follow us

Siapakah Pahlawan Pendidikan Wanita Sebelum Kartini?

Pilihan Pembaca

Siapakah Pahlawan Pendidikan Wanita Sebelum Kartini?


Pahlawan wanita ini merupakan pahlawan pendidikan wanita pertama di Indonesia. Namun, Ia sangat jarang diketahui. Maka, pada artikel kali ini saya akan mengupas siapakah sosok pahlawan pendidikan wanita pertama di Indonesia. Simak artikel dibawah ini!

Raden Ayu Lasminingrat

Raden Ajoe (Ayu) Lasminingrat merupakan sosok pahlawan kemajuan wanita Sunda dan pendiri Sakola Kautamaan Istri. Lasminingrat lahir di Limbangan (asal nama Kabupaten Garut) pada tahun 1843 tepatnya 36 tahun sebelum RA Kartini dilahirkan. Lasminingrat dijuluki dengan sebutan tokoh pendidikan intelektual pertama di Indonesia oleh sejarahwan Deddy Effendie. Lasminingrat merupakan putri sulung dari Raden Haji Muhamad Musa dan Raden Ayu Ria.

Pada saat itu, pendidikan belum menjadi perhatian penting bagi masyarakat. Namun, Musa, ayahnya 
Lasminingrat, memiliki pandangan yang berbeda dengan pendidikan yang dianggapnya sangat penting bagi anak-anaknya. Sehingga, Musa mendirikan sekolah Eropa (Bijzondere Europeesche School). Pada tahun 1860, Musa memberikan pendidikan dengan cara lain kepada putrinya, Lasminingrat, dengan belajar secara langsung pada Levyssohn Norman yaitu Sekretaris Jenderal Pemerintah Belanda. Lasminingrat pindah ke Sumedang bersama Norman.

Kemudian, Norman menjadikan Lasminingrat sebagai anak angkatnya karena Ia tidak memiliki anak. Karena didikan Norman, Lasminingrat merupakan wanita pribumi pertama yang memiliki keahlian dalam hal menulis dan berbicara bahasa Belanda saat itu. 

Di Sumedang, Lasminingrat bertemu dengan jodohnya yaitu Raden Tamtu, putra Bupati Sumedang. Namun, tidak bertahan lama karena Raden Tamtu meninggal dunia.

Kemahiran Menulis Lasminingrat

Pada tahun 1871, Lasminingrat kembali ke Garut. Lasminingrat memiliki pemikiran yang intelektual humanis dan spiritualis. Lasminingrat mewarisi bakat menulis dari ayahnya. Sehingga, Ia menulis beberapa buku dengan menggunakan bahasa Sunda yang pembacanya ditujukan kepada anak-anak. Lasminingrat telah menulis tiga buku asal Eropa untuk anak sekolah yaitu buku Carita Erman, Warnasari, dan Warnasari jilid 2.

Pada tahun 1875, buku Tjarita Erman (Carita Erman) terbit untuk pertama kalinya dengan menggunakan bahasa Jawa. Buku ini merupakan buku terjemahan dari bahasa Jerman (buku aslinya karangan Christoph von Schmidt). 

Pada tahun 1876, Lasminingrat menulis buku Warnasari atawa Rupa-rupa Dongeng terjemahan dari buku dongeng karya Marchen von Grimm dan JAA Goeverneur yang dicetak dalam aksara jawa. Pada tahun 1897, Lasminingrat kembali melanjutkan buku Warnasari Jilid 2 terjemahan dari buku Vertelsels uit het Wonderland voor Kinderen, Klein en Groot dalam aksara latin. 

Kehidupan Lasminingrat

Setelah ketiga bukunya diterbitkan, Lasminingrat menikah dengan Bupati Garut RAA Wiratanudatar VIII. Kemudian, Lasminingrat melahirkan anak perempuan bernama Raden Ajoe Mohaningrat. Pada tahun 1879, Lasminingrat mengajar dengan menyisipkan ilmu sastra sosial dan agama. Pada tahun 1904, Lasminingrat merupakan tokoh pendukung Dewi Sartika untuk mendirikan Sakola Istri. Berawal dari kesulitan Dewi Sartika untuk mendapatkan izin mendirikan sekolah dari Bupati Bandung. Lasminingrat pun menolong Dewi Sartika dengan menggunakan bantuan dari suaminya dan meminta suaminya membujuk Bupati Bandung. Pada Januari 1904, Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri di Bandung dengan izin dari Bupati Bandung.

Pada tahun 1907, Lasminingrat bersama Dewi Sartika mendirikan sekolah Keutamaan Istri (Sakola Kautamaan Istri) di Pendopo Garut. Pada tahun 1911, sekolah terus berkembang dan memiliki 200 murid dalam 5 kelas. Pada tahun 1913, sekolah ini resmi disahkan oleh pemerintah Belanda melalui Akta Nomor 12 tertanggal 12 Februari 1913 dengan nama Vereeneging Kautamaan Istri Scholen. Pada tahun 1934, sekolah ini sudah memiliki berbagai cabang Sakola Kautamaan Istri di berbagai kota.

Pada tahun 1913, suaminya pensiun sebagai bupati Garut. Saat Jepang menjajah Indonesia, Sakola Kautamaan Istri berganti nama menjadi Sekolah Rakyat (SR). Pada tahun 1950, SR berganti nama menjadi SDN Ranggalawe I dan IV. Tahun 1990-an berganti menjadi SDN Regol VII dan X di Garut.

Pada saat peristiwa Bandung Lautan Api, 24 Maret 1946, masyarakat Bandung pindah ke Garut. Namun, Garut pun menjadi sasaran tentara Belanda. Sehingga, Lasminingrat dalam usia tuanya dibawa keluarganya untuk pindah ke kampung Waas Pojok, Bayongbong, Garut.

Hingga akhir hayatnya, pada 10 April 1948 Lasminingrat meninggal dunia dan dimakamkan dibelakang Masjid Agung Garut disamping makam suaminya.


SImak Juga:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar