Tag: Merdeka

  • Tanda Baca yang Tepat Setelah “Merdeka”-Sebuah Esai

    Tanda Baca yang Tepat Setelah “Merdeka”-Sebuah Esai

    Tanda Baca yang Tepat Setelah “Merdeka”-Sebuah Esai – “Merdeka!”
    Sebuah seruan yang sering kita dengar di bulan kedelapan. Mulai dari teriakan penonton di lomba balap karung, sampai teriakan pejabat ketika berpidato. Akan tetapi, apa maknanya? Apa manfaatnya?

    Merdeka!

    Pahlawan-pahlawan kita di masa lalu menggunakan seruan itu untuk membakar semangat dan menegaskan tujuan perjuangan mereka. Sementara itu, kita banyak menggunakannya untuk pemanis bibir saja. Di waktu-waktu biasa, kita jarang mendengarnya. Akan tetapi, di waktu tertentu, banyak orang yang menyerukan seruan itu sehingga justru terkesan sepele.

    Baca juga: Merdeka? Sebuah Esai Hari Kemerdekaan Indonesia

    Bagaimana mungkin kita menyerukan seruan itu tanpa memahami maknanya? Ketika para pejuang kita menyerukan seruan itu, tentu maknanya bukan sekadar bebasnya negeri dari penjajah. Akan tetapi, para pejuang menginginkan kesejahteraan bagi rakyat Nusantara dengan hilangnya penjajahan itu. Apakah mimpi para pejuang itu sudah terwujud?

    Merdeka.

    Indonesia sudah merdeka. Tidaklah salah jika kita meletakkan tanda titik setelah kata merdeka. Saat ini, kita memang sudah merdeka. Kita tidak perlu lagi berhadapan dengan senapan para penjajah. Saat ini, kita berada di era paling nyaman sepanjang sejarah bangsa. Kebutuhan pokok makin mudah didapatkan.

    Baca juga: Mengisi Kemerdekaan Indonesia Essay

    Merdeka Hanya Sekadar Berita?

    Teknologi modern pun dapat menjangkau wilayah yang lebih luas. Tanda titik setelah kata merdeka menunjukkan bahwa itu adalah kalimat berita. Kalimat yang memberitakan bahwa Indonesia sudah merdeka. Akan tetapi, apakah berita kemerdekaan itu hanyalah seperti berita viral di televisi? Pada waktu tertentu, tersebar ke seluruh penjuru negeri. Pada waktu yang lain, tidak ada yang peduli dengan berita itu.

    Apakah perjuangan telah usai?

    Jika kemerdekaan adalah suatu berita, apakah berita itu berita yang bias? Lebih lanjut, apakah tanda titik juga menunjukkan bahwa perjuangan meraih kemerdekaan telah selesai?
    Mungkin kita perlu memberikan tanda koma setelah kata merdeka. Indonesia sudah merdeka, yakni sudah bisa menentukan nasibnya sendiri dan tidak lagi dijajah secara fisik.

    Indonesia sudah merdeka, tetapi masih dijajah oleh pemikiran dan produk-produk negara lain. Indonesiaa sudah merdeka, tetapi sumber daya alam kita justru dinikmati oleh asing.
    Dengan tanda koma, kita bisa mendapati penjelasan lebih jauh mengenai kemerdekaan Indonesia. Tanda koma juga menunjukkan bahwa perjuangan kita belum selesai. Kemerdekaan itu bukan sebuah hasil semata, melainkan suatu perjuangan yang tidak pernah berhenti.

    Baca juga: Pro-Kontra Kemerdekaan Metropolitan Essay

    Kita perlu berpikir kritis dengan menanyakan berbagai hal tentang kemerdekaan ini. Apakah hakikat dari kemerdekaan? Apakah Indonesia sudah sepenuhnya merdeka? Apa yang harus kita lakukan agar Indonesia bisa sepenuhnya merdeka? Apa yang harus kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan?

    Kita tidak boleh menjadi orang yang “fanatik” dengan kemerdekaan ini. Seseorang yang merasa bahwa kemerdekaan yang dirasakannya adalah segala-galanya sehingga menolak gagasan baru dari orang lain. Padahal, kemerdekaan yang diyakininya hanyalah semu. Sementara itu, gagasan baru yang ada justru bisa membuat negeri ini menjadi jauh lebih baik.

    Semua itu bukan berarti melalaikan nikmat kemerdekaan yang ada saat ini. Kita perlu mensyukuri semua kenyamanan yang sekarang kita rasakan. Akan tetapi, janganlah kenyamanan membuat kita lemah. Masih ada banyak hal yang perlu kita perjuangkan. Sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan kritis akan membuka pikiran kita, membangunkan kita dari tidur nyenyak, dan memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman. Karenanya, tanda tanya bisa menjadi salah satu tanda baca yang tepat.
    “Merdeka?”

    Penulis: Pandega Abyan Zumarsyah (Universitas Gadjah Mada)

  • Merdeka? Esai Hari Kemerdekaan Indonesia

    Merdeka? Esai Hari Kemerdekaan Indonesia

    Merdeka? Esai Hari Kemerdekaan Indonesia – 17 Agustus 1945, hari di mana mimpi nan pupuk harapan bumi Nusantara tergenggam, untuk meraihnya amat perlu perjuangan, kucuran darah, nyawa melayang APAPUN rela dikorbankan, hingga akhirnya hasil hembusan nafas para pejuang terbayarkan, pejuang proklamator yang mencurahkan ide di satu pengumuman kemerdekaan singkat namun penuh arti itu akhirnya terkibarkan lantas terngiang sorak sorai penuh bahagia riuh di seluruh negeri “AKHIRNYA KEDAULATAN KINI MILIK KITA”  sorak mereka, memanglah mimpi tergenggam merupakan hari bahagia. 

    Baca juga: Indonesia Nation Building Oleh I Wayan Budiartawan

    Benarkah merdeka? Esai Hari Kemerdekaan Indonesia

    Lantunan masa yang panjang telah dilewati pergolakan dalam negeri hingga ingin kembalinya pejajah menghatui negeri ini sampai tiada sadar 74 tahun sudah momen itu telah terlewati namun  benarkah kita bebas seperti yang diagungkan para pejuang, benarkah negeri ini benar merdeka? benarkah mimpi-mimpi  itu nyata?

    Yang katanya lepas dari belenggu penjajah, yang katanya telah menjadi negeri berdaulat itu kini sedang terseok ekonominya dikuasai asing, kekayaanya di lahap dengan semangat oleh negeri yang jauh diseberang,  barang impor tiada terbendung berdatangan di tengah panen raya yang harusnya menjadi berkah namun berubah jadi petaka, lihatah pengangguran   dimana-mana namun malahan sang papa yang harusnya menjaga malah menganak emaskan warga sipit menciptakan jurang kesenjangan,  menjual aset bangsa dengan kedok membangun negeri,  itu kah namanya merdeka?

    Baca juga: Ayo Indonesia Bangkit Essay Hari Kartini

    Merdeka saat semboyan bhinneka tunggal Ika ambruk di atas tanah cendrawasih menimbulkan percikan api yang hangat.

    Namun pasti menghancurkan, sara jadi bahan baku hantam terhadap saudara tanah air. Beberapa puing wilayah merengek ingin bebas karena diskriminasi dimana – mana. Karena ketimpangan sosial antar wilayah bagai pertunjukan  itukah yang namanya merdeka?

    Merdekakah kita disaat victim blaming bagai tradisi? Budaya patriarki menganak-pinak subur sampai sekarang. Batasan atas nama gender teriang-ngiang. Geng rape bagi debu bertebaran, aparat negara yang katanya pengayom dan pelindung namun turut menjadi iblis selangkangan. Saat kelompok rentan dilingkupi rasa takut yang menghantui begitu kah merdeka?

    Jadi kawan apa sesungguhnya pengertian merdeka itu? Jika kata KBBI merdeka itu lepas dari penjajah, patutkah kita berkata demikian saat ekonomi, sosial budaya kita habis dimakan lemah. Hey bung, merdeka bukanlah sekedar pengakuan yuridis bangsa asing.

    —Essay Hari Kemerdekaan Indonesia—

    Penulis: Alifa Fadila (UIN Walisongo Semarang)

  • Pro-Kontra Kemerdekaan Metropolitan Essay

    Pro-Kontra Kemerdekaan Metropolitan Essay

    Pro-Kontra Kemerdekaan Metropolitan Essay – Sebagai ibu kota Negara sekaligus tempat lahirnya ikrar kemerdekaan, Jakarta dijuluki sebagai kota Metropolitan. Segala macam bentuk kegiatan, baik yang berhubungan dengan administratif seperti pusat pemerintahan maupun industri ekonomi terdapat di kota tersebut. Jakarta menjadi tumpuan bagi kemerdakaan perekonomian rakyat. Menurut CNBC Indonesia, Provinsi DKI Jakarta melaporkan realisasi pertumbuhan ekonomi sepanjang kuartal 1-2019 sebesar 6,23%.

    Disisi lain, Jakarta selalu menuai isu dan polemik yang cenderung sulit untuk di selesaikan. Kota Metropolitan bagaikan terbelenggu pada ancaman penjajahan oleh bangsanya sendiri. Masalah-malasah yang sering timbul di kota Metropolitan sangat sulit untuk diselesaikan. Persoalan tersebut terkait dengan masalah urbanisasi, kemiskinan, sanitasi kemacetan dan pengendalian tata ruang. Menurut laporan Badan Pusat Statistik, angka urbanisasi Ibu Kota selama tahun 2019 mencapai 70,4%.

    Baca juga: Apa itu Identitas Nasional? Berikut Penjelasan Lengkapnya

    Pejabat pemerintah Republik Indonesia telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi permasalahan, namun tak kunjung usai. Sang saka Merah Putih yang berkibar di Kota Metropolitan itu tidak pernah menggambarkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Hingga pada 16 Agustus 2018 sehari sebelum kemerdekaan, rakyat digegerkan dengan pernyataan yang di tegaskan Pak Presiden Joko Widodo untuk membuat rencana pemindahan Ibu Kota Negara ke Pulau Kalimantan. Pada saat Sidang bersama DPRD di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Pak Presiden mengemukakan rencana pemindahan Ibu Kota telah dipertimbangkan secara matang-matang. Namun apakah keputusan ini diartikan untuk melepaskan Metropolitan secara paksa? atau memperjuangkan kemerdekaan Metropolitan?

    Baca juga: Ayo Indonesia Bangkit Essay Hari Kartini

    Pro dan Kontra Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara

    Jika melihat dari berbagai tanggapan media terkait masalah tersebut, banyak sekali kalangan pro dan kontra pada dimensi masyarakat. Bendera Merah Putih yang selalu dihormati ketika hari kemerdekaan 17 Agustus itu menjadi pertanyaan yang lebih serius apakah Ibu Kota harus dipindahkan atau tetap bertahan? Emil memandang, keputusan pemerintah unuk memindahkan Ibu Kota di tengah masalah yang menimpa Jakarta justru seperti lari dari tanggung jawab. Selain itu, ada banyak persoalan yang harus di pertimbangkan matang-matang. Membangun kembali bukanlah merupakan perkara yang mudah, terutama membangun Ibu Kota. Perlu mengerahkan tenaga dan biaya yang cukup besar.

    Sedangkan menurut RoelMoez komitmen pemerintah untuk tidak lagi terus menerus membangun pulau Jawa dan bertekad mengubah magnet pembangunan ekonomi dari Jawa sentris menjadi Indonesia sentris adalah sesuatu yang baik untuk keadilan dan pemerataan. Selain itu juga kondisi pulau jawa sedang mengalami aneka persoalan dari mulai tingkat kepadatan penduduk hingga sumber daya alam yang semakin menipis. 

    Jadi menurut anda apakah Ibu Kota harus dipindahkan atau tetap bertahan?