Author: Neneng Yuni

  • Tips Menjalankan Pendidikan Gabungan K2O (Kerja, Kuliah dan Organisasi)

    Tips Menjalankan Pendidikan Gabungan K2O (Kerja, Kuliah dan Organisasi)

    Tips Menjalankan Pendidikan Gabungan K2O (Kerja, Kuliah dan Organisasi) – Halo sobat Shalaazz, apa yang terpikir pertama kali di benak sobat dengan judul artikel ini ? Mungkin tentang bagaimana manajemen waktunya, bagaimana sibuknya dan bagaimana akhirnya? Daripada dipikir – pikir mari kita taklukkan bersama dengan ulasan berikut !

    Dalam kehidupan di dunia ini setiap orang tentunya menginginkan adanya pendidikan sebagai kebutuhan masa depan yang lebih baik. Namun, ada kalanya pendidikan terhalang oleh berbagai hal seperti masalah finansial. Maka untuk mengatasi hal ini, tidak jarang seseorang akan berusaha maksimal agar bisa mendapatkan beasiswa atau alternatif lainnya seperti bekerja sambil kuliah. Antara perkuliahan dan pekerjaan harus menjadi prioritas yang sama tingkatannya. 

    Efektifitas waktu pun harus dikejar hari demi hari. Tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan finansial, tapi juga harus mampu menyeimbangkan dengan waktu perkuliahan selama pendidikan itu berlangsung. Selain itu menjadi mahasiswa yang bekerja juga berarti harus memikirkan tentang skil yang ada dalam diri pribadi. Biasanya skil ini dapat terpeniuhi dengan berorganisasi di sana – sini.

    Duh rumit ya rasanya.   Untuk mencapai keberhasilan dalam tiga kategori K2O (Kuliah, kerja dan Organisasi) tersebut dibutuhkan keahlian manajemen yang luar biasa. Setiap perjalanan pastinya membutuhkan amunisi untuk mencharge keimanan sepanjang hari tersebut. Pastinya, ada yang harus dikorbankan untuk mengejar ketiga hal tersebut. Tapi, apakah bisa?

    Ya pasti bisa karena ada kuncinya. Kunci sederhananya yaitu niat, usaha, nekad, dan pengorbanan Jadikan siangmu sebagai waktu perjuangan dalam kehidupanmu. Lalu, jadilah rahibmu di malam hari agar senantiasa terjaga dalam keimanan yang kokoh dan terjaga oleh Allah dalam keadaan apapun. Hal ini juga berarti harus siap dengan konsekuensi agar mau menerima atau tidaknya akan ujian yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita.

    Dalam setiap perjalanan menempuh pendidikan sering kita mendengar kalimat unik yang meluncur dari teman-teman sebaya kita tentang anjuran untuk berfokus pada satu kegiatan saja. Jika mindset itu dibiarkan saja dalam akal kita, maka yang terjadi justru waktumu akan lebih banyak terbuang sia – sia. Pikiran pemuda yang seharusnya bergerak dinamis akan menjadi stagnan dan tidak berkembang.

    Hal sebaliknya yang terjadi jika teman – teman mau mencoba hal baru yang bermanfaat sekaligus, maka akan banyak ide yang dapat terwujud. Mimpi – mimpimu akan semakin mendekat. Jalani dengan ikhlas Pendidikan K2O tersebut. Percayalah semuanya akan berlalu dengan penuh makna.   Bukankah teman-teman adalah pemuda yang menyiapkan diri untuk masa depan kelak?

    Bukankah teman-teman adalah pemuda yang bertebaran di muka bumi dengan melakukan perencanaan, diskusi yang bermanfaat, serta kerja-kerja yang konkrit? Ayolah teman-teman andalah pemuda yang harusnya gembira saat meraih atau terjun ke dunia pendidikan. Persembahkan masa depanmu untuk kebermanfaatan di negeri tanah air sebagai tanda bukti rasa cintamu.

  • Penafsiran Pendidikan Jalan Cinta Para Pejuang Ala Salim A Fillah

    Penafsiran Pendidikan Jalan Cinta Para Pejuang Ala Salim A Fillah
     
     
     

    Penafsiran Pendidikan Jalan Cinta Para Pejuang Ala Salim A Fillah  – Halo sobat Shalaazz, Pendidikan membicarakan hukum tentang yang sedikit. Jalan cinta para pencari ilmu adalah yang sedikit untuk masuk ke dalam dunia perkuliahan atau dunia pendidikan.

    Terlihat banyak tetapi sedikit sekali yang menjajaki ilmu lebih dalam dan mengeksplorasikan dalam sendi-sendi kehidupan. Lalu,  bagaimana peran anak zaman sekarang yang dikatakan oleh Salim A Fillah dikaitkan dengan dunia pendidikan? Salim A Fillah mengungkapkan bahwa dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang, “Seperti kita semua setiap pejuang adalah anak zaman.

    Tetap, mereka menguak celah dinding sejarah. Tepat di saat mentari meninggi. Lalu peradaban menjadi cerah” saya mengartikan apa yang dikatakan Salim A Fillah ini setiap anak pasti akan berbeda masa untuk berjuang. Dalam setiap kehidupan ditentukan oleh pakar-pakar yang berbeda. Berkorban sesuai dengan bidang ilmu yang digelutinya. Menerobos setiap ujung dengan penemuan-penemuan yang mereka teliti serta dituangkan dalam disertasi yang akan membuka logika-logika anak zaman.   

    Membuka pintu-pintu sejarah yang akan dijadikan patokan dalam memainkan perannya sebagai anak zaman muda sekarang. Menjadikan kisah sebagai suatu pelajaran dalam mendidik anak-anak yang terlahir dari rahim ibu sejak kecil. Agar tidak terjadi penyimpangan dalam dunia pendidikan. Ketika terjadi suatu penyimpangan alangkah baiknya anak zaman diikatkan dengan risalah kasih sayang. Karena apa saja yang berasal dari hati maka akan masuk ke hati, apa yang keluar dari lisan maka akan masuk ke telinga, dan anak zaman bukanlah insan yang sekeras batu bukan juga insan yang sebersih para malaikat.  

    Pendidikan menjadi hal yang berfaedah ketika menemukan ikatan kedua insan yang saling menyatukan bukan menyombongkan. Pendidikan yang dikatakan Salim A Fillah harus tegak diantar hikmah-hikmah. Memunculkan kepekaan dan kepedulian melalui hikmah yang menyentuh kalbu akan terasa manfaat yang sangat besar.

    Dibandingkan memarahi atau menceramahi dalam setiap pembelajaran. Tidak akan terasa nikmatnya dalam menuntut ilmu dengan beberapa perjuangan yang telah tertulis dalam sejarah. Dikala semangat anak zaman meninggi. Maka, disitulah akan tercapai peradan yang hakiki.

  • Empat Beasiswa Kuliah Khusus yang Mungkin Bisa Kamu Dapatkan

    Empat Beasiswa Kuliah Khusus yang Mungkin Bisa Kamu Dapatkan

    Empat Beasiswa Kuliah Khusus yang Mungkin Bisa Kamu Dapatkan – Halo sobat Shalaazz, Saat ini sudah banyak beasiswa yang ada di Indonesia. Bagi teman-teman yang merasa khawatir melanjutkan pendidikan. Jangan takut karena beasiswa sudah turun. Tinggal bagaimana memanfaatkan beasiswa yang ada itu sebagai peluang bagi teman-teman. Berikut beberapa beasiswa yang ditawarkan di bangku perkuliahan:

    Beasiswa Kuliah Pecinta Al-Qur’an

    Para pecinta Al-Qur’an yang sudah hafal beberapa juz ini adalah kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Pendidikan yang diperoleh dari pesantren ditambah dengan pendidikan buatan negara sangat cocok untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Beasiswa ini dinamakan Beasiswa PPA. Syaratnya sangat mudah hafal beberapa juz dan berkomitmen untuk menghafal semua juz yang ada di Al-Qur’an selama perkuliahan. Nah, setelah lulus berkomitmen untuk mengabdikan diri di pesantren selama 1 tahun.

    Baca juga: Beasiswa Cendekia Baznas-Albukhary International University, Malaysia 2020

    Beasiswa Baznas

    Beasiswa Baznas diperuntukkan orang yang tidak mampu secara finansial. Hanya menunjukkan surat-surat yang benar nyata dalam keadaan diri pribadi. Misalnya surat keterangan tidak mampu, kartu tanda pengenal, kartu keluarga, transkrip nilai, surat penghasilan orang tua, dan surat keterangan aktif organisasi.

    Beasiswa kuliah khusus Kader Surau

    Beasiswa kader surau ini adalah beasiswa lanjutan dari beasiswa bidikmisi. Biasanya, beasiswa ini akan ditawarkan setelah satu tahun kuliah. Penilaiannya berupa hafalan Al-Qur’an, keaktifan dalam berorganisasi serta nilai akademik yang di kampus. Adapun fasilitasnya berupa pembinaan satu tahun, berasrama, diberikan biaya sekitar 900 ribu per bulan.

    Beasiswa Kepemimpinan

    Beasiswa kepemimpinan adalah beasiswa para ikhwan yang memiliki nilai-nilai kepemimpinan. Sama seperti beasiswa kader surau yang dibuka saat satu tahun kuliah. Disini baik yang tidak punya kepemimpinan atau yang punya bisa nih ikut beasiswa ini. Terdapat pembinaan, asrama dan uang tambahan untuk biaya kehidupan. Hanya saja asrama kepemimpinannya ada di dago bandung.

    Ini adalah hasil tanya jawab dari teman-teman yang mendapatkan beasiswa pendidikan terkait. Semoga beasiswa ini menjadikan motivasi untuk terus berusaha melanjutkan pendidikan.

  • Bagaimana Menjadi Mahasiswa Produktif Dalam Menangkap Pendidikan

    Bagaimana Menjadi Mahasiswa Produktif Dalam Menangkap Pendidikan

    Bagaimana Menjadi Mahasiswa Produktif Dalam Menangkap Pendidikan – Halo sobat Shalaazz, Seorang mahasiswa yang berpendidikan mampu menjadi agent of change bagi kehidupan disekelilingnya. Bukan sebagai tumpukan perguruan tinggi yang menjulang tinggi mengatasnamakan daerah.  Namun, tidak bisa berkontribusi dikarenakan keegoisan untuk mendapatkan akademik yang tinggi. Kegiatan mahasiswa dijadikan banyak dan terbagi-bagi.

    Namun, belum berpotensi untuk menjadi manfaat bagi sekitar. Masih ada jurang pemisah antara mahasiswa dengan masyarakat.

    Predikat Maha yang diberikan kepada mahasiswa menjadi ajang yang spesial. Tetapi, sebenarnya tidak ada bedanya. Hanya yang membedakan kecerdasan dalam berfikir dan meraih berita-berita yang lebih luas.

    Baca juga: Mahasiswa Kubis atau Kupat? Ayo Kamu yang Mana

    Lalu, bagaimana menjadi mahasiswa yang produktif dan berkontribusi untuk umat? Salah satunya, mengedepankan niat untuk meraih ridha Allah diatas segalanya. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan niat akan terselesaikan dengan mudah.

    Kedua, tidak sibuk tapi menjangkau banyak. Ia akan berpindah satu kegiatan dengan kegiatan yang lainnya.

    Tidak mengorbankan salah satu kegiatan. Namun, totalitasnya terhadap kegiatan itu sangat tinggi dan bermanfaat. Baik harta, jiwa dan tenaga dilakukan dengan 100% tidak setengah-setengah.

    Menurut Albert Einstein membagi waktu akan sulit maka dengan itu kalikanlah setiap kegiatan yang diikuti.

    Baca juga: Sudahkah Menjadi Mahasiswa Sesungguhnya?

    Ketiga, hendaknya melakukan kebaikan itu dilakukan secara berjamah. Agar beban tidak terasa berat dalam setiap amanah yang diberikan kepada teman-teman.

    Terakhir, ketika berada dalam kesepian selalu bermuhasabah setiap aktivitas yang dilakukan untuk memperbaiki yang kurang dalam totalitasnya. Berpendidikan tanpa fikir produktif tidak akan maslahat. Berpendidikan tanpa strategi akan gagal fokus maslahat. Berpendidikan ialah yang selalu menjaga moral dalam sendi-sendi kehidupan. Berpendidikan bukan sebatas akademis melainkan potensi mengembangkan masyarakat.

    Berikanlah luang untuk berbagi hadiah yang manis apa yang dipunya untuk umat yang menebar cinta dan manfaat. Tetaplah berjuang menjadi mahasiswa produktif yang kritis, menebar ilmu akademis, berbagi hadiah manis, serta menghilangkan rasa malas.

  • Bagaimanakah Menjadi Seorang Guru di Era Millenial?

    Bagaimanakah Menjadi Seorang Guru di Era Millenial?

    Bagaimanakah Menjadi Seorang Guru di Era Millenial? – Halo sobat Shalaazz, Pendidikan yang terbaik ialah guru. Sejarah mengatakan kalaulah guru dibutuhkan sepanjang zaman. Salah katanya guru dan teladannya guru merupakan binaan untuk generasi penerusnya. Bukan sebanyaknya kekuatan pasukan. Namun, seberapa banyaknya guru yang dapat mendidik generasi muda dengan teladan yang berdasarkan agama yang hakiki.

    Cara Menjadi Guru Generasi Millenial

    Guru yang bagaimanakah yang diinginkan oleh generasi millenial sekarang ini?  

    Guru yang dekat dengan murid

    Pertama, guru yang diinginkan oleh generasi muda sekarang ini bukanlah guru yang hanya sekedar menerangkan saja. Melainkan bisa memberikan diskusi-diskusi hangat yang langsung terjun ke lapangan. Bukan sekedar buku bacaan semata yang berada dalam kepala mereka. Generasi muda akan cepat bosan mendengarkan dan menghafalkan.

    Sedikit sekali yang mau memperhatika guru yang menjelaskan. Kecuali ada hal yang menarik untuk generasi muda untuk diteruskan.  

    Guru yang mudah peka

    Kedua, guru bukan sekedar memperhatikan akademiknya saja. Generasi muda perlu disayangi. Sayang seperti apanya? Rasa sayang memperhatikan keadaan mereka.

    Tidak semua orang belajar dalam keadaan baik-baik. Namun, adakalanya pembelajaran dari generasi muda seringkali menurun. Terasa bosan dan melihatnya tinggal belajar di rumah saja bisa.

    Kira-kira seperti itu kenyatannya. Zaman yang sudah semakin modern ini membuat generasi muda makin berubah. Melalui akal, fisik maupun ruhnya dalam arti keagamaannya.

    Ada banyak cara untuk dihadapi generasi muda saat ini dengan memberikannya tantangan, penjelasan yang jelas, kebaikan yang bertulus pada kasih dan sayang, ketegasan dalam memberikan tugas, serta mengerti keadaan generasi muda yang berbeda dari zaman yang lalu. Dikarenakan zaman lalu tidaklah berubah drastis seperti zaman ini.

    Apresiasikan dalam bentuk apapun untuk membangun semangat generasi muda untuk terus belajar, ataupun dalam penekanan setiap agama agar bisa taat dalam beragama.   Guru yang terbaik ialah yang dapat beradaptasi dengan generasi mudanya.

    Bukan tidak ada kata sopan ataupun kata kasar. Melainkan seperti keluarga yang memperhatikan dari orang tua ke anaknya dan sebaliknya. Hal itulah yang memicu generasi muda untuk bertahan ataukah pergi dalam pendidikan yang sudah semakin fantastis dan drastis ini.

  • Bagaimana Pendidikan Hati Dari Segi Filsafat?

    Bagaimana Pendidikan Hati Dari Segi Filsafat?

    Pendidikan Hati : Bagaimana Pendidikan Hati Dari Segi Filsafat?
    Bagaimana Pendidikan Hati Dari Segi Filsafat? – Halo sobat Shalaazz, Pendidikan saat ini memang sudah tidak efektif lagi. Pendidikan perkuliahan membuat mereka hanya bergulat kepada organisasi saja. Adapula juga orang yang hanya mementingkan Pendidikan. Namun, mereka yang fokus pada akademik saja suka akan kalau tidak ada guru ataupun dosen. Lalu kenapa hal ini bisa terjadi?
    Pemikiran masa-masa muda semakin meningkat. Metode ceramah sudah mengurangi nilai-nilai mereka menuntut ilmu. Dalam hal yang diajarkan guru dengan perdiskusian juga tidak efektif lagi. Ada yang berbicara dan ada yang tidak berbicara. Banyak orang yang tidak berpartisipasi dalam hal Pendidikan. Kalaupun berpartisipasi mereka hanya ingin mendapatkan nilai poin plusnya saja untuk mendapatkan nilai A.
    Pembahasan dalam artikel ini bukanlah sebuah teori belaka. Melainkan kenyataan yang sekarang terjadi. Sebagai manusia butuh akan Namanya pembimbing. Pembimbing berupa alat dunia seperti guru. Ilmu tidak ada gurunya membuat kebingungan dan tersesat begitu saja. Salah satu contohnya ada orangtuanya yang islam. Namun, anaknya atheis dikarenakan rasa jati dirinya tidak ada. Mereka menemukan ada sesuatu yang ganjal di dalam hatinya. Sebenarnya hati yang mengganjal itu yang harus dibina melalui kebenaran dengan cahaya al-qur’an.
    Sejatinya, Pendidikan yang sesungguhnya ialah rasa dasar rohani yang ada dalam diri ini. Melalui buuku tasawuf yang ditulis buya hamka untuk mengoreksi diri. Dimana titik temu yang harus dicari di dunia ini? Esensi yang didapatkan apa sih sebenarnya dari Pendidikan? Ilmu? Relasi? Nilai? Pujian? Atau apalah Namanya.
    Bukan hal itu yang dicari kawan! Walaupun bisa dalam segala hal. Namun, hati ini masih merasa sendiri. Tidak ada yang Namanya pertolongan Allah. Maka hati ini sesak sekali. Dunia terasa sempit sekali. Ketika hal-hal tersebut terjadi apa yang seharusnya dilakukan? Selain dari pertolongan Allah diri pribadi ini bukanlah apa-apa. Lemah tidak berdaya. Hancur luluh tak berguna.
    Bukanlah Pendidikan untuk mencari kekuasaan. Bukanlah Pendidikan untuk menindas orang yang di bawah. Bukanlah untuk saling menyelisihkan. Namun, saling menenteramkan. Saling menasihati sesama orang lain.
    Pendidikan salah satu hal yang dibutuhkan pencerahan. Dalam hal dari hati ke hati. Percuma hatinya yang terbentur dengan keinginan keduniawian. Percuma saja diri pribadi ini. Apa yang didapatkan tidaklah sesuatu yang dibutuhkan dan dicukupkan. Tanyakan hatimu sejauh mana dirimu mengenal arti Pendidikan? Tanyakan juga keinginanmu mendapatkan Pendidikan itu untuk apa? Bermaknakah? Merendahkanlah? Meninggikanlah? Atau memperbaikilah?
    Terkadang yang menulis ini pun masih mencari Pendidikan apa yang tepat diterapkan. Ketika tulisan gagasan itu ditulis. Entah apakah itu cocok atau tidak? Terlalu banyak pertimbangan-pertimbangan. Terlalu banyak peraturan dan terlalu banyak kebebasan yang tidak dibatasi. Carilah Pendidikan hati untuk merangkul sebuah ilmu dan sambutlah.
    Tuntunlah hatimu untuk menjayakan hati dengan perbuatanmu. Melaui perbuatan dirimu akan tercermin di wajahmu. Senyum merengkuh melihat akan datangnya suatu saat. Dimana Pendidikan tidaklah menjadi hal yang membosankan. Melainkan pencari resiko tertinggi dalam dunia pandangan orang lain.
    Pikirkan hatimu dan hati umat yang berjuang mencari sebuah jati diri. Janganlah berbangga hati dengan Pendidikan yang kauraih. Terlihat tinggi namun rendah dimata Allah. Tanpa Allah Pendidikan itu akan menjadi sia-sia. Perjuanganmu akan sia-sia. Lelahmu akan sia-sia. Niatkanlah semua yang dikorbankan dari dirimu hanya karena lillah. Insya allah kawan-kawan akan dibangkitkan dengan keadaan ikhlas. Itulah pendidikan seharusnya.
  • Gagasan Pendidikan Cocok Untuk Indonesia TERBARU

    Gagasan Pendidikan Cocok Untuk Indonesia TERBARU
    Gagasan Pendidikan Cocok Untuk Indonesia TERBARU – Sejarah mengatakan kalau Pendidikan di Indonesia ialah Pendidikan yang kebanyakan dibawa oleh para penjajah yang membawa sekat antara rakyat atas dan bawah. Dilihat dari segi kenyataan di lapangan Indonesia belum mampu menciptakan Pendidikan yang sesuai dengan negara-negara maju ataupun undang-undang dasar 1945. Dikarenakan Pendidikan sekarang sudah jauh dari nilai-nilai kepribadian Pancasila. Oleh karena itu, artikel ini akan menjelaskan bagaimana Pendidikan yang seharusnya diterapkan di Indonesia saat ini? Ada dua hal yang dibahas dalam artikel ini, yaitu: Pendidikan pesantren dan Pendidikan militer.
    Pertama, Pendidikan pesantren menurut Mastuhu adalah lembaga pendidikan tradisional Islam yang mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. Keberadaan pondok pesantren ditengah-tengah masyarakat mempunyai peran dan fungsi sebagai tempat pengenalan dan pemahaman agama Islam sekaligus sebagai pusat penyebaran agama Islam.
                Pondok pesantren pada bentuk aslinya menggunakan sistem pendidikan non klasikal, dimana dalam penyampaian pelajaran menggunakan dua sistem pengajaran, yaitu sistem sorogan, yang sering disebut sistem individual, dan sistem bandongan atau wetonan yang sering disebut kolektif. Sistem Pendidikan ini membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan yang sangat kokoh. Agar, tidak melarikan diri ketika sudah di tengah-tengah pelajaran maupun ujian berikutnya.
    Kedua, Pendidikan yang berdasarkan keprajuritan merupakan dasar pendidikan untuk membentuk pola pikir, sikap, dan pola tindak sebagai seorang prajurit yang selalu di garis terdepan dalam membela bangsa. Pendidikan militer dikenal dengan pelatihan fisik yang keras dan berdisiplin tinggi, namum pembinaan fisik ini tidak identik dengan kekerasan. Pendidikan yang membawa diri agar bisa berjiwa korsa dimanapun berada serta menjadi prajurit yang gagah perkasa dalam segi fisik.
    Kedua Pendidikan ini sebenarnya saling mengisi. Dikarenakan Indonesia membutuhkan orang-orang yang berjiwa religius dengan fisik ala kadar militer. Fisik tanpa ruhiyah yang kuat akan terbuang percuma. Begitupula dengan nilai religious tinggi juga akan percuma tanpa didasari dengan fisik yang kuat. Karena orang yang kuat lebih dicintai oleh Allah. Menjadikan diriuntuk tidak mendzalimi diri sendiri maupun orang lain serta bukan juga membatasi diri sebelum mencoba melakukannya untuk menjadi pribadi yang tangguh.
    Sekolah bukan hanya Pendidikan akademik semata yang hanya menggunakan nilai ijazah sebagai kebanggaan tetapi dimana kita menuju keharibaannya allah yang senantiasa berpendidikan dengan tidak menyimpang dari ajaran yang telah digariskan oleh Allah SWT.
    Pendidikan yang seharusnya ialah Pendidikan yang mampu membentuk karakter baik, aktif, dan kuat. Bukan hanya itu saja, Pendidikan yang sebenarnya ialah Pendidikan yang mendidik kita bagaimana cara kita berorganisasi, berlatih dalam kegiatan apapun yang sifatnya baik secara fisik maupun tidak, serta menjadikan Pendidikan sebagai wadah dalam berkomunitas yang menunjukkan kesaudaraan yang sangat kuat karena ukhuwah itu sudah terjalin dengan berjiwa korsa.
    Pendidikan bukan hanya seperti sekarang yang hanya berdiam dan bertanya semata. Melainkan Pendidikan harusnya dapat menanamkan nilai-nilai seperti kedisiplinan, beberapa pantangan yang menjadikan waktu sia-sia, serta kepribadian muslim yang harusnya diterapkan kepada siswa agar mereka belajar untuk mendapatkan pengalaman yang mengajarkan hikmah yang luar biasa.
    Jadi, Pendidikan yang harusnya diterapkan di Indonesia ialah Pendidikan militer yang berbasis nilai-nilai keagamaan yang diterapkan dalam perilaku sehari-hari. Anggap saja seperti Pendidikan yang diajarkan oleh Daarut Tauhid yang ada di Bandung.
  • Menebar Pengalaman Dalam Memberikan Perkara Pendidikan

    Menebar Pengalaman Dalam Memberikan Perkara Pendidikan
    Menebar Pengalaman Dalam Memberikan Perkara Pendidikan – Berani memulai sebuah kata untuk menebar informasi dan kebaikan. Mengungkap sebuah pembenaran dalam fakta yang sesuai Menurut data dari KOMNAS HAM Pendidikan Indonesia sedang dalam keadaan darurat. Pertama, Darurat karena banyak kasus pelanggaran HAM. Kedua, Darurat karena Pendidikan Indonesia yang buruk. Ketiga, Banyak kasus korupsi yang berkaitan dengan anggaran Pendidikan. Keempat, Sistem Pendidikan yang belum berjalan baik. Melihat fakta yang sedang terjadi dan digambarkan saat ini. Mari mengambil telaah dari setiap fakta untuk mengetahui solusi seharusnya melalui riset.
    Pertama, darurat karena banyak kasus pelanggaran HAM. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena melihat dari segi kenyataan bahwasannya Indonesia terlena akan buaian retorika yang benyak menjerumuskan. Terlalu sering ikut-ikutan juga membuat paradigma semakin tak tentu arah sehingga melakukan pelanggaraan demi pelanggaran. Hingga akhirnya membuat label Pendidikan itu sudah tiada di dalam perbuatan maupun tercermin dalam kehidupan.
    Kedua, Darurat karena Pendidikan Indonesia yang buruk. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dikarenakan Pendidikan di Indonesia tidak diberikan teladan yang baik yang mana sebelum mencari ilmu harus tahu adab terlebih dahulu. Adab sebelum ilmu itulah perkataan yang seharusnya menggugahkan selera. Pendidikan di Indonesia hanya mengejar tingkat agar ranking sekolahnya naik, berlomba dalam berprestasi yang intinya didalam Pendidikan sekolah tercerminkan sebuah persaingan yang bisa saja persaingan itu saling merendahkan satu sama lain dan merasa paling tinggi diantara yang lain. Bukankah dalam buku tasawuf karya Buya Hamka menuliskan manusia itu saling mencintai dirinya sendiri. Maksudnya manusia tidak suka akan direndahkan begitupula ketika manusia dipuji mereka akan lebih senang. Jadi, Pendidikan di Indonesia harus tak saling menjatuhkan bukan tidak boleh dalam berprestasi tetapi kejarlah sebuah perlombaan bukan sebuah persaingan yang mengakibatkan ketidaksehatan dalam membangun sebuah negara.
    Ketiga, banyak kasus korupsi yang berkaitan dengan anggaran Pendidikan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dikarenakan Pendidikan hanya dijadikan sebuah formalitas bukan sebuah benteng yang dapat menjaga dari perbuatan yang tercela. Dari tahun ke tahun korupsi semakin tinggi. Namun, pembenahan dalam diri tidak pernah henti. Bukankah Pendidikan mengajarkan kepada kita kebaikan dalam kebermanfaatan? Dimanakah rasa atau naluri dalam proses pengajaran Pendidikan? Apakah Pendidikan hanya dijadikan ajang pencari ijazah saja lalu pergi untuk tidak mengabdi? Kemana janji semua itu? Jadikanlah renungan itu sebagi proses panjang dalam setiap mengambil keputusan.
    Keempat, system Pendidikan yang belum berjalan baik. Dikarenakan Indonesia terlalu banyak mengadopsi hukum dari negeri luar dibandingkan negeri sendiri. Proses dalam pembelajaran saja seringkali terhenti.  Maka dari itulah, mari membenah diri hingga tujuan akan selalu di akhir waktu.
    Jadi, seiring dengan berjalannya waktu ini mari mengembangkan Teknik yang canggih untuk memahami perilaku dalam Pendidikan sebelum belajar harus terlebih dahulu dibangun akhlaqnya.
  • Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

    Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

    Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

    Pendidikan adalah cerminan dasar setiap manusia untuk mengangkat harkat dan martabat setiap pribadi manusia. Pendidikan adalah bagian dari ilmu yang diprogramkan atau diwujudkan dalam sebuah kelembagaan seperti sekolah-sekolah yang ada sekarang ini.
    Namun, tak dapat dipungkiri bahwasannya Pendidikan itu kadangkala dapat menjerumuskan orang-orang atau pribadinya sendiri apabila tidak dipergunakan dengan baik dan benar.  Bukan hanya itu saja, Pendidikan seringkali menjadi jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin. Bukan menyalahkan Pendidikan namun, ada sesuatu hal yang harus diluruskan agar tidak salah paham.
    Penyelenggaraan pendidikan memang penting. Namun, jauh lebih penting dengan pengembangan sebuah karakter yang tidak boleh berujung. Pendidikan takkan berujung korupsi apabila di hatinya terdapat penjernihan hati yang sudah ditanamkan sejak dini dan diulang terus menerus dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Karakter dapat dibentuk dengan memilik dasar agama yang kuat dan tangguh dalam menghadapi setiap tantangan maupun pantangan yang terdekat maupun yang terjauh sekalipun.

    Setelah memiliki pondasi agama yang kuat maka hal yang selanjutnya dilakukan ialah memahami nilai-nilai Pancasila untuk diimplementasikan dalam lingkup terkecil hingga terbesar sekalipun. Percuma Pancasila itu ada hanya untuk dibaca dan ditulis semata. Buat apa bangsa ini merdeka kalau Pendidikan itu tidak masuk ke dalam sanubari pemuda-pemudi yang terdalam.
    Pembunuhan karakter sangat bertentangan dengan pancasila yang memiliki nilai-nilai universal. Mengapa beralasan seperti ini? Dikarenakan Indonesia tidak menyadari dan sudah tidak peduli dengan arah Indonesia ini mau dibawa kemana? Dengan hanya sebuah teori demi teori tanpa adanya pengaplikasian.
    Untuk apa itu semua? Di satu sisi orang lain antri. Di sisi lain orang korupsi. Para akademisi sibuk berargumentasi. Orang birokrasi sibuk dengan biaya administrasi. Pola pikir dan pola hidup ilmuwan sudah jauh dari tradisi. Masalah ini harus disikapi. Dengan pengembangan hukum yang mampu mengatur distribusi Semua organ kelembagaan Pendidikan yang semestiya menginternalisasi nilai-nilai pancasila dalam setiap geraknya.
    Pendidikan menjadikan jurang pemisah ketika setiap manusia tidak menyikapi kalau di dunia ini manusia bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. Manusia hanya sebtas hamba yang diberikan rezeki yang maha kuasa yang mana rezeki itu harus diberikan kepada orang lain kembali. Karena rezeki bukanlah milik manusia seutuhnya. Tetapi, hanyalah sang pencipta yang memilikinya. Maka, janganlah berlaku sombong maupun rendah tetapi bersikaplah seperti budi baik yang tidak saling merendahkan satu sama lainnya.
    Lakukanlah gerak akademik dengan saling bekerja sama. Membangun kembali ilmu-ilmu yang bersifat tidak mengabaikan terhadap kelahiran pendidikan yang disatukan dalam pancasila sebagai pendukung dari segala permasalahan dengan tidak menghilangkan agama dari kepercayaan yang dibangun jauh-jauh hari sebelum dilahirkan di dunia.Akar dari permasalahan Pendidikan di Indonesia saat ini hanya satu ialah pribadinya sendiri. Pribadi yang tidak mau mengejar dari ketertinggalannya. Yakni dengan mengubah cara hidupnya yang tidak selalu ada di zona nyaman terus-terusan. Melainkan mencari tantangan untuk mencari hakikat diri sesungguhnya untuk menjadikan dirinya dapat bermanfaat di muka bumi ini. Begitupula yang seharusnya diselingi dengan peraturan yang tegas yang sama-sama diwujudkan dalam lingkaran kebersamaan.

    Kebersamaan dikala banyaknya keberagaman. Kedihan dikala kesenangan berada di puncaknya. Mengapa tidak saling berbagi dikala pengetahuan sudah mumpuni. Banyak orang yang hidupnya di bawah namun pribadi manusia selalu menginginkan teratas.