Tag: Filsafat hukum

  • Mengenai Aliran Utilitarianisme dalam Filsafat Hukum

    Mengenai Aliran Utilitarianisme dalam Filsafat Hukum

    Aliran Utilitarian dalam Filsafat Hukum

    Mengenai Aliran Utilitarianisme dalam Filsafat Hukum – Tahukah sobat Shalaazz mencari kebahagiaan dalam berfilsafat? Khususnya, aliran Utilitarian dalam berfilsafat hukum! Mencapai kebahagiaan dilihat dari praktik negara yang akan disinggung dalam artikel ini! Simak di bawah ini ya!

    Fungsi Hukum Menurut Jeremy Bentham

    Menurut Bentham, bahwa hukum berfungsi untuk kebahagiaan terbesar bagi jumlah terbesar masyarakat. Maksudnya, harapan masyarakat ditanamkanmenjadi bagian dari kehidupan sendiri. Sebagai contohnya, orang yang memiliki kebutuhan khusus atau orang yang memiliki penyandang disabilitas yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat menjadikan celah kepada diri sendiri untuk tidak bahagia. Lalu, bagaimana menciptakan kebahagiaan ketika di sisi lain terdapat ketidakbahagiaan?

    Baca juga: Apa Hukum Perburuhan Termasuk dalam Filsafat Hukum?

    Fungsi Hukum Menurut Alverius

    Kalau menurut Alverius merasakan kebahagiaan individu sebagai elemen kebahagiaan masyarakat. Artinya, mengakomodasi sistem hukum yang keberagaman yang dimana hukum tidak boleh membebani keutuhan timbal balik karena akan menjadi pentaatan yang buruk dan itulah yang membuat tidak bahagia. Kebahagiaan bergerak dari optimisme untuk memberikan kebahagiaan yang tidak mengesampingkan kebahagiaan minoritas. Itulah yang disebut dengan the greatest happines for the greatest number.

    Kebahagiaan Menurut John Locke

    Menurut John Locke, kebahagiaan ialah pemenuhan hak-hak dasar manusia. Yakni, hak hidup, hak kebebasan dan hak milik. Sebagai contohnya, praktik negara Eropa Utara sebagai standar pemenuhan kebutuhan dasar yang dimana masyarakat tidak merasakan pekerjaan itu melelahkan melainkan pekerjaan ialah kebahagiaan yang diperoleh dan harus dinikmati sendiri.

    Baca juga: Filsafat Ilmu Dasar: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi

    Walaupun di Negara Eropa hanya berpendidikan sekitar 10 tahun tapi bisa mendapatkan sertifikat yang menunjang kehidupan yang layak. Dalam aliran Utilitarian, mengharuskan ada gunanya bagi kehidupan masyarakat yang di mana alat untuk mencapai kebahagiaan setiap individu.

    Negara yang Hampir Tidak Ada Kecemburuan Sosial

    Praktik yang dilakukan oleh Negara Norwegia dan Denmark ialah individu-individu yang bahagia dengan pemberdayaan pajak bersih dan efisien. Artinya, kecemburuan sosial disini hampir tidak ada. Negaranya tidak menginginkan kaya ataupun miskin melainkan rasa kecukupan. Bagi Negara yang berpenghuni di kedua negara ini orang yang di PHK bisa datang langsung ke dinas sosial dengan melakukan training dan pekerjaan sementara.

    Setelah selesai, individu tersebut dapat disalurkan ke bidang-bidang sesuai dengan fashionnya masing-masing. Itulah negara yang disebut dengan negara sejahtera. Begitupula orang yang memiliki kekayaan akan menyalurkan pajaknya sekitar 30% yang nantinya akan dijadikan fasilitas negara dan menjadikannya subsidi bagi yang membutuhkan.

    Baca juga: Kelebihan Memilih Kuliah Jurusan Hukum

    Kepastian hukumnya juga terlihat jelas dengan berbagai penyedia transportasi, sekolah, fasilitas bahkan tingkat instalasinya yang dibuat oleh produk negara lokal tersebut. Sehingga, fasilitas yang anggapan Indonesia mahal di kedua negara tersebut murah karena pembuatan produk lokal. Bukan hanya murah melainkan digratiskan untuk dipakai fasilitasnya. Itulah penganggaran dari pajak kedua negara tersebut. Dari segi cuti melahirkan bukan hanya 2-3 hari yang kalau dari segi hak asasi manusia cuti ini terlalu meberatkan karena masih banyak pendarahan.

    Namun, bagi kedua negara tersebut cuti bisa sampai sehat dan tidak takut kehilangan pekerjaan. Bukan berarti cuti tidak memiliki gaji. Kedua negara tersebut memiliki gaji pokoknya walaupun gajinya tidak insentif. Tetapi, bayi yang mau lahir akan merasakan kebahagiaan tanpa sadar bahkan hingga ayahnya saja bisa ikut cuti melahirkan untuk menjaga istrinya.

    Inilah yang disebut dengan pemenuhan hak asasi manusia yang dimana kebahagiaan bukan secara utopis (angan-angan semata) melainkan kenyataan yang dipraktikkan langsung oleh negara tersebut. Dikarenakan kebahagiaan dalam aliran Utilitarian adalah memulai dari yang kecil bukan kaya ataupunmiskin melainkan dicukupkan dan tidak adanya tekanan yang membuat masing-masing individu merasakan kebahagiaan baik lahir maupun batin.

  • Bagaimana Pendidikan Hati Dari Segi Filsafat?

    Bagaimana Pendidikan Hati Dari Segi Filsafat?

    Pendidikan Hati : Bagaimana Pendidikan Hati Dari Segi Filsafat?
    Bagaimana Pendidikan Hati Dari Segi Filsafat? – Halo sobat Shalaazz, Pendidikan saat ini memang sudah tidak efektif lagi. Pendidikan perkuliahan membuat mereka hanya bergulat kepada organisasi saja. Adapula juga orang yang hanya mementingkan Pendidikan. Namun, mereka yang fokus pada akademik saja suka akan kalau tidak ada guru ataupun dosen. Lalu kenapa hal ini bisa terjadi?
    Pemikiran masa-masa muda semakin meningkat. Metode ceramah sudah mengurangi nilai-nilai mereka menuntut ilmu. Dalam hal yang diajarkan guru dengan perdiskusian juga tidak efektif lagi. Ada yang berbicara dan ada yang tidak berbicara. Banyak orang yang tidak berpartisipasi dalam hal Pendidikan. Kalaupun berpartisipasi mereka hanya ingin mendapatkan nilai poin plusnya saja untuk mendapatkan nilai A.
    Pembahasan dalam artikel ini bukanlah sebuah teori belaka. Melainkan kenyataan yang sekarang terjadi. Sebagai manusia butuh akan Namanya pembimbing. Pembimbing berupa alat dunia seperti guru. Ilmu tidak ada gurunya membuat kebingungan dan tersesat begitu saja. Salah satu contohnya ada orangtuanya yang islam. Namun, anaknya atheis dikarenakan rasa jati dirinya tidak ada. Mereka menemukan ada sesuatu yang ganjal di dalam hatinya. Sebenarnya hati yang mengganjal itu yang harus dibina melalui kebenaran dengan cahaya al-qur’an.
    Sejatinya, Pendidikan yang sesungguhnya ialah rasa dasar rohani yang ada dalam diri ini. Melalui buuku tasawuf yang ditulis buya hamka untuk mengoreksi diri. Dimana titik temu yang harus dicari di dunia ini? Esensi yang didapatkan apa sih sebenarnya dari Pendidikan? Ilmu? Relasi? Nilai? Pujian? Atau apalah Namanya.
    Bukan hal itu yang dicari kawan! Walaupun bisa dalam segala hal. Namun, hati ini masih merasa sendiri. Tidak ada yang Namanya pertolongan Allah. Maka hati ini sesak sekali. Dunia terasa sempit sekali. Ketika hal-hal tersebut terjadi apa yang seharusnya dilakukan? Selain dari pertolongan Allah diri pribadi ini bukanlah apa-apa. Lemah tidak berdaya. Hancur luluh tak berguna.
    Bukanlah Pendidikan untuk mencari kekuasaan. Bukanlah Pendidikan untuk menindas orang yang di bawah. Bukanlah untuk saling menyelisihkan. Namun, saling menenteramkan. Saling menasihati sesama orang lain.
    Pendidikan salah satu hal yang dibutuhkan pencerahan. Dalam hal dari hati ke hati. Percuma hatinya yang terbentur dengan keinginan keduniawian. Percuma saja diri pribadi ini. Apa yang didapatkan tidaklah sesuatu yang dibutuhkan dan dicukupkan. Tanyakan hatimu sejauh mana dirimu mengenal arti Pendidikan? Tanyakan juga keinginanmu mendapatkan Pendidikan itu untuk apa? Bermaknakah? Merendahkanlah? Meninggikanlah? Atau memperbaikilah?
    Terkadang yang menulis ini pun masih mencari Pendidikan apa yang tepat diterapkan. Ketika tulisan gagasan itu ditulis. Entah apakah itu cocok atau tidak? Terlalu banyak pertimbangan-pertimbangan. Terlalu banyak peraturan dan terlalu banyak kebebasan yang tidak dibatasi. Carilah Pendidikan hati untuk merangkul sebuah ilmu dan sambutlah.
    Tuntunlah hatimu untuk menjayakan hati dengan perbuatanmu. Melaui perbuatan dirimu akan tercermin di wajahmu. Senyum merengkuh melihat akan datangnya suatu saat. Dimana Pendidikan tidaklah menjadi hal yang membosankan. Melainkan pencari resiko tertinggi dalam dunia pandangan orang lain.
    Pikirkan hatimu dan hati umat yang berjuang mencari sebuah jati diri. Janganlah berbangga hati dengan Pendidikan yang kauraih. Terlihat tinggi namun rendah dimata Allah. Tanpa Allah Pendidikan itu akan menjadi sia-sia. Perjuanganmu akan sia-sia. Lelahmu akan sia-sia. Niatkanlah semua yang dikorbankan dari dirimu hanya karena lillah. Insya allah kawan-kawan akan dibangkitkan dengan keadaan ikhlas. Itulah pendidikan seharusnya.