Indonesia ini hancur. Teruslah menjadi generasi penerus bangsa yang baik dan bersemangat 45 demi membanggakan negeri yang kita cintai ini.

    Kita tidak boleh membiarkan negara lain menjajah negara Indonesia. Saat ini banyak penduduk dari negara asing datang ke Indonesia untuk berdagang, mencari kerja, dan berbisnis. Sampai pada akhirnya mereka nyaman, menetap, dan sukses di negari kita ini. Oleh sebab itu, kita harus belajar dengan rajin supaya tidak kalah saing dengan mereka. Ini negara kita, negara Indonesia. Negara yang sangat kita cintai jadi jangan sampai kejadian dahulu terulang lagi. Yang mana bangsa Indonesia di bawah kendali bangsa asing.

    Baca Juga: Indonesia Maju Tanah Air Bersahaja Essay

    Semangat 1945 Untuk Meraih Impian

    Pada era reformasi ini, kita sebagai bangsa Indonesia harus juga menerapkan nilai-nilai yang ada dalam pancasila. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai-nilai luhur dari seluruh kebudayaan masyarakat Indonesia yang sering ditinggalkan. Saat ini,rasa kebersamaan manusia mulai berkurang.Mereka selalu mementingkan diri sendiri.

    Di sekolah juga banyak murid yang berbuat curang ketika ulangan. Dalam bergaul membeda-bedakan teman dan tidak menghargai hasil karya teman. Hal-hal seperti ini harusnya di hindari. Supaya tidak terjadi permusuhan di antara murid. Kita diharuskan bersemangat dalam belajar, menjaga kebersamaan, bersatu, rukun, tidak mementingkan ego dan lain-lain. Supaya negara asing susah memecah belah bangsa Indonesia. Ingatlah selalu kata ini “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” dan teruslah bersemangat 1945 untuk meraih impian kita.

    Penulis: Nurul Beauty Shafera

  • Jiwa Muda Pendorong Proklamasi Menteng 31 Essay

    Jiwa Muda Pendorong Proklamasi Menteng 31 Essay

    Jiwa Muda Pendorong Proklamasi Menteng 31 Essay – Menggeliatnya pertumbuhan ekonomi di Batavia, dimanfaatkan oleh seorang pengusaha asal Belanda bernama L.C Schomper. Di tahun 1938, ia mendirikan sebuah hotel yang diberi nama hotel Schomper. Namanya sendiri.
    Hotel Schomper menjadi hotel kelas atas, khususnya ditujukan untuk pejabat tinggi. Baik dari pihak Belanda, maupun asli pribumi.

    Tanda Kedidkdayaan Belanda Luntur

    Hotel bergaya arsitektur kolonial, dengan pilar berbahan marmer. Menjadikan Hotel Schomper sebagai hotel termegah di Batavia saat itu. Munculnya Jepang di Indonesia, membuat kedikdayaan Belanda luntur. Mereka terpaksa angkat kaki dari Indonesia, dan menyerahkan negeri jajahan beserta semua isinya pada Jepang. Semua yang berbau Belanda dihilangkan. Diantaranya dengan mengganti nama kota Batavia menjadi Jakarta.

    Golongan Pemuda Mulai Ambil Peran

    Termasuk Hotel Schomper yang diambil alih Jepang, berganti nama pula jadi Gedung Menteng 31. Tempat awal dari perjuangan kemerdekaan yang digalakkan sekelompok pemuda, yang dimulai sejak 1942. Mereka antara lain Sukarni, Wikana, Adam Malik, Darwis, dan Chaerul Saleh. Yang mendapat izin dari bala tentara Jepang yang berjaga di Gedung Menteng 31, untuk tinggal di sana. Menjadi asrama tempat mereka bernaung.

    Baca Juga: Tanda Baca yang Tepat Setelah “Merdeka”-Sebuah Esai

    Bergerak Dari Latar Belakang yang Berbeda-beda, Bersatu Dalam Satu Tujuan

    Sesungguhnya, para pemuda itu berasal dari beragam latar. Sukarni yang seorang pedagang soto yang lahir di Blitar namun merantau ke Jakarta. Chaerul Saleh dari kaum intelektual, pernah bersekolah di sekolah tinggi hukum Recht hoogeschool. Dan Wikana, sang pekerja angkatan laut Jepang. Berkumpul dalam satu asrama, dengan satu tujuan. Memperoleh kemerdekaan.
    Asrama ini pun secara diam-diam, menjadi tempat bertukar ide dan gagasan para penghuni. Tentang pergerakan merebut kemerdekaan. Disini pula, dibentuk berbagai organisasi nasionalis. Seperti PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat).

    Pecahnya Perang Asia Timur Raya

    Hingga Jepang mulai angkuh, dengan melancarkan serangan kepada pelabuhan Pearl Harbour, Angkatan Laut Amerika Serikat. Memicu pecahnya perang asia timur raya. Jepang kewalahan dan terdesak, hingga 2 bom atom mendarat di dua wilayah paling maju di Jepang, Hiroshima dan Nagasakai. Jepang semakin kesulitan dalam perang, mengharapkan bantuan dari berbagai wilayah jajahannya.

    Golongan Pemuda Melihat Peluang

    Termasuk Indonesia, lewat rayuan agar mau membantu Jepang dalam perang. Yaitu dengan janji kemerdekaan, diperbolehkannya mengibarkan bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya. Rayuan Jepang dianggap pemuda Menteng 31 hanya isapan jempol belaka. Benar saja, tersebarlah berita di antara pemuda. Bahwa Jepang telah menyerah tanpa syarat dengan sekutu. Bagi Sukarni dan kawan-kawan, kalahnya Jepang justru peluang. Memproklamirkan kemerdekaan dengan segera. Mereka mendesak golongan tua, yang dimotori Soekarno dan Hatta. Namun, wibawa mereka sulit tergoyahkan. Mereka tetap menunggu janji Jepang.

    Baca Juga: [Pengembangan Diri]: Meningkatkan Kualitas Diri dan Negara

    Bahkan, pemuda Menteng 31 pada 15 Agustus 1945. Lewat utusan mereka, Wikana dan Darwis. Menghampiri Bung Karno di kediamannya, hingga Wikana mengancam dengan sebilah parang. Agar proklamasi dilaksanakan secepatnya. Bung Karno malah menantang balik Wikana, agar menebas lehernya dengan parang tersebut. Tentulah Wikana tidak berani.

    Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta

    Bermodalkan nekat, para pemuda Menteng 31 pun “Menculik” Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Tempat yang dirasa aman untuk proklamasi, walau Ahmad Soebardjo dari golongan tua pun datang ke Rengasdengklok. meyakinkan Bung Karno bahwa Jepang telah kalah. Bung Karno dan Bung Hatta, beserta pemuda Menteng 31 bergegas kembali ke Jakarta. Mempersiapkan segala keperluan proklamasi.

    Buah Kerja Keras Golongan Muda

    Hari maha penting pun tiba. 17 Agustus 1945, Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan di kediamannya. Pemuda Menteng 31 begitu bersyukur, buah kerja keras mereka. Para anak bangsa yang berbeda latar, mampu mewujudkan kemerdekaan yang didamba.

    Penulis: Muhammad Fikram Pratama

  • Merdeka Indonesia untuk Berjuang Essay

    Merdeka Indonesia untuk Berjuang Essay

    Merdeka Indonesia untuk Berjuang Essay – Merdeka. Merdeka bukan kata, Indonesia merdeka bukanlah kalimat. Indonesia merdeka tahun 1945 bukanlah akhir dari keberhasilan. Berhasil itu, saat bisa mempertahankan puncak dari keberhasilan. 17 Agustus 1945, pembacaan Teks Proklamasi oleh Ir. Soekarno menjadi bukti dari pepatah ‘Hasil tidak akan menghianati proses’. Merdeka itu, bukan sekali seumur hidup, melainkan setiap hari dalam hidup.

    Di zaman ini, kita berperan sebagai generasi penerus perjuangan kemerdekaan yang sesungguhnya. Lebih afdhal saat jamaah sholat Subuh di masjid seramai jamaah sholat Jum’at, lengkap sudah kemerdekaan kita.

    Baca Juga: Indonesia Nation Building Oleh I Wayan Budiartawan

    Perjuangan Belum Usai

    Bebas, kondisi yang dibayangkan setelah mendengar kata ‘merdeka’. Berlepas diri dari kekangan, hinaan, bantaian, ketergantungan, dan segala yang menyakitkan. Bebas melakukan segala yang kita ingin tanpa takut dibantai. Republik Indonesia sudah merdeka, bukan berarti rakyatnya bebas melakukan aktivitas tanpa batas, anak-anak dididik tanpa bekas, remaja dengan pergaulan bebas.

    Diibaratkan menghias tanpa merawat, setelah indah dibiarkan hancur. Namun, hal tersebut adalah ketakutan penulis semata. Menghafal rumus matematika tidaklah mudah, dihafal untuk memahami. Setelah sekian banyak rumus yang diingat, siapapun akan merasa senang karena bebas dari hafalan yang bikin ‘greget’. Tidak berhenti disana, sebab rumus diciptakan bukan hanya untuk diingat. Memang bagus, namun tidak sesuai dengan kaidahnya. Rumus matematika untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Baca Juga: 17 Agustus Bangkitkan Semangat Anak Indonesia Essay

    Menghitung volume air dalam bak, menghitung panjang tangga, dan sebagainya. Dengan begitu, kita menghargai keberadaan rumus matematika. Bila sudah memahami tujuan rumus yang sebenarnya, barulah disebut berhasil. Sama halnya dengan kemerdekaan. Ketika para pejuang telah berhasil merebut Indonesia dari tangan penjajah, adalah tahap pertama untuk tahap selanjutnya. Diumpamakan orangtua yang memberi bekal kepada anak-anaknya untuk masa depan yang sukses. Kemerdekaan adalah bekal dari pejuang bangsa untuk kita memperjuangkan keberhasilan yang sesungguhnya.

    Baca Juga: Apa itu Identitas Nasional? Berikut Penjelasan Lengkapnya

    Ini Saya, Ini Indonesia

    Semua yang diharapkan leluhur bangsa sudah dihidangkan, yaitu lepas, bebas, Indonesia dengan kepribadiannya. Maksud dari kepribadian disini adalah Indonesia hanyalah Indonesia, tidak ada negara lain yang melatarbelakangi. Seperti pepatah Inggris, be yourself. Jadilah diri sendiri. Ini Saya, Ini Indonesia. Dimisalkan, Bahagianya Saya, bahagianya kamu.

    Kamu bahagia, Saya harus bahagia. Melakukan segala ciri khas bangsa, agama, daerah dengan bebas tanpa mencaci maki. Saling menghargai karena Indonesia itu satu, menyatu untuk tujuan yang satu. Menjadi penganut kaaffah dari keyakinannya, menjadi Indonesia yang seutuhnya. Luar biasa bahagianya para pahlawan, saat kebebasan digunakan dengan semestinya. Memakmurkan Indonesia, menyatukan Indonesia walau pulaunya pecah tersebar.

    Sebaliknya, bagaimana perasaan mereka saat mengetahui kebebasan tersebut digunakan untuk menghancurkan Indonesia? Layaknya lelaki yang mencari nafkah untuk kemakmuran anak dan istri, dijatuhkan oleh anaknya yang malas dalam belajar. Apalah arti dari hal besar, jika yang sepele saja dilupakan. Sedikit-sedikit lama lama jadi bukit.

    Gugur satu pahlawan, pahlawan lain melanjutkan. Apalah arti dari merdeka, jika kita melupakan pekerjaan sederhana. Pergi sana-sini, namun sampah masih belum pada tempatnya. Tempat tidur berantakan di siang hari. Kesalahan kecil dapat menjadi kesalahan besar, api yang kecil dapat membesar. Apalah arti dari semangat perjuangan, bila tidak sholat Subuh berjamaah di masjid. Jadilah diri sendiri dengan tidak melupakan pekerjaan kecil agar dapat mengenal diri, mengubah kekurangan menjadi kelebihan, menjadi manusia seutuhnya untuk melanjutkan cita-cita leluhur bangsa.

    Penulis: Saka Juang Miftahul Ulum – Siswi kelas 12 MIPA di SMA Ibnu Siena Kota Tasikmalaya

  • Memahami Makna Kemerdekaan di Era Milenial Essay

    Memahami Makna Kemerdekaan di Era Milenial Essay

    Memahami Makna Kemerdekaan di Era Milenial Essay – 17 Agustus 1945 menjadi awal mula Indonesia tercatat sebagai negara yang merdeka di dalam buku sejarah dunia. Dan pada saat itu pula, harapan masyarakat dalam kurun waktu bertahun-tahun lamanya sudah terealisasi di satu hari yang penuh dengan peristiwa monumental. Bagaimana tidak, kerasnya perlakuan penjajah yang menjerat kebebasan bangsa Indonesia semakin lama semakin membendung semangat perjuangan yang luar biasa. Hingga pada akhirnya, pembacaan proklamasi di dalam suatu peristiwa sakral kemerdekaan dapat dilaksanakan dengan khidmat.

    Proklamasi merupakan momen sakral

    Hal tersebut menjadikan bendungan semangat perjuangan rakyat, kini terlontarkan dan dituangkan melalui beberapa aktivitas kebahagiaan penuh makna. Bermula dari tanda kelahiran bangsa yang bermartabat, serta terlepas dari penindasan hingga muncul buih-buih perdamaian dalam bentuk susunan kalimat yang bukan hanya sekedar kalimat biasa.

    Di dalamnya terkandung filosofi teramat luhur sebagai bentuk eksistensi bangsa Indonesia di mata dunia. Tidak lain dan tidak bukan, susunan kalimat tersebut merupakan suatu lambang keluhuran, kebesaran, serta kewibawaan negara Indonesia yaitu proklamasi.
    Kini, tujuh puluh tiga tahun sudah buah hasil perjuangan para founding fathers dirasakan oleh rakyatnya.

    Tugas Kita Saat Ini Mengisi Kemerdekaan Indonesia

    Pengorbanan yang telah dilakukan pun kini dapat di nikmati oleh generasi-generasi milenial yang karenanya dapat terlepas dari tangan penjajah. Bayangkan saja, jika saat itu tidak ada bambu runcing yang melayang, jika saat itu tidak ada strategi gerilya yang luar biasa, jika saat itu tidak ada darah yang dikorbankan, mungkin saat ini tidak ada pula yang namanya panjat pinang, balap karung, dan mungkin hingga saat ini tidak ada yang namanya upacara kemerdekaan.

    Dengan demikian, seharusnya tidak ada alasan untuk para milenial mengacuhkan hari bertajukkan kemerdekaan tersebut. Akan tetapi, masih ada penyelewengan berkaitan dengan makna kemerdekaan di sudut pandang milenial hingga saat ini. Hal tersebut membuat gagasan perubahan yang telah diusung oleh para pendiri bangsa Indonesia belum terwujud sepenuhnya. Sebagai contohnya adalah di bidang kejayaan era digital yang didukung dengan globalisasi serta modernisasi hingga merambah ke sudut pedesaan.

    Implikasi Era Digital

    Meskipun beberapa hal tersebut merupakan suatu perubahan yang menjanjikan kemudahan, akan tetapi dalam banyak kasus malah dimanfaatkan sebagai media pengikis kreativitas. Bahkan, sampai-sampai para pemuda yang berperan sebagai generasi milenial menggunakannya untuk menabur benih-benih perpecahan serta permusuhan.

    Baca Juga: 5 Cara Menjadi Pendidik Yang Kreatif Di Era Milenial

    Tentunya penyelewengan tersebut merupakan suatu hal yang jelas-jelas bertolak belakang dengan makna kemerdekaan sesungguhnya. Karena, nilai positif yang sepatutnya dihadirkan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan justru tergantikan oleh nilai-nilai negatif. Seperti halnya kebebasan individu yang diagung-agungkan tanpa etika serta estetika dengan mengatas namakan demokrasi.

    Sehingga, dapat dikatakan bahwa kontribusi dalam mengisi kemerdekaan belum dapat diwujudkan secara utuh. Akibatnya, memori publik berkenaan dengan proklamasi hanya sekedar romantisme perjuangan di masa lalu.

    Dengan demikian, upaya yang seharusnya dituangkan oleh generasi milenial sebagai bentuk memaknai lebih dalam berkaitan dengan hari kemerdekaan, sebaiknya diwujudkan dalam bentuk imitasi hasrat kaum muda di bidang penggerakan sejarah.

    Berkaitan dengan hal tersebut, maka yang dapat dilakukan adalah mendayagunakan berbagai macam perangkat virtual berlandaskan tanggung jawab. Sebagai contohnya adalah menggunakan akun-akun berbasis digital guna menyatukan komunitas serta meredam suatu problem. Bukan malah memicu munculnya suatu problem. Sehingga, makna dari kemerdekaan di era milenial benar-benar dituangkan sesuai dengan apa yang diharapkan.

    Penulis: Nazilatul Hidayah – Universitas Diponegoro

  • Indonesia Maju Tanah Air Bersahaja Essay

    Indonesia Maju Tanah Air Bersahaja Essay

    Indonesia Maju Tanah Air Bersahaja Essay-17 Agustus 1945 adalah hari dimana Negara Indonesia mendapatkan kemerdekaannya. Mereka para pejuang bangsa berhasil merebut kembali tanah air tercinta dan proklamasi dibacakan oleh presiden Ir. Soekarno. Pada tanggal dan bulan tersebutlah masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan bangsa, dari sabang hingga merauke memperingati hari jadi kemerdekaan Indonesia. Merdeka berarti bebas, berdiri sendiri, lepas dari tuntutan, dan tidak terikat.

    Berbagai lomba pun diadakan sebagai tanda atau bentuk apresiasi masyarakat terhadap jasa perjuangan para pahlawan dalam mengusir penjajah. Semua merayakannya dengan penuh antusias dan semangat, dimana teman-teman dan tetangga saling berkumpul untuk melihat dan ikut serta dalam perlombaan. Tapi, bagaimana sikap para pemuda Indonesia merayakannya dengan membuat perubahan Indonesia maju?

    Masih Banyak Kenakalan Remaja

    Keadaan pemuda sekarang sangat memprihatikan. Meskipun sama-sama berjuang tapi dalam arti yang berbeda. Banyak sekali pemuda atau pelajar yang harus belajar dengan baik untuk mengemban ilmu tetapi mereka malah melakukan kegiatan yang merugikan seperti tawuran antar pelajar, malas-malasan belajar, terlambat masuk sekolah, bolos dan masih banyak lagi. Banyak yang dirugikan dari segi waktu, uang sekolah, ilmu, orang tua, guru, nama sekolah dan juga persepsi masyarakat terhadap diri mereka sendiri menjadi buruk.

    Baca Juga: 17 Agustus Bangkitkan Semangat Anak Indonesia Essay

    Andil Pemimpin atau Wakil-wakil Rakyat dan Seluruh Elemen Masyarakat

    Selain pelajar banyak juga yang melakukan perjuangan untuk diri mereka sendiri, dari kalangan atas dan sebagainya. Seperti pemimpin atau wakil-wakil rakyat yang harusnya memberi contoh dan dukungan kepada seluruh masyarakat dalam bergotong-royong membangun dan memajukan Indonesia, bukan dengan memajukan diri dan keluarga sendiri.

    Dimana pemimpin dan wakil-wakil rakyat serta seluruh elemen masyarakat memegang teguh bagimana isi dari kandungan nilai-nilai pancasila yang ditetapkan sebagai landasan Negara. Indonesia kaya akan budaya dan sumber daya alamnya, tapi bagaimana Indonesia dikelola saat ini sungguh memprihatinkan. Bukan tanah surga rakyat tapi tanah surga pejabat. Yang kita perlukan adalah SDM yang maju dari para pemuda Indonesia dan kejujuran serta rasa saling bertoleransi.

    Baca Juga: Siapa Pemimpin Indonesia Di Masa Mendatang ?

    Pasca era reformasi, Indonesia hancur, sengsara dan tenggelam dalam krisis. Identitas Indonesia sebagai Negara pejuang mulai hilang. Kini mulai sulit mencari generasi penerus. Cara satu-satunya adalah dengan membangkitkan semangat positif para pemuda Indonesia, membimbing dengan benar maka Indonesia akan maju dan pemuda Indonesia dapat menjadi pelopor penggerak bangsa Indonesia. Sebagaimana dalam kutipan Ir. Soekarno “ Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.

    Kita berbangsa satu bangsa Indonesia, maka jangan ada lagi yang memandang perbedaan suku ras maupun agama, kita semua satu ber-Bhineka Tunggal Ika, seperti perkataan Soekarno “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

    Penulis : Leoni Wulandari – Mahasiswa jurusan Kefarmasian Universitas Tangerang Selatan

  • Indahnya Momen Perayaan Kemerdekaan Essay

    Indahnya Momen Perayaan Kemerdekaan Essay

    Indahnya Momen Perayaan Kemerdekaan Essay – Bung Karno telah menyatakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang berarti negara Indonesia telah bebas dari pejajahan. Itu semua dicapai dengan penuh perjuangan bahkan sampai menumpahkan darah. Banyak pahlawan gugur di medan perang dalam melawan penjajah. Tentunya sebagai generasi penerus bangsa kita harus menghargai jasa para pahlawan terdahulu dengan melanjutkan perjuangannya dan mempertahankan kemerdekaannya.

    Momen Agustusan

    Hari Ulang Tahun Republik Indonesia merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat seluruh Indonesia atau kita lebih sering mendengar istilah Agustusan. Agustusan merupakan istilah yang biasa kita temukan dimasyarakat yang berarti menunjukan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.

    Masyarakat Indonesia mempunyai sesuatu kebiasaan yang unik yang dari dulu sampai sekarang masih ada. Dimulai dengan memasang umbul-umbul maupun bendera merah putih di depan rumah yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai perlombaan.

    Lomba makan kerupuk merupakan salah satu perlombaan yang cukup dikenal pada masyarakat Indonesia. Setiap agustusan pasti kita menemukan perlombaan tersebut. Perlu diketahui dalam lomba tersebut yaitu kita berjuang untuk menghabiskan kerupuk dengan berbagai rintangan yang telah ada. Hal ini mencirikan jiwa patriotisme bahwa setiap segala sesuatu yang akan kita capai pasti ada rintangan tentunya kalau kita melihat ke belakang bahwa banyak rintangan yang dihadapi para pahlawan sebelum mencapai kemerdekaan.

    Baca juga: Pro-Kontra Kemerdekaan Metropolitan Essay

    Selain itu, dalam agustusan ada perlombaan panjat pinang. Kebanyakan diikuti oleh laki-laki yang sudah dewasa namun anak-anak juga ada bahkan ibu-ibu pun juga ada. Panjat pinang merupakan salah satu perlombaan beregu untuk memanjat sebuah pohon yang diatasnya sudah terdapat berbagai hadiah namun rintangannya sangat berat yaitu pohonnya cukup tinggi dan diberi pelumas/oli. Perlu kekompakan, tenaga yang kuat hingga harus siap karena akan kotor-kotoran dengan oli yang menempel di badan.

    Lomba Sebagai Upaya Perenungan Perjuangan

    Hal ini menunjukan bahwa lomba tersebut merupakan upaya perenungan pada kita semua bahwa kemerdekaan tidak dicapai dengan mudah. Perlu kekuatan, kerjasama bahkan hingga menumpahkan darah. Kemerdekaan memang dicapai tidak semudah membalikan telapak tangan. Namun sebagai generasi penerus bangsa wajib melajutkan jejak para pahlawan.

    Hal yang cukup menarik dalam perayaan agustusan yaitu pertunjukan teater biasanya pertunjukan tersebut diadakan pada acara puncak atau resepsi. Ini merupakan pertunjukan yang penuh makna. Misalnya teatrikal tentang Perang Puputan yang dipimpin oleh Ketut Gusti Jelantik di Bali yang memiliki pelajaran-pelajaran berharga untuk kita semua. Tentunya dapat menggugah semangat juang kaum muda saat ini. Dalam perang puputan yang berarti habis-habisan merupakan upaya mempertahankan tanah air tanpa memikirkan apapun. Ini merupakan cerminan bahwa nenek moyang kita telah berjuang dengan penuh tekad.

    Baca juga: Merdeka? Esai Hari Kemerdekaan Indonesia

    Dengan diadakan berbagai kegiatan diacara agustusan tersebut kita dapat memetik sebuah pelajaran bahwa kita sebagai generasi muda harus bisa mengisi kemerdekaan tersebut. Agustusan memang selalu disambut dengan meriah oleh masyarakat. Namun pada dasarnya kita juga diwajibkan untuk merenung dengan mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur. Akan lebih baiknya setiap lomba yang diadakan dalam agustusan memiliki nilai yang menunjukan jiwa patriotisme tentunya lomba yang diadakan bukan sembarang perlombaan. Namun memiliki nilai-nilai yang bagus dan bermakna sesuai apa yang kita peringati yaitu kemerdekaan.

    Penulis: ILAH ROHILAH – Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah IAIN Salatiga

  • Opini: Kemerdekaan Bukan Sekadar Perayaan

     

     

    Merdeka bukan kata yang digembor-gemborkan sebagai kebebasan dari penjajah semata. Melainkan kata merdeka ialah langkah para pejuang untuk meraih kemenangan. Kemenangan dalam hal apa? Kemenangan yang dalam arti bebas untuk memajukan daerahnya bukan membodohi masyarakatnya dengan tipu-tipu yang merugikan, baik diri sendiri maupun orang lain.

    Momentum Kemerdekaan, Apakah Kemerdekaan Sekadar Perayaan?

    Kemerdekaan sebuah momentum berharga untuk diraih di masa sekarang hingga mendatang. Namun, apakah cukup kemerdekaan sebatas bebas dari penjajah? Apakah cukup kemerdekaan hanya sekadar hari perayaan untuk mengenang para pejuang? Kemerdekaan kini patut dipertanyakan. Peringatan kemerdekaan hanya sebatas simbol pengenang saja. Makna kemerdekaan semakin kabur dan tidak memiliki ruh kepemilikan nasionalisme kebangsaan hingga ke akar-akarnya. Makna kemerdekaan semakin penting untuk dilaksanakan. Karena di tengah konstelasi politik kebangsaan yang diwarnai dengan maraknya kasus-kasus yang memudarkan nilai-nilai kebangsaan, dan harga diri negara di mata dunia masih belum sampai pada taraf ditakutkan oleh banyak negara. Sejatinya harga diri negara di mata dunia ialah senjata ampuh agar negara-negara lain segan kepada negara ini, untuk tidak mempermainkan kondisi nasional negara. Kemerdekaan sudah dibuktikan dengan penjajah telah keluar dari negeri ini. Nyatanya, negara belum dikatakan merdeka kalau perekonomian masih mengandalkan pinjaman kepada negara lain, perusahaan-perusahaan masih di tangan orang asing, pembangunan, pendidikan, dan seluruh pendanaan masih di tangan orang asing. Sejatinya, negara masih dibelenggu dengan kekuatan ekonomi orang asing. Sehingga, negara mau maju saja harus membayar bunga dibandingkan hutangnya terlebih dahulu. Baca juga: Tujuan Berjuang Mencari Pendidikan Hakiki

    Perlunya Manajemen Pasca Kemerdekaan

    Kemerdekaan harus dikelola dengan manajemen yang profesional oleh tenaga-tenaga yang berdedikasi tinggi, mau berkorban dan ikhlas beramal. Demi menyembuhkan kerawanan yang ada pada generasi muda kini dalam hal moral dan etika. Tentu saja dengan membabat habis seluruh mental para generasi agar mau mandiri, percaya diri, dan memperbaiki diri agar indonesia bisa berdiri di tanah sendiri. Kemerdekaan itu ialah banyaknya generasi muda dan remaja yang tahu akan jati diri, kokoh iman dan ilmu. Hal yang terakhir ini meningkatkan perkembangan batas antara kota dan desa. Bukan telah terkontaminasi dengan kebebasan yang tak kenal batas. Baca juga: Keuntungan Memilih Kuliah di Australia

    Mungkin sekilas kata merdeka untuk kemerdekaan yang sering diperingati terdengar klise. Alangkah baiknya kemerdekaan bukanlah ajang perlombaan semata melainkan meneruskan perjuangan untuk menjadikan tanah negeri ini bisa mandiri di tanah sendiri. Layaknya kata-kata Bung Karno, “Indonesia yang berdaulat secara politik, Indonesia yang mandiri secara ekonomi dan Indonesia yang berkepribadian secara sosial budaya.” Semoga bisa direalisasikan dalam kehidupan nyata. Baca juga: Bagaimana Pemuda Memaknai Kemerdekaan? Berikut Ulasannya!

    editor: Andrian Kukuh Pambudi