Blog

  • Tips Menumbuhkan Gemar Baca dan Tulis pada Generasi Muda

    Tips Menumbuhkan Gemar Baca dan Tulis pada Generasi Muda


    Tips Menumbuhkan Gemar Baca dan Tulis pada Generasi Muda – Ada pepatah mengatakan “Dengan menulis maka kita akan dikenal dunia, dan dengan membaca maka kita akan mengenal dunia”. Ya, ini merupakan pepatah yang mempunyai makna sangat dalam. Dengan menulis maka akan dikenal dunia. Artinya bahwa semua orang akan mati, namun karyanyalah yang akan abadi. Dan dengan membaca maka akan mengenal dunia.

    Artinya bahwa ketika kita membaca maka sama halnya kita telah membuka jendela dunia dan akan mengenal dunia kita. Namun, budaya gemar membaca dan menulis sepertinya semakin lama semakin menurun. Kita lihat saja fenomena yang terjadi saat ini, mulai dari anak kecil saja sekarang lebih asyik bermain game dengan gadget canggihnya daripada membaca buku. Akhirnya, kebiasaan yang terus diulang-ulang tersebut akan terbentuk dan tertanam dalam diri hingga dewasa. Karena Habits is Power. Kebiasan yang diulang-ulang adalah sebuah kekuatan.

    Lalu, bagaimana caranya agar Budaya Membaca dan Menulis tetap dapat dilestarikan nantinya untuk mewujudkan generasi muda yang cerdas akalnya. Ya, ini beberapa tips untuk menumbuhkan, meningkatkan, dan melestarikan budaya Membaca dan Menulis.

    1. Melatih diri

        Dalam hal ini, melatih diri untuk menumbuhkan budaya gemar Membaca dan Menulis sangatlah perlu untuk dilakukan. Pada anak usia dini, melatih diri ini dengan tuntunan fan arahan dari orang tua. Baik orang tua di sekolah maupun di rumah. Pada anak usia dewasa, melatih diri ini diperankan oleh diri pribadi masing-masing. Dimana melatih sedikit demi sedikit untuk membiasakan membaca/menulis. Sehingga, waktu yang produktif tidak terbuang dan tergantikan dengan kebiasaan yang konsumtif.

    2. Membiasakan diri

        Dalam hal ini membiasakan untuk membaca/menulis juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan minat membaca dan menulis. Habit is power. Suatu kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang maka akan menjadi suatu kekuatan. Maka, biasakanlah untuk berani memulai. Mulai dari sekarang dan saat ini juga. Untuk anak usia dini, membiasakan diri ini dimulai dari anak masuk sekolah yang dituntun oleh orang tua dan guru. Sedangkan untuk orang dewasa, membiasakan diri ini dilakukan oleh masing-masing pribadi.

    3. Memaksa diri

        Memang cara ini terkesan seperti hal yang tragis hehehe. Tapi jangan salah, hal ini merupakan cara yang sangat ampuh. Karena memaksa diri sendiri untuk memulai, maka jika diulang-ulang akan membentuk suatu kebiasaan. Maka mulailah untuk memaksa diri untuk membaca/menulis.
    Selamat mencoba kawan 🙂
    Selamat menulis, maka kelak kamu akan dikenal dunia..
    Selamat membaca, maka kelak kamu akan mengenal dunia..
  • EKSISTENSI UNIVERSITAS AL-AZHAR CAIRO DENGAN METODE KLASIKNYA

    EKSISTENSI UNIVERSITAS AL-AZHAR CAIRO DENGAN METODE KLASIKNYA

    EKSISTENSI UNIVERSITAS AL-AZHAR CAIRO DENGAN METODE KLASIKNYA – Dewasa ini, kemajuan teknologi menghasilkan kecanggihan yang membuat peradaban manusia semakin berkembang, berbagai Universitas di dunia berlomba-lomba melengkapi berbagai fasilitas teknologi maupun sistem administrasi secara online. Disamping untuk memudahkan pembelajaran, juga membuat Universitas tersebut lebih bergengsi dimata masyarakat. Tetapi nyatanya, Universitas Al-Azhar Cairo masih menggunakan metode klasik yang justru membuat Universitas Al-Azhar tetap eksis dengan “kesederhanaannya”, Universitas Al-Azhar yang dinobatkan sebagai Kampus Islam tertua di Dunia mempunyai metode klasik,”sederhana” yang membuat para pecinta tanah Cairo berminat  untuk belajar di kampus tertua tersebut.
    Setiap tahun, umumnya Universitas – universitas di Timur Tengah mengadakan seleksi setiap tahunnya, salah satunya Universitas Al-Azhar Cairo, ada seleksi untuk beasiswa full dan ada juga seleksi penerimaan Mahasiswa baru. Di Indonesia sendiri, seleksi beasiswa maupun penerimaan Mahasiswa baru dibawah naungan Kementerian Agama diadakan di Perguruan Tinggi Negeri Islam di Indonesia. Jika di Universitas lain menerapkan sistem modern dan canggih, maka di UniversitasAl-Azhar Cairo tetap mempertahankan keklasikan dan “kesederhanaannya”.
    Al-Azhar menerapkan jenjang kuliah empat tahun, tidak adanya absensi di semua tingkat kuliah, tujuan dari sistem tersebut bukan semata-mata membebaskan Mahasiswanya, melainkan mendidik Mahasiswa bahwa kuliah di Al-Azhar ini untuk mencari ilmu bukan dicari, untuk menunggu bukan ditunggu dan untuk mengambil bukan diambil. Keikhlasan dalam menuntut ilmu sangat terasa di atmosfer Kampus, karena demikian adanya sistem yang berlaku di Kampus AL-azhar. Al-Azhar mendidik Mahasiswanya untuk mencari ilmu disetiap sudut Negeri. Karena AL-Azhar sesungguhnya adalah sebuah Masjid yang berada tempat halaqah-halaqah ilmu, disana diajarkan berbagai macam ilmu, termasuk ilmu tsurat (klasik).

    Hal menarik dari sistem Pendidikan di Al-Azhar diantaranya:

    1. Sistem sanad (riwayat), dimana seorang murid mengambil ilmu langsung dari gurunya dengan bertatap muka, kemudian dilain waktu akan diuji seberapa menguasainya si murid menyerap ilmu yang telah diberikan guru.
    2. Sistem administrasi yang masih manual dengan menggunakan tulisan tangan, yang membuat para Mahasiswa harus mengantri panjang untuk absensi kelas, bahkan ada yang harus menunggu berhari-hari untuk menyelesaikan administrasi kuliah. Bahkan, ada Mahasiswa yang beranggapan bahwa hal tersebut sebagai pembelajaran untuk sabar dalam segala hal.
    3. Ruang kuliah khususnya meja dan bangku masih menggunakan meja dan bangku panjang yang diisi lima sampai tujuh orang. Sedangkan di Universitas lain, Mahasiswa duduk sendiri-sendiri. Bukannya Al-Azhar tidak mampu untuk membeli, justru inilah yang dapat diterapkan oleh Mahasiswa untuk belajar sederhana.
    4. Di ruang kuliah, para Mahasiswa bebas bertanya tentnag pelajaran-pelajaran yang mereka tidak pahami. Bahkan duktur (dosen) tidak akanmembahas materi selanjutnya sebelum para Mahasiswa memahami pelajaran yang dibahas pada saat itu. Bahkan, Mahasiswa dari luar negeri Arab belum tentu 100 persen memahami pelajaranyang dibahas.
    5. Al-Azhar menggunakan sistem paket, jadi nilai mata Kuliah yang diujikan ketika semester ganjil dan genap disatukan.
    Bagi mereka yang membawa lebih dari dua mata kuliah, akan mengulang selama setahun di kelas yang sama dengan mata kuliah yang ia bawa. Sedangkan mereka yang membawa satu atau dua mata kuliah, ia tetap naik kelas dan hanya diuji ulang mata pelajaran tersebut tanpa mengulang satu tahun di kelas yang sama.
    Di sinilah terlihat ketatnya sistem ujian dan penilaian di Al-Azhar. Hal ini tidak lain kaena Al-Azhar ingin mengajarkan kepada para Mahasiswanya sebuah kesungguhan dalam belajar dan mencari ilmu. Inilah keunikan kuliahdi Universitas Al-Azhar yang tetap eksis dengan sistem dan metode klasiknya.
  • Bagaimana Pendidikan dunia kerja di Terapkan?

    Bagaimana Pendidikan dunia kerja  di Terapkan?


    Bagaimana Pendidikan dunia kerja  di Terapkan? – Pendidikan merupakan suatu hal yang wajib bagi manusia, karena kita di berikan akal untuk berpikir. Berpikir tentang kehidupan, masa depan dan akhir dari kehidupan. Pendidikan bisa mengubah kita secara perlahan, dari yang buruk menjadi baik yang tidak tahu menjadi tahu. Orang berlomba-lomba untuk mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dengan sejuta mimpi dan harapan. Tapi apakah itu bisa menjamin masa depan ? Menurutku tentu tidak karena masa depan itu kita yang tentukan. Pendidikan memang bukan jaminan tapi itu adalah sebuah keharusan.

    Sebagai manusia yang tak tahu apa-apa, tentu kita harus bisa mengetahui apa yang belum kita ketahui. Yaitu melalui pendidikan. Tapi sayangnya, banyak yang tak sadar bahwa skill atau keterampilan itu lebih di butuhkan di dunia kerja. Kita juga bisa mengetahui hal apa saja yang belum kita ketahui dengan berkaca pada dunia. Jika hal itu tidak bisa kita lakukan maka lihatlah lingkungan sekitar kita, sekolah, jalanan, rumah makan, tempat wisata dan lainnya. Ilmu itu akan kita dapat jika kita mau menjelajahinya. Come on, dunia itu luas bukan hanya rumah-sekolah ataupun tempat bermain, mall dan lainnya.
    Dunia kerja itu keras, harus tahan bantingan, cacian, makian, umpatan ataupun segala hal yang bisa membuat hati kita sakit. Pendidikan itu memang penting tapi jika tidak terencana secara jelas sudah tau kan akhirnya kemana. Yups, pengangguran. Angka pengangguran di Indonesia semakin meningkat setiap harinya. Para pencari kerja banyak, tetapi lapangan kerja lebih sedikit. Hidup ini hanya sekali jangan sampai menyesal nanti. Seseorang yang saya kira hanya pendidikan rendah tapi ternyata d3, dia hanya seorang pedagang biasa yang mungkin keuntungannya pun gak seberapa.
    Pendidikan bukan jaminan, karena saya merasakannya sendiri. Ketika saya melamar pekerjaan kesana kemari tanpa punya skill apapun itu sulit. Lebih sulit dari soal matematika yang di berikan oleh guru paling killer sekalipun. 
    Lebih sulit ketika ngelobi orang tua untuk minta uang lebih karena jajanan naik. Ini bukan hanya sekadar cerita tapi ini nyata, nyatanya di luaran sana perusahaan lebih membutuhkan orang yang mempunyai skill daripada Ijazah sarjana yang sudab kita tempuh mati-matian itu.  Betapa mahalnya ijazah kita jika hanya cacian yang kita dapatkan, betapa mahalnya waktu yang kita habiskan untuk menempuh jalur tersebut.
    Kita gak akan pernah tau akan masa depan jika tidak kita tentukan dari sekarang. Bagi yang memang mempunyai skill di bidang pendidikan tentu bisa sukses meraih masa depan, tapi jangan salah dunia itu berputar kadang di atas kadang di bawah. Hanya sekadar mengingatkan untuk bisa mencoba mencari jalan lain menuju roma ketika dengan jalan satu tak mampu maka kita harus punya jalan yang lain. Karena apa, semakin hari persaingan semakin ketat. Apalagi sekarang ini MEA telah di buka, sangat sulit negara kita untuk bersaing dengan negara luar yang memang skill dan pendidikannya sudah tidak bisa di ragukan. 
    Para perusahaan tentu tak ingin rugi dengan menerima kita yang kurang mempunyai keterampilan. Kembali lagi kita hanya sebagai penonton bagi orang asing yang menjadi bintang film di negara sendiri. Terkadang miris, kita hidup di negara sendiri tapi kebanyakan perusahaan pemiliknya orang asing bukan warga negara Indonesia. Jatohnya kita hanya sebagai pekerja, pekerja dan pekerja lagi bukan pengusaha yang mampu berdiri tegak memimpin barisan untuk membangun masa depan.
    Nasib memang tuhan yang tentukan, tapi kehidupan kita yang menjalankan. 
    Sejak dini tanamkan kemandirian agar dewasa kelak bisa jadi pimpinan. Pendidikan itu penting sangat penting menurutku tapi, alangkah baiknya jika kita juga bisa mempunyai salah satu skill yang di butuhkan oleh perusahaan. Agar nantinya kita tidak perlu lagi untuk belajar skill tersebut ketika sudah lulus kuliah ataupun sekolah dan memasuki dunia kerja. 
  • 5 Rahasia Manfaat Membaca Buku=Mengenal Dunia

    MEMBACA BUKU, MENGENAL DUNIA

    5 Rahasia Manfaat Membaca Buku=Mengenal Dunia – Bagaimana hubungan kita dengan buku di era sekarang? Ketika gadged telah menyediakan segalanya. Kapan terakhir kali kita membaca buku? Atau mungkin kebiasaan membaca buku telah terganti dengan membaca facebook, twitter, instagram, dan media social lainnya. Padahal buku berperan penting untuk menambah wawasan.
    Seperti kutipan yang sering kita dengar dan tak lagi asing ditelinga tentang
    “buku adalah jendela dunia”
    Kutipan itu tidak akan berarti dan hanya akan menguap percuma bila kita tidak membaca. Darimana jendelanya apabila buku sama sekali tidak dibaca. Tidak harus lama, cukup luangkan waktu 15 menit perhari sebagai asupan nutrisi ilmu dalam keseharian.

    Banyak manfaat yang didapat saat membaca buku, antara lain:

    1.      Menambah wawasan

    Dengan membaca buku, sudah pasti wawasan kita bertambah. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula yang diketahui. Karena buku adalah sumber ilmu. Seperti mata air jernih dihulu sungai. Dengan membaca, kita telah membuka tirai jendela jendela selebar-lebarnya.

    2.      Meningkatkan kecerdasan

    Manfaat ini hubungannya erat sekali dengan yang pertama. Kecerdasan otak tidak. akan didapat bila tidak dilatih. Pisaupun bila dibiarkan begitu saja tanpa dipakai, tetap akan tumpul dan bahkan berkarat. Begitu pula dengan otak, yang dibiarkan tanpa dilatih. Dan membaca buku adalah latihan paling sederhana.

    3.      Menambah kosakata

    Buku terdiri dari kumpulan kata yang disusun semenarik mungkin yang menjadi magnet bagi pembaca-pembacanya. Bila kita banyak membaca buku, ucapan akan tertata rapi, terlihat berkharisma dan mengenal sopan santun. Bandingkan saja orang yang gemar membaca buku dan tidak, kita akan tahu perbedaannya dari caranya berkunikasi dengan lawannya. Orang yang gemar membaca buku, paham cara berkomunikasi yang baik dengan lawannya.

    4.      Menghilangkan stress

    Menurut penelitian membaca buku dapat membantu kita menyegarkan otak setelah lelah dengan aktvititas yang cukup menguras tenaga. Biasanya, buku-buku fiksi sangat membantu dalam hal ini. Karena buku fiksi, menggunakan bahasa bebas dan tidak baku dan tentu saja lebih menarik dengan buku-buku lainnya.

    5.      Keterampilan menulis

    Membaca karya yang diterbitkan, sangat berpengaruh pada seseorang. Selain membaca buku, kita juga bisa melatih diri sendiri untuk menulis. Sebagai sumber inspirasi dari tulisan-tulisan. Jangan dikira penulis-penulis yang telah menerbitkan karya-karyanya tidak membaca, justru penulis diuharuskan untuk membaca karya-karya orang lain pula. Sebagai inspirasi dan menjadi tolok ukur kemampuan kita dalam menulis.
    Mulai saat ini jadikanlah buku sebagai kawan akrab. Jangan memusuhinya, karena dengan membaca kita bisa membuka jendela dunia selebar-lebarnya. Mari membaca buku:)
  • Tinjauan Yuridis Sistem Pendidikan Nasional

    Tinjauan Yuridis Sistem Pendidikan Nasional
    Indonesia adalah negara hukum sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 1 ayat 3 UUD 1945 jadi segala aspek kehidupan berdasarkan aturan-aturan hukum yang ada dan berlaku di Indonesia termasuk dalam urusan pendidikan di Indonesia. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Hal ini diatur dalam BAB VIII Pasal 31 dan 32 UUD 1945.
    Namun kali ini penulis akan membahas menganai tinjauan yuridis sistem pendidikan di Indonesia. Sistem Pendidikan di Indonesia (Sisdiknas) diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bisa dikatakan bahwa UU ini merupakan amanat dan penjabaran dari UUD 1945 sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Namun demikian, penulis hanya akan membahawa mengenai pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, dan hak dan kewajibannya saja karena jika dalam UU ini mengatur sangat banyak maka dari itu penulis membatasinya.
    Dalam UU ini telah menjelaskan tentang pengertian pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu upaya kesadaran yang terencana guna mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Pasal 1 angka 1 UU No. 20 Tahun 2003).
    Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (Pasal 1 angka 3 UU No. 20 Tahun 2003).
    Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman & bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Pasal 3 UU No. 23 Tahun 2003.

    Prinsip penyelenggaraan pendidikan  meliputi:

    1. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
    2. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna
    3. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
    4. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
    5. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
    6. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. (Pasal 4 UU No. 23 Tahun 2003)

    Dalam aturan ini juga mengatur hak dan kewajiban dalam menjalankan suatu pendidikan di Indonesia, adapun yang memiliki hak dan kewajiban yaitu warga negara, orang tua, masyarakat dan pemerintah.
    Hak dan Kewajiban Warga Negara diatur dalam Pasal 5 dan 6 UU tersebut. Adapun Hak warga negara :
    (1)  Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.
    (2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
    (3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
    (4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.
    (5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. (Pasal 5 UU No. 20 Tahun 2003)
    Kewajiban warga negara diatur dalam Pasal 6 UU tersebut, adapun kewajibannya yaitu:
    (1) Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.
    (2) Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan.
    Peranan orang tua sangatlah penting dalam dunia pendidikan karena orang tua merupakan pintu awal anak mengenal pendidikan. Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya. Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. Sedangkan masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan. Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.
    Pemerintah yang dimaksud dalam aturan ini yaitu pemerintah dan pemerintah daerah. Pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban :
    (1) Memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.
    (2) Menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun
    Aturan mengenai sistem pendidikan di Indonesia cukup jelas namun impelmentasinya tergantung pada semua elemen masyarakat baik itu orang tua, masyarakat atau pemerintah jika kesemuanya saling bekerjasama dengan baik maka akan menciptakan pendidikan yang kondusif yang berujung pada suksesnya program pendidikan di Indonesia dengan dibuktikan prestasi-prestasi yang diukir oleh peserta didik dan tentunya semua lulusannya memiliki karir yang bagus dan bisa memajukan bangsa dan negara Indonesia.
    Sumber :
    ü  UUD 1945
    ü  UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  • Polemik Antara pendidikan dan pernikahan

    Polemik Antara pendidikan dan pernikahan
    Polemik Antara pendidikan dan pernikahan
    Polemik Antara pendidikan dan pernikahan – Membahas tentang pendidikan dan pernikahan, dua kata ini adalah suatu yang sangat penting dan harus dilakukan, kenapa? dua kata ini memiliki esensi yang sangat berharga. Pendidikan, berbicara tentang pendidikan tentu semua orang percaya tau pentingnya pendidikan, pendidikan bisa membuat orang menjadi ilmuan, dengan pendidikan orang akan mengetahui yang sebelumnya belum tau menjadi tau, namun mungkin  hanya sebagian kecil yang hanya menganggap kata yang satu ini adalah suatu yang tak berharga atau tak mungkin dilakukan. 
    Terkait dengan  kata dari sebuah pernikahan , pernikahan adalah sebuah keharusan bahkan kewajiban seluruh manusia yang hidup dimuka bumi ini, semua orang akan mengalami yang namanya pernikahan, semua orang menginginkan pernikahan, tetapi sekarang masalahnya manakah yang paling utama antara pendidikan atau pernikahan? semua orang memiliki pilihan masing-masing asalkan semua itu baik dan menjadikan orang itu menjadi lebih baik lagi, sebagian orang memilih menikah dulu baru melanjutkan pendidikan, dan ada juga sebagaian orang memilih pendidikan dulu baru menikah. 
    Semua itu yang kita pilih itu tidak ada yang salah, hanya saja yang salah adalah, ketika kita menikah kita tidak memiliki unsur pendidikan sedikitpun, ketika menikah tidak memiliki ilmu tentang pernikahan atau semacamnya, itulah yang salah, kebanyakan sekarang anak muda atau bahkan orang dewasa hanya sekedar menikah, hanya sekedar melamar, yang penting halal dalam berhubungan namun tak pernah memikirkan dampak pernikahan, tanpa mengetahui seluk beluk dari sebuah pernikahan, tanpa tau apa yang harus dikerjakan tau dilakukan ketika menikah, dan disinilah dibutuhkan yang namanya pendidikan , disinilah dibutuhkan yang namanya belajar, disinalah dibutuhkan yang namanya ilmu.
    Oleh sebab itu pendidikan disini sangatlah dibutuhkan, sekolah dan belajar juga sangat berati dan harus dilakukan sebelum menikah, jangan hanya menganggap pendidikan itu suatu yang kuno, suatu yang tak penting, mau jadi apapun kita asalkan sudah mencoba, asalakan sudah mencoba, semua itu kita memiliki takdir yang berbeda-beda, kita semua memiliki nasib yang berbeda-beda yang telah ditentukan, yang kita lakukan hanyalah memperlajari dan terus mencoba berapun kegagalan, berapapun tantangan dan hambatan itu, selanjutnya mengenai pendidikan dulu baru menikah, ini pilihan yang sangat bijaksana, tetapi sebagian orang membenci ketika mendengar sebuah kata tentang kata “pernikahan” .

    Mereka seolah  tak memperdulikan tentang namanya sebuah pernikahan, bahkan sangat membencinya, mereka lebih indah sendiri katanya, namun dia tak tau ada yang lebih indah dari kesendirian itu, itu adalah suatu yang salah bahkan sangat salah, kita semua diciptakan untuk hidup berpasang-pasangan, untuk hidup berdampingan, untuk menjalani kehidupan yang kejam ini menjadi kehidupan  yang  lebih indah dan berseri,  yang dulu hidup didunia pana menjadi kehidupan yang penuh dengan canda dan tawa,  bersama pasangan hidup. 

    Jangan menjadi manusia yang egois ketika sudah memiliki pendidikan yang tinggi kita melupakan arti dari sebuah pernikahan, hakikat dari sebuah penikahan. jangan lupakan bahwa kita hidup dari ibu dan bapak kita yang sudah menikah, jadi ketika kita sudah  memikili pendidikan yang selayaknya kita harus  menikah, kemudian kita akan menjadi manusia yang paling beruntung. ingatlah satu hal kita lahir dari ibu dan bapak yang berpasangan, jadi tak harusnya membenci pernikahan, jangan sekali-kali  menunda pernikahan, ketika sudah mampu lahir dan bathin maka menikahlah, jemput pasangan atau jemput pasangan itu, dan janganlah menikah hanya sekedar kata menikah sebelum mengetahui tau memhami arti dari sebuah pernikahan karna menikah bukanlah suatu yang main-main dan bukan untuk mempermainkan.
  • Tujuan Pendidikan Adalah untuk Saling Mengasihi

    Tujuan Pendidikan Adalah untuk Saling Mengasihi
    Tujuan Pendidikan Adalah untuk Saling Mengasihi- Sering kali, jika ditanya mengapa kita butuh untuk bersekolah setinggi mungkin, maka sangat beragam jawaban untuk menjawab pertanyaan tersebut seperti untuk mendapatkan pekerjaan, untuk mendapatkan pengakuan di lingkungan masyarakat, bahkan untuk mendapatkan jodoh yang sepantasnya. Apakah alasan tersebut salah? Jawabannya adalah tidak salah. Kita tidak perlu munafik untuk menyanggah jawaban – jawaban tersebut.
    Penulis ingin mengajak pembaca untuk berpikir di sisi yang berbeda tentang tujuan pendidikan yaitu untuk saling mengasihi. Para guru dan orangtua terlalu sibuk menanamkan bahwa pendidikan  untuk mendapatkan masa depan lebih baik. Padahal tanpa menanamkan kasih, pendidikan itu sia-sia bahkan menjadi boomerang bagi semua manusia.
    Penulis memberikan gambaran sebagaiberikut. 
    Ketika seorang manusia telah menyelesaikan jenjang pendidikannya yang tidak ditanamkan untuk saling mengasihi sesama umat manusia, maka manusia itu akan bertumbuh menjadi seorang yang egois. Dunia pekerjaan sebagai ajang persaingan jabatan dengan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya sekalipun harus menyakiti sesama rekan kerjanya bahkan masyarakat. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sangat marak terjadi sebagai ajang pemuasan nafsu belaka tanpa memperhatikan dampak pemerosotan kualitas negara. Negara menjadi budak untuk kepuasan nafsu pribadi setiap orang yang dapat kita rasakan saat ini yaitu banyaknya tuntutan kepada pemerintah untuk sempurna dalam memanjakan setiap masyarakat.
    Sementara, ketika manusia diajarkan untuk saling mengasihi maka yang terjadi adalah manusia akan melakukan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga, negara, dan yang terpenting kepada Tuhan. Maka setiap manusia akan berusaha untuk berjuang memperbaiki kecerdasan intelektual, moral, karakter, dan spiritual untuk mempersembahkan yang terbaik dalam hidupnya. Tidak ada tuntutan pemuasan nafsu pribadi karena hal itu akan menjatuhkan harga diri manusia yang paham akan kasih. Sehingga, negara menjadi maju dan makmur.
    Pendidikan yang bertujuan untuk saling mengasihi bisa ditanamkan dengan cara menyadarkan umat manusia sejak dini bahwa Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita maka kita sepatutnya mengasihi sesama manusia untuk kemuliaan nama Tuhan. Ajarkan bagaimana pendidikan sebagai sarana untuk saling tolong – menolong sesama umat manusia tanpa pandang bulu, bersaing dengan kualitas hidup bukan dengan kuantitas manusia, mendukung secara objektif setiap manusia apapun jabatannya untuk mempersembahkan yang terbaik bagi masyarakat dan negara, dan filosofi tentang apa yang bisa kita perbuat untuk negara bukan apa yang bisa diperbuat negara untuk kita, masyarakat.

    Hal-hal tersebut jika berhasil ditanamkan, niscaya akan menghasilkan sumber daya manusia yang maju dan negarapun menjadi maju dan sejahtera.

    Harapan penulis semoga kita bersama-sama untuk menanamkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengasihi sesama manusia tanpa pandang bulu untuk kebaikan kita bersama dan kemuliaan nama Tuhan.
  • IBU ADALAH PENDIDIKAN PERTAMA BAGI ANAK

    IBU ADALAH PENDIDIKAN PERTAMA DAN UTAMA BAGI ANAK


    IBU ADALAH PENDIDIKAN PERTAMA BAGI ANAK – Apa pendapat pembaca tentang orang tua pencetak anak ?


    Berikut ulasan mengenai orang tua pencetak anak.

    IBU ADALAH PENDIDIKAN PERTAMA DAN UTAMA BAGI ANAKOrang tua adalah tempat pertama bagi seorang anak mengenal yang dinamakan pendidikan. Orang tua adalah tempat pembentukan karakter, tempat anak pertama kali mengenal dunia luar, tempat menggali semua informasi untuk pertama kalinya, tempat untuk berlatih berbicara, tempat mengenal sesuatu dan banyak lagi yang didapat anak melalui orang tua. Sadar atau tidak, bahwa orang tua adalah tokoh utama dan tiruan untuk anak. Tidak jarang bahwa anak sering mengalami permasalahan dan juga trauma yang disebabkan dari keluarga. Disatu sisi bukan berarti lingkungan sekolah dan lingkungan bermain tidak mempengaruhi, namun pengaruh terbesarnya ada pada lingkungan rumah. Anak dibentuk dari mulai masih dalam kandungan sang ibu sampai lahir, orang tua sudah memiliki perencanaan untuk anak.

    Peran kedua orang tua sangat penting bagi pendidikan anak, namun seorang ibu memiliki peran penting untuk anak. Ibu adalah guru pertama bagi anak, menjadi sosok yang akan selalu diidolakan oleh anak. Mau menjadi apa seorang anak ditentukan bagaimana seorang ibu membentuknya. Mulai dari mengajari membaca dengan ibu, mendengarkan cerita dengan ibu, mengambil keputusan dengan ibu semanya ibu. Olah sebab itu, untuk menjadi seorang ibu membutuhkan bekal yang kuat untuk menjadikan anak sebagai seorang yang diinginkan.  Walau kita sadari bahwa seorang ayah juga memiliki andil dalam pertumbuhan anak. Lalu bagaimana jadinya jikalau orangtua tidak memiliki rasa tanggung jawab dengan seorang anak ?, apakah mereka tidak menyesal pada kemudian hari ?, karena sesungguhnya semakin anak tumbuh besar maka semakin sedikit waktu bersama dengan anak. Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut maka orang tua perlu bekerja sama dengan baik dalam membentuk anak. Melalui kegitan di bawah ini akan membantu orang tua mendidik anak dan juga merekatkan kebersamaan antara orang tua dan anak.

    Tumbuhkankan Creativity (Kreativitas) pada anak, bagaimna caranya ?. Menyempatkan waktu luang untuk bersama anak. Salah satu contohnya bermain bersama antara orang tua dan anak. Bermain bukan sekadar bermain, namun bermain menggunakan permainan yang bisa mengasah pemikiran dan kreativitas anak. Mainan tersebut contohnya adalah lego, siapa yang tidak mengenal lego ? pasti semua tahu dan pernah bermain lego. Namun apakah terfikirkan bahwa mainan tersebut mampu menumbuhkan kreativitas anak ?, tanpa disangka lego adalah permainan sederhana untuk anak yang secara tidak langsung memberikan dampak positif untuk anak. Dampak positif tersebut yaitu melatih kreativitas anak untuk mencipta berbagai bentuk dari sebuah mainan lego. Kreativitas menjadi bekal untuk pengembangan diri anak yang didampingi oleh orang tua.



    Critical Thinking (Berpikir Kritis), melatih anak untuk menanggapi sesuatu hal tidak hanya dari satu sudut pandang saja, melainkan dari berbagai sudut pandang. Salah satu contohnya adalah ketika orang tua menemani anak untuk belajar. Dimulai dari hal kecil yaitu ketika mewarnai suatu gambar anak akan berfikir warna apa yang cocok untuk gambar tersebut. Memulai dari memilih warna anak sudah berfikir, ditambah dengan peran orang tua untuk membantu anak mengkritisi gambar tersebut atau mendiskripsikan gambar tersebut dengan berbagai pendapat. Melalui hal sederhana tersebut anak sudah belajar Critical Thinking dan tanpa terasa terjalinlah kebersamaan antar anak dan orang tua.
    Communication (Komunikasi), bagi kebanyakan orang untuk saat ini komunikasi secara langsung atau tatap muka mulai dianggap sebagai sesuatu hal yang kurang atau bisa juga berpendapat akan mengganggu aktivitas. Namun tanpa disadari komunikasi sesuatu hal yang penting bagi sebuah hubungan, utamanya hubungan antara anak dengan orang tuanya. Komunikasi yang terjalin antara anak dan orang tua sangatlah penting. Melalui komunikasi orang tua akan tahu apa saja yang dirasakan anak, kesulitan yang dihadapi, bagaimana perasaannya, dan yang lainnya. Dari situlah orang tua akan berperan, memberikan ilmunya pada anak, memberi nasihat, memberikan solusi, dan juga dapat mengukur sampai seberapa kedekatan orang tua dan anak serta orang tua yang baik akan mampu memerankan perannya sesuai kebutuhan anak, yaitu menjadi teman curhat, sahabat, kakak atau sebagai orang tua itu sendiri. Dari komunikasi secara tidak langsung membentuk karakter anak yaitu jujur serta melatih sopan santunnya bila dilihat dari segi moral dan etika.
    Collaboration (Kolaborasi) atau biasa disebut kerjasama. Sejakkecil anak harus diajarkan untuk bekerjasama dengan sesama. Menanamkan pentingnya bekerjasama pada anak mulai sejak kecil, dimulai dari keluarga dan dari yang mudah seperti membersihkan rumah bersama. Sepele, memang. Namun, dibalik itu menyimpan manfaat yang banyak untuk anak. Dalam diri anak akan memiliki jiwa sosial dan tidak menjadi anak yang individualis, mudah bergaul serta mudah menerima orang baru.
     Satu hal penting yang orang tua hendak ketahui bahwa anak memiliki masa keemasan, dimana setiap kegiatan yang dilakukan dan kejadian yang terjadi pada masa keemasan anak akan selalu diingat anak sampai mereka dewasa bahkan sampai tua. Oleh karena itu, orang tua harus bekerja sama untuk menjadikan masa keemasan anak menjadi waktu yang tepat untuk memberikan nilai-nilai yang baik untuk diingat oleh anak. Menjadikan masa keemasan anak menjadi masa yang produktif untuk membentuk pendidikan anak. Supaya anak menjadi seperti apa yang telah direncanakan. Perlu diingat, rencana bukan dibuat untuk mengekang anak, namun untuk menjadikan patokan kemana anak harus melangkah dan orang tua yang mendampinginya.



    Jadilah orang tua yang produktif, jadilah ibu yang menjadi teladan anak-anaknya dan bentuklah anak menjadi anak yang teladan seperti ibunya.
  • Tahukah Sahabat, Inilah Pentingnya Pendidikan untuk Anak Usia Dini!

       
    Tahukah Sahabat, Inilah Pentingnya Pendidikan untuk Anak Usia Dini!

    Tahukah Sahabat, Inilah Pentingnya Pendidikan untuk Anak Usia Dini! – Pendidikan memiliki peran penting bahkan teramat sangat penting untuk manusia, sebab dengan pendidikanlah yang akan mengantarkan manusia menuju manusia yang lebih baik hingga menjadi manusia terbaik. Bahkan dengan pendidikan juga yang nantinya membawa manusia unruk menciptakan prestasi demi prestasi yang gemilang, dengan pendidikan yang nantinya akan membuat manusia untuk berinovasi dalam menciptakan hal-hal baru dan terbaik demi kehidupan yang lebih berwarna. Lantas bagaimana dengan pendidikan anak usia dini?
    Tentu, teramat sangatlah penting pendidikan untuk anak-kita. Anak dimana usia belia, usia yang hanya terdapat sekali seumur hidup dan teramat sangat penting dalam mendukung keberlangsungan hiup setelahnya. Ya, itulah yang dinamakan masa Golden Age (Usia Keemasan). Diusia keemasan anak-anak kita akan sangat penting untuk kehidupan diusia selanjutnya. Mari kita renungkan betapa banyak anak-anak yang diusia muda sudah pandai berprestasi, berkarir dan bakat yang begitu spektakuler kita temui. Dilain sisi ada juga anak yang dengan usia yang bahkan sudah hampir dewasa namun tetap biasa-biasa saja, hidup tanpa cita-cita. Hidup dalam balutan kepasrahan. Semua itu bisa kita ikhtiarkan melalui pendidikan di usia dini.
    Pembaca yang berbahagia, usia anak memanglah usia untuk bermain, usia untuk senang-senang, usia untuk berwarna dalam dunianya. Namun, dengan dunianya untuk bermain bukan berarti membuat kita sebagai orang tua ataupun pendidik PAUD membiarkan mereka hanya asyik dalam dunia mereka tanpa kita bimbing langkah apa yang bisa mereka lakukan untuk menjadi anak-anak yang hebat kedepannya.
    Diusia yang sangat belia tersebut, dapat kita torehkan karya untuk anak-anak kita dengan stimulus yang konsisten, terus kita asah bakat anak-anak kita. Kita lihat apa yang mereka nikmati, kita lihat apa yang mereka sukai dengan dunianya, dan kita bawa bakat itu menjadi lebih bermakna. Misal jika anak kita menyukai dunia musik, coba kita ajak mereka bermain dengan musik, kita kenalkan dengan dunia musik melalui permainan. Dengan begitu mereka akan merasa senang, akan asyik dengan pelajaran yang diterima, bukan menganggapnya sebabi beban.
    Intinya, kita ajak anak-anak kita untuk senang dalam belajar, karena dunia mereka adalah dunia imajinasi, bukan dunia analisa. Dunia mereka lebih cenderung meniru apa yang didengar, apa yang dilihat dan apa yang dicontohkan. Untuk itu, marilah kita untuk mendukung pendidikan untuk anak-anak kita. 
  • Mengajar Dengan Cinta Oleh Muhammad Iqbal

    Mengajar dengan cinta

    Mengajar Dengan Cinta  Oleh Muhammad Iqbal – Di bawah terik matahari kami tengah asyik menikmati proses pembelajaran hari ini, seakan tak ingin berhenti, semua siswa dengan serius mendengarkan pemaparanku. Aku begitu senang melihat mereka, serasa tak ingin berpisah dan ingin terus bercerita membagikan ilmuku untuk mereka, yang sesekali kelas ini diwarnai dengan canda dan tawa antara kami, hitung-hitung sebagai penghibur sementara ketika mulai jenuh. 
    Begitulah mengajar, banyak sensasi yang bisa kita risakan, yang terkadang kita bisa merasa bosan, kesal, senang, semangat, dan berbagai sensasi lainnya. Semua itu tergantung pribadi masing-masing dalam menyikapinya. Maka jangan heran jika di sekolah ada guru yang sangat disenangi siswa, ada yang ditakuti siswa, dan ada yang disegani siswa. Dari Kketiga pilihan tersebut tentu kita menginginkan pilihan pertama bukan? Yaitu ingin disenangi oleh seluruh siswa kita. 
    Tak mudah memang menjadi guru yang disenangi siswa, kita harus sabar menghadapi berbagai tingkah laku siswa, mulai dari yang baik, sampai yang nakal, semua itu harus kita hadapi dengan tidak pilih kasih, sebab kasih sayang guru kepada siswanya tidak dilihat dari kemampuannya, meskipun ia tidak memiliki kemampuan apapun untuk diunggulkan, namun seorang guru harus bersikap sama, memberikan perhatiannya dengan kadar yang sama. 
    Begitu juga ketika mengajarkan siswa, seorang guru harus mampu menguasai konsep mengajar dengan penuh cinta. Sebab jika tidak, materi yang disampaikan hanya sekedar pelengkap saja, padahal materi itulah yang harus dikuasai, namun tidak bisa dikuasai oleh siswa, jika guru mengajar dengan keadaan terpaksa bukan karena cinta. 
    Hanya orang-orang pilihan yang bisa melakukannya, baginya mengajar bukan lagi sebuah keterpaksaan, melainkan sebuah kewajiban yang harus ditunaikan dalam rangka mewujudkan pendidikan bangsa. Menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk menyiapkan strategi pembelajaran yang menarik bagi mereka, terutama karakter cinta, sehingga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat dan bisa menghasilkan ide dewasa. 
    Penuh rasa, makna, dan cinta itulah berbagai karatker yang akan dialami. Hal serupa dialami oleh mereka yang tengah asyik mengabdikan dirinya sebagai guru di sekolah terpencil. Bisa kita lihat betapa sabarnya mereka, meskipun dibawah pohon rindang, mereka tak peduli, mereka tetap saja menikmati waktu bersama siswa, semuanya dilakukan karena cinta, sebab cintalah yang buatku seperti ini, mengajar ilmu dengan sepenuh hati.

    Penulis Muhammad Iqbal

  • Organisasi dalam Perspektif Mahasiswa, Menurutmu?


    Kalian tipikal mahasiswa yang seperti apa? Aktivis atau akademisi? Menjadi tipikal mahasiswa yang aktivis ataupun akademisi tidaklah salah. Karena sejatinya hidup memang sebuah pilihan. Semua dijalani tergantung dari pilihan yang sudah kita tentukan. Berdasarkan pengamatan pribadi, mahasiswa lebih suka menjadi tipikal yang akademisi. Entah faktor dari dorongan orang tua yang menginginkan anaknya cepat menyelesaikan studi, atau tidak menyukai kesibukan di luar dunia perkuliahan. Bagaimana dengan kampus kalian? Kebanyakan mahasiswa beranggapan bahwa kegiatan organisasi hanya akan menghambat perkuliahan dan menambah beban yang mengakibatkan lelah.

    Pemikiran yang demikian benar-benar dapat dikatakan terlalu sempit. Padahal, kategori mahasiswa sudah harus mengajarkan kita arti kehidupan yang sesungguhnya. Perlu diperbaiki dalam hal pola pikir mahasiswa yang mengatakan bahwa organisasi hanya akan menghambat perkuliahan. Bagaimana dengan mahasiswa yang mendapatkan gelar mahasiswa berprestasi? Apakah mereka mahasiswa yang biasa-biasa saja? Tidak! Persisnya tidak diketahui teknik suatu universitas memberikan gelar mahasiswa berprestasi. Di kampus pribadi, gelar mahasiswa berprestasi didapatkan karena mahasiswa yang memiliki IPK > 3,5 dan aktif berorganisasi. Mengapa demikian?

    Hal tersebut diapresiasi karena mahasiswa aktivis mampu memanajemen waktu dengan baik antara kegiatan organisasi dan perkuliahan. Toh, buktinya mahasiswa yang mendapatkan gelar sarjana terbaik adalah mereka mahasiswa aktivis. Bukan akademisi. Sebenarnya masih sangat ngambang pada pemikiran yang mengatakan bahwa ‘organisasi hanya akan menghambat perkuliahan’. Sisi mana yang menghambat perkuliahan? Sedangkan waktu yang dipergunakan untuk perkuliahan tidak akan habis dalam 24 jam. Jika dikalkulasikan waktu kosong kalian di luar perkuliahan, berapa banyak waktu kosong yang kalian miliki? Apakah waktu kosong tersebut kalian gunakan untuk kegiatan yang produktif?

    Silahkan jawab pada diri masing-masing. Mahasiswa sudah harus belajar untuk memecahkan permasalahan. Menjadi seorang yang aktivis akan menjadikan kita lebih dewasa. Mungkin pada awal waktu, kalian akan kelabakan dan belum bisa mengatasi semua permasalahan dalam hal manajemen waktu. Tetapi, seiring berjalannya waktu semua akan mengalir. Apa yang harus kita lakukan? Perbaiki manajemen waktu. Jika tidak dimulai dari sekarang, sampai kapan kalian mau berada di zona nyaman kalian yang hanya akan mengurusi perkuliahan saja?

    Tulisan ini bukan mensugetsi diri kalian untuk menjadi aktivis kampus. Sama sekali tidak! Hanya saja, sedikit meluruskan pandangan mahasiswa terkait dengan para aktivis kampus. Sekiranya kalian adalah tipe mahasiswa yang akademisi, mungkin memiliki sahabat yang aktif berorganisasi. Baiknya agar tidak mengucilkan sahabat kalian hanya karena mereka seorang aktivis. Tetapi, coba sharing bersama mereka. Mahasiswa yang aktivis sangat berbeda dengan mahasiswa yang akademisi. Mulai dari segi sosial, pandangan hidup bahkan wawasan. Mengapa? Dari segi sosial, mahasiswa aktivis tentu memiliki banyak jaringan. Jaringan dalam artian teman. Jangan salah ya, karena teman juga merupakan salah satu rezeki bagi kita.

    Selain itu, memiliki pandangan hidup yang berbeda. Berkegiatan di luar perkuliahan akan mengajarkan kita tentang pentingnya memanfaatkan waktu luang. Membuat diri kita sadar bahwa waktu luang yang dimiliki harus dilakukan untuk kegiatan yang produktif. Permasalahan di luar perkuliahan akan mengajarkan kita tentang miniatur kehidupan. Bersosialisasi, berbicara dengan orang yang tidak dikenal, tampil dengan percaya diri di depan orang banyak, dan masih banyak lagi. Itulah mengapa mahasiswa akktivis dan akademisi sangat berbeda. Bagi mahasiswa yang akademisi, tentu akan tenang dan nyaman saja. Yang dipikirkan hanya dunia perkuliahan. Mungkin saat perkuliahan belum terasa kekurangannya. Namun, puncaknya ada pada dunia pekerjaan.

    Mengapa? Perbedaan akan sangat terlihat. Mahasiswa yang aktivis tentu softskill sudah terbangun sejak berorganisasi. Softskill yang seperti apa? Banyak. Tampil dengan percaya diri, mampu berkomunikasi yang baik, mampu bekerja dalam tim dengan baik dan sebagainya. Sedangkan mahasiswa akademisi, baginya itu akan terasa asing dan canggung. Tidak sedikit kita lihat bahwa banyak yang tidak percaya diri, tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang lain, individualism dan lainnya. Lalu, apa manfaat dari hasil IPK 4,0. Jika, semua nilai yang dipertahankan agar tetap bagus di bangku perkuliahan menjadi tidak berarti sama sekali.

    Sehingga, sangat penting bagi kita yang berlabel mahasiswa untuk mempertimbangkan segala sesuatunya. Toh, yang merasakan manfaatnya adalah diri sendiri. Tipikal apapun itu, mahasiswa akademisi ataupun aktivis, silahkan jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain. Semoga tulisan ini dapat memotivasi diri dan menjadikan diri kita lebih produktif lagi dalam memanfaatkan waktu luang yang ada. Hidup Mahasiswa! J
  • Apa itu Pendidikan Karakter ?

    Apa itu Pendidikan Karakter ?

    Apa itu Pendidikan Karakter ?
    Sebagai manusia tentu harus mempunyai karakter yang baik apalagi jika kita merupakan seorang siswa yang diajarkan tentang pendidikan karakter. Berbagai upaya pemerintah lakukan untuk menerapkan pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Peraturan perundang-undangan pun di aturnya untuk menguatkan kita akan pentingnya pendidikan karakter. Lantas apakah pendidikan karaker itu ?.
    Menurut wikipedia, pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Dimana tindakan ini harus dilakukan oleh berbagai pihak, baik pihak sekolah sebagai pendidik maupun orang tua sebagai keluarga. Tapi, tak lupa diri kita sendiri harus mempunyai keinginan yang kuat untuk mewujudkan tindakan tersebut.
    Tujuan pendidikan karater ini adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik. Lebih baik disini bukan hanya dari faktor akademis saja, tetapi dari segi sifat, perilaku moral, dan juga ahlak. Seperti menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS, yakni :
    “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
    Berdasarkan dua pengertian diatas, berikut ini berbagai pengertian Pendidikan Karakter menurut para ahli, diantaranya :

    1.  Pendidikan Karakter Menurut Lickona

    Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

    2.  Pendidikan Karakter Menurut Suyanto

    Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.

    3.  Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya

    Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).

    4.  Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi

    Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).
    Berdasarkan pengertian-pengertian di atas kita bisa mempunyai kesimpulan tentang pengertian pendidikan karakter. Singkatnya pendidikan karakter itu sebuah tindakan memperbaiki diri, mengubah pola pikir, melatih karakter atau watak seseorang agar menjadi generasi penerus bangsa yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
    Jelas sudah bahwa tujuan pendidikan karakter memang untuk memperbaiki diri, baik dari segi perilaku kita terhadap lingkungan sekitar, sekolah maupun dalam masyarakat luas. Pendidikan karakter bisa jadi secara turun-temurun ataupun dilatih sejak dini.
  • Tilik Kesuksesan Pendidikan Zaman “Doeloe”

    Tilik Kesuksesan Pendidikan Zaman "Doeloe"
      TILIK PENDIDIKAN JAMAN “DOELOE”Pendidikan jaman sekarang jika dibedakan dengan pendidikan pada jaman dahulu memang sudah sangat jauh berbeda.Mulai dari media pembelajaran,alat tulis yang digunakan, tempat yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dan lain sebagainya.Jika kita lihat media yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar pada waktu itu masih banyak menggunakan papan tulis dilengkapi kapur sebagai alat tulisnya.Tidak jarang juga beberapa siswa yang masih menggunakan batu tulis sebagai pengganti buku tulis.

      Dahulu, beberapa murid hanya memakai sandal atau bahkan bertelanjang kaki untuk pergi ke sekolah.Mereka pun biasanya hanya menggunakan satu buku sebagai buku catatan beragam materi pelajaran yang diwadahi dalam kantong plastik atau dimasukkan pada saku celana.Keadaan Sekolah mereka pada waktu itu masih sangat sederhana dengan penerangan seadanya dan fasilitas yang sangat terbatas.

      Bisa kita lihat contohnya ada dalam Film yang berjudul “Laskar Pelangi” yang disutradarai oleh Riri Riza yang sempat booming pada tahun 2009.Film ini menggambarkan tentang kesederhanaan pendidikan di sebuah daerah di Belitung yang pada saat itu fasilitas nya masih jauh di atas kata layak.Walaupun demikian, para murid tetap semangat dalam bersekolah guna mewujudkan impian mulia mereka.

      Hal ini jika dibandingkan dengan pendidikan jaman sekarang, tentunya jauh sangat berbeda.Bagaimana tidak ? siswa jaman sekarang sudah sangat dimanjakan dengan berbagai fasilitas modern baik dari sekolah maupun fasilitas pribadi.Berangkat sekolah jadi dimudahkan dengan adanya motor pribadi,mobil pribadi, ataupun kendaraan umum.Sesampainya di sekolah, mereka kembali di manjakan dengan Gedung Sekolah yang megah beserta fasilitas-fasilitas memadai di dalamnya seperti AC dan Komputer.Media pembelajaran lebih sering menggunakan LCD Proyektor sebagai pengganti dari white board.Terkadang, para siswa hanya tinggal menggunakan fasilitas berupa internet untuk mengunduh materi pembelajaran dan menyimpannya pada ponsel mereka masing-masing tanpa harus menulis ulang pada buku.

      Alangkah disayangkan karena generasi muda jaman sekarang tidak terlalu memikirkan tentang pentingnya pendidikan, sehingga mereka cenderung bosan jika berada di sekolah.Membolos saat jam pelajaran, tidak berangkat sekolah tanpa keterangan yang jelas,tawuran, membangkang kepada Guru sudah menjadi hal yang lazim terjadi di kalangan pelajar.

      Sebagai pelajar yang baik, sudah seharusnya kita banyak belajar dari kegigihan dan ketekunan para pelajar terdahulu yang sangat berjuang demi memperoleh ilmu pengetahuan dan pendidikan yang layak.Oleh karena itu mari kita manfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya agar kita menjadi generasi yang cerdas dan berprestasi.Karena Bangsa ini tergantung pada para Generasi muda nya.
  • Ekonomi dan Pendidikan, 2 Dimensi Yang Berbenturan, Betulkah?

    Ekonomi dan Pendidikan, 2 Dimensi Yang Berbenturan


    Ekonomi dan Pendidikan, 2 Dimensi Yang Berbenturan – Madura merupakan sebuah pulau besar yang terletak bersebelahan dengan Pulau Jawa. Keberadaan Pulau Madura berbatasan langsung dengan Pulau Jawa melalui kota Bangkalan (Ujung Barat Pulau Madura) dan Pelabuhan Perak Surabaya yang dibatasi oleh lautan. Madura dibagi menjadi empat Kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Sebagai sebuah wilayah kepulauan, Madura dikelilingi oleh daerah perlautan yang membentang kesegala penjuru. Keberadaan jembatan Suramadu semakin membuat Pulau ini mudah berinteraksi baik secara ekonomi maupun sosial dengan masyarakat di Pulau Jawa.
    Memiliki sumber daya alam melimpah disektor laut dan pertanian, penduduk Pulau Madura mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai petani, nelayan, petani garam, peternak dan sebagaian merantau ke luar pulau sampai menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di negera tetangga. Minimnya tingkat pendidikan merupakan masalah yang krusial di Pulau ini. Pendidikan tertinggi yang dicapai penduduknya mayoritas hanya terbatas di SD, SMP, maupun SMA dan hanya sedikit yang mampu melanjutkan di Perguruan Tinggi. Minimnya tingkat pendidikan tersebut disebabkan oleh keterbatasan segi ekonomi dan juga minat pemuda untuk melanjutkan pendidikan.
    Pemandangan pengemis cilik di Pelabuhan Kamal, Bangkalan, Madura, menjadi titik pandang terhadap minimnya pendidikan. Pengemis cilik itu didominasi oleh anak dengan kisaran umur 2 sampai 10 tahun. Bahkan, sempat terlihat anak berumur 7 tahun-an yang menggendong adiknya yang masih berumur 2 tahun. Sangat miris, mereka meminta-minta disepanjang jalan pelabuhan hingga masuk kedalam kapal. Setelah ditelusuri lebih lanjut, mereka meminta-minta karena unsur paksaan dari orangtuanya. Mereka bukan hanya berasal dari daerah setempat, tetapi juga berasal dari Kabupaten Sampang dan Pamekasan.
    Jam kerja mereka dimulai sejak pagi hari sampai menjelang petang. Ketika disinggung tentang sekolah, sebagian besar dari mereka menjawab kalau mereka tidak bersekolah. Meskipun ada sedikit dari mereka yang masih berkesempatan untuk sekolah. Dengan kondisi yang demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar dari mereka juga belum dapat membaca dan menulis. Yang mereka tahu adalah meminta uang kepada penumpang kapal dengan cara merengek-rengek mengenakan pakaian lusuh dan tas kecil slepang yang membuat siapapun merasa iba.
    Ekonomi dan Pendidikan, 2 Dimensi Yang Berbenturan
    Gardu pendidikan pertama adalah keluarga, khususnya orangtua. Pendidikan sendiri memegang peranan yang sangat penting untuk masa depan anak. Sudah sepantasnya memberi kesempatan kepada anak untuk mengenal angka, mengeja huruf, meningkatkan kecerdasan dan mengembangkan kemampuan. Sangat disayangkan, jika anak kemudian dirampas haknya untuk mengenyam pendidikan dan diganti dengan kegiatan bekerja bukan pada waktunya. Terlebih lagi dengan pekerjaan meminta-minta. Untuk orangtua, jika ekonomi menjadi pembatas, jangan jadikan anak-anak sebagai pekerja, tapi bekerjalah lebih keras agar anak-anak kalian tidak bekerja sekeras dirimu dimasa ini. Melihat anak-anak lebih maju dari orangtuanya, pasti menjadi sesuatu yang sangat membanggakan (Ind).
  • Peran Pemuda Sebagai Volunteer Bidang Pendidikan

         

    Peran Pemuda Sebagai Volunteer Bidang Pendidikan


    Peran Pemuda Sebagai Volunteer Bidang Pendidikan – Pemuda adalah sosok harapan bangsa untuk mewujudkan cita-cita suatu negara. Saat ini banyak sekali pemuda di Indonesia, apalagi di era 2030 akan memasuki bonus demografi. Pemuda yang  berumur produktif dengan jumlah lebih banyak akan menanggung masyarakat tidak produktif. Bahkan Bapak Proklamator RI (Republik Indonesia) juga menyampaikan “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, maka kuguncangkan dunia”.

    Begitu pentingnya peran pemuda hanya dengan satu orang, apalagi semua pemuda di seluruh pelosok Indonesia dengan jiwa semangat yang membara akan mengubah dunia lebih baik. Berdasarkaan data sensus BPS (2010), penduduk umur 16-30 yang termasuk pemuda berjumlah 62 juta. Jumlah yang begitu besar menjadi aset bangsa, terutama di bidang pendidikan.

    Pendidikan adalah pintu gerbang menuju cita-cita Indonesia yang tertuang di dalam pembukaan UUD (Undang-Undang Dasar) 1945. Upaya pencerdasan bangsa melalui peningkatan kualitas adalah pemerataan pendidikan. Setiap bangsa Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak baik formal maupun non formal. Jika kita melihat kondisi pendidikan Indonesia saat ini perlu ditingkatkan kualitasnya. Hal tersebut bisa teratasi melalui peran seorang pemuda yang terjun langsung di bidang pendidikan. Mahasiswa yang biasa disebut agent of change (agen perubahan) dapat mengaplikasikan sebutan itu bukan sekedar fiksi melainkan fakta.

    Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus dijunjung oleh akademisi adalah mengajar, penelitian dan pengabdian. Salah satu peran mahasiswa yaitu pengabdian, biasanya dilaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) pada tingkat akhir. Akan tetapi, bentuk pengabdian ini seharusnya tidak berhenti hanya saat KKN. Jiwa kepedulian dan nasionalisme yang tinggi harus terpatri dalam sanubari mahasiswa. Mencoba melihat permasalahan bidang pendidikan di lingkungan sekitar, masih banyak anak putus sekolah, kekurangan tenaga pengajar dan fasilitas tempat belajar yang tidak layak. Memang pemerintah sudah memberikan beasiswa pendidikan, tetapi masih ada masyarakat Indonesia yang kurang mendapat informasi.

    Dimulai dari hal kecil saja, mahasiswa sebagai calon sarjana yang akan menjadi calon pemimpin bangsa harus membuka pikiran untuk membantu mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia. Satu orang mahasiswa berinisiatif mengajak temannya bahkan pemuda lainnya yang hanya lulusan SMA sederajat untuk membentuk suatu komunitas pejuang pendidikan. Jika yang berjuang banyak akan semakin menguatkan visi tercapai. Peran sederhana dari seorang pemuda yang berdampak besar bagi pendidikan Indonesia adalah menjadi volunteer (relawan). Memang menjadi relawan tidak digaji karena melakukannya dengan ikhlas tanpa pamrih. Pemuda harus meyakini bahwa menjadi volunteer adalah pekerjaan mulia yang akan bernilai pahala tidak terhingga dari Tuhan. Saat ini banyak dijumpai sebuah komunitas yang terdiri dari volunteer pendidikan.

    Hati saya sendiri tergugah saat pulang dari”Asia Pasific Future Leader Conference 2017″ yang diselenggarakan di Kuala Lumpur. Disana saya bertemu dengan para pemuda dari Asia Pasifik. Mereka mempresentasikan hal-hal yang sudah dilakukan untuk mewujudkan SDG’s (Suistanable Development Goals) yang ada 17. Lalu, saya merasa belum berkontribusi untuk Negeri selama menempuh pendidikan Perguruan Tinggi melalui beasiswa. Setelah kembali ke Indonesia, timbul niat saya untuk mewujudkan SDG’s yang ke-4 tentang kualitas pendidikan. Saya merasa anak-anak yang tinggal di Panti tidak mendapatkan kualitas pendidikan yang sama dengan temannya karena masalah biaya sehingga tidak bisa kursus. Lalu, timbul ide untuk membuat komunitas Laskar Panti yang diikuti volunteer dari mahasiswa berbagai jurusan dan angkatan.

    Kegiatan utama yang dilaksanakan adalah bimbingan belajar gratis untuk adik-adik yang tinggal di salah satu Panti Purwokerto. Selain itu, terdapat pelatihan sesuai bakat dan minat dan berbagi ilmu sesuai bidang tiap volunteer. Biasanya mengajarkan ilmu pertanian melalui hidroponik, menanam di hidrogel dan lainnya. Jadi, adik-adik di Panti dapat merasakan tambahan belajar di luar sekolah secara gratis dan pengetahuan di bidang lain.

           
    Komunitas di bidang sosial maupun pendidikan sudah banyak dijumpai di Purwokerto. Sebelum adanya Laskar Panti, sudah berdiri Sahabat Panti, Bhinneka Ceria, Kelas Inspirasi dan lainnya. Beberapa bulan yang lalu terdapat komunitas baru lagi yang terdapat bidang pendidikan yaitu “Inspirator Indonesia Chapter Barlingmascakeb”. Salah satu kontribusi sederhananya adalah menjadi volunteer pengajar di salah satu TPQ Perumahan Purwokerto yang kekurangan tenaga pengajar. Buat seluruh pemuda, janganlah berdiam diri menghadapi permasalah pendidikan di lingkungan sekitar karena kunci terwujudnya Indonesia yang makmur dan sejahtera.

    Bertindak dan berkontribusi semampunya karena hancur atau tidaknya suatu negara berada di tangan para pemuda. Jangan hanya mengkritisi tetapi beraksi yang pasti sebelum mati.
    Salam Menginspirasi dan Mengabdi Tuk Negeri.
             
  • Penanaman Kecintaan Pada Seni dan Budaya Melalui Dunia Pendidikan

    Penanaman Kecintaan Pada Seni dan Budaya Melalui Dunia Pendidikan
                Seperti halnya kecintaan pada Bangsa dan Negera, kecintaan pada Seni dan Budaya tidak bisa serta merta tumbuh pada diri seseorang. Seorang anak yang tidak bersentuhan langsung terhadap seni, maupun tidak diperkenalkan sejak dini mengenai seni dan kebudayaan, biasanya tumbuh menjadi anak yang kurang peka terhadap estetika (keindahan) maupun budaya yang ada disekitarnya.
                Saat menjadi guru saya banyak melihat hal yang demikian. Seni dan budaya tanpa kita sadari sebenanrnya adalah sebuah hal yang melebur di dalam diri kita, di dalam masyarakat kita dan dalam semua kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Hanya saja kita tidak peka terhadap hal tersebut, sehingga hal tersebut acapkali terlihat biasa saja, bahkan tidak berpengaruh apa-apa pada diri mereka.
                Hal inilah yang terkadang memberikan sedikit kesulitan dalam pembelajaran seni budaya di sekolaha. Karena bagi mereka seni adalah sebuah maha karya dan budaya adalah seseuatu mengenai tradisi turun menurun yang sifatnya tua dan menjadi mlik kita sejak dahulu. Pengenalan seni dan budaya sangat melekat erat. Sejak di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) tentu kita sudah berusaha mendekatkan anak-anak pada seni dan kebudayaan kita. Contoh paling sederhana adalah ketika kita menyanyikan lagu kebangsaan di depan kelas. Menyenyi adalah bagian dari seni dan lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah bagian dari kebudayaan yang kita miliki. Sampai pada hal yang paling kompleks saat anak-anak diajarkan tampil untuk berani tampil untuk membawakan sebuah tarian bersama atau drama-drama sederhana di atas panggung saat malam perpisahan.
    Pada dasarnya penerapan seni sejak TK dan SD menekankan pada keberanian untuk tampil dan pengembangan diri. Saya jarang sekali menemukan seorang guru yang mungkin dalam bentuk sederhana menjelaskan apa itu batik sambil mencontohkan seragam almamater yang mereka pakai hari itu, atau seorang wali kelas di SD yang menceritakan perihal sejarah munculnya budaya Tari Singo Ulung sebagai bentuk kearifan lokal yang ada di Kabupaten kami, Bondowoso, di jenjang Sekolah Dasar (SD).
                Hal semacam ini saya pikir telah membuat jarak yang cukup jauh, sehingga pada akhirnya di jejang SMP dan SMA para guru seni perlu membuat lompatan yang besar, untuk memperkenalkan sei dan budaya yang ada di daearah, sampai mereka benar-benar paham apa itu budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh daerah kami. Kebanyakan anak-anak yang tidak bersentuhan langsung dengan seni dan kebudayaan di lingkungannya, mengetahui seni hanya dengan mendengar dan membaca sekilas pada buku teks tanpa mendalaminya.
                Begitu masuk di jenjang SMA, saya banyak menemukan bahwa anak-anak tidak bisa menyebutkan lebih dari 3 kebudayaan yang daerah kami miliki, tarian apa yang kami miliki, kearifan lokal apa yang berkembang dalam masyarakat kami dan tradisi apa yang kami miliki. Semua pertanyaan itu seperti sangat mudah dijawab dan diketahui semua orang, tetapi tidak bagi mereka. Hal ini terjadi, karena pengenalan seni dan budaya tidak dilakukan sejak dini. Mulai lunturnya berbagai tradisi dan budaya yang ada di masyarakat, juga membuat mereka semakin jauh dari budaya yang seharusya wajib mereka warisi.
                Di daerah saya, Kabupaten Bondowoso, saya mulai melihat pertunjukan Tarian Singo Ulung dan Ojung menjadi hal yang hampir langka. Selain saat hari-hari besar dan event-event daerah maupun budaya, tarian ini tidak mentradisi dilingkungan tempat tinggal kami, yang dulunya dari Buyut saya pernah bercerita, bahwa pertunjukan Ludruk, Leong, Tarian Singo Ulung, Wayang Golek maupun Ojung adalah hiburan yang merakyat, dimana hampir tiap bulan nikah, peringatan 1 Muharram, Maulid Nabi Muhammad dan Hari Kemerdekaan, semua orang berkumpul untuk menyaksikannya di kantor desa atau rumah-rumah yang memiliki hajat. 
    Hal ini jelas membawa pengaruh besar pada rasa cinta dan memiliki akan seni maupun budaya yang ada tumbuh di lingkungan mereka. Sehingga secara tidak langsung, mereka telah mengenal dan memplajari seni dan budaya dalam bentuk hiburan rakyat sejak dini, dari lingkungan mereka sendiri tanpa perlu materi di dalam kelas. Seharusnya materi mengenai Seni dana Kebudayaan local di kelas adalah bagian dari penguatan pemahaman mereka. Bukan pengetahuan baru.
    (https://dolandolen.com/6-seni-kebudayaan-unik-milik-bondowoso-yang-wajib-dolaners-ketahui-dan-pelajari/)

    Beberapa kebudayaan yang dimiliki Kabupaten Bondowoso

                Pengalaman estetis adalah cara termudah dan paling mudah membekas di hati tiap anak dalam hal mengingat. Saat mereka terlibat langsung di dalam kebudayaan dan kultur itu sendiri, maka mereka tidak perlu lagi menghafal. Mereka hanya perlu mengingat, bahwa apa yang mereka lihat adalah kebudayaan yang mereka miliki, sehingga rasa ingin mempertahankan, kepedulian dan rasa melindungi menjadi lebih kuat.
                Perkembangan zaman dan pola mendidik dan memperkenalkan seni dan budaya dalam dunia pendidikan memang sudah banyak berubah, dan sebagai guru pun saya tidak serta merta meyalahkan keadaan ini, karena saya pun hidup dalam lingkungan tersebut. Sehingga segala kesulita tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri bagi kami para guru seni budaya.
                Salah satu cara yang biasanya saya lakukan dalam proses pengenalan seni dan budaya kepada mereka adalah dengan cara melakukan berbagai obeservasi, baik itu pada sebuah badan usaha seperti batik dan kerajinan kuningan khas Kabupaten kami, pada acara kebudayaan, maupun pada narasumber tertentu di lingkungan tempat tinggal mereka. Dengan cara itu mereka bisa mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai budaya apa yang dulu berkebangan dan tumbuh di sekitar mereka. Medengar dan turun langsung ke lapangan bagi saya adalah cara paling ampuh kedua untuk membuat mereka memahami tentang seni dan kebudayaan, dari pada mendengar penjelasan materi di dalam kelas.
                Jika kami memiliki watu senggang atau jam pelajaran yang lebih, maka biasanya saya meminta mereka untuk membaca sebuah buku yang nantinya akan kami bahas bersama di kelas, sehigga anak yang telah membaca bisa bercerita tetang apa yang dia tahu pada teman yang lainnya.dengan begitu, kami memiliki bahan diskusi mengnai kebudayaan. 
    Selain itu menonton VCD mengeai tari-tarian daerah, Ludruk, teater dan kesenian lain juga dapat membantu kami untuk bisa mengapresiasi budaya tersebut dengan cara yang paling mudah dan murah. Meskipun dirasa sedikit berat, saya begitu ingin meyampaikan dan mengajarkan kepada para siswa siswi saya, bahwa seni dan budaya adalah cakupan yang sangat luas. Pembelajaran seni, buka hanya tentang ‘kamu harus bisa menggambar’, tetapi jauh lebih dari itu, kami para guru harus menumbuhkan rasa cinta pada tiap seni dan budaya yang kami miliki dengan tetap mempertahankan tradisi dan kearifan lokal ditengah perkembangan zaman. 
    Dengan begitu, kami semua akan memiliki rasa bertanggung jawab yang sama besar, rasa memiliki yang sama besar, juga rasa ingin menjaga dan melestarikan yang sama besar. Saat itu terjadi, bukan hal mustahil untuk melestarikan budaya hingga bisa kita perkenalkan pada dunia Internasional melalui pembelajran seni dan budaya di sekolah.
  • Pentingnya Pendidikan Bagi Kaum Hawa, Wajib Tahu!

    Pentingnya Pendidikan Bagi Kaum Hawa, Wajib Tahu!
    Pentingnya Pendidikan Bagi Kaum Hawa, Wajib Tahu! – Dikenal istilah ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tentu istilah tersebut merujuk pada pentingnya pendidikan bagi kaum hawa. Pendidikan yang dimaksud disini bukan hanya pendidikan di sekolah saja, namun pendidikan agama juga harus dikuasai oleh kaum hawa. Seperti menguasai bacaan Alquran. Agar kelak anak-anaknya mendapatkan pembelajaran pertama mengenai Alquran dari dirinya. Banyak sekali orangtua yang hanya mengedepankan pendidikan sekolah namun tidak dengan pendidikan agama. Padahal pendidikan agama juga sangat diperlukan bagi kehidupan, lebih-lebih jika sudah terjun dalam masyarakat.
                Seperti halnya ketika bulan Ramadhan, kemampuan membaca Alquran sangatlah diperlukan, tidak hanya bagi kaum Hawa tapi juga kaum Adam. Akan selalu ada tadarrus Alquran yang dilaksanakan di setiap masjid ataupun musholla. Seorang perempuan, terlebih ketika telah menjadi ibu haruslah menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Saat seorang ibu menyuruh anaknya belajar agama atau mengaji maka seorang ibu haruslah bisa mengaji atau setidaknya menguasai ilmu agama meski sedikit.
                Mindset masyarakat kebanyakan adalah setinggi apapun pendidikan seorang wanita, akhirnya jua dia akan berkecimpung dalam dunia perdapuran. Hal seperti itu memang benar, namun seorang ibu bukan hanya koki bagi anak dan suaminya. Namun seorang ibu haruslah menguasai berbagai macam ilmu, seperti kedokteran untuk menangani anggota keluarganya yang sakit. Seperti guru untuk mengajari anaknya ketika mendapatkan PR dari guru sekolahnya. Kaum hawa pun harus terampil dan kreatif ketika anaknya mendapatkan tugas keterampilan dari sekolahnya.
                Jadi, berpikirlah ke depan ketika kalian kaum hawa mulai merasakan malas belajar. Karena di tangan kalianlah generasi bangsa ini akan diarahkan kemana.
  • BEASISWA PELATIHAN PERHOTELAN DI BALI

    BEASISWA PELATIHAN PERHOTELAN DI BALI

    BEASISWA PELATIHAN PERHOTELAN DI BALI – Hallo Sobat Shalaazz, khusus wanita lulusan SMA/ Sederajat. kalian yang tertarik meniti karir di bidang perhotelan dan pariwisata. jangan sampai melewatkan kesempatan baik ini.

    Program Bali Wise yang keberadaannya di dukung oleh yayasan ROLE merupakan pelopor program sosial, yang memberikan beasiswa pendidikan dan pelatihan kerja kepada wanita yang memerlukan pembekalan pengetahuan untuk memenuhi standarisasi persyaratan kerja, khususnya di bidang perhotelan.
    selama menjalani program pelatihan gratis selama 6 bulan di Bali, para peserta akan mendapat fasilitas antara lain : geratis biaya pelatihan, tempat tinggal (asrama), makan 3x sehari, seragam, serta uang saku.
    3 bulan pertama merupakan pelatihan dasar-dasar bekerja. seperti bahasa inggris, dasar-dasar perhotelan, etika kerja, yoga, komputer dan sebagainya.
    3 bulan selanjutnya merupakan pelatihan praktik kerja. seperti praktik di hotel meliputi F&B, housekeeping, administrasi, spa, tour&travel, serta beberapa keterampilan lainnya.

    Persyaratan umum lainnya yaitu :

    • wanita usia 17-24 Tahun
    • pendidikan minimal SMK/ Sederajat
    • tidak mampu melanjutkan kuliah
    • tidak memiliki keahlian khusus
    • tekun dan memiliki motivasi yang tinggi
    • belum bekerja atau bekerja dengan kondisi yang buruk atau upah minim.

    Prosedur dan batas akhir pendaftaran :

    Dokumen yang harus disiapkan sebelum mendaftar antara lain, KTP, KK, Ijazah, dan Surat Keterangan Tidak Mampu. selain itu pelamar juga wajib membuat Esay serta mengikuti tes bahasa inggris.
    jangan sampai lewatkan kesempatan emas ini, segera daftar pada salah satu sesi (gelombang) yang diadakan 4x dalam  setahun (Januari, April, Juli, Oktober) . Untuk mengetahui syarat dan ketentuan, pendaftarannya silahkan masuk ke – bit.ly/ibs291 (ketik manual di BROWSER Internet)
    penjelasan lengkap mengenai program ini dapat di baca di situs resmi Bali Wise ( baliwise.org)
    Itulah Informasi mengenai BEASISWA PELATIHAN PERHOTELAN DI BALI, semoga info ini sangat bermanfaat dan membantu, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

    sumber di dapat dari : infobeasiswa

  • 10 Cara Sederhana untuk Melatih Kecerdasan Emosional

      10 Cara Sederhana untuk Melatih Kecerdasan Emosional

    Apa itu EQ dan Bagaimana Cara Mengembangkannya ?

        10 Cara Sederhana untuk Melatih Kecerdasan Emosional – Istilah EQ sering  dikaitkan dengan kecedasan emosional atau emotional quotient mungkin masih terdengar asing bagi kita selain IQ , padahal EQ juga penting dalam hidup kita untuk mengatur emosi dan bersosialisasi . IQ memang penting dalam kecerdasan intelektual dan masuk perguruan tinggi tetapi jika seseorang tidak dapat mengatur emosi atau tidak mengendalikan diri untuk apa yang harus dilakukan selanjutnya maka seseorang  akan mengalami stress.
    Seperti contoh, ada seseorang yang pandai dalam akademis namun ia tak pernah ikut organisasi dan ada satu orang biasa-biasa saja, nilai akademisnya rata-rata namun dia aktif berorganisasi dan selalu punya hubungan yang baik bagi orang sekitarnya, jika salah satu diberi tugas yang menumpuk maka orang akademisnya rata-rata inilah yang bisa mengatasi tugas menumpuk tersebut tanpa stress karena ia mempunyai banyak bantuan dari temannya-temannya namun perlu digaris bawahi bahwa anak yang aktif berorganisasi tadi bukan menngantungkan temannya namun dalam konteks diskusi yang santai dan menyenangkan untuk menyelesaikan tugas tersebut sembari dia berpikir juga maka orang yang aktif organisasi ini pasti akan menjelma menjadi orang pandai yang enjoy jika dibandingkan orang pandai yang tak pernah ikut organisasi tadi yang akan mengalami stress karena tak bisa mengendalikan emosinya saat tugas menumpuk. Berikut cara mengembangkan EQ atau kecerdasan emosional :

    1. Mengenali Emosi yang Dirasakan

        Mengenali emosi diri sendiri itu penting karena dengan demikian anda bisa mengetahui bagaimana perasaaan anda yang sesungguhnya dan karakter diri sendiri itu seperti apa dan bagaimana sebaiknya menyikapinya. Mengidentifikasi apa yang sesungguhnya anda rasakan membantu menangkap pesan yang dikirimkan oleh diri sendiri dan mengetahui apa yang anda rasakan pada saat-saat tertentu.

    2. Mengamati Perubahan Emosi

       Jika anda merasa sering mengalami perasaan yang naik turun seperti gelombang tak berarah, maka hal itu gunakanlah untuk mengamati diri sendiri. Setiap perubahan emosi suasana hati dan perilaku diri sendiri dapat diamati untuk belajar mengatasi berbagai masalah yang timbul. Anda juga dapat mudah faktor apa yang membuat anda merasakan hal tersebut.

    3. Mengelola Emosi

       Pada dasarnya , emosi adalah cara bagi manusia  untuk melakukan tindakan yang akan mengatasi  penyebab dari kemunculan perasaaan tertentu . Kemampuan seseorang untuk mengelola emosi diri sendiri dapat memberian kelebihan bagi seseorang yaitu kebijaksanaan. Contoh ada seorang anak remaja SMP yang lemah dalam semua mata pelajaran sehingga dia diolok-olok oleh teman-temannya namun dia tidak membalas secara berlebihan kepada teman-temannya tesebut oleh karena kecerdasan emosionalnya tetapi ia membuktikan ia bisa masuk tim sepakbola Indonesia serta ia pula rajin membantu orang tua dan berdoa sehingga membuat teman-temannya tadi sangat kagum terhadapnya. Ia menjadi orang yang memiliki pengendalian diri yang sangat baik sehingga dapat mengendalikan situasi di sekitarnya dengan lancar, karena ia mengendalikan emosinya dan bukannya emosi yang mengendalikan dirinya.

    4. Mengekspresikan Emosi

       Cara selanjutnya adalah mengekspresikan emosi . Ketika kita mampu mengelola dan mengendalikan emosi secara matang, maka kita akan merasakan mudah untuk mengontrol ekspresi itu sendiri . Kita akan mampu menahan diri untuk tidak bertindak berdasarkan dorongan emosi negatif dan memberi respon yang tepat untuk berbagai situasi sehingga menjadi cara meningkatkan kepercayaan diri yang baik. Kita dengan mudah akan mengendalikan emosi yang dapat merugikan diri sendiri.

    5. Memotivasi Diri Sendiri

       Pengendalian emosi juga berhubungan dengan kebiasaan berpikir positif. Dengan pikiran yang positif , anda dapat selalu menanamkan pikiran yang positif pula dan tidak mudah merasa pesimis akan suatu hal, atau bahkan merasa kehilangan semangat. Pikiran yang positif mengenai diri sendiri sangat berguna untuk memberi motivasi dan cara membahagiakan diri sendiri ketika kondisi mental sedang menurun.

    6. Mengenali Emosi Orang Lain

       Anda juga akan mudah mengenali emosi orang lain dan mengenali 4 karakter manusia apabila telah terbiasa mengidentifikasi emosi diri sendiri. Kemampuan untuk mengenali emosi yang dirasakan orang lain akan membuat diri menjadi lebih peka sehingga menjadi cepat tanggap terhadap situasi yang ada. Mengenali emosi dapat dilihat dari bahasa tubuh, yaitu gerakan tangan, intonasi suara sorot mata dan ekspresi wajah dan gerakan tubuh lainnya. Dasar dalam hubungan interpersonal adalah kemampuan untuk mengenali emosi yang dirasakan orang lain.

    7. Mengelola Emosi Orang Lain

       Karena Manusia adalah makhluk yang paling emosional, maka semua hubungan yang dibangun pribadi antar pribadi merupakan hubungan yang berdasarkan emosi. Hal ini berkaitan dengan kemampuan kita mengelola emosi orang lain, artinya kita juga harus dapat mengetahui apa yang akan dirasakan seseorang dalam situasi tertentu, dan juga mengambil tibdakan tersebut.

    8. Membuka Pikiran

      Salah satu untuk mencapai kesuksesan emosi adalah jika anda dapat berpikiran terbuka terhadap berbagai kritik dan saran yang datang. Orang yang menolak pendapat orang lain dan hanya mau memegang pendapatnya sendiri adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosi yang rendah, karena tidak mau memperbaiki kekurangan dirinya. Padahal, menerima kritik maupun saran dari orang lain sangat berguna untuk mengembangkan diri sendiri.

    9. Introspeksi

      Jika anda memiliki pikiran yang terbuka maka hal itu akan memepermudah anda melakukan introspeksi terhadap diri sendiri. Ketika mengetahui pendapat orang lain tentang diri sendiri, maka kita juga dapat mengevaluasi diri apakah hal tersebut memang benar atau tidak. Lalu hal itu akan menjadi titik awal untuk mulai memperbaiki kekurangan diri sendiri dan cara mengubah diri menjadi lebih tertata emosinya dan cara menghilangkan kebiasaan buruk.

    10. Menulis Jurnal Sehari-Hari

       Bagian terakhir adalah menulis buah pikiran sendiri pada jurnal merupakan salah satu cara untuk mengenali emosi diri. Anda dapat mencatat segala yang dialami serta apa yang dirasakan sehari-hari, kemudian membacanya ulang ketika dibutuhkan. Melalui jurnal tersebut anda akan belajar untuk mengenali diri sendiri dan juga mengingat interaksi anda dengan orang lain. Hal ini sangat baik sebagai latihan untuk melihat perasaan orang lain, sebab akibat, dan cara untuk menghadapi orang lain.
  • Bingung Perbedaan IELTS dan TOEFL? Ini Penjelasannya LENGKAP

    Bingung Perbedaan IELTS dan TOEFL? Ini Penjelasannya LENGKAP
    Perbedaan IELTS dan TOEFL

    Bingung Perbedaan IELTS dan TOEFL? Ini Penjelasannya LENGKAP– Kamu mau kuliah ke luar negeri ?Bisa, tapi baca artikel ini dulu ya. Mungkin sebagian orang kuliah di luar negeri merupakan salah satu option yang paling interest  dan di gandrungi para pelajar khususnya. Namun semua butuh proses, salah satunya tes kemampuan bahasa inggris yang dikenal sebagai IELTS dan TOEFL. 

    Tes IELTS dan TOEFL sangat berguna untuk melanjutkan studi Pascasarjana atau Master, baik dalam negeri ataupun universitas di luar negeri, persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya ialah tes kemampuan bahasa Inggris. Tes tersebut bisa berupa TOEFL atau IELTS. Hal ini bertujuan agar mahasiswa nantinya mampu berkomukasi dengan baik secara lisan maupun tulisan.

    Mungkin masih ada juga yang masih bingung, apa sih bedanya TOEFL dan IELTS? Nah, mari kita simak.
    1. TOEFL

      TOEFL merupakan salah satu tes ujian kemampuan berbahasa Inggris dengan aksen Amerika. Ujian biasanya diselenggarakan oleh kantor ETS (Educational Testing Service) di Amerika Serikat untuk semua peserta tes di seluruh di dunia. Biasanya tes TOEFL diminta oleh universitas di Amerika Serikat dan Kanada.
      Semua jawaban pada tes TOEFL ini menggunakan Internet Based Test, untuk tesnya sekitar 4 jam yang terdiri dari 4 section, yakni reading section, speaking section, writing section dan listening section. Dari semua section memiliki total nilai 120.
    2. IELTS

      IELTS adalah tes kemampuan bahasa Inggris dengan logat Inggris Britania atau logat British. Pada umumnya, IETLS digunakan pada universitas di negara Australia dan Selandia Baru. Adapun durasi tesnya sekitar 2 jam 45 menit.
      Berbeda dengan TOEFL, dalam tes IELTS semua jawaban ditulis tangan. Section nya sama seperti TOEFL yakni 4 section, yaitu, reading, writing, speaking dan listening. Serta pada akhir tes akan ada skala dari 0-9.
    Jadi gimana temen-temen? udah tau bedanya kan? Jadi mau lanjut S2 dimana?
    Semoga bermanfaat.