Category: pendidikan karakter

  • Pancasila Dasar Negara Apakah Masih Relevan?

    Pancasila Dasar Negara Apakah Masih Relevan?

    Apakah Pancasila Masih Relevan Saat Ini? – Mungkin pertanyaan ini sudah sering kita dengar dan temui sehari-hari di media-media. Apalagi di kaitkan dengan isu-isu saat ini mengenai masalah toleransi beragama, masalah kemanusiaan, tentang integrasi bangsa, serta tentang munculnya paham-paham baru di Indonesia.

    Hal-hal tersebut tentunya memunculkan beberapa pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai eksistensi Pancasila menjawab permasalahan yang ada di bangsa Indonesia saat ini.  Mari membahas Pancasila dasar negara Indonesia secara runut.

    Asal-usul Pancasila

    Istilah Pancasila telah dikenal sejak zaman Majapahit pada abad ke-14, yaitu terdapat dalam buku Negarakertagama karangan Empu Prapanca, dan dalam buku Sutasoma karangan Empu Tantular. Dalam buku Sutasoma ini, istilah Pancasila di samping mempunyai arti, “berbatu sendi yang lima”, berasal dari bahasa Sansekerta; Panca berarti lima dan sila berarti berbatu sendi, alas atau dasar, juga berarti “Pelaksanaan kesusilaan yang lima” (Pancasila Krama) yaitu tidak boleh:

    • Melakukan kekerasan.
    • Mencuri.
    • Berjiwa dengki.
    • Berbohong.
    • Tidak boleh mabuk, minum minuman keras.

    Kelima istilah tersebut sama sebagaimana dikemukakan Muhammad Yamin, yaitu kesusilaan yang lima. Pada masa itu istilah Pancasila bukan untuk menyebut asas kenegaraan, tetapi merupakan tuntunan tingkah laku atau akhlak (code of morality).  

    Setelah Proklamasi Kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan dan mengesahkan lima dasar negara yang rumusannya terdapat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, bersamaan dengan disahkannya Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 itu sendiri.  

    Pancasila Dasar Negara Indonesia

    Meskipun nama/kata “Pancasila” itu sendiri tidak terdapat baik di dalam Pembukaan maupun Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Namun cukup jelas, bahwa yang dimaksud Pancasila sebagai Dasar Falsafah Negara, adalah lima dasar negara yang perumusannya terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.  

    Jadi, secara terminologi yang dimaksud Pancasila sekarang ini adalah “Nama Dasar Negara kita, Negara Republik Indonesia”, berupa lima dasar negara yang perumusannya tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu:

    1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
    3. Persatuan Indonesia.
    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa eksistensi Pancasila dapat dirasakan hingga saat ini. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa berarti memahami Pancasila yang dapat  dipertanggungjawabkan baik secara yuridis-konstitusional maupun secara obyektif-ilmiah. Secara yuridis-konstitusinal karena Pancasila adalah dasar Negara, yang dipergunakan sebagai dasar mengatur, menyelenggarakan pemerintahan negara.

    Oleh karena itu tidak setiap orang boleh memberikan pengertian dan penafsiran sendiri, menurut pendapatnya sendiri. Sebab Pancasila merupakan hirarki peraturan tertinggi di Indonesia pertama yang kemudian dilanjut posisi kedua hirarki peraturan tertinggi yaitu UUD 1945.

    Alasan Ideologi Pancasila Masih Relevan Sampai Saat ini

    Alasan ideologi Pancasila tidak bisa tergantikan oleh ideologi atau paham-paham lain, karena Pancasila sebagai hasil persetujuan bersama wakil-wakil rakyat menjelang Proklamasi Kemerdekaan, yaitu disetujui bersama dan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Naskah persetujuan itu dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 oleh Pembentuk Negara.

    Karena merupakan persetujuan atau kesepakatan bersama, ia (Pancasila) merupakan perjanjian pada saat meletakkan atau menetapkan Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, maka ia (Pancasila) menjadi mengikat kita bersama dan perjanjian itu untuk kita hormati dan dilaksanakan bersama.  

    Dalam memahami Pancasila yang benar pada saat ini juga harus dapat dipertanggungjawabkan secara obyektif-ilmiah, karena Pancasila adalah suatu faham filsafat (philosophical system), sehingga uraiannya harus logis dan dapat diterima oleh akal sehat guna mendapat jawaban dari permasalahan yang terjadi pada saat ini. Seperti halnya mengenai masalah diskriminasi dan isu-isu agama, Pancasila dengan semboyannya “Bhinneka Tunggal Eka” merangkul semua dalam keberagaman tanpa adanya pengistimewaan antar golongan baik suku, agama, ras, maupun etnik.

    Referensi : Buku ajar MKDU-IAIN, tentang Pancasila Dasar Falsafah Negara. Nama penulis Drs. Rozikin Daman.

  • Cara Mengajak Anak agar Mencintai Al-Qur’an

    Begini Cara Mengajak Anak agar Mencintai Al-Qur’an
     
    Cara Mengajak Anak agar Mencintai Al-Qur’an – Sebagai orang tua, tentulah kita mengharapkan yang terbaik untuk buah hati kita, agar buah hati kita menjadi anak yang sholih sholihah, yang bisa berguna untuk agama, bangsa dan negara, menjadi anak yang bisa menjadi contoh dan panutan untuk adik-adiknya, menjadi anak yang berkepribadian luhur sebagaimana yang Rasul ajarkan kepada umatnya.
     
    Menjadi orang tua muslim, pastilah mendambakan sang buah hati bisa mencintai Rabb nya, mencintai Rasul-Nya, dan mencintai Al-Qur’an. Terlebih saat buah hati tersebut bisa menghfal Al-Qur’an, tentulah menjadi kebahagiaan terdahsyat dalam hati orang tua tersebut, karena sebagaimana yang kita ketahui bersama tentang keutamaan orang mencintai Al-Qur’an, membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya, maka ia akan datang kepada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya. Dan dengan kemuliaan Al-Qur’an bagi para penghafalnya, kelak ia bisa menjadi syafa’at dan bisa menolong 10 anggota keluarganya yang telah ditetapkan masuk neraka.
     
     
    Nah, berikut beberapa tips agar buah hati kita menjadi anak yang mencintai Al-Qur’an :
     

    1. Berdo’a kepada Allah SWT agar Allah melembutkan hati anak kita & menjadikannya sebagai orang yang mencintai Al-Qur’an

     
    Do’a adalah senjatanya orang mukmin, karena dengan kekuatan do’a sesuatu yang terlihat biasa akan menjadi luar biasa, dengan keberkahan do’a sesuatu yang nampaknya mustahil terjadi bisa terjadi, itulah dahsyatnya sebuah do’a, karena dengan berdo’a berarti kita mengakui bahwa kita sebagai hamba lemah tanpa bantuan dan kekuatan dari Allah SWT, dan Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang senantiasa berdo’a dan mengadu semua urusannya kepada-Nya.
     

    2. Memberikan Contoh kepada anak dengan senantiasa membaca Al-Qur’an setiap hari, meski sedikit tapi istiqomah

     
    Orang tua merupakan role model/ model proffesional bagi anak, bagaimana sikap kita, tutur kata kita akan ditiru oleh anak-anak kita, karena orang tualah orang yang pertama kali menjadi guru bagi anak, terlebih seorang ibu. Ibu merupakan madrasah/sekolah pertama untuk anaknya, maka dari itu, berikanlah contoh terbaik kepada anak-anak kita dengan prilaku dan tutur kata terbaik, karena anak hebat akan lahir dari seorang wanita dan orang tua hebat, jika ingin memiliki anak yang mencintai Al-Qur;’an terlebih dahulu jadikan diri kita untuk mencinta Al-Qur’an.
     

    3. Setiap anak pulang sekolah, sambutlah ia dengan sambutan hangat, Peluklah ia dengan Lantunan Ayat Suci Al-Qur’an

     
    Anak-anak akan sangat senang tatkala pulang sekolah disambut dengan pelukan kasih sayang yang mendamaikan, usahakan saat ia pulang sekolah sambutlah dengan senyuman hangat dan manis, dan usahakan untuk membaca Al-Qur’an ketika dia pulang, setidaknya saat pertama kali pulang masuk rumah, ia melihat suasana ibunya sedang bercengkrama dengan Al-Qur’an, hal tersebut menandakan bahwa ibunya sangat dekat dengan Al-Qur’an
     

    4. Dengarkan anak-anak kita dengan Lantunan Ayat Suci AL-Qur’an melalui Audio/Murottak setiap hari

     
    Dengan memperdengarkan anak kita dengan murottal Al-Qur’an setiap hari, In syaallah lambat laun Allah akan menggerakkan hatinya untuk mencintai Al-Qur’an, karena setiap hari ia sudah terbiasa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an
     
    Demikianlah sedikit tips dari saya, mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua, terlebih untuk pribadi penulis agar bisa menjadi lebih baik. Aamiin

    Penulis: Siti Muntamiroh

  • 3 Kata Ajaib yang Hilang dan Dilupakan

    3 Kata Ajaib yang Hilang dan Dilupakan

    3 Kata Ajaib yang Hilang dan Dilupakan
    3 Kata Ajaib yang Hilang dan DilupakanSaat masih kecil, orang tua kita seringkali mengingatkan, “Nak, kalau dikasih apa-apa sama om/tante, bilang terima kasih ya.” Hayoo ingat tidak? Semoga tidak lupa yaa, hehe.
    Tidak hanya itu, hal serupa pun juga terjadi pada kata “Tolong” dan “Maaf”. Saat kita membutuhkan pertolongan orang lain, seringnya kita diminta untuk mengucapkan kata “Tolong” terlebih dahulu.
    Namun, supaya terdengar lebih sopan biasanya sebelum mengucap tolong didahului dengan kata “Maaf”. “Maaf pak, bolehkah saya meminta tolong untuk tidak parkir di trotoar?”. “
    Maaf dik, tolong sampahnya dibuang di tempatnya, ya.” Begitulah sepintas bunyinya.
    Kata Tolong, Maaf, dan Terima Kasih memang terlihat biasa saja. Tetapi faktanya, dengan mengucapkan 3 kata ajaib itu orang yang kita ajak bicara akan merasa dihargai atas apa yang dilakukannya.
    Seperti saat di warung misalnya. Ketika kita berjual-beli di warung, saat memberikan uang kepada ibu penjual, lalu kita mengucapkan terima kasih, maka otomatis si ibu penjual itu akan merasa terkesan dan merasa senang atas apa yang ibu itu lakukan.
    Minimal, ibu itu pasti akan merasa, “Syukurlah, hari ini barang yang dibutuhkan pelanggan itu tersedia di warungku.”
    Jika ada yang bertanya, memangnya untuk apa kita berterima kasih? Apa untungnya buat kita? Jawabannya adalah tentunya untuk segala pelayanan, waktu, dan senyuman yang ibu penjual itu berikan.
    Perihal keuntungan apa yang kita dapatkan, yang pasti keuntungan dalam wujud konkrit sepertinya tidak ada, tapi yang pasti dengan berterima kasih kita telah menjadi sumber senyum atau bahagianya orang lain.
    Begitupun dengan kata tolong. Coba bayangkan. Bagaimana perasaanmu ketika dimintai pertolongan oleh seseorang, tetapi dengan kata yang bisa dibilang agak ‘kurang enak didengar’?
    Seperti begini misalnya, “Eh, ambilin buku fisika aku dong.” “Hei kamu, beliin aku minuman dong.” Tentu menjengkelkan bukan? Mendengar perkataannya saja sudah kesal, apalagi menuruti permintaannya?!!
    Nah oleh karena itu, jika kita tidak ingin mendapat perlakuan menjengkelkan seperti itu, maka terlebih dahulu yuk biasakan diri kita untuk menjadi baik lebih dulu.
    Pepatah mengatakan “Hargailah serta hormatilah orang lain jika diri sendiri ingin di hormati dan hargai oleh orang lain.
    Karena sejatinya, apa yang kamu lakukan itulah yang nantinya akan akan kamu terima.” Begitulah sekiranya bunyinya.
    Jadi, siapkah kamu untuk berbenah? Semoga selalu siap ya :).
    Karena kebaikan patut untuk dilakukan, tidak sekadar hanya sebatas teori terlupakan. Jangan lupa bahagia ^-^.
  • Pentingnya Pendidikan Karakter untuk Generasi Muda Bangsa

    Pentingnya Pendidikan Karakter

    Di era millennials ini, Indonesia sedang mengalami krisis karakter positif, yang tak hanya menyerang di kalangan generasi muda tetapi juga anak-anak. Oh ya. Mengapa bisa begitu? Faktanya, seringkali ditemukan banyak anak usia dini sudah terbiasa dengan perilaku membuang sampah sembarangan, acuh dengan orang tua, mudah melontarkan kata-kata kasar, dan lain sebagainya. Peran orang tua yang minim dalam mendidik dan merangkul sang anak dinilai menjadi salah satu faktor terciptanya pemandangan seperti ini. Selain itu, jarang disentuhnya pendidikan karakter dalam sistem pendidikan di sekolah formal, juga menjadi faktor penyebab lainnya. Pendidikan karakter.

    Karakter didefinisikan sebagai sikap atau kebiasaan yang melekat pada diri setiap individu. Karakter yang baik, tentunya akan menghasilkan hal yang baik pula. Seperti prestasi misalnya. Prestasi tidak melulu diartikan hanya sebatas nilai di kertas atau ranking di kelas tentunya. Berani bersikap jujur, menghargai dan menghormati antar sesama, taat dalam beribadah, berkata-kata yang baik, itu juga termasuk prestasi.
    Dilansir dalam liputan suatu acara berita, menurut pak Anis Baswedan, karakter yang baik berasal dari hal yang dibiasakan, bukan yang hanya sekadar ditanamkan. Hal-hal sepele seperti bangun pagi, menjaga kebersihan lingkungan, berlaku sopan santun, semua itu akan mudah dilakukan jika sudah terbiasa. Dan dari perilaku kebiasaan inilah yang nantinya akan menjadikan seorang individu menjadi manusia yang berkarakter.
    Selain itu, faktanya tinggi rendahnya tingkatan sekolah atau pendidikan formal orang tua tidak menentukan keterdidikannya seorang anak. Di luar sana terlihat masih banyak ditemukan orang tua yang hanya lulusan SD/SMP, tetapi bisa mendidik dan membuat anaknya menjadi seseorang dengan karakter yang baik juga dengan prestasi yang unggul. Ini terjadi karena, berpendidikan berbeda dengan bersekolah. Semua orang bisa saja sekolah setinggi-tingginya, tetapi tidak semua orang bisa mendidik anaknya dengan baik, yang tentunya membiasakan anak-anaknya dengan perilaku-perilaku yang baik.
    Pendidikan karakter sudah selayaknya dibiasakan sejak dini. Untuk apa? Untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang berkarakter juga berpengetahuan luas, sehingga kelak dapat membawa negeri ini ke ranah yang lebih baik.
  • Inilah Penyebab Terbesar Kebiasaan Menyontek

    Inilah Penyebab Terbesar Kebiasaan Menyontek


    Pengertian Menyontek 

    Menyontek berasal dari kata dasar ‘sontek’ yang memiliki dua makna. Makna pertama yaitu menggocoh (dengan sentuhan ringan); mencungkil (bola dsb.) dengan ujung kaki. Makna kedua yaitu mengutip (tulisan dsb.) sebagaimana aslinya; menjiplak.

    Nah, yang akan jadi pembahasan kali ini adalah makna kedua. Yang mana artinya adalah mengutip yang berupa tulisan dan sebagainya sebagaimana aslinya atau disebut juga dengan menjiplak.

    Budaya ini telah mengakar kuat di Negara kita. Bahkan sejak dini budaya ini mulai membenih. Kita seolah-olah telah kecanduan dengan budaya tersebut. Seringkali ketagihan sehingga membuat kita semakin tidak percaya dengan diri sendiri dan membuat bakat murni kita menjadi tersembunyi.

    Ada beberapa penyebab kebiasaan menyontek semakin mengakar kuat dalam diri. Antara lain:


    1.      KURANG PERCAYA DIRI

    Gejala ini seringkali ditemui dalam diri pelajar. Kurangnya percaya diri terhadap apa yang dilakukannya. Membuat perilaku menyontek ini melekat dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu tingkatefikasi diri (keyakinan terhadap diri sendiri) harus ditingkatkan. Be yourself!

    2.      PENDIDIKAN MORAL

    Didikan dari lingkungan juga berpengaruh terhadap perilaku kecendrungan menyontek. Bila didikan dari lingkungan baik, diajari untuk bersikap jujur, mungkin perilaku butuk ini tidak akan pernah ada.

    3.      SIKAP MALAS

    Kebanyakan malas belajar juga menjadi pemicu penting. Pola pikir instan dan keinginan untuk unggul tanpa bekerja keras, seringnya menunda-nunda waktu serta pikiran yang negative. Padahal rasa malas menghambat kesuksesan. Tidak ada manusia sukses yang diperoleh dari sifat malas. Terlalu absurd, bukan?.

    4.      KURANG MENGERTI DENGAN MAKNA PENDIDIKAN

    Pelajar zaman sekarang jarang sekali ada paham makna pendidikan itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan berasal dari kata Didik yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

    Sedangkan makna dari pendidikan yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang.

    Dari pengertian diatas mengacu dengan pengubahan sikap. Sikap yang positif dan mengubab perilaku yang buruk menjadi lebih baik. Lantas bagaimanakah sistem pendidikan Indonesia akan melangkah maju apabila kaum mudanya hanya bisa mencontek?

    Oleh sebab itu marilah kita belajar untuk menghargai diri sendiri. Teruslah berusaha dan berjuan keras untuk mencapai sesuatu. Ingat! Tidak ada yang instan. Salam pendidikan.
  • Karakter Anak Bangsa Ditentukan Kualitas Guru

    Karakter Anak Bangsa Ditentukan Kualitas Guru
    Karakter Anak Bangsa Ditentukan Kualitas Guru – Seorang guru adalah teladan untukgenerasi muda yang diajarinya. Teladan guru terlihat pada tingkah berbicara dan perbuatannya. Bagaimana menjadikan generasi muda berkualitas kalau gurunya saja tidak dapat menjadi contoh yang baik untuk generasi penerus? Guru yang mana mampu mendiskriminasikan generasi mudanya? Guru mana yang bilang engkau bodoh dan ini itu? Bukankah perkataan guru ialah doa? Doa yang harusnya dijaga jangan sampai menyakiti hati. Lalu, apa yang harusnya dibenarkan oleh guru dan atau generasi muda?
    Tulisan mengatakan kalau guru itu teladan. Kenyatannya guru belum mampu menjadi teladan yang baik. Bukan bermaksud menyalahkan. Namun yang dikecewakan ketika seorang guru tak mampu memberikan semangat untuk muridnya. Mampunya berkata kasar dan membuat generasi tidak percaya diri. Menganggap remeh kalau engkau tidak akan bisa melakukan ini karena ini merupakan semester depan. Apakah itu ucapan yang dijadikan teladan?
    Pandangan anak muda dari anggapan itu mungkin ada yang mengambil setiap hikmahnya. Namun, kalau dengan anak muda yang tidak mengerti bagaimana? Pasti akan merasakan malas untuk mencari ilmu. Begini tidak boleh begitu tidak boleh. Mana yang harius diambil. Yang ada membuat anak muda bingung sendiri.
    Apalagi kalau guru sudah diskrimasi terhadap pembedaan SARA. Apakah ada orang yang mau mendengarkannya? Pasti banyak yang tidak senang dengan ucapan dan tingkah lakunya. Atau guru yang suka menjelekkan satu sisi dengan sisi yang lain. Fikiran anak muda pasti akan terikuti dan diolah dalam otaknya. Mau dikatakan kemana kalau fikiran anak muda yang disampaikan oleh guru itu sampai kepada kebatilan bukan kebenaran?
    Guru bukanlah hanya mengajari di dunia melainkan apa yang diajarkannya menjadi bahan pertanggungjawabannya di akhirat. Maka, berhati-hatilah menjadin guru. Karena sesosok guru adalah teladan bagi muridnya. Kalau saja kehilangan figurnya anak muda ini. Dunia tidak akan menjamin keberhasilan untuk mencetak generasi-generasi yang berkualitas dan berintegritas. Sesuatu pelajaran itu datangnya dari kecil. Maka, jangan sekali-kali meremehkan hal yang kecil karena kecil itulah bisa menjadikan anak muda generasi yyang besar yyang mampu memberikan secara penggerak, pemikir dan ahli dalam berideolog dengan memperhatikan syariat islam.
  • Pentingnya Menumbuhkan Karakter Anak Sejak Dini

    Pentingnya Menumbuhkan Karakter Anak Sejak Dini


    Pentingnya Menumbuhkan Karakter Anak Sejak Dini – Sobat shalaazz mungkin sudah tak asing lagi dengan yang namanya karakter. Seberapa pentingkah menumbuhkan karakter anak ? banyak yang berfikiran bahwa karakter anak akan terbentuk seiring dengan berjalannya awaktu , atau kebanyakan yang menyebutnya akan terbentuk seiring bertambahnya usia. Namun kenyataannya sebagaimana yang kita ketahui bahwa dalam dunia pendidikan sekarang banyak anak yang  tingkat moralnya kurang. 
    Contoh nyata, dalam kehidupan sehari-hari sudah jarang ditemui anak ketika berangkat sekolah mau mencium tangan kedua orang tuanya. Apakah tidak miris ? belum lagi dengan tindakan anak ketika disekolah, anak berani dengan guru bahkan sampai ada yang menganiaya guru. Sangat perlu dipertanyakan bagaimana hal tersebut dapat terjadi dalam lingkup pendidikan.
    Bila ditengok kebelakang penanaman karakter pada anak yang dilakukan sejak dini akan berdampak pada karakter anak pada masa mendatang. Anak akan memiliki karakter baik atau buruk tergantung bagaimana pembentukkan dan penumbuhan karakter yang dilakukan sejak dini. Pembentukan karakter melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ketiganya memiliki peran tersendiri dalam pembentukan karakter anak. Karakter tidak dapat terbentuk secara maksimal bilamana salah satu dari ketiga peran tersebut tidak terpenuhi.
    Keluarga menjadi tempat pembentukan karakter pertama bagi anak, hal tersebut terjadi karena anak akan menghabiskan banyak waktu dirumah bersama orang tua. Orang tua akan menjadi model bagi anak, bagaimana orang tua bertutur kata, bertindak, dan bersikap akan ditirukan oleh anak. Anak melihat apa yang dilakukan oleh orang tuanya dan akan terekam oleh memori mereka dan tersimpan hingga anak dewasa bahkan anak menua. 
    Oleh sebab itu, ketika orang tua sedang bertengkar atau sedang ada permasalahan tidak didepan anak, karena akan berdampak pada tingkah laku anak diluar rumah. Ketika dirumah tidak ada yang bertengkar, dalam sehari-hari menggunakan tutur kata yang baik, dan berperilaku baik maka ketika diluar rumahpun hal itu yang akan dilakukan oleh anak. Namun perlu sobat shalaazz ketahui bahwa keluarga belum mampu menanamkan karakter secara maksimal pada anak, karena anak perlu bersosialisasi dengan orang lain diluar anggota keluarga. Maka dari itu sekolah dan lingkungan masyarakat akan melengkapi dalam pembentukan karakter anak.
    Sekolah sebagai pendidikan formal untuk anak dan awal untuk memasuki dunia pendidikan yang relatif akan bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Mengenal teman dengan berbagai sikap dan tingkah laku, sehingga secara tidak langsung akan merubah karakter anak yang telah terbentuk di rumah. Di sekolah, guru yang akan membantu menanamkan karakter untuk anak. Penanaman karakter tersebut melalui program PPK (Penanaman Pendidikan Karakter). PPK menanamkan 5 karakter yaitu:
    Religius, mencerminkan ketaatan kepada tuhan Yang Maha Esa. Melatih anak untuk taat pada agamanya dan saling menghargai antar beragama lain.
    Nasionalisme berarti menempatkan kepentingan bangsa dibanding kepentingan kelompok atau pribadi. Di sekolah diwujudkan dengan disiplin dalam mengikuti upacara bendera, datang kesekolah tepat waktu, mematuhi peraturan sekolah, melaksanakan tugas piket, dan membuang sampah pada tempatnya.
    Mandiri, melatih anak untuk tidak selalu bergantung pada orang lain baik dari segi tenaga, fikiran dan waktu untuk mewujudkan apa yang diimpikan. anak dilatih untuk mandiri dalam segala hal, sebagai contoh sederhana menyiapkan peralatan sekolah sesuai dengan jadwal.
    Integritas, melatih anak untuk dapat dipercaya, baik ucapan maupun tindakannya. Anak yang memiliki integritas tinggi akan lebih berhati-hati dalam bergaul. Integritas membantu anak dalam berkata tegas dan mampu membela dirinya sendiri ketika teman melakukan pembullyan. penanamannya melalui memberikan tugas sebagai pemimpin upacara, ketika anak mengiyakan maka diwaktu kegiatan upacara anak harus melakukannya.
    Gotong Royong, melatih anak untuk salaing membantu dan menghargai orang lain. Gotong royong diterapkan dalam piket kelas, dan kegitan-kegiatan disekolah yang lain yang perlu dikerjakan bersama-sama Melalui PPK tersebut, akan semakin mematangkan karakter anak. Karakter yang kuat dan melekat pada anak akan terbawa sampai jenjang pendidikan selanjutnya dan membantu anak untuk membentengi diri dari pengaruh luar.
    Masyarakat sendiri membantu dalam pembentukan karakter anak. Hal tersebut terbukti dengan masyarakat yang baik, anak akan memiliki karakter yang baik pula. Anak yang berkarakter akan memiliki rasa sopan santun yang tinggi keika bersosialisasi dengan masyarakat sekitar yang lebih tua dibandingkan anak yang memiliki karakter kurang.
  • Character of Studied In Pakistan, Ada apa dengan Pakistan?

    Character of Studied In Pakistan, Ada  apa dengan Pakistan?

    we should never stick to single work but always trying to improve our thinking. then result will be bright InshaAllah. we should be winners or loser. but if we would lose, we have to restrengthen ourselves.
    Sebuah kata yang dibicarakan oleh pemikiran teman yang berada di pakistan. maksudnya, agar pendidiikan dibenahi dengan awal kita memulainya. sejauh manapun berbuat tidak pernah surut akan hal yang telah kita ucap dan kita lakukan. sesuatu pekerjaan akan terasa ringan bila dilakukan bersama-sama. begitulah pendidikan yang sebenarnya. jika pendidikan, hanya kehendak sang dosen atau sang atasan tidak akan ada artinya dunia ini walaupun diperbanyak sekolah pendidikan
    Perusahaan yang menjanjikan seseorang untuk menjadi karyawan ialah bukan dilihat dari ijazah perguruan tinggi. melainkan keahlian yang dimilikinya. lalu apa artinya, pendidikan berlama-lama untuk mendengarkan dan berlatih? ada beberapa alasan. 
    Alasan yang pertama ialah, selama kita berproses dalam pendidikan maka kita akan tahu lelahnya sebuah pembelajaran. lebih baik lelah daripada bodoh untuk selamanya.
    Alasan yang kedua ialah, selama proses tersebut kita gunakan dengan pencarian bakat yang ada dalam diri kita. kita tidak pernah tahu bakat kita seperti apa? namun, karena proses yang panjang itu membuat kita untuk memulai sebuah perjalanan panjang yang sangat bermakna. 
    Alasan yang ketiga ialah tiada pribadi yang terlatih selain terus berlatih setiap hari. dengan berlatih maka akan membuat kita makin tertantang sebuah proses. proses yang membuat kita akan ujian yang dihadapi masa mendatang.
    awal-awal dalam perkuliahan pasti akan bersemangat. namun, ketika dibalikkan dengan banyak perubahan. maka, sesuatu itu akan menjadi terbalik dengan banyaknya kejenuhan. dikarenakan kata-kata yang salah atau niatnya yang berbeda.  sama halnya perumpaan ketika memulai untuk menulis. 
    the first thing to do is to write according to what you think. after that write, what you feel. what you read then is written with the essence. then pour in the experience and discussed in writing. i hope and i think i will write in this way. maybe i hope too you studied for fighting. may Allah help us.
  • 30 Langkah Jitu Cara Mendidik Anak yang Baik


    30 Langkah Jitu Cara Mendidik Anak yang Baik – Anak itu bagaikan lembar kertas putih  kosong yang akan ditulis oleh penulisnya. Tergantung tulisan atau warna tinta apa yang akan digunakan penulis. Begitu pula anak yang baru lahir secara fitrah akan diwarnai oleh orang tuanya, entah warna indah atau sebaliknya. Jadi, kewajiban orang tua memang harus mendidik yang terbaik untuk generasinya,  agar tidak memikulkan dosa akibat dari perbuatan buruk anaknya sendiri. Ingatlah pepatah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. 

    Oleh karena itu, perlu diketahui kiat-kiat mendidik anak yang baik sebagai berikut:

    1.  Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan yang lebih tua. Kemudian cegahlah ia memandangi makanan orang yang sedang makan.
    2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan.
    3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan.
    4. Ditanamkan pada dirinya untuk mendahulukan orang lain makan, serta makan dengan makanan yang sederhana.
    5. Sangat disukai jika ia memakain pakaian warna putih bukan warna-warni, apalagi sutera. Dijelaskan bahwa kain sutera hanya untuk kaum wanita saja.
    6. Jangan biasakan anak laki-laki memakai pakaian sutera dan membiarkan menggunakan pakaian panjang yang melebihi mata kaki.
    7. Selayaknya anak dijaga agar tidak bergaul dengan anak-anak yang hidupnya bermegah-megahan dan bersikap angkuh.
    8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca Al-Qur’an dan buku-buku terutama di perpustakaan.
    9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair gombal cinta karena hal itu hanya akan merasuki hati dan jiwa.
    10. Biasakan menulis indah dan menghafal syair-syair tentang akhlak mulia.
    11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji jangan segan untuk memberikan pujian dan hadiah yang membuat kebahagian. Tapi apabila anak melakukan kesalahan jangan disebarkan pada orang lain dan sambil dinasehati bahwa yang dilakukannya itu tidak baik.
    12. Jika ia sering mengulangi perbuatan buruk itu, maka dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya.

    30 Langkah Jitu Cara Mendidik Anak yang Baik

    13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam berkomunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau berkata kasar kecuali pada saat tertentu.
    14. Hendaknya dicegah dari tidur siang yang lama karena membuat rasa malas, sebaiknya segerakan waktu tidur malam. Jangan paksakan malam hari masih melakukan aktivitas.
    15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena membuat ia terlena dan hanyut dalam kenikmatan.
    16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, kecuali saat beramal agar tidak menimbulkan riya’.
    17. Biasakan anak agar melakukan olahraga pada pagi hari agar tidak malas. Jika anak memiliki kemampuan menunggang kuda, memanah dan berenang, biarkan saja agar melakukan aktivitas tersebut.
    18. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan membanggakan diri.
    19. Melarangnya dari membanggakan apa yang dimiliki orang tuanya. Biasakan ia bersikap tawaddu’, lemah lembut dan menghormati teman.
    20. Tumbuhkan pada anak (terutama pada anak laki-laki) untuk tidak mencintai emas.
    21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik orang lain karena itu perbuatan mulia. Ajarkan ia untuk sering memberi karena itu perbuatan terpuji.
    22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tempat majlis, membuang ingus, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.
    23. Ajari ia duduk di lantai sesuai dengan cara duduk yang dicontohkan oleh  SAW.
    24. Mencegah dari banyak bicara, kecuali yang bermanfaat dan dzikir.
    25. Cegahlah anak dari perbuatan sumpah, sekalipun itu benar.
    26. Dia juga harus dihindarkan dari perkataan keji dan sia-sia.
    27. Anjurkan ia memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit.
    28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan.
    29. Jika anak sudah berumur 7 tahun diperintahkan untuk wajib sholat dan tidak meninggalkan wudhu sebelumnya.
    30. Hindari anak-anak bermain di dekat orang yang lebih tua agar tidak mengganggunya dan sebagai bentuk menghormati.
    Sumber: Mathwiyat Darul Qosim “tsalasun wasilah li ta’dib al abna” asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin Rahimahullah. 
    Diterjemahkan Oleh: Ubaidillah Masyhadi
  • Apakah Salah Pola Asuh Pada Pendidikan Karakter Bangsa ini?

    Apakah Salah Pola Asuh Pada Pendidikan Karakter Bangsa ini?

    Apakah Salah Pola Asuh Pada Pendidikan Karakter Bangsa ini? – Apa itu pendidikan karakter? Ya, pada era milenial ini tentu tidak asing lagi dengan sebuah pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan wujud keselarasan antara ilmu dengan pembentukan karakter anak-anak bangsa. Yang mempengaruhi pola pikir setiap individu. Bagaimana dengan nasib mereka yang berpendidikan tinggi namun tak mempunyai karakter? Pendidikan karakter ini begitu penting di masa yang akan datang. Mengoptimalkan nilai-nilai budi pekerti yang hampir hilang.
    Membiasakan dengan kebiasaan yang baik adalah cara untuk membentuk karakter sejak dini. Melatih otak bekerja untuk tidak hanya menuntut ilmu saja tetapi punya kebiasaan baik yang bisa dicontoh. Pendidikan karakter tidak cepat kilat mengubah pola pikir anak anak bangsa sekarang. Butuh tahap-tahap pendekatan agar mampu mengubah pola pikir mereka yang masih kurang memperhatikan masa depannya. Perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi salah satu yang menjadi penyebab kebanyakan dari mereka masa bodoh dengan masa depan. 
    Tontonan yang tidak memberi efek baik perlu ditindak lanjuti. Karena masa depan mereka ditentukan oleh apa yang mereka lakukan saat ini. Bukan ditentukan oleh guru. Guru hanya sebagai pembimbing yang membimbing mereka kemana arah masa depan mereka diwujudkan. Kesadaran diri sendiri juga berpengaruh besar terhadap pembentukan pendidikan karakter anak bangsa. Sebab dari keinginan dan harapan mereka sendiri lah yang bisa mengubah pola pikir yang lebih baik. Sebuah pendidikan karakter harus benar-benar nyata mampu diwujudkan. Orang tua berperan penting dalam mengarahkan dan memberi bimbingan. Anak bangsa merupakan cikal bakal maju atau tidaknya negara ini. 
    Pola asuh dan ilmu yang diberikan dengan cara yang benar. Pasti akan membuahkan hasil. Harus mawas diri terhadap pergaulan pada era sekarang. Dan ketika mereka telah dibekali pendidikan karakter. Cepat atau lambat pola pikir mereka akan mulai terbentuk. Mulai sadar apa yang harus dikerjakan dan apa yang perlu ditinggalkan. Sebuah kebanggaan bisa menerapkan pendidikan karakter itu sendiru diruang lingkup keluarga , diri sendiri , bahkan masyarakat luas. 
  • Apakah Tugas Sekolah Penting Untuk Masa Depan?

    Apakah Tugas Sekolah Itu Penting Untuk Masa Depan?


    Apakah Tugas Sekolah Penting Untuk Masa Depan? – Kali ini, mari kita membahas fenomena realistis siswa siswi di Indonesia yang abai dengan tugas sekolahnya. Mereka seolah-olah tidak peduli dengan tugas yang diberikan guru, mengentengkannya dan memilih mencontek pekerjaan teman.

    Kurangnya kesadaran bahwa sekolah merupakan jembatan masa depan, sehingga acuh pada pendidikan. Padahal  salah satu alasan dan harapan orang tua menyekolahkan putra-putrinya yaitu menginginkan masa depan mereka benderang. Selain itu, siswa adalah tunas-tunas bangsa yang sebagai pewaris negeri yang diharapkan dapat memajukan integritas bangsa.

    Lantas bagaimana apabila fenomena itu berkelanjutan yang justru menjadi penyakit menular dan mematikan? Entah apa yang terjadi dengan bangsa dan Negara ini? Yang sejak berabad-abad lalu dipertahankan dengan susah payah oleh pejuang dan harus berakhir dalam genggaman generasinya sendiri. Miris bukan?
    Jadi apa sajakah fenomena-fenomena itu? Let’s start

    MALAS
    Penyakit ini tidak hanya diidap oleh anak sekolahan saja, akan tetapi semua orang, bahkan saya pun begitu. Ehehe… hanya saja semua bergantung bagaimana kita menyembuhkan penyakit tersebut. Perlu disadari, tugas sekolah sebenarnya adalah elemen penting menuju masa depan. Karena dengan guru memberikan latihan soal, kita akan melatih otak kita bekerja lebih serius. Ibarat pisau, semakin sering diasah maka semakin tajam. Jadi, rasa malas ini perlu dilenyapkan, semangatlah dalam menuntut ilmu.

    PUTUS ASA SEBELUM USAHA
    Tak jarang kita temui bila mendapat tugas yang teramat sulit, misalnya matematika. Haha.. sudah lumrah, bukan? Matematika adalah pelajaran terhoror sepanjang sejarah. Tapi bukan berarti kita putus asa memusuhi pelajarannya apalagi memusuhi guru pengajarnya, jangan ya kawan! Ada baiknya kita coba kerjakan dulu tugas tersebut sesuai dengan yang diajarkan guru. Nah, apalagi saat ini zaman sudah maju, kita bisa cari referensi di internet. Jadi jangan putus asa! Kerjakan tugas dengan nikmat.

    MENGELUH
    Hal yang satu ini memang sulit terlepas dari sifat manusia. Kurang bersyukur sehingga cepat mengeluh. Salah satunya dikalangan anak sekolah. Apa yang dikeluhkan? Tugas? Padatnya jam pelajaran? Hem.. bukankah sekolah memang seperti itu? Identik dengan tugas-tugas yang katanya, “membebankan”. Padahal bila kita tanya pada mereka yang tidak bisa sekolah, mereka akan rindu dengan tugas-tugas, ingin sibuk sama halnya dengan anak-anak lain yang sekolah. Dalam hal ini, harusnya kita lebih banyak bersyukur agar tidak terlalu sering mengeluh.

    Tugas sekolah merupakan elemen penting pembelajaran. Yang berguna untuk melatih otak kita agar terasah sehingga menambah kecerdasan. Bersungguh-sungguhlah menuntut ilmuJkarena diluar sana banyak dari mereka yang menginginkan ada di posisi kita yang sibuk dengan tugas sekolah. Jangan menyerah!
  • Penanaman Kecintaan Pada Seni dan Budaya Melalui Dunia Pendidikan

    Penanaman Kecintaan Pada Seni dan Budaya Melalui Dunia Pendidikan
                Seperti halnya kecintaan pada Bangsa dan Negera, kecintaan pada Seni dan Budaya tidak bisa serta merta tumbuh pada diri seseorang. Seorang anak yang tidak bersentuhan langsung terhadap seni, maupun tidak diperkenalkan sejak dini mengenai seni dan kebudayaan, biasanya tumbuh menjadi anak yang kurang peka terhadap estetika (keindahan) maupun budaya yang ada disekitarnya.
                Saat menjadi guru saya banyak melihat hal yang demikian. Seni dan budaya tanpa kita sadari sebenanrnya adalah sebuah hal yang melebur di dalam diri kita, di dalam masyarakat kita dan dalam semua kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Hanya saja kita tidak peka terhadap hal tersebut, sehingga hal tersebut acapkali terlihat biasa saja, bahkan tidak berpengaruh apa-apa pada diri mereka.
                Hal inilah yang terkadang memberikan sedikit kesulitan dalam pembelajaran seni budaya di sekolaha. Karena bagi mereka seni adalah sebuah maha karya dan budaya adalah seseuatu mengenai tradisi turun menurun yang sifatnya tua dan menjadi mlik kita sejak dahulu. Pengenalan seni dan budaya sangat melekat erat. Sejak di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) tentu kita sudah berusaha mendekatkan anak-anak pada seni dan kebudayaan kita. Contoh paling sederhana adalah ketika kita menyanyikan lagu kebangsaan di depan kelas. Menyenyi adalah bagian dari seni dan lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah bagian dari kebudayaan yang kita miliki. Sampai pada hal yang paling kompleks saat anak-anak diajarkan tampil untuk berani tampil untuk membawakan sebuah tarian bersama atau drama-drama sederhana di atas panggung saat malam perpisahan.
    Pada dasarnya penerapan seni sejak TK dan SD menekankan pada keberanian untuk tampil dan pengembangan diri. Saya jarang sekali menemukan seorang guru yang mungkin dalam bentuk sederhana menjelaskan apa itu batik sambil mencontohkan seragam almamater yang mereka pakai hari itu, atau seorang wali kelas di SD yang menceritakan perihal sejarah munculnya budaya Tari Singo Ulung sebagai bentuk kearifan lokal yang ada di Kabupaten kami, Bondowoso, di jenjang Sekolah Dasar (SD).
                Hal semacam ini saya pikir telah membuat jarak yang cukup jauh, sehingga pada akhirnya di jejang SMP dan SMA para guru seni perlu membuat lompatan yang besar, untuk memperkenalkan sei dan budaya yang ada di daearah, sampai mereka benar-benar paham apa itu budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh daerah kami. Kebanyakan anak-anak yang tidak bersentuhan langsung dengan seni dan kebudayaan di lingkungannya, mengetahui seni hanya dengan mendengar dan membaca sekilas pada buku teks tanpa mendalaminya.
                Begitu masuk di jenjang SMA, saya banyak menemukan bahwa anak-anak tidak bisa menyebutkan lebih dari 3 kebudayaan yang daerah kami miliki, tarian apa yang kami miliki, kearifan lokal apa yang berkembang dalam masyarakat kami dan tradisi apa yang kami miliki. Semua pertanyaan itu seperti sangat mudah dijawab dan diketahui semua orang, tetapi tidak bagi mereka. Hal ini terjadi, karena pengenalan seni dan budaya tidak dilakukan sejak dini. Mulai lunturnya berbagai tradisi dan budaya yang ada di masyarakat, juga membuat mereka semakin jauh dari budaya yang seharusya wajib mereka warisi.
                Di daerah saya, Kabupaten Bondowoso, saya mulai melihat pertunjukan Tarian Singo Ulung dan Ojung menjadi hal yang hampir langka. Selain saat hari-hari besar dan event-event daerah maupun budaya, tarian ini tidak mentradisi dilingkungan tempat tinggal kami, yang dulunya dari Buyut saya pernah bercerita, bahwa pertunjukan Ludruk, Leong, Tarian Singo Ulung, Wayang Golek maupun Ojung adalah hiburan yang merakyat, dimana hampir tiap bulan nikah, peringatan 1 Muharram, Maulid Nabi Muhammad dan Hari Kemerdekaan, semua orang berkumpul untuk menyaksikannya di kantor desa atau rumah-rumah yang memiliki hajat. 
    Hal ini jelas membawa pengaruh besar pada rasa cinta dan memiliki akan seni maupun budaya yang ada tumbuh di lingkungan mereka. Sehingga secara tidak langsung, mereka telah mengenal dan memplajari seni dan budaya dalam bentuk hiburan rakyat sejak dini, dari lingkungan mereka sendiri tanpa perlu materi di dalam kelas. Seharusnya materi mengenai Seni dana Kebudayaan local di kelas adalah bagian dari penguatan pemahaman mereka. Bukan pengetahuan baru.
    (https://dolandolen.com/6-seni-kebudayaan-unik-milik-bondowoso-yang-wajib-dolaners-ketahui-dan-pelajari/)

    Beberapa kebudayaan yang dimiliki Kabupaten Bondowoso

                Pengalaman estetis adalah cara termudah dan paling mudah membekas di hati tiap anak dalam hal mengingat. Saat mereka terlibat langsung di dalam kebudayaan dan kultur itu sendiri, maka mereka tidak perlu lagi menghafal. Mereka hanya perlu mengingat, bahwa apa yang mereka lihat adalah kebudayaan yang mereka miliki, sehingga rasa ingin mempertahankan, kepedulian dan rasa melindungi menjadi lebih kuat.
                Perkembangan zaman dan pola mendidik dan memperkenalkan seni dan budaya dalam dunia pendidikan memang sudah banyak berubah, dan sebagai guru pun saya tidak serta merta meyalahkan keadaan ini, karena saya pun hidup dalam lingkungan tersebut. Sehingga segala kesulita tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri bagi kami para guru seni budaya.
                Salah satu cara yang biasanya saya lakukan dalam proses pengenalan seni dan budaya kepada mereka adalah dengan cara melakukan berbagai obeservasi, baik itu pada sebuah badan usaha seperti batik dan kerajinan kuningan khas Kabupaten kami, pada acara kebudayaan, maupun pada narasumber tertentu di lingkungan tempat tinggal mereka. Dengan cara itu mereka bisa mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai budaya apa yang dulu berkebangan dan tumbuh di sekitar mereka. Medengar dan turun langsung ke lapangan bagi saya adalah cara paling ampuh kedua untuk membuat mereka memahami tentang seni dan kebudayaan, dari pada mendengar penjelasan materi di dalam kelas.
                Jika kami memiliki watu senggang atau jam pelajaran yang lebih, maka biasanya saya meminta mereka untuk membaca sebuah buku yang nantinya akan kami bahas bersama di kelas, sehigga anak yang telah membaca bisa bercerita tetang apa yang dia tahu pada teman yang lainnya.dengan begitu, kami memiliki bahan diskusi mengnai kebudayaan. 
    Selain itu menonton VCD mengeai tari-tarian daerah, Ludruk, teater dan kesenian lain juga dapat membantu kami untuk bisa mengapresiasi budaya tersebut dengan cara yang paling mudah dan murah. Meskipun dirasa sedikit berat, saya begitu ingin meyampaikan dan mengajarkan kepada para siswa siswi saya, bahwa seni dan budaya adalah cakupan yang sangat luas. Pembelajaran seni, buka hanya tentang ‘kamu harus bisa menggambar’, tetapi jauh lebih dari itu, kami para guru harus menumbuhkan rasa cinta pada tiap seni dan budaya yang kami miliki dengan tetap mempertahankan tradisi dan kearifan lokal ditengah perkembangan zaman. 
    Dengan begitu, kami semua akan memiliki rasa bertanggung jawab yang sama besar, rasa memiliki yang sama besar, juga rasa ingin menjaga dan melestarikan yang sama besar. Saat itu terjadi, bukan hal mustahil untuk melestarikan budaya hingga bisa kita perkenalkan pada dunia Internasional melalui pembelajran seni dan budaya di sekolah.
  • Pengembangan Diri : Mengenal Lebih dekat PBAK Mahasiswa

    Pengembangan Diri  Mengenal Lebih dekat PBAK Mahasiswa

    Pengembangan Diri : Mengenal Lebih dekat PBAK Mahasiswa – Kemarin, aku PBAK. Untuk pertama kalinya. Untuk menyambungkan pendidikan yang lebih tinggi di sekolah Menengah. Dulu, memang aku anak SMA yang menyebalkan. Dianggap orang remeh karena gatau matematika. Jujur, aku adalah salah satu yang lumayan gasuka Matematika. Tapi, ini adalah hal yang umum. Semua pendidikan juga punya mata pelajarannya masing-masing. Semua kampus, punya mata kuliahnya masing masing.
    Banyak yang ku dapat ketika PBAK kemarin . Apa itu PBAK? PBAK adalah Pengenalan Budaya dan Akademik kemahasiswaan. Dosen ku menyampaikan banyak hal. Terutama tentang, Apa itu pendidikan yang sebenarnya?
    Semua siswa punya karakternya Masing-masing. Semua guru, bahkan dosen juga punya kriterianya masing-masing.
    Sering kali, kita sebagai Mahasiswa dianggap tak berdaya disini. Katanya… Kerja kita cuma datang, duduk, dengar ceramah, dengar tugas, ngerjain, selesai semua itu pulang. Salah! Aku menganggap semua itu adalah salah.
    Ketika aku PBAK, bukan hanya ilmu yang ku dapat, masih saja hari pertama PBAK aku sudah menyimpulkan bagaimana kegiatan Mahasiswa disana. Banyak orang menganggap, kuliah seperti di televisi itu. Ternyata salah lagi, lagi lagi, banyak orang yang berpikir salah tentang kependidikan kemahasiswaan disini.
    Aku bukan hanya banyak mendapatkan teman baru, bersosialisasi dengan hal yang baru, bertukar pikiran, bertukar pendapat. Tapi, aku juga mendapatkan apa arti kepentingan bersama meraih ilmu dengan IPK tertinggi. Seharusnya kalian bangga dengan gelar MAHA, kalian bukan lagi SISWA tetapi sudah MAHASISWA. Aku bangga… Siapa tidak bangga?
    Berikut ada beberapa point yang aku dapatkan ketika aku PBAK kemarin. Kegagalan yang sering Mahasiswa lakukan di masa kuliah. Apa saja itu? Catat point ini!
    1.salah orientasi(kebebasan tanggung jawab) .
    2. Salah jurusan. (Melahirkan kegagalan) .
    Jadi, kamu jangan sampai malah salah jurusan. Ingat, masih ada waktu buat maba yang baru masuk. Bisabisa kamu gagal. Tapi jangan berpikir gitu juga yah, mungkin saja Allah mentakdirkan kamu dijurusan yang tidak kamu inginkan. Bisa jadi, sesuatu yang amat kamu benci malah menjadi yang baik untukmu. Begitupun sebaliknya. So, harus tetap percaya yah!!
    3. ‎Kuliah bukan keinginan kita, but keinginan orangtua. (Sesuatu yg dipaksakan pasti ujungnya gaena, ada sesuatu yg dipaksa tapi mengenakan.’ibadah’)
    Nah, kalo di point ini. Kamu ambil hikmahnya saja yah, negatif nya kamu buang!
    4. ‎kita berpikir, bahwa tak ada pekerjaan dimasa depan. (Berpikirlah kita mau jd apa,  bukan aku jadi apa?)
    Berpikir, adalah hal yang utama sebelum berbicara. Pikirkan kedepan mau jadi apa kita?
    5. ‎Uang. (Ada dan tidak ada, bisa gagal. ) (Orang gagal adalah orang yg bisa menghasilkan uang sendiri)
    Jadi pengusaha yuk!
    6. ‎Orang yg sibuk berorganisasi. (Aplikasi teori harus ada wadahnya)=organisasi.
    Jadi nanti harus ngikuti organisasi, “jangan larut karena organisasi “
    Nah salah satunya berorganisasi. Kenapa? Selain menambah ilmu pengetahuan, wawasan. Kita disini bisa lebih spesifik lagi. Lebih luas lagi. So, organisasi adalah hal yang terpenting disini. Karna aktifnya jadi Mahasiswa bukan cuma dikelas, tapi diluar kelas.
    Enam point diatas, saya dapat dari PBAK. Gimana? Ngerti? Ngerti ngertiin aja deh ya. :’)