Author: Kunta Anjana

  • Makna Filosofi Bambu dalam Dunia Pendidikan

    Makna Filosofi Bambu dalam Dunia Pendidikan

    Makna Filosofi Bambu dalam Dunia Pendidikan – Halo sobat Shalaazz, mungkin diantara kita banyak sekali memahami dan mempelajari sebuah konsep dari tanaman atau tumbuhan, bahkan banyak tumbuhan banyak menjadi lambang bagi beberapa kelompok ataupun organisasi.

    Misalnya saja yang paling terkenal yaitu Lambang Bayangan Tunas Kelapa yang merupakan sebuah Lambang Gerakan Pramuka. Hal ini karena tumbuhan tersebut memiliki arti penting dan filosofis tersendiri terhadap gerakan pramuka.

    Kali ini akan membahas filosofi bambu terhadap sebuah pendidikan. Hal ini karena penulis merupakan pengarajin kesenian calung dan angklung, kalian pasti tahu bahwa angklung dan calung terbuat dari bambu sehingga bambu tidak bisa lepas dari kehidupan penulis. Hehehe…..  

    Bambu sangatlah penting bagi kehidupan, masyarakat di Indonesia tidak bisa lepas dari bambu. Bambu bisa dibuat apa saja baik itu anyaman bambu, kerajinan dari bambu, alat musik dari bambu, dinding rumah dari bambu, dan masih banyak lainnya.

    Filosofi Pohon Bambu Tentang Pendidikan

    Hampir semua bagian dari bambu memiliki kegunaan tersendiri, bahkan bisa kita makan rebungnya. Pada kali ini, penulis hanya akan memetik beberapa poin saja mengenai arti penting bambu dalam sebuah pendidikan dan kehidupan.

    Pertama, kita tahu bahwa bambu adalah sebuah tanaman yang berkoloni dan tidak pernah ada bambu yang tumbuh sendirian.

    Mengutip dari pernyataan Aristoteles tentang zoon politicon yang arti sederhananya manusia tidak dapat hidup sendirian. Dari situ kita tahu bahwa bambu juga hidup berkoloni.

    Dalam dunia pendidikan sangat jarang ditemukan orang yang bisa pandai dan cerdas dengan sendirinya. Tentunya diharuskan mencari guru atau partner dalam belajar.

    Diskusi maupun kegiatan lainnya sangatlah penting bagi setiap orang dalam proses belajar tentunya agar saling mengetahui letak kekurangan dan kelebihan kita.  

    Selain itu juga sebagai bahan referensi juga, pentingnya diskusi dan berkumpul dalam dunia pendidikan tidak hanya memberikan wawasan ilmu pengetahuan saja melainkan banyak manfaat-manfaat lainnya.

    Misalnya saja kita dapat memahami karakter seseorang bagaimana cara menghadapi mereka masing-masing, belajar dalam bersosial, belajar berbicara di depan orang-orang dan lain. Setidaknya dengan berkumpul akan membantu kita dalam proses pendidikan.    

    Baca juga: Motivasi Sekumput Filosofi agar Hidup Berharga untuk dijalani

    Bambu memiliki keberagaman jenis, seperti kita ketahui bahwa bambu memiliki berbagai jenis dari bambu kuning, bambu wulung, bambu tali, bambu tamiang, dll. Semuanya berbeda jenis dan memiliki fungsi masing-masing. Seperti halnya dalam dunia pendidikan, setiap orang tidak selamanya memiliki kemampuan sama.

    Sejenak ketika kita berada di kelas, tidak mungkin satu kelas pintar dan menyukai matematika saja pasti ada siswa yang mahir dalam bidang olahraga, mata pelajaran bahasa, mata pelajaran sosial, mata pelajaran matematika dan lain-lain. Namun, mirisnya terkadang ada beberapa guru yang suka memuji anak-anak yang pandai di bidang eksak saja.

    Padahal prestasi setiap siswa tidak hanya disitu saja, tentunya jika dimaksimalkan potensi setiap siswa maka akan terbentuk suatu sekolah yang memiliki prestasi disegala bidang.  

    Tidak hanya dalam hal kemahiran terhadap suatu bidang saja, melainkan dalam proses belajar saja banyak yang berbeda, ada siswa yang mudah paham dengan cara membaca, ada siswa yang mudah paham dengan menulis, seperti halnya bambu, bambu tali cocok dibuat untuk menjadi sebuah anyaman, bambu tamiang bisa dibuat untuk alat musik semisal seruling.  

    Jika salah satu bambu ada yang akan mati, bambu tersebut tidak langsung secara tiba-tiba jatuh ke tanah, melainkan ia akan ditopang oleh bambu-bambu lainnya sehingga tidak langsung jatuh ke tanah.

    Baca juga: Memahami Makna Kemerdekaan di Era Milenial Essay

    Tentunya makna ini sangat penting bagi dunia pendidikan karena banyak diantara siswa yang frustasi saat mereka ada dalam proses pendidikan sehingga berujung putus sekolah. Dukungan-dukungan dari berbagai pihak haruslah selalu dikobarkan baik dari guru, wali murid maupun teman-teman siswa yang lainnya karena motivasi sangatlah diperlukan bagi mereka yang frsutasi terhadap proses pendidikan.

    Hal ini supaya mereka yang frustrasi tidak langsung memutuskan untuk segera keluar dari dunia pendidikan namun tumbuh semangat baru dalam mengikuti proses pendidikan.  

    Sebuah filosofis dapat kita pelajari dari apapun itu, jika kita mau berpikir lebih kritis maka kita akan menemukan suatu pelajaran dari setiap sesuatu yang ada di lingkungan sekitar kita. Terimakasih.

  • Apakah Penting Belajar Muatan Lokal bagi Siswa?

    Apakah Penting Belajar Muatan Lokal bagi Siswa?
    Apakah Penting Belajar Muatan Lokal bagi Siswa? – Sejenak kita tahu bahwa jika di sekolah terdiri dari banyak mata pelajaran tentunya yang paling dominan yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, dll. Bisa dikatakan kedua mata pelajaran tersebut dapat kita jumpai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun demikian, selain mata pelajaran itu ada salah satu mata pelajaran yang unik yaitu Muatan Lokal. Muatan Lokal biasanya dimasukan ke dalam kurikulum namun hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
    Penulis sendiri pernah mendapatkan mata pelajaran muatan lokal saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), dimana saat itu materinya hanya membuat telor asin saja karena penulis sendiri berasal dari Brebes, Jawa Tengah. Seperti yang kita ketahui bahwa Kabupaten Brebes merupakan sentra telor asin di Indonesia. Selain disebut sebagai Kota Bawang Merah, Brebes juga dikenal sebagai Kota Telur Asin. Hal ini dilakukan bertujuan agar para siswa tahu bahwa tentang seuatu yang ada di daerahnya dan menjadi ciri khas daerah tersebut tentunya para siswa bisa melestarikannya.
    Mata pelajaran Muatan Lokal memang terkadang tidak terlalu diutamakan tidak seperti Matematika, terbukti penulis juga saat duduk di bangku sekolah dasar hanya mendapat jatah 1jam pelajaran saja dalam seminggu. Padahal jika kita telaah secara cermat banyak sekali manfaat untuk para siswanya sendiri terutama pengenalan daerahnya masing-masing. Bisa dikatakan bahwa Muatan Lokal merupakan Pelajaran Wawasan Kebangsaan dalam lingkup sederhana karena hanya meliputi daerah tertentu. Jika ada adagium “Kenali Dirimu Sebelum Mengenal Orang Lain”, maka disitulah peran dari mata pelajaran Muatan Lokal.
    Muatan Lokal sangatlah penting bagi para siswa, tentunya dapat memberikan gambaran tentang daerahnya masing-masing. Hal ini sebagai bekal di masa mendatang jika mereka sudah tidak berdomisili di daerah kelahirannya. Mengapa demikian? Karena mereka dapat mengenalkan dan menceritakan tentang daerahnya sendiri, apalagi jika daerah tersebut memiliki potensi wisata yang cukup baik tentunya akan menarik minat tersendiri bagi teman dekatnya untuk berkunjung ke daerahnya bahkan jika berteman akrab dengan para investor tentunya dapat memaksimalkan potensi yang ada di daerahnya.
    Selain itu, siswa dipacu untuk melestarikan budaya dan kebiasaan-kebiasaan setempat. Setiap daerah di Indonesia memiliki kebiasaan dan adat-istiadat yang berbeda-beda baik dalam kesenian, makanan, gaya hidup, bahasa, logat berbicara, dll. Bahkan satu kabupaten pun sangat beragam, maka disinilah peran dari muatan lokal tersebut. Seperti contoh di Kabupaten Brebes sendiri ada dari 17 Kecamatan yang ada masing-masing memiliki kerajinan tangan tersendiri misalnya Kecamatan Bantarkawung pengahsil Rinjing, Kecamatan Bumiayu penghasil Rebana, Kecamatan Salem penghasil Batik, dsb. Disinilah salah satu pentingnya muatan lokal, dengan adanya muatan lokal siswa dipacu harus mengetahui segala yang ada disekitar daerahnya. Misalnya saja kerajinan dari masing-masing kecamatan di Brebes sebagaimana yang telah disebutkan diatas, setidaknya para siswa di kecamatan tersebut tahu mengenai tata cara pembuatan, bahan-bahan pembuatannya, jika mereka mampu membuat kerajinan tersebut itu tentunya sangat baik karena ada generasi yang melanjutkannya.
    Tidak hanya mengenai kerajinan tangan saja, dalam mata pelajaran muatan lokal diharuskan memuat beberapa aspek mulai dari sejarah daerah masing-masing, kebiasaan masyarakat setempat, makanan khas, dll. Untuk implementasinya cukup sederhana, misalnya saja dibangku Sekolah Dasar (SD), tentunya hanya diberikan pengenalan mengenai desa baik cerita asal usul desa ataupun lainnya, di Sekolah Menengah Pertama (SMP) megenai Kecamatan maupun Kabupatennya, segala apa yang ada di Kecamatan maupun Kabupaten bisa dijelaskan di (SMP) karena mayoritas muatan lokal hanya ada sampai jenjang Sekolah Menengah Pertama.
    Wawasan Kebangsaan memanglah sangat penting tentunya setiap warga negara selalu diberikan pengetahuan tentang wawasan kebangsaan agar mereka tetap mencintai dan melestarikan segala yang ada pada bangsanya sendiri. Tentunya muatan lokal merupakan bentuk implementasi dari wawasan kebangsaan secara sederhana karena hanya mencakup daerah tertentu saja di Indonesia. Meskipun banyak orang belum menyadarinya bahwa muatan lokal memiliki peranan penting, setidaknya pengenalan kedaerahan haruslah selalu dilakukan agar setiap orang tahu identitas daerahnya sendiri.
  • Tinjauan Yuridis Sistem Pendidikan Nasional

    Tinjauan Yuridis Sistem Pendidikan Nasional
    Indonesia adalah negara hukum sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 1 ayat 3 UUD 1945 jadi segala aspek kehidupan berdasarkan aturan-aturan hukum yang ada dan berlaku di Indonesia termasuk dalam urusan pendidikan di Indonesia. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Hal ini diatur dalam BAB VIII Pasal 31 dan 32 UUD 1945.
    Namun kali ini penulis akan membahas menganai tinjauan yuridis sistem pendidikan di Indonesia. Sistem Pendidikan di Indonesia (Sisdiknas) diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bisa dikatakan bahwa UU ini merupakan amanat dan penjabaran dari UUD 1945 sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Namun demikian, penulis hanya akan membahawa mengenai pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, dan hak dan kewajibannya saja karena jika dalam UU ini mengatur sangat banyak maka dari itu penulis membatasinya.
    Dalam UU ini telah menjelaskan tentang pengertian pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu upaya kesadaran yang terencana guna mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Pasal 1 angka 1 UU No. 20 Tahun 2003).
    Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (Pasal 1 angka 3 UU No. 20 Tahun 2003).
    Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman & bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Pasal 3 UU No. 23 Tahun 2003.

    Prinsip penyelenggaraan pendidikan  meliputi:

    1. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
    2. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna
    3. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
    4. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
    5. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
    6. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. (Pasal 4 UU No. 23 Tahun 2003)

    Dalam aturan ini juga mengatur hak dan kewajiban dalam menjalankan suatu pendidikan di Indonesia, adapun yang memiliki hak dan kewajiban yaitu warga negara, orang tua, masyarakat dan pemerintah.
    Hak dan Kewajiban Warga Negara diatur dalam Pasal 5 dan 6 UU tersebut. Adapun Hak warga negara :
    (1)  Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.
    (2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
    (3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
    (4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.
    (5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. (Pasal 5 UU No. 20 Tahun 2003)
    Kewajiban warga negara diatur dalam Pasal 6 UU tersebut, adapun kewajibannya yaitu:
    (1) Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.
    (2) Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan.
    Peranan orang tua sangatlah penting dalam dunia pendidikan karena orang tua merupakan pintu awal anak mengenal pendidikan. Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya. Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. Sedangkan masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan. Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.
    Pemerintah yang dimaksud dalam aturan ini yaitu pemerintah dan pemerintah daerah. Pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban :
    (1) Memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.
    (2) Menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun
    Aturan mengenai sistem pendidikan di Indonesia cukup jelas namun impelmentasinya tergantung pada semua elemen masyarakat baik itu orang tua, masyarakat atau pemerintah jika kesemuanya saling bekerjasama dengan baik maka akan menciptakan pendidikan yang kondusif yang berujung pada suksesnya program pendidikan di Indonesia dengan dibuktikan prestasi-prestasi yang diukir oleh peserta didik dan tentunya semua lulusannya memiliki karir yang bagus dan bisa memajukan bangsa dan negara Indonesia.
    Sumber :
    ü  UUD 1945
    ü  UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  • TAMAN MANTRA Mengurangi Resiko Penggunaan Gadget pada Anak

    TAMAN MANTRA Mengurangi Resiko Penggunaan Gadget pada Anak

    Setiap orang juga tahu bahwa taman merupakan sebuah tempat yang memberikan suatu fasilitas baik tempat bermain, berolahraga, mengobrol maupun yang lainnya. Taman memiliki keindahan tersendiri sehingga banyak orang yang suka mengunjungi taman karena tempat tersebut dapat dikunjungi berbagai kalangan. Ada kesan tersendiri bagi orang yang mengunjunginya.
    TAMAN MANTRA Mengurangi Resiko Penggunaan Gadget pada Anak – Kali ini penulis akan membahas Taman Mantra, apa itu Taman Mantra? Mungkin sejenak kita akan berpikir Taman yang isinya banyak mantra misalnya Sim Salabim Abrakadabra. Hehehee….. Namun Taman Mantra yang dimaksud adalah Taman Permainan Tradisional Anak-Anak disingkat menjadi Taman Mantra.
    Mengapa harus Mantra? Hal ini karena penulis ingin membahas sebuah konsep pendidikan yang digagas secara nonformal melalui permainan yang ditempatkan pada sebuah taman. Kata Mantra menggambarkan suatu hal yang bisa dikatakan fiksi atau khayalan dimana hal tersebut sangat disukai anak-anak seperti contohnya dalam kartun Doraemon banyak hal-hal yang bersifat fiksi yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri untuk anak-anak.
    Tujuan utama konsep ini yaitu menekan tingginya tingkat penggunaan gadget pada anak-anak. Di era milenial ini memang setiap orang dimanjakan dengan teknologi-teknologi saat ini, termasuk anak-anak yang dimanjakan oleh gadget, banyak aplikasi yang menarik dalam gadget tersebut sehingga membuat anak-anak enggan bermain di luar dan mereka hanya menghabiskan waktunya hanya dengan gadget.
    Padahal dampak buruknya sangat banyak. Dilihat dari aspek sosial akan memunculkan sifat apatis atau berkurangnya jiwa sosial karena mereka tidak turun langsung ke masyarakat yang belum tahu karakter masyarakat setempat sehingga selain apatis muncul sifat individualis yang berujung pada egois. Dilihat dari sisi kesehatan, jelas sekali kesehatan mata menjadi suatu hal yang paling utama karena anak yang bermain gadget akan menatap layar gadget secara langsung dan jika dibiarkan dalam waktu yang lama akan mengalami penyakit mata.
    Dari dua aspek tersebut jika dibiarkan saja akan berdamapak buruk bagi masa depan anak-anak. Tentunya inovasi-inovasi harus selalu digerakan demi menyelamatkan anak-anak dari fenomena tersebut. Salah satu gagasan yang diajukan dalam hal ini yaitu sebuah Taman Permainan Tradisional
    Mengapa harus permainan tradisional? Hal ini karena selain menjaga kebudayaan asli Indonesia namun dalam permainan tradisional mengandung nilai-nilai yang sangat luhur yang jarang kita sadari. Misalnya saja permainan Boi, permainan Boi banyak ditemukan di daerah Sunda ataupun Jawa. Boi merupakan sebuah permainan yang tersusun dari dua tim yang saling berlawanan dimana permainan tersebut bertujuan untuk mencari skor tertinggi dengan cara menyusun tumpukan genting dari salah satu pihak yang sedang kebagian menyusun tumpukan genting. Jika sudah tersusun semua tanpa ada halangan hingga ada yang berteriak “Boiiiii” maka pihak itulah yang mendapat satu point.
    Nilai positif yang terkandung dalam permainan Boi untuk itu sangat banyak seperti kekompakan karena kekompakan adalah kunci utama untuk memenangkan permainan tersebut, kreatif karena setiap dipacu harus mampu menyusun strategi, dll. Hal ini sangat bagus untuk pembentukan karakter pada setiap anak. Selain itu dalam permainan Boi setiap anak akan berlari-lari baik ada yang mengejar maupun dikejar tentunya secara tidak langsung kondisi tubuh anak akan sehat karena tubuhnya aktif bergerak terus.
    Dalam mengimplementasikan gagasan tersebut sangat sederhana, setiap desa bahkan blok setidaknya punya tempat khusus sebagai wahana berkumpul anak-anak lalu tempat tersebut dinamai dengan Taman Mantra. Kegiatan tersebut jelas harus dibawah pengawasan orang tua, namun yang memandu permainan tersebut bisa para remaja atau pemuda-pemuda setempat. Misalnya remaja yang sudah bersekolah SMP maupun SMA. Mengapa demikian, karena anak sekolah di Indonesia mayoritas mengkuti ekstrakurikuler pramuka. Dalam pramuka pastinya ada sebuah permainan yang nantinya ilmu yang diterima para remaja atau pemuda tersebut bisa ditularkan ke anak-anak meskipun hanya sedikit setidaknya merupakan sebuah pengabdian secara sederhana bagi para remaja ataupun pemuda tersebut.
    Upaya tersebut bisa dilakukan seminggu sekali atau setiap hari, jika dilakukan setiap hari maka sore hari adalah waktu yang sangat cocok, setidaknya kegiatan tersebut disusun secara rapi dan bisa dijadikan program RT maupun RW setempat. Tentunya program ini agar dapat perlindungan secara langsung dari pihak berwenang.
    Anak merupakan generasi emas untuk masa depan bangsa dan negara tentunya pertumbuhan dan perkembangannya harus diperhatikan, kemajuan teknologi yang pesat namun belum bisa tersaring dengan baik akan berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat tentunya pada anak. Maka dari itu marilah kita bersama-sama ikut andil dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak-anak di Indonesia. 
    Terimakasih……
  • Filosopi Pendidikan : Belajar dari Bumbu Masakan

    Filosopi Pendidikan : Belajar dari Bumbu Masakan
    Belum lama ini umat muslim di seluruh dunia telah merayakan hari raya Idul Adha atau Idul Kurban, tentunya disambut suka cita oleh seluruh umat muslim. Baik sapi, kambing maupun unta banyak yang dikurbankan namun di Indonesia hanya mengurbankan sapi, kambing maupun kerbau yang kemudian dagingnya dibagikan ke masyarakat luas. Membahas mengenai hari raya idul kurban tentunya tidak bisa lepas dari olahan daging yang dimasak menjadi berbagai macam masakan mulai dari sate, rendang, empal, bistik, dll.
    Untuk membuat suatu masakan yang lezat dan bercita rasa tinggi harus menggunakan berbagai bumbu masakan, mulai dari garam, penyedap rasa, bawang merah, bawang putih, cabai, jahe, kunyit, merica, ketumbar, dll. Di Indonesia sangat mudah ditemukan bumbu masakan tersebut, karena Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah termasuk bumbu yang biasa dikatakan rempah-rempah. Jika kita menengok ke belakang, alasan utama Eropa datang ke Indonesia yaitu untuk mencari rempah-rempah di Indonesia. Hal ini berpengaruh pada masakan-masakan yang ada di Indonesia satu masakan saja bisa terdiri dari berbagai bumbu masak misalnya saja rendang yang bumbu masaknya terdiri dari garam, bawang merah, bawang merah, cabai merah, kunyit lengkuas, ketumbar, kemiri, jahe, pala, dll sehingga dari bumbu-bumbu tersebut terciptalah sebuah masakan rendang yang lezat dan bercita rasa tinggi dan sangat dikenal oleh masyarakat luas bahkan mendapat predikat sebagai makanan terenak di dunia.
    Jika kita telaah lebih dalam terkait bumbu masakan tersebut, banyak nilai-nilai yang bisa kita petik khususnya dalam bidang pendidikan. Bagaimana bisa, untuk membuat sebuah masakan yang lezat tentunya terdiri dari berbagai macam bumbu yang memiliki khas masing-masing yang kemudian disatukan menjadi sebuah cita rasa yang lezat. Dari situ kita dapat melihat bahwa perbedaan akan menciptakan suatu hal luar biasa. Disinilah letak nilai dari sebuah bumbu masakan terhadap pendidikan yaitu mengajarkan sebuah perbedaan. Pentingnya memupuk rasa toleransi dalam sebuah perbedaan akan berdampak baik untuk kemajuan suatu masyarakat, bangsa maupun negara. Hal ini haruslah dipupuk dalam dunia pendidikan tentunya sejak dini, apalagi melihat negara kita yang kaya akan budaya dan bangsanya.
    Di negara tetangga kita yaitu Malaysia sudah dilakukan pendidikan mengenai sebuah perbedaan dalam bentuk film Upin-Ipin secara tidak kita sadari bahwa film Upin-Ipin telah menggambarkan sebuah didikan kepada anak mengenai indahnya sebuah perbedaan di masyarakat. Bagaimana tidak dalam Upin-Ipin tidak menunjukan hanya orang melayu saja melainkan ada dari Etnis Tionghoa yang digambarkan oleh tokoh Mei-mei, Sing yang digambarkan oleh Jarjit, Indonesia yang digambarkan oleh Susanti. Dengan tokoh-tokoh tersebut menggambarkan bahwa perbedaan bukanlah sebagai penghalang untuk menciptakan kondisi masyarakat yang baik, justru malah menciptakan sebuah kehidupan masyarakat yang harmonis dengan saling membantu satu sama lain.
    Tidak harus seperti Upin-Ipin, dalam membentuk suatu pendidikan mengenai sebuah perbedaan bisa dilakukan lewat apa saja. Misalnya saja bisa dilakukan dalam pendidikan kebudayaan dengan mengambil nilai-nilai budayanya sendiri tentang indahnya sebuah perbedaan, realisasinya bisa dilakukan dalam bermain musik tradisional seperti karawitan yang terdiri dari goong, kendang, saron, bonang, rebab, dll yang masing-masing memiliki peran yang berbeda dan jika ditampilkan dengan baik akan membentuk sebuah musik karawitan yang indah. Intinya dalam sebuah perbedaan janganlah merasa paling hebat diantara yang lainnya karena dalam budaya jawa saja telah memiliki falsafah kehidupan bahwa seseorang tidak boleh memiliki sifat adigang, adigung dan adiguna. Akan sangat fatal jika sifat tersebut banyak muncul di masyarakat yang notabene memiliki keragaman bangsa maupun budaya.
    Semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah disusun sejak awal kemerdekaan, sebagai warga negara Indonesia haruslah dipupuk sejak dini mengenai sebuah perbedaan, tentunya untuk memupuk tersebut utamanya lewat bidang pendidikan. Tidak harus pendidikan secara formal namun bisa dilakukan dengan cara apapun yang bertujuan untuk membentuk masyarakat yang harmonis meskipun dengan berbagai keragaman budaya maupun bangsa seperti halnya rendang yang terdiri dari berbagai bumbu masakan yang masing-masing memiliki aroma yang berbeda