Category: Filosopi pendidikan

  • 5 Rahasia Filosopi Layang-layang Dalam Pendidikan

    5 Rahasia Filosopi Layang-layang Dalam Pendidikan

    5 Rahasia Tersembunyi Filosopi Layang-layang – Layang-layang dalah suatu permainan yang sering dimainkan oleh anak-anak ketika musim panen tiba. Namun sekarang ini tidak hanya anak-anak yang memainkan layang-layang tetapi orang dewasapun juga memainkan layang-layang. Layang-layang pada zaman dulu hanya dimainkan oleh anak-anak di desa, namun seiring berkembangnya zaman layang-layang kini menjadi suatu ajang perlombaan yang dapat diperhitungkan. Namun tahukah rahasia dibalik sebuah layang-layang tersebut ?.
    Layang-layang yang memiliki bentuk sederhana sampai yang rumit sekalipun memiliki makna besar yang dibawanya. Layang-layang tidak hanya sekedar sebuah permainan untuk hiburan namun juga sebagai media dalam pembelajaran. Layang-layang sebagai media pembelajaran memiliki arti yang penting sebagai penyampai pesan dari seorang guru pada peserta didiknya. Siapa yang menyangka bila dengan sebuah layang-layang mampu membantu peserta didik dalam memahami banyak mata pelajaran seperti matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, seni, IPS, PKn, IPA dan Olahraga. Tanpa disadari melalui sebuah permainan kecil banyak hal yang mampu dipelajari. Berikut uraian layang-layang sebagai media pembelajaran:
    1. Layang-layang dalam pembelajaran matematika membantu peserta didik dalam belajar mengukur panjang, karena layang-layang tidak akan bisa terbang dengan sempurna bila tidak seimbang antara kerangka sisi kiri dan kanannya. Peserta didik harus mengukur terlebih dahulu panjang kerangka layang-layang antara sebelah kiri dan kanannya telah seimbang ataukah belum agar layang-layang mampu terbang dengan baik. Memperkenalkan pada peserta didik bahwa layang-layang adalah salah satu contoh dari bangun datar.
    2 Layang-layang sebagai media dalam pembelajaran bahasa Indonesia, peserta didik mendeskripsikan bagaimana cara membuat layang-layang mulai dari bahan apa saja yang digunakan sampai proses pembuatannya sehingga jadilah layang-layang. Selain mendiskripsikan, peserta didik dapat belajar puisi melalui layang-layang. Sedangkan pembelajaran bahasa Inggris peserta didik dapat belajar mengeai bahasa inggrisnya layang-layang, menyebutkan bahan-bahan untuk membuat layang-layang dalam bahasa inggris dan juga dapat berpuisi dengan bahasa Inggris.
    3. Layang-layang adalah sebuah seni, di mana dalam pembuatan layang-layang memerlukan kreatifitas seorang pembuatnya. Selain menghasilkan suatu karya yang indah membuat layang-layang juga mengasah kreatifitas dan daya imajinasi peserta didik. Semakin tinggi daya imajinasi peserta didik maka kreatifitasnya juga tinggi dan menghasilkan suatu karya yang indah. Layang-layang juga dapat dijadikan sebagai sebuah lagu, yang telah kita ketahui tentang lagu yang berjudul “Layang-Layang”.
    4. Media pembelajaran IPS dan Pkn, melalui bungkus layang-layang dapat digambar berbagai bentuk misalnya gambar pulau, gambar lambang koperasi atau lambang negari kita. Melalui gambar-gambar tersebut peserta didik didik secara tidak langsung akan belajar banyak hal, tidak hanya pelajaran IPS namun juga Pkn. Selain itu, dengan mengunjungi museum layang-layang peserta didik akan belajar banyak mengenai berbagai macam bentuk layang-layang dari berbagai daerah, sejarah layang-layang, dan beraneka ciri khas dari masing-masing layang-layang.
    5. LLayang-layang media pembelajaran untuk IPA dan Olahraga, dengan bermain layang-layang akan menggerakkan semua anggota tubuh. Sebagai contoh pada saat menarik layang-layang maka kekuatan tangan dan kaki sangat diperlukan. Melalui kegiatan tersebut peserta didik dapat belajar mengenai fungsi otot dan gerak. Ketika badan berkeringat dalam mengejar layang-layang otomatis akan berlari yang dapat dikategorikan dalam kegiatan olahraga.
    Layang-layang adalah sebuah permainan zaman dulu yang semakin hari semakin berkembang. Tanpa disadari bahwa layang-layang memiliki kedudukan yang penting dalam pembelajaran yaitu sebagai media  dalam proses pembelajaran. Sesuatu hal yang kecil dan sepele bukan berarti tidak memiliki makna, namun bisa jadi sesuatu yang kecil adalah permata yang tenggelam.

  • Filosopi Pendidikan : Belajar dari Bumbu Masakan

    Filosopi Pendidikan : Belajar dari Bumbu Masakan
    Belum lama ini umat muslim di seluruh dunia telah merayakan hari raya Idul Adha atau Idul Kurban, tentunya disambut suka cita oleh seluruh umat muslim. Baik sapi, kambing maupun unta banyak yang dikurbankan namun di Indonesia hanya mengurbankan sapi, kambing maupun kerbau yang kemudian dagingnya dibagikan ke masyarakat luas. Membahas mengenai hari raya idul kurban tentunya tidak bisa lepas dari olahan daging yang dimasak menjadi berbagai macam masakan mulai dari sate, rendang, empal, bistik, dll.
    Untuk membuat suatu masakan yang lezat dan bercita rasa tinggi harus menggunakan berbagai bumbu masakan, mulai dari garam, penyedap rasa, bawang merah, bawang putih, cabai, jahe, kunyit, merica, ketumbar, dll. Di Indonesia sangat mudah ditemukan bumbu masakan tersebut, karena Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah termasuk bumbu yang biasa dikatakan rempah-rempah. Jika kita menengok ke belakang, alasan utama Eropa datang ke Indonesia yaitu untuk mencari rempah-rempah di Indonesia. Hal ini berpengaruh pada masakan-masakan yang ada di Indonesia satu masakan saja bisa terdiri dari berbagai bumbu masak misalnya saja rendang yang bumbu masaknya terdiri dari garam, bawang merah, bawang merah, cabai merah, kunyit lengkuas, ketumbar, kemiri, jahe, pala, dll sehingga dari bumbu-bumbu tersebut terciptalah sebuah masakan rendang yang lezat dan bercita rasa tinggi dan sangat dikenal oleh masyarakat luas bahkan mendapat predikat sebagai makanan terenak di dunia.
    Jika kita telaah lebih dalam terkait bumbu masakan tersebut, banyak nilai-nilai yang bisa kita petik khususnya dalam bidang pendidikan. Bagaimana bisa, untuk membuat sebuah masakan yang lezat tentunya terdiri dari berbagai macam bumbu yang memiliki khas masing-masing yang kemudian disatukan menjadi sebuah cita rasa yang lezat. Dari situ kita dapat melihat bahwa perbedaan akan menciptakan suatu hal luar biasa. Disinilah letak nilai dari sebuah bumbu masakan terhadap pendidikan yaitu mengajarkan sebuah perbedaan. Pentingnya memupuk rasa toleransi dalam sebuah perbedaan akan berdampak baik untuk kemajuan suatu masyarakat, bangsa maupun negara. Hal ini haruslah dipupuk dalam dunia pendidikan tentunya sejak dini, apalagi melihat negara kita yang kaya akan budaya dan bangsanya.
    Di negara tetangga kita yaitu Malaysia sudah dilakukan pendidikan mengenai sebuah perbedaan dalam bentuk film Upin-Ipin secara tidak kita sadari bahwa film Upin-Ipin telah menggambarkan sebuah didikan kepada anak mengenai indahnya sebuah perbedaan di masyarakat. Bagaimana tidak dalam Upin-Ipin tidak menunjukan hanya orang melayu saja melainkan ada dari Etnis Tionghoa yang digambarkan oleh tokoh Mei-mei, Sing yang digambarkan oleh Jarjit, Indonesia yang digambarkan oleh Susanti. Dengan tokoh-tokoh tersebut menggambarkan bahwa perbedaan bukanlah sebagai penghalang untuk menciptakan kondisi masyarakat yang baik, justru malah menciptakan sebuah kehidupan masyarakat yang harmonis dengan saling membantu satu sama lain.
    Tidak harus seperti Upin-Ipin, dalam membentuk suatu pendidikan mengenai sebuah perbedaan bisa dilakukan lewat apa saja. Misalnya saja bisa dilakukan dalam pendidikan kebudayaan dengan mengambil nilai-nilai budayanya sendiri tentang indahnya sebuah perbedaan, realisasinya bisa dilakukan dalam bermain musik tradisional seperti karawitan yang terdiri dari goong, kendang, saron, bonang, rebab, dll yang masing-masing memiliki peran yang berbeda dan jika ditampilkan dengan baik akan membentuk sebuah musik karawitan yang indah. Intinya dalam sebuah perbedaan janganlah merasa paling hebat diantara yang lainnya karena dalam budaya jawa saja telah memiliki falsafah kehidupan bahwa seseorang tidak boleh memiliki sifat adigang, adigung dan adiguna. Akan sangat fatal jika sifat tersebut banyak muncul di masyarakat yang notabene memiliki keragaman bangsa maupun budaya.
    Semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah disusun sejak awal kemerdekaan, sebagai warga negara Indonesia haruslah dipupuk sejak dini mengenai sebuah perbedaan, tentunya untuk memupuk tersebut utamanya lewat bidang pendidikan. Tidak harus pendidikan secara formal namun bisa dilakukan dengan cara apapun yang bertujuan untuk membentuk masyarakat yang harmonis meskipun dengan berbagai keragaman budaya maupun bangsa seperti halnya rendang yang terdiri dari berbagai bumbu masakan yang masing-masing memiliki aroma yang berbeda