Tag: Mengisi Kemerdekaan Indonesia Essay

  • Merdeka? Esai Hari Kemerdekaan Indonesia

    Merdeka? Esai Hari Kemerdekaan Indonesia

    Merdeka? Esai Hari Kemerdekaan Indonesia – 17 Agustus 1945, hari di mana mimpi nan pupuk harapan bumi Nusantara tergenggam, untuk meraihnya amat perlu perjuangan, kucuran darah, nyawa melayang APAPUN rela dikorbankan, hingga akhirnya hasil hembusan nafas para pejuang terbayarkan, pejuang proklamator yang mencurahkan ide di satu pengumuman kemerdekaan singkat namun penuh arti itu akhirnya terkibarkan lantas terngiang sorak sorai penuh bahagia riuh di seluruh negeri “AKHIRNYA KEDAULATAN KINI MILIK KITA”  sorak mereka, memanglah mimpi tergenggam merupakan hari bahagia. 

    Baca juga: Indonesia Nation Building Oleh I Wayan Budiartawan

    Benarkah merdeka? Esai Hari Kemerdekaan Indonesia

    Lantunan masa yang panjang telah dilewati pergolakan dalam negeri hingga ingin kembalinya pejajah menghatui negeri ini sampai tiada sadar 74 tahun sudah momen itu telah terlewati namun  benarkah kita bebas seperti yang diagungkan para pejuang, benarkah negeri ini benar merdeka? benarkah mimpi-mimpi  itu nyata?

    Yang katanya lepas dari belenggu penjajah, yang katanya telah menjadi negeri berdaulat itu kini sedang terseok ekonominya dikuasai asing, kekayaanya di lahap dengan semangat oleh negeri yang jauh diseberang,  barang impor tiada terbendung berdatangan di tengah panen raya yang harusnya menjadi berkah namun berubah jadi petaka, lihatah pengangguran   dimana-mana namun malahan sang papa yang harusnya menjaga malah menganak emaskan warga sipit menciptakan jurang kesenjangan,  menjual aset bangsa dengan kedok membangun negeri,  itu kah namanya merdeka?

    Baca juga: Ayo Indonesia Bangkit Essay Hari Kartini

    Merdeka saat semboyan bhinneka tunggal Ika ambruk di atas tanah cendrawasih menimbulkan percikan api yang hangat.

    Namun pasti menghancurkan, sara jadi bahan baku hantam terhadap saudara tanah air. Beberapa puing wilayah merengek ingin bebas karena diskriminasi dimana – mana. Karena ketimpangan sosial antar wilayah bagai pertunjukan  itukah yang namanya merdeka?

    Merdekakah kita disaat victim blaming bagai tradisi? Budaya patriarki menganak-pinak subur sampai sekarang. Batasan atas nama gender teriang-ngiang. Geng rape bagi debu bertebaran, aparat negara yang katanya pengayom dan pelindung namun turut menjadi iblis selangkangan. Saat kelompok rentan dilingkupi rasa takut yang menghantui begitu kah merdeka?

    Jadi kawan apa sesungguhnya pengertian merdeka itu? Jika kata KBBI merdeka itu lepas dari penjajah, patutkah kita berkata demikian saat ekonomi, sosial budaya kita habis dimakan lemah. Hey bung, merdeka bukanlah sekedar pengakuan yuridis bangsa asing.

    —Essay Hari Kemerdekaan Indonesia—

    Penulis: Alifa Fadila (UIN Walisongo Semarang)

  • Mengisi Kemerdekaan Indonesia Essay

    Mengisi Kemerdekaan Indonesia Essay

    Shalaazz.comMengisi Kemerdekaan Indonesia Essay – Merdeka atau mati!!! Kalimat tersebut adalah slogan andalan pejuang kemerdekaan Indonesia dahulu. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan perjuangan, pengorbanan bahkan hingga kematian. Makna kemerdekaan tidak dapat lepas dari kebersamaan rakyat saat itu. Kita harus mengetahui betapa berat beban yang di pundak pendahulu masa lalu melalui cerita orang tua, kakek, nenek, bahkan guru kita. Sekarang Indonesia telah merdeka selama 74 tahun dengan berbagai ancaman, hambatan, tantangan, dan gangguan yang dapat diatasi dengan baik. Perpecahan, pemisahan, bahkan keributan tidak dapat memisahkan Indonesia yang telah merdeka ini. Sewajarnya kita menghargai persatuan dan kesatuan Indonesia tercinta.

    Baca juga: Wajah-Wajah Kemerdekaan Indonesia Essay

    Pudarnya Wawasan Kebangsaan

    Tapi apakah semua orang berpikir demikian? Akhir-akhir ini, tidak hanya anak-anak bahkan orang dewasa telah melupakan kebudayaan Indonesia. Hal tersebut terlihat dari kehidupan sehari-hari mereka. Banyak orang telah melupakan toleransi dan sikap saling menghargai bahkan bertegur sapa merupakan hal yang aneh dipandang oleh mereka. Apalagi saat keinginan saling berbenturan, tetanggapun akan saling menjatuhkan. Selain itu, penggunaan bahasa asing yang dipandang lebih baik daripada menggunakan Bahasa Indonesia. Banyak orang tidak lagi menghargai jati diri Bangsa Indonesia baik karakter, kesenian, musik, pakaian, adat, hukum, norma, dan lain sebagainya. Apakah hal demikian yang diharapkan pendahulu kita saat membangun negeri?

    Baca juga: Opini: Kemerdekaan Bukan Sekadar Perayaan

    Kita sebagai warga Negara Indonesia yang telah bersatu dari berbagai keberagaman suku, adat, budaya, dan agama sudah seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai yang dapat mempersatukan bangsa seperti ideologi Pancasila, bahasa, keberagaman adat, serta lagu nasional. Penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan pada masyarakat dan meningkatkan mental merdeka yang menganggap Bangsa Indonesia lebih baik bukan lebih rendah dari bangsa penjajah.

    Selain itu, penerapan Bahasa Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan seperti pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan dalam keadaan apapun dapat mempererat bangsa ini. Jika lebih banyak anak menyanyikan lagu nasional, maka semakin banyak orang mencintai negeri ini. Perbuatan sepele tersebut dapat berdampak besar bagi keharmonisan persatuan dalam masyarakat. Kita sebagai orang yang lebih mengetahui masalah Bangsa Indonesia wajib mengarahkan masyarakat .menuju sesuai cita-cita Negara Indonesia yang telah merdeka ini. Kita harus mengarahkan masyarakat memperkuat dan membangun kembali kepribadian luhur warisan pendiri Bangsa.

    Marilah memulai kembali budaya gotong royong, berbahasa Indonesia, saling toleransi, membantu satu sama lain, dan hidup dalam persatuan. Dengan demikian, masyarakat Indonesia dapat kembali menjadi Bangsa Merdeka yang disegani dan dihormati oleh bangsa lain serta berdiri sebagai bangsa yang besar. Merdeka atau Mati!!!

    Penulis: Bobby Michael Wijaya