Tag: Pendidikan Karakter

  • Pendidikan Proses Terbaik Menuju Kehidupan Cemerlang

    Pendidikan Proses Terbaik Menuju Kehidupan Cemerlang

    Pendidikan Proses Terbaik Menuju Kehidupan Cemerlang– Halo sobat Shalaazz, Menjadi seorang Mahasiswa/Mahasiswi merupakan dambaan bagi kebanyak orang terlebih karena tuntutan dari negara agar terciptanya generasi yang berpegetahuan dan berwawasan luas, maka pendidikan menjadi prioritas terpenting untuk mewujudkannya.   

    Namun, tak banyak dari kalangan kita yang sadar dan memahami tentang arti penting dari pendidikan itu sendiri. Terkadang, kita sekolah atau kuliah hanya karena dorongan ingin menuntaskan pendidikan atau sebagai sarana untuk memenuhi persyaratan dalam pekerjaan kita. Berupa IJAZAH, atau justru hanya sebagai wadah bagi kita untuk menunggu kapan jodoh akan datang.

    Berproses Menuju Kehidupan Cemerlang Melalui Jalur Pendidikan

    Padahal sejatinya ruh dari pendidikan sendiri merupakan proses yang menghubungkan pemikiran, tindakan dan karakter kita agar kita bisa menyikapi setiap problema kehidupan dengan baik. Nah, berbicara tentang Proses, tentu membutuhkan waktu yang cukup, bukan waktu yang lama atau bahkan instan.

    Baca juga: Membangun Karakter dalam Pendidikan-Character Building

    Proses akan menjadi baik saat kita menyikapinya dengan baik. Proses akan menjadi lambat saat kita menyikapinya dengan lambat. Dan proses akan menjadi cepat saat kita menyikapinya dengan terarah dan terstruktur. Dalam hal ini bukanlah proses cepat dan instan, karena semuanya tergantung dari cara kita untuk menyikapinya. Dan disinilah peran penting pendidikan itu masuk untuk mendewasakan manusia agar berproses menjadi insan berakhlak mulai sebagaimana yang telah diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW dengan tauladan akhlak yang sangat mulia.

    Terbentur, Terbentur, dan Terbentuk

    Intan, permata dan mutiara menjadi begitu indah karena menjalani sebuah proses. Bagaimana proses itu akan berjalan dan mengalir, disitulah akan menemukan yang namanya hasil. Kupu-kupu bisa menjadi cantik dan indah dipandang juga karena proses yang panjang dan berliku. Berawal dari sebuah ulat yang menjijikkan, kemudian berproses menjadi kepompong.

    Baca juga: Pendidikan Karakter (Pembentukan Karakter Pada Anak Melalui Pendidikan Agama Islam)

    Nah saat ulat tersebut berproses menjadi kepompong, ia harus tinggalkan semuanya. Dia mengurung diri menahan untuk melihat keindahan dunia selama beberapa minggu. Hingga akhirnya ia bisa menjadi seekor kupu-kupu yang cantik dan indah mempesona. Dan ketika menjadi kupu-kupu ia bisa terbang bebas dan melihat keindahan dunia. Itulah proses  

    Melihat dari Berbagai Sudut Pandang

    Sama halnya dengan pendidikan. Mungkin saat ini kita merasa saat mencari ilmu/sekolah/kuliah sangat membosankan, melelahkan, malas dan sebagainya sebagai kendala kita untuk belajar. Tetapi ketika kita sudah bisa menikmati indahnya sebuah proses tersebut, kelak kita akan sangat merindukan masa-masa saat dimana kita kesulitan dalam mencari ilmu.

    Untuk itulah sobat Shalaazz harus tetap nikmati proses itu dengan pemikiran terbaik, dengan langkah terbaik dan dengan tindakan terbaik. Maka kelak Insya Allah sebuah proses yang kamu jalani akan menghasilkan buah terbaik, karena proses tidak pernah menghianati hasil. Wallahu a’lam bish-showab

    Editor: Andrian Kukuh Pambudi

  • Pancasila Dasar Negara Apakah Masih Relevan?

    Pancasila Dasar Negara Apakah Masih Relevan?

    Apakah Pancasila Masih Relevan Saat Ini? – Mungkin pertanyaan ini sudah sering kita dengar dan temui sehari-hari di media-media. Apalagi di kaitkan dengan isu-isu saat ini mengenai masalah toleransi beragama, masalah kemanusiaan, tentang integrasi bangsa, serta tentang munculnya paham-paham baru di Indonesia.

    Hal-hal tersebut tentunya memunculkan beberapa pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai eksistensi Pancasila menjawab permasalahan yang ada di bangsa Indonesia saat ini.  Mari membahas Pancasila dasar negara Indonesia secara runut.

    Asal-usul Pancasila

    Istilah Pancasila telah dikenal sejak zaman Majapahit pada abad ke-14, yaitu terdapat dalam buku Negarakertagama karangan Empu Prapanca, dan dalam buku Sutasoma karangan Empu Tantular. Dalam buku Sutasoma ini, istilah Pancasila di samping mempunyai arti, “berbatu sendi yang lima”, berasal dari bahasa Sansekerta; Panca berarti lima dan sila berarti berbatu sendi, alas atau dasar, juga berarti “Pelaksanaan kesusilaan yang lima” (Pancasila Krama) yaitu tidak boleh:

    • Melakukan kekerasan.
    • Mencuri.
    • Berjiwa dengki.
    • Berbohong.
    • Tidak boleh mabuk, minum minuman keras.

    Kelima istilah tersebut sama sebagaimana dikemukakan Muhammad Yamin, yaitu kesusilaan yang lima. Pada masa itu istilah Pancasila bukan untuk menyebut asas kenegaraan, tetapi merupakan tuntunan tingkah laku atau akhlak (code of morality).  

    Setelah Proklamasi Kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan dan mengesahkan lima dasar negara yang rumusannya terdapat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, bersamaan dengan disahkannya Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 itu sendiri.  

    Pancasila Dasar Negara Indonesia

    Meskipun nama/kata “Pancasila” itu sendiri tidak terdapat baik di dalam Pembukaan maupun Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Namun cukup jelas, bahwa yang dimaksud Pancasila sebagai Dasar Falsafah Negara, adalah lima dasar negara yang perumusannya terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.  

    Jadi, secara terminologi yang dimaksud Pancasila sekarang ini adalah “Nama Dasar Negara kita, Negara Republik Indonesia”, berupa lima dasar negara yang perumusannya tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu:

    1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
    3. Persatuan Indonesia.
    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa eksistensi Pancasila dapat dirasakan hingga saat ini. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa berarti memahami Pancasila yang dapat  dipertanggungjawabkan baik secara yuridis-konstitusional maupun secara obyektif-ilmiah. Secara yuridis-konstitusinal karena Pancasila adalah dasar Negara, yang dipergunakan sebagai dasar mengatur, menyelenggarakan pemerintahan negara.

    Oleh karena itu tidak setiap orang boleh memberikan pengertian dan penafsiran sendiri, menurut pendapatnya sendiri. Sebab Pancasila merupakan hirarki peraturan tertinggi di Indonesia pertama yang kemudian dilanjut posisi kedua hirarki peraturan tertinggi yaitu UUD 1945.

    Alasan Ideologi Pancasila Masih Relevan Sampai Saat ini

    Alasan ideologi Pancasila tidak bisa tergantikan oleh ideologi atau paham-paham lain, karena Pancasila sebagai hasil persetujuan bersama wakil-wakil rakyat menjelang Proklamasi Kemerdekaan, yaitu disetujui bersama dan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Naskah persetujuan itu dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 oleh Pembentuk Negara.

    Karena merupakan persetujuan atau kesepakatan bersama, ia (Pancasila) merupakan perjanjian pada saat meletakkan atau menetapkan Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, maka ia (Pancasila) menjadi mengikat kita bersama dan perjanjian itu untuk kita hormati dan dilaksanakan bersama.  

    Dalam memahami Pancasila yang benar pada saat ini juga harus dapat dipertanggungjawabkan secara obyektif-ilmiah, karena Pancasila adalah suatu faham filsafat (philosophical system), sehingga uraiannya harus logis dan dapat diterima oleh akal sehat guna mendapat jawaban dari permasalahan yang terjadi pada saat ini. Seperti halnya mengenai masalah diskriminasi dan isu-isu agama, Pancasila dengan semboyannya “Bhinneka Tunggal Eka” merangkul semua dalam keberagaman tanpa adanya pengistimewaan antar golongan baik suku, agama, ras, maupun etnik.

    Referensi : Buku ajar MKDU-IAIN, tentang Pancasila Dasar Falsafah Negara. Nama penulis Drs. Rozikin Daman.

  • 3 Kata Ajaib yang Hilang dan Dilupakan

    3 Kata Ajaib yang Hilang dan Dilupakan

    3 Kata Ajaib yang Hilang dan Dilupakan
    3 Kata Ajaib yang Hilang dan DilupakanSaat masih kecil, orang tua kita seringkali mengingatkan, “Nak, kalau dikasih apa-apa sama om/tante, bilang terima kasih ya.” Hayoo ingat tidak? Semoga tidak lupa yaa, hehe.
    Tidak hanya itu, hal serupa pun juga terjadi pada kata “Tolong” dan “Maaf”. Saat kita membutuhkan pertolongan orang lain, seringnya kita diminta untuk mengucapkan kata “Tolong” terlebih dahulu.
    Namun, supaya terdengar lebih sopan biasanya sebelum mengucap tolong didahului dengan kata “Maaf”. “Maaf pak, bolehkah saya meminta tolong untuk tidak parkir di trotoar?”. “
    Maaf dik, tolong sampahnya dibuang di tempatnya, ya.” Begitulah sepintas bunyinya.
    Kata Tolong, Maaf, dan Terima Kasih memang terlihat biasa saja. Tetapi faktanya, dengan mengucapkan 3 kata ajaib itu orang yang kita ajak bicara akan merasa dihargai atas apa yang dilakukannya.
    Seperti saat di warung misalnya. Ketika kita berjual-beli di warung, saat memberikan uang kepada ibu penjual, lalu kita mengucapkan terima kasih, maka otomatis si ibu penjual itu akan merasa terkesan dan merasa senang atas apa yang ibu itu lakukan.
    Minimal, ibu itu pasti akan merasa, “Syukurlah, hari ini barang yang dibutuhkan pelanggan itu tersedia di warungku.”
    Jika ada yang bertanya, memangnya untuk apa kita berterima kasih? Apa untungnya buat kita? Jawabannya adalah tentunya untuk segala pelayanan, waktu, dan senyuman yang ibu penjual itu berikan.
    Perihal keuntungan apa yang kita dapatkan, yang pasti keuntungan dalam wujud konkrit sepertinya tidak ada, tapi yang pasti dengan berterima kasih kita telah menjadi sumber senyum atau bahagianya orang lain.
    Begitupun dengan kata tolong. Coba bayangkan. Bagaimana perasaanmu ketika dimintai pertolongan oleh seseorang, tetapi dengan kata yang bisa dibilang agak ‘kurang enak didengar’?
    Seperti begini misalnya, “Eh, ambilin buku fisika aku dong.” “Hei kamu, beliin aku minuman dong.” Tentu menjengkelkan bukan? Mendengar perkataannya saja sudah kesal, apalagi menuruti permintaannya?!!
    Nah oleh karena itu, jika kita tidak ingin mendapat perlakuan menjengkelkan seperti itu, maka terlebih dahulu yuk biasakan diri kita untuk menjadi baik lebih dulu.
    Pepatah mengatakan “Hargailah serta hormatilah orang lain jika diri sendiri ingin di hormati dan hargai oleh orang lain.
    Karena sejatinya, apa yang kamu lakukan itulah yang nantinya akan akan kamu terima.” Begitulah sekiranya bunyinya.
    Jadi, siapkah kamu untuk berbenah? Semoga selalu siap ya :).
    Karena kebaikan patut untuk dilakukan, tidak sekadar hanya sebatas teori terlupakan. Jangan lupa bahagia ^-^.
  • Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

    Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

    Penghujung Pendidikan Dalam Batas Krisis Berkarakter

    Pendidikan adalah cerminan dasar setiap manusia untuk mengangkat harkat dan martabat setiap pribadi manusia. Pendidikan adalah bagian dari ilmu yang diprogramkan atau diwujudkan dalam sebuah kelembagaan seperti sekolah-sekolah yang ada sekarang ini.
    Namun, tak dapat dipungkiri bahwasannya Pendidikan itu kadangkala dapat menjerumuskan orang-orang atau pribadinya sendiri apabila tidak dipergunakan dengan baik dan benar.  Bukan hanya itu saja, Pendidikan seringkali menjadi jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin. Bukan menyalahkan Pendidikan namun, ada sesuatu hal yang harus diluruskan agar tidak salah paham.
    Penyelenggaraan pendidikan memang penting. Namun, jauh lebih penting dengan pengembangan sebuah karakter yang tidak boleh berujung. Pendidikan takkan berujung korupsi apabila di hatinya terdapat penjernihan hati yang sudah ditanamkan sejak dini dan diulang terus menerus dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Karakter dapat dibentuk dengan memilik dasar agama yang kuat dan tangguh dalam menghadapi setiap tantangan maupun pantangan yang terdekat maupun yang terjauh sekalipun.

    Setelah memiliki pondasi agama yang kuat maka hal yang selanjutnya dilakukan ialah memahami nilai-nilai Pancasila untuk diimplementasikan dalam lingkup terkecil hingga terbesar sekalipun. Percuma Pancasila itu ada hanya untuk dibaca dan ditulis semata. Buat apa bangsa ini merdeka kalau Pendidikan itu tidak masuk ke dalam sanubari pemuda-pemudi yang terdalam.
    Pembunuhan karakter sangat bertentangan dengan pancasila yang memiliki nilai-nilai universal. Mengapa beralasan seperti ini? Dikarenakan Indonesia tidak menyadari dan sudah tidak peduli dengan arah Indonesia ini mau dibawa kemana? Dengan hanya sebuah teori demi teori tanpa adanya pengaplikasian.
    Untuk apa itu semua? Di satu sisi orang lain antri. Di sisi lain orang korupsi. Para akademisi sibuk berargumentasi. Orang birokrasi sibuk dengan biaya administrasi. Pola pikir dan pola hidup ilmuwan sudah jauh dari tradisi. Masalah ini harus disikapi. Dengan pengembangan hukum yang mampu mengatur distribusi Semua organ kelembagaan Pendidikan yang semestiya menginternalisasi nilai-nilai pancasila dalam setiap geraknya.
    Pendidikan menjadikan jurang pemisah ketika setiap manusia tidak menyikapi kalau di dunia ini manusia bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. Manusia hanya sebtas hamba yang diberikan rezeki yang maha kuasa yang mana rezeki itu harus diberikan kepada orang lain kembali. Karena rezeki bukanlah milik manusia seutuhnya. Tetapi, hanyalah sang pencipta yang memilikinya. Maka, janganlah berlaku sombong maupun rendah tetapi bersikaplah seperti budi baik yang tidak saling merendahkan satu sama lainnya.
    Lakukanlah gerak akademik dengan saling bekerja sama. Membangun kembali ilmu-ilmu yang bersifat tidak mengabaikan terhadap kelahiran pendidikan yang disatukan dalam pancasila sebagai pendukung dari segala permasalahan dengan tidak menghilangkan agama dari kepercayaan yang dibangun jauh-jauh hari sebelum dilahirkan di dunia.Akar dari permasalahan Pendidikan di Indonesia saat ini hanya satu ialah pribadinya sendiri. Pribadi yang tidak mau mengejar dari ketertinggalannya. Yakni dengan mengubah cara hidupnya yang tidak selalu ada di zona nyaman terus-terusan. Melainkan mencari tantangan untuk mencari hakikat diri sesungguhnya untuk menjadikan dirinya dapat bermanfaat di muka bumi ini. Begitupula yang seharusnya diselingi dengan peraturan yang tegas yang sama-sama diwujudkan dalam lingkaran kebersamaan.

    Kebersamaan dikala banyaknya keberagaman. Kedihan dikala kesenangan berada di puncaknya. Mengapa tidak saling berbagi dikala pengetahuan sudah mumpuni. Banyak orang yang hidupnya di bawah namun pribadi manusia selalu menginginkan teratas.