follow us

Filosopi Pendidikan : Belajar dari Bumbu Masakan

Pilihan Pembaca

Filosopi Pendidikan : Belajar dari Bumbu Masakan


Belum lama ini umat muslim di seluruh dunia telah merayakan hari raya Idul Adha atau Idul Kurban, tentunya disambut suka cita oleh seluruh umat muslim. Baik sapi, kambing maupun unta banyak yang dikurbankan namun di Indonesia hanya mengurbankan sapi, kambing maupun kerbau yang kemudian dagingnya dibagikan ke masyarakat luas. Membahas mengenai hari raya idul kurban tentunya tidak bisa lepas dari olahan daging yang dimasak menjadi berbagai macam masakan mulai dari sate, rendang, empal, bistik, dll.

Untuk membuat suatu masakan yang lezat dan bercita rasa tinggi harus menggunakan berbagai bumbu masakan, mulai dari garam, penyedap rasa, bawang merah, bawang putih, cabai, jahe, kunyit, merica, ketumbar, dll. Di Indonesia sangat mudah ditemukan bumbu masakan tersebut, karena Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah termasuk bumbu yang biasa dikatakan rempah-rempah. Jika kita menengok ke belakang, alasan utama Eropa datang ke Indonesia yaitu untuk mencari rempah-rempah di Indonesia. Hal ini berpengaruh pada masakan-masakan yang ada di Indonesia satu masakan saja bisa terdiri dari berbagai bumbu masak misalnya saja rendang yang bumbu masaknya terdiri dari garam, bawang merah, bawang merah, cabai merah, kunyit lengkuas, ketumbar, kemiri, jahe, pala, dll sehingga dari bumbu-bumbu tersebut terciptalah sebuah masakan rendang yang lezat dan bercita rasa tinggi dan sangat dikenal oleh masyarakat luas bahkan mendapat predikat sebagai makanan terenak di dunia.

Jika kita telaah lebih dalam terkait bumbu masakan tersebut, banyak nilai-nilai yang bisa kita petik khususnya dalam bidang pendidikan. Bagaimana bisa, untuk membuat sebuah masakan yang lezat tentunya terdiri dari berbagai macam bumbu yang memiliki khas masing-masing yang kemudian disatukan menjadi sebuah cita rasa yang lezat. Dari situ kita dapat melihat bahwa perbedaan akan menciptakan suatu hal luar biasa. Disinilah letak nilai dari sebuah bumbu masakan terhadap pendidikan yaitu mengajarkan sebuah perbedaan. Pentingnya memupuk rasa toleransi dalam sebuah perbedaan akan berdampak baik untuk kemajuan suatu masyarakat, bangsa maupun negara. Hal ini haruslah dipupuk dalam dunia pendidikan tentunya sejak dini, apalagi melihat negara kita yang kaya akan budaya dan bangsanya.

Di negara tetangga kita yaitu Malaysia sudah dilakukan pendidikan mengenai sebuah perbedaan dalam bentuk film Upin-Ipin secara tidak kita sadari bahwa film Upin-Ipin telah menggambarkan sebuah didikan kepada anak mengenai indahnya sebuah perbedaan di masyarakat. Bagaimana tidak dalam Upin-Ipin tidak menunjukan hanya orang melayu saja melainkan ada dari Etnis Tionghoa yang digambarkan oleh tokoh Mei-mei, Sing yang digambarkan oleh Jarjit, Indonesia yang digambarkan oleh Susanti. Dengan tokoh-tokoh tersebut menggambarkan bahwa perbedaan bukanlah sebagai penghalang untuk menciptakan kondisi masyarakat yang baik, justru malah menciptakan sebuah kehidupan masyarakat yang harmonis dengan saling membantu satu sama lain.

Tidak harus seperti Upin-Ipin, dalam membentuk suatu pendidikan mengenai sebuah perbedaan bisa dilakukan lewat apa saja. Misalnya saja bisa dilakukan dalam pendidikan kebudayaan dengan mengambil nilai-nilai budayanya sendiri tentang indahnya sebuah perbedaan, realisasinya bisa dilakukan dalam bermain musik tradisional seperti karawitan yang terdiri dari goong, kendang, saron, bonang, rebab, dll yang masing-masing memiliki peran yang berbeda dan jika ditampilkan dengan baik akan membentuk sebuah musik karawitan yang indah. Intinya dalam sebuah perbedaan janganlah merasa paling hebat diantara yang lainnya karena dalam budaya jawa saja telah memiliki falsafah kehidupan bahwa seseorang tidak boleh memiliki sifat adigang, adigung dan adiguna. Akan sangat fatal jika sifat tersebut banyak muncul di masyarakat yang notabene memiliki keragaman bangsa maupun budaya.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah disusun sejak awal kemerdekaan, sebagai warga negara Indonesia haruslah dipupuk sejak dini mengenai sebuah perbedaan, tentunya untuk memupuk tersebut utamanya lewat bidang pendidikan. Tidak harus pendidikan secara formal namun bisa dilakukan dengan cara apapun yang bertujuan untuk membentuk masyarakat yang harmonis meskipun dengan berbagai keragaman budaya maupun bangsa seperti halnya rendang yang terdiri dari berbagai bumbu masakan yang masing-masing memiliki aroma yang berbeda 

SImak Juga:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar